Syiah Menjadikan Ahlul Bait Sebagai Sarana Untuk Mendapatkan Syahwat Syaithoni Mereka


Syubhat: Apa yang menunjukkan batilnya madzhab ahlussunnah wal jama’ah adalah apa yang ada dalam kitab-kitab kalian sendiri, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Aku tinggalkan untuk kalian, selama kalian berpegang kepadanya, niscaya kalian tidak akan sesat, yaitu kitabullah dan keluargaku” dalam satu riwayat, “Aku tinggalkan untuk kalian dua pusaka, pertama kitabullah, di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, ambillah kitabullah dan berpegang teguhlah kepadanya. Beliau menganjurkan dan memotifasi kepadanya. Kemudian mengatakan, “dan ahlu baitku, aku ingatkan kalian kepada Allah dalam hal ahlu baitku.” Ini adalah perintah dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk berpegang kepada al-Qur`an dan ahlul bait. Hadits ini serta lainnya menjadi bukti benarnya madzhab Syi’ah dan salahnya ahlussunnah! Aku harap agar Anda tidak mengingkari keshahihan dua hadits ini.
Bantahan: Saya persembahkan syubhat ini kepada Majelis Ulama Indonesia, yang menurut pemahaman Syi’ah, MUI berada di atas madzhab yang batil.
Sehubungan dengan pertanyaan Anda, maka saya berkata, “Dua hadits ini serta lainnya adalah shahih menurut ahlussunnah. Akan tetapi karena akal kalian telah rusak dan melenceng, maka hal itu menjadikan kalian memahami hadits-hadits ini secara salah, yang sejalan dengan akal kalian yang sakit dan akidah kalian yang sesat. Justru dua hadits ini secara khusus adalah dalil dan bukti besar atas batilnya agama kalian. Saya berani menantang siapapun dari kalian untuk masuk dalam dialog atau debat bersama saya seputar dua hadits itu secara khusus.


