Imam Syafi'i Seorang Rafidhah?


Syubhat: Imam as-Syafi’i Rahimahullah telah bersaksi atas dirinya sendiri bahwa dia adalah seorang rafidhi, saat dia merangkai bait-bait sya’ir yang di dalamnya dia berkata:
إِنْ كَانَ رَفْضاً حُبُّ آلِ مُحَمَّدٍ … فَلْيَشْهَدِ الثَّقَلاَنِ أَنِّيْ رَافِضِيٌّ
“Jika Rafidhah itu adalah mencintai keluarga Muhammad,
Maka hendaknya dua makhluk (jin dan manusia) bersaksi bahwa aku adalah seorang Rafidhi.”
Ini adalah sebuah dalil terbesar atas kecintaan as-Syafi’i terhadap Syi’ah, dan penisbatannya kepada mereka.
Bantahan: Pertama, di awal ini kita harus mencatat bahwa kalian mengakui penyebutan Rafidhah. Maka, mohon jangan membantah penamaan ini setelahnya, karena kalian telah berdalih dengan penisbatan as-Syafi’i kepada rafidhi bukan kepada Syi’iy.
Kedua; sekali-kali tidak mungkin Imam as-Syafi’i Rahimahullah menjadi orang yang memiliki keyakinan rusak menyimpang seperti keyakinan kalian. Maka klaim bahwa dia menisbatkan dirinya kepada kalian adalah sebuah kebohongan atasnya. Adapun bait Syi’ir yang kesohor itu maka benar milik imam Syafi’i, akan tetapi permasalahannya adalah kalian tidak memiliki pemahaman terhadap bahasa Arab. Barangkali kami memaklumi Anda karena keberadaan Anda sekalian yang mengambil ilmu dari orang Persia.

Sekarang perhatikanlah bersama saya:
Imam as-Syafi’i Rahimahullah dengan ucapannya: [إِنْ كَانَ رَفْضاً حُبُّ آلِ مُحَمَّدٍ] Jika Rafidhah itu adalah mencintai keluarga Muhammad, bermaksud mengungkapkan kemustahilan al-Rafdh[1] dimaknai kecintaan kepada keluarga Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka as-Syafi’i Rahimahullah adalah orang ‘Arab tulen, dia mengambil bahasanya dari al-Qur`anul Karim. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:
قُلْ إِنْ كَانَ لِلرَّحْمَنِ وَلَدٌ فَأَنَا أَوَّلُ الْعَابِدِينَ (٨١)
“Katakanlah, jika benar Tuhan yang Maha Pemurah mempunyai anak, Maka Akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu).” (QS. az-Zukhruf: 81)
Apakah Anda memahami bahwa ar-Rahman memiliki anak?! Tidak, sekali lagi tidak. Oleh karena ar-Rahman tidak memiliki anak itu maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menggunakan susunan bahasa ini untuk menolak ucapan orang-orang musyrik dan klaim mereka. Maha tinggi Allah setinggi tingginya dari apa yang mereka ucapkan.
Jadi, Imam as-syafi’i Rahimahullah menggunakan susunan bahasa al-Qur`an, yang membawa balaghah besar yang layak dengan kedudukan dan keluasan ilmu Imam as-Syafi’i Rahimahullah. Dia telah mengatakan bait yang lain, dimana di dalamnya dia menjawab orang yang tidak memahami bait ini, dia berkata di dalamnya:
قَالَوُا تَرَفَّضْتَ؟ قُلْتُ : كَلاَّ … مَا الرَّفَضُ دِيْنِيْ وَلاَ اعْتِقَادِيْ
“Mereka mengatakan, ‘Kalau begitu Anda telah menjadi Rafidhi?’ Saya katakan, ‘Sekali-kali tidak… tidaklah al-Rafdh (menolak Khalifah Abu Bakar dan Umar) itu agamaku, tidak juga keyakinanku.”
Di sini, Imam Syafi’i Rahimahullah berlepas diri dari Rafidhah (Syi’ah), dan menampakkan keheranannya dari pertanyaan ini. Kemudian dia menyatakan dengan terang-terangan bahwa dia tidak berada diatas agama Syi’ah (Rafidhah), tidak juga di atas keyakinan mereka.
Metode Imam Syafi’i Rahimahullah ini telah dikenal oleh para ahlul ilmi. Sebagai contoh, saat orang-orang liberal mengingkari kita karena berpegang teguh dengan agama ini, dengan menyatakan bahwa keteguhan itu adalah fanatisme, dan fanatisme itu merupakan satu keterbelakangan dan kemunduran, maka kita menjawab mereka dengan mengatakan, ‘Jika berpegang teguh dengan Islam itu adalah satu keterbelakangan dan kemunduran, maka  saksikanlah bahwa kami orang-orang yang mundur dan terbelakang.’
Sekarang, wahai para pembaca Qiblati, wahai orang-orang yang obyektif, kita tinggalkan bait-bait syi’ir dan dasar-dasar bahasa Arab tersebut, lalu kita berbicara tentang dalil nyata yang bisa disentuh atas penentangan Imam as-Syafi’i terhadap Syi’ah, serta tidak adanya persetujuannya dengan mereka. Kami hadirkan beberapa dalil berikut ini:
Imam as-Syafi’i Rahimahullah berkata,
لَمْ أَرَ أَحَدًا أَشْهَدَ بِالزُّوْرِ مِنَ الرَّافِضَةِ
“Aku tidak melihat seorang pun yang lebih berani bersaksi dusta daripada Rafidhah.’ (Sunan al-Kubra, al-Baihaqiy (10/208), Siyaru A’lamun Nubala` (X/89))
Imam Syafi’i Rahimahullah ditanya, ‘Apakah aku shalat di belakang seorang Rafidhi? Maka dia menjawab, ‘Jangan kamu shalat di belakang seorang Rafidhi.’ (Siyaru A’lamun Nubala` (X/31))
Imam as-Subki Rahimahullah berkata, ‘Aku melihat di dalam al-Muhith dari kitab-kitab Hanafiah, dari Muhammad (bin Idris as-Syafi’i) bahwa tidak boleh shalat di belakang Rafidhah.’ (Fatawa as-Subki (II/576), lihat juga Ushulud Din (342))
Maka bagaimana Imam Syafi’i Rahimahullah, setelah dalil-dalil ini, menjadi seorang Rafidhiy seperti kalian sementara beliau menuduh kalian dengan persaksian palsu dan mengharamkan shalat di belakang kalian?
Saya kira, dengan jawaban ini kami menutup satu halaman penting dari halaman-halaman kedustaan Syi’ah atas Imam as-Syafi’i Rahimahullah yang memperjelas kedutaan Syi’ah atas beliau, dan kelancangan mereka terhadap beliau demi menyebarkan agama batil mereka.*

1 komentar:

Ketika Rasulullah Saw. menantang berbagai keyakinan bathil dan pemikiran rusak kaum musyrikin Mekkah dengan Islam, Beliau dan para Sahabat ra. menghadapi kesukaran dari tangan-tangan kuffar. Tapi Beliau menjalani berbagai kesulitan itu dengan keteguhan dan meneruskan pekerjaannya.

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More