Akhlak Imam Khomeini


Khomeini, sebuah nama yang dikenal di seluruh penjuru dunia, sebuah nama yang dikagumi jutaan orang di dunia. Sosok yang menjadi idola dan panutan jutaan orang. Tidak banyak orang seperti dia.
Pada beberapa makalah yang lalu, pembaca telah menyimak beberapa pembahasan dan riwayat tentang peristiwa “kamis kelabu” -seperti disebut oleh kawan kita yang satu itu-. Riwayat-riwayat itu berasal dari kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.
Dibanding Kitab Al-Kafi, Al-Irsyad, atau Jawahirul Kalam, kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim jauh lebih mudah dicari. Artinya, kalau orang ingin melihat langsung ke Shahih Bukhari, dia akan dengan mudah menemukan kitabnya, dan melihat langsung riwayat haditsnya. Orang yang berbohong dengan mengatas-namakan riwayat Bukhari, begitu mudah kebohongannya itu akan terbongkar, dia akan ketahuan berbohong. Ini karena kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim begitu mudah dicari dan didapatkan.
Logikanya, orang yang akan berbohong atas nama Bukhari Muslim, akan berpikir beberapa kali. Pembaca barangkali tidak percaya jika ada orang yang nekad berbohong, dan mengklaim hadits tertentu ada di Shahih Bukhari dan Muslim, namun nyatanya tidak. Tapi ada saja orang yang nekