Pertarungan Sekularisme dan Iman



 
Pertarungan antara iman dan kekufuran memang tak akan pernah terhenti hingga hari akhir. Salah satunya adalah perang ideologi untuk menjauhkan kaum Muslimin dari ajaran Islam dan merasa rendah diri hidup dengan tuntunan Ilaahi.

Diwakili oleh tokoh Annisatu Lexa Meteorika, novel ini menceritakan sepak terjang seorang Muslimah berpikiran sekuler yang menjadi seorang asisten dosen di salah satu universitas Islam Indonesia. Ia mengajar disalah satu mata kuliah wajib yang harus dipelajari oleh seluruh mahasiswa fakultas dakwah universitas tersebut yaitu psikologi. Annisatu yang lebih akrab dipanggil Ana merupakan mahasiswa semester tujuh yang sarat prestasi sehingga dua tahun berturut-turut dinobatkan menjadi mahasiswa terbaik.

Ana sebenarnya sudah menyelesaikan kuliahnya di jurusan dijurusan Psikilogi sebuah universitas ternama di Amerika. Hanya dalam waktu kurang dari tiga tahun, berkat kecerdasan luar biasa yang dimilikinya, Ana berhasil menyabet gelar cum laude. Tak hanya itu, diusianya yang ke-15, Ana sudah berhasil menggondol gelar juara Olimpiade Internasional Kimia, Instrumen Matematika dari Munchen University dan menjadi peneliti muda terbaik se-Asia. Namun, sebuah sebab, membuatnya gagal diterima oleh Harvard University.

Kepulangannya ke Indonesia dan berkuiah di universitas Islam ternama Indonesia tersebut tak lain adalah sebuah alasan untuk memenuhi permintaan ayahnya untuk kembali pada agamanya. Namun, Ana memang sudah melebihi kapasitasnya sebagai seorang mahasiswa. Dengan perpustakaan pribadi berisi ribuan buku pegangan mata kuliahnya plus buku-buku umum, isi otak Ana bahkan melebihi jangkauan pikir seorang dosen. Ana memang mewarisi kekayaan ayahnya yang bekerja sebagai seorang diplomat, sehingga kecerdasannya ditunjang dengan fasilitas yang boleh dikatakan berlebihan. Penjelajahan akademisnya di universitas Islam kenamaan Indonesia ini, sayangnya, tak membuatnya kembali ke jalan Ilaahi. Dogma-dogma sekularisme telah lebih dahulu menghujam dalam benaknya dan membuatnya menafikkan Tuhan. Bahkan, ia telah merayakan kematian Tuhan di dalam pikirannya dan menguburkannya dalam-dalam. Sebagaimana Sigmun Freud, tokoh idolanya, selalu mengatakan demikian.

Dogma yang selalu ditularkan dan diperjuangkannya di universitas Islam yang juga mulai terjangkiti sekularisme ini kemudian berhadapan dengan seorang pemuda Muslim, yang merupakan salah satu peserta mata kuliahnya. Rizki, begitu nama pemuda tersebut, merasa tersengat dan terbakar semangatnya untuk menyelamatkan kemuliaan Islam yang dengan sengaja diinjak-injak Ana dengan doktrin-doktrin sekulernya.

Usaha menyelamatkan dan mengembalikan kemuliaan Islam ini tidaklah mudah. Mengingat kampus tempatnya belajar pun sudah terjangkiti penyakit sekularisme yang parah. Islam di kampusnya tak lebih sekadar sebuah nama besar yang mempertahankan eksistensi kampus tersebut. Namun, semangatnya telah terbakar oleh kata-kata Ana yang merendahkan Allah SWT dan ajaran Islam dengan semena-mena. Ia merasa perlu membangkitkan kemuliaan Islam dengan bukti dan rasionalisme nyata, bukan hanya sekadar nostalgia akan kemuliaan Islam dimasa lalu.

Usaha keras Rizki bersama teman-temannya tersebut diwarnai dengan ketegangan akibat pembunuhan-pembunuhan sadis yang terjadi di kampusnya. Tak taggung-tanggung, korban pembunuhan tersebut adalah mahasiswa-mahasiswa terbaik di kampus tersebut. Mereka dibunuh dengan cara dimutilasi dan bagian-bagian tubuhnya diletakkan ditempat terpisah.

Rizki dan teman-temannya terus bersicepat dengan waktu. Korban terus berjatuhan sementara proyek kebangkitan peradaban Islam yang mereka perjuangkan terus bergulat dengan berbagai tantangan. Sementara Ana pun bergulat dengan pertarungandalam dirinya sendiri. Kekukuhan dogma anti Tuhannya mulai tergoyah dengan gaung kebenaran islam yang diserukan oleh Rizki dan kawan-kawannya. Ia mulai mempertanyakan pendiriannya dan bergulat dengan penyakit yang selama ini disembunyikannya dari orang lain.

Waktu terus bergulir, korban semakin banyak berjatuhan. Titik terang mulai terungkap. Rizki dan kawan-kawannya semakin bersemangat mengungkap fakta-fakta yang semakin terang terkuak. Namun, pencarian mereka dikaburkan oleh banyaknya tokoh-tokoh yag bermunculan. Lengkap dengan alibi masing-masing. Siapakah sebenarnya dalang di balik pembunuhan sadis berantai ini? Berhasilkah Rizki dan kawan-kawan menguak tabir misteri pembunuhan, sekaligus membangkitkan kemuliaan peradaban Islam yang mereka impi-impikan selama ini? Lalu bagimana akhir pergulatan Ana dengan batinnya yang mulai meraba keberadaan dan kebutuhannya terhadap Tuhan? Bagaimana pula dengan penyakit yang dideritaya, apakah ini merupakan penyebab berlarinya Ana dari Tuhannya?

Novel ini akan membawa kita pada sebuah tanda tanya misteri besar yang tak habis hingga halaman terakhir. Novel yang terkemas apik dan kreatif ini sangat menegangkan dan sarat pengetahuan. Memacu adrenalin pembaca sekaligus memperkaya pengetahuan pembaca dan membakar semangat setiap kaum Muslimin yang membacanya untuk kembali membangkitkan kejayaan Islam lewat semangat pengetahuan dan kerja nyata. Dari dunia nyata yang penuh intrik dan cinta, sains, psikologi, numerology, hingga kehausan setiap hamba akan perlindungan dan kasih sayang Tuhannya. Selamat membaca!* 

Judul Buku : The Brain Charger

Penulis : M. Pizaro Novelan Tauhidi

Penerbit : Salbila, Jakarta

Cetakan : Pertama, Februari 2012

Tebal : 300 halaman
 

Sumber: http://hidayatullah.com/read/22186/16/04/2012/pertarungan-sekularisme-dan-iman-.html

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More