Inilah cara manusia menentang Al-Qur’an zaman sekarang



  • Para penentang al-Qur’an ini memaksa umat Islam untuk menjustifikasi isu Hak Azasi Manusia (HAM), gender, pluralisme, dan juga faham-faham humanisme. Oleh mereka, Islam ditafsirkan dari faham-faham Barat, bukan sebaliknya. Inilah yang melahirkan Islam Liberal, dimana mereka melihat Islam dari perangkat ilmu-ilmu manusia, lebih tepatnya ilmu dari dunia Barat. Tak heran pola pikirnya jadi salah dan kacau.
  • Penafsiran-penafsiran yang dilakukan oleh para penantang dan penentang al-Qur’an ini melahirkan hermeneutika, yakni membaca dan memahami kitab suci dengan cara mendudukkannya dalam ruang sejarah, bahasa, dan budaya yang terbatas. Ilmu ini dikembangkan oleh peradaban Barat sekuler, yang tidak sejalan dengan konsep tafsir atau takwil dalam khazanah Islam.
  •  Padahal setiap yang dibawa oleh peradaban Barat harus diseleksi, difilter, apakah konsep sosial di Barat sesuai dengan masyarakat Islam. Yang terjadi justru sebaliknya, orang Islam malah menyeleksi sesuai dengan standar Barat. Kalau sesuai, dipakai. Jadi Islam dijalankan dengan sesuai keinginan manusia.
Beritanya sebagai berikut.
***
Menghancurkan Islam dengan Hermeneutika
Jakarta (SI ONLINE) -Saat pertama kali al-Qur’an muncul, banyak penantang dan penentang. Kondisi tersebut juga terjadi pada masa sekarang ini, dimana banyak yang menantang dan menentang. Mereka meragukan orisinalitas serta konsep-konsep al-Qur’an. Tak heran terjadi benturan-benturan di sepanjang zaman.
“Mereka yang menantang dan menentang itu menolak diintervensi oleh Tuhan. Mereka berpikir, jika ingin maju, maka harus berkiblat ke Barat”, kata Wasekjen MIUMI, Fahmi Salim, dalam Kajian Islam bertema “Kontroversi studi al-Qur’an Timur dan Barat” di Gedung Ikhlas, Jalan Fachrudin No 6, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Selain Fahmi, acara yang diadakan oleh Majelis Dai Paguyuban Ikhlas pimpinan Ustaz Drs. H. Ahmad Yani,  juga menghadirkan Saifuddin Zuhri (dosen Institut PTIQ, Jakarta), DR. Abdul Muid Nawawi, dan Mulyana, Lc.
Fahmi mengatakan, para penentang al-Qur’an ini memaksa umat Islam untuk menjustifikasi isu Hak Azasi Manusia (HAM), gender, pluralisme, dan juga faham-faham humanisme. Oleh mereka, Islam ditafsirkan dari faham-faham Barat, bukan sebaliknya. Inilah yang melahirkan Islam Liberal, dimana mereka melihat Islam dari perangkat ilmu-ilmu manusia, lebih tepatnya ilmu dari dunia Barat. “Tak heran pola pikirnya jadi salah dan kacau,” tegas Fahmi.
Penafsiran-penafsiran yang dilakukan oleh para penantang dan penentang al-Qur’an ini melahirkan hermeneutika, yakni membaca dan memahami kitab suci dengan cara mendudukkannya dalam ruang sejarah, bahasa, dan budaya yang terbatas. Ilmu ini dikembangkan oleh peradaban Barat sekuler, yang tidak sejalan dengan konsep tafsir atau takwil dalam khazanah Islam.
Mereka yang berfaham Islam Liberal memandang al-Qur’an bukan sebagai kitab suci wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah. Mereka memandang al-Qur’an sebagai sebuah teks sejarah. Oleh karena dianggap sebagai teks sejarah belaka, tak heran hukum-hukum Islam yang ada sudah dianggap tidak tepat lagi pada masa kini. Inilah yang membuat Islam didekonstruksikan oleh mereka dan banyak orang yang menjadi bimbang, dan kemudian sesat.
“Praktik hermeneutika ini tebang pilih. Mereka hanya menafsir ayat-ayat untuk pranata sosial, seperti ayat tentang jilbab, hak waris, poligami, perkawinan sejenis, perkawinan beda agama, judi, maupun minuman keras. Ini jelas terbaca, bahwa mereka punya agenda untuk mendekontruksi hukum Islam dan ingin mengatakan, Islam jangan mengatur hidup manusia,” papar Fahmi.