Wahai saudara muslim dan muslimah, secara etika saya berkewajiban untuk menjelaskan batilnya agama Syi’ah dari sela-sela dua hadits ini. Berikut ini adalah rincian singkat atas benarnya ucapan saya:
1. Dalam teks hadits pertama,
(تركت فيكم ما إن تمسكتم به لن تضلوا كتاب الله وعترتي)
“Aku tinggalkan untuk kalian sesuatu, selama kalian berpegang kepadanya, maka kalian tidak akan tersesat; kitabullah dan keluargaku.”
Perhatikan sabda Nabi “berpegang kepadanya” dalam dua riwayat, pasti Anda akan mendapati kata ganti yang digunakan adalah tunggal (به). Itu berarti bahwa berpegang teguh kembali kepada al-Qur`an saja, sementara Syi’ah menjadikan kata ganti bentuk mutsanna (dua, نهما), sehingga mereka memaknai hadits tidak semestinya. Mereka menjadikan berpegang teguh yang disebutkan dalam hadits meliputi ahlul bait secara dusta. Jika tidak, seandainya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bermaksud agar umat berpegang teguh kepada ahlul bait sebagaimana berpegang teguh kepada al-Qur`an, tentu beliau akan menggunakan kalimat “berpegang teguh” yang meliputi al-Qur`an dan ahlul bait beliau, ternyata itu tidak terjadi!
Sesungguhnya petunjuk “berpegang teguh” dengan al-Qur`an yang disebutkan dalam teks hadits, tidak ada yang mengamalkannya selain Ahlussunnah, karena kitabullah menurut Syi’ah gugur tidak dianggap, sebagaimana dinyatakan dengan jelas dalam kitab-kitab induk mereka. Utamanya adalah kitab al-Kafi karya al-Kulaini. Ia meriwayatkan hadits dari Abu Abdillah bahwa al-Qur`an yang dibawa oleh Jibril kepada Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berjumlah 17 ribu ayat. Sudah dimaklumi bahwa jumlah ayat al-Qur`an adalah 6.236 ayat, yakni –menurut syi’ah- hampir sepertiga dari al-Qur`an yang gugur  (hilang) dan tidak ada di tangan kita. Sedangkan yang tersisa yang ada di tangan kita tidak selamat dari “tuduhan” pemalsuan dan permainan tangan jahil. Mereka telah menetapkan dalam ratusan riwayat dari imam-imam mereka tentang tahrif (pengubahan) yang terjadi pada banyak ayat al-Qur`an. Cukuplah kita sebutkan di antaranya yaitu tidak berpegang teguhnya Syi’ah dengan al-Qur`an, bahwa:
Menurut Al-Qur`an, ia itu terjaga berdasarkan janji Allah dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Kami yang menurunkan al-Qur`an dan sungguh Kami yang akan menjaganya”. Namun, Syi’ah menetapkan bahwa hal itu tidak benar.
  • Al-Qur`an menyebutkan keridhaan Allah atas sahabat sementara Syi’ah mengkafirkan dan melaknat mereka.
  • Al-Qur`an mengkhususkan ilmu gaib hanya untuk Allah, semetara Syi’ah menjadikan para imam tahu perkara gaib.
  • Al-Qur`an menyatakan bahwa ummul mukminin Aisyah Radhiallahu ‘Anha itu bersih dari tuduhan, sementara Syi’ah menuduhnya berzina dan melaknatnya dan memusuhinya secara membabi buta, semoga Allah melindungi kita darinya.
  • Dan pelanggaran-pelanggaran lain yang banyak, yang menetapkan dan menegaskan bahwa Syiah tidak berpegangan dengan al-Qur`an. Ini menunjukkan bahwa mereka berada di atas agama lain, agama yang batil dan menyimpang.
2. Pada teks hadits kedua yang disebutkan dalam Syubhat, Allah membedakan antara Tamassuk (berpegang teguh) dengan al-Qur`an dengan tadzkir yang ada dalam hadits:
أذكركم الله في أهل بيتي
“Aku peringatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku”. Jadi, berdasarkan manthuq (sisi eksplisit) dari lafazh hadits yang Anda jadikan sebagai hujjah, kalimat “berpegang teguh” dengan al-Qur`an, dan kalimat “aku peringatkan kalian” tentang “ahli baitku”. Perbedaan di antara keduanya sangat besar dan jelas. Makna kalimat “aku peringatkan kalian kepada Allah tentang ahli baitku” yakni, jangan menjadikan mereka sebagai sasaran (sasaran kezhaliman, termasuk sasaran kambing hitam), sementara Syi’ah telah menjadikan ahli bait sebagai wasilah untuk makan harga manusia secara batil. Para pemimpin dan ulama mereka memerintahkan para pengikut untuk membayar 1/5 (khumus) dari harta mereka atas nama ahlul bait. Tidak cukup sampai di sini, bahkan mereka menjadikan seluruh sarana ancaman dan tekanan dengan tidak diterimanya amalan dari orang yang tidak mau membayarkan 1/5 harta mereka.
Sebagaimana kalian menjadikan ahlul bait sebagai sasaran dalam kedustaan atas nama mereka, bahwa mereka membolehkan perzinaan yang kalian namakan dengan Mut’ah, serta lain dari pada itu berupa penipuan berkedok ahlul bait.
Singkatnya, kalian telah menjadikan ahlul bait sebagai tujuan untuk merealisasikan kepentingan dan syahwat saithani kalian. Ketika datang kalimat “Aku peringatkan kalian” tentang “ahlul bait” itu menunjukkan bahwa yang kita diperintahkan untuk berpegang teguh kepadanya dan menjadikan orang yang berpegang teguh dengannya tidak akan tersesat adalah kitabullah, bukan ahlul bait.
Sesungguhnya pemahaman yang benar terhadap dua hadits yang disebutkan serta lainnya, yang khusus berkenaan dengan ahlul bait adalah wasiat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada umat beliau untuk berbuat baik kepada ahlul bait, sebagaimana kami jelaskan sebelumnya, mereka itu adalah keluarga Ali, Aqil, JA’far, al-Abbas, dan lainnya. Karena itu kita dapati para khalifah Rasulullah memperhatikan ahlul bait dalam hal nafkah lebih dari pada yang lainnya. Ini sesungguhnya menunjukkan kuatnya ahlus sunnah dalam memegangi al-Qur`an dan baiknya mereka dalam memperlakukan ahlul bait tanpa ada sikap ghuluw. Sebaliknya kita dapati Rafidhah (Syi’ah) menyelisihi al-Qur`an, dan menjadikan ahlul bait sebagai kedok untuk mengeruk keuntungan duniawi saithani.
Barangkali sekarang Anda mengetahui secara benar terhadap makna dua hadits dan lainnya, daripada memahaminya ala (model) Majusi Persia yang telah ditanamkan dalam benak kalian. Selanjutnya melalui jawaban ini, mudah-mudahan bisa menuntun Anda –jika memang berakal- untuk memahami siapakah mereka yang berada di atas agama batil. Saya berharap, daripada para ulama kalian mempermainkan akal dengan dalil-dalil seperti ini, semoga Anda bisa meyakinkan mereka untuk berani berdialog bersama kami sebagaimana yang sudah kami umumkan ketentuannya.
Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar melimpahkan hidayah kepada agama-Nya yang Dia ridhai untuk hamba-Nya kepada Anda. [*]

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More