Pegiat-pegiat HAM, feminisme, humanisme, dan liberal yang mendekonstruksi hukum Islam ini membuat umat Islam masa kini galau. Mereka menjadi krisis identitas. Sementara teori-teori dari hermeneutika yang dikembangkan ini dianggap masuk akal, mau tak mau umat jadi terbawa ke arah kesesatan.
“Padahal setiap yang dibawa oleh peradaban Barat harus diseleksi, difilter, apakah konsep sosial di Barat sesuai dengan masyarakat Islam. Yang terjadi justru sebaliknya, orang Islam malah menyeleksi sesuai dengan standar Barat. Kalau sesuai, dipakai. Jadi Islam dijalankan dengan sesuai keinginan manusia” katanya.
Padahal umat Islam mengenal dengan otoritas. Allah adalah otoritas kita. Jika kita menentang otoritas, itu sama saja kita menentang Allah. Otoritas Allah diturunkan pada Rasulullah. Lewat Rasulullah, ilmu Allah diturunkan pada manusia. Intinya, ketika kita bicara agama, maka kita berbicara otoritas. Berbeda sekali dengan Barat yang menentang otoritas.
Rep: Brill/Shodiq/ suara-islam.com, Senin, 02 April 2012 | 23:00:40 WIB
***
Dipasarkan melalui perguruan tinggi Islam di Indonesia
Penentangan terhadap Al-Qur’an dengan cara seperti itulah yang dipasarkan di perguruan tinggi Islam di Indonesia yakni IAIN, UIN, STAIN dan lainnya di seluruh Indonesia. Makanya jangan heran kalau ada dosen yang di hadapan para mahasiswanya mendemonstrasikan penentangannya terhadap Allah Ta’ala dengan menulis lafal Allah (tulisan Arab) lalu sengaja menginjaknya pakai sepatu. Seperti yang dilakukan oleh dosen Sulhawi Ruba di IAIN Sunanan Ampel Surabaya beberapa waktu yang lalu, dan belakangan disusul pula oleh dosen di STAIN Jember Jawa Timur, dia menulis lafal Allah di papan tulis, lalu dia hapus pakai sepatunya, lalu sepatu yang dicopot sebentar untuk menghapus lafal Allah itu dipakainya lagi.
Begitulah penentangan dan penghinaan terhadap Islam, dan itulah sejatinya pemurtadan lewat perguruan tinggi Islam di Indonesia, sebagaimana telah ditulis dalam buku Ada Pemurtadan di IAIN,karya Hartono Ahmad Jaiz, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta 2005.
Siapa yang rela terhadap penentangan Islam apalagi secara sistematis seperti itu, maka insya Allah benar-benar berdosa pula. Apalagi yang melakukan bahkan melariskannya atau bahkan mencari tenaga-tenaga untuk lebih merusak Islam lagi, tentu akan mendatangkan murka Allah Ta’ala.
Para ulama atau siapa saja yang mengerti Islam dan mampu untuk berupaya mengatasinya, namun diam saja, apalagi pura-pura tidak tahu, dan bahkan lebih asyik membela aliran sesat seperti syiah, LDII, Ahmadiyah dan semacamnya, sambil mengkampanyekan aneka bid’ah; maka daftar catatan amal telah tersedia. Betapa menyesalnya kelak bila mereka tercatat sebagai ulama su’ (jahat) namun berpenampilan shalih. Sehingga antara yang liberal yang merusak Islam secara sistematis tersebut dengan yang mengusung dan mempertahankan atau membela aneka bid’ah pakai aneka dalih, kelak di akherat tinggal menyesal belaka. Maka sebaiknya mereka bertaubat. Yang memasarkan faham liberal yang merusak Islam, kembali ke Islam yang benar. Yang mengusung dan mempertahankan bid’ah, kembali ke Islam yang sesuai dengan yang dituntunkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bukan menjadikan hawa nafsu sebagai panglima.
Di Indonesia ini, kenapa gerombolan liberal itu semakin nglunjak, di antara faktornya adalah karena mereka juga tahu, para pengusung bid’ah dan pembela kesesatan walaupun berpenampilan seshalih apapun, sejatinya juga tidak jauh beda dengan mereka. Bedanya, mereka tidak ada yang disebut wali, walaupun sampai mencapai title professor doctor, tapi kalau berkecimpungnya di lingkungan yang lain maka bisa disebut wali. Padahal sama-sama merusak Islam. Itu saja.
(nahimunkar.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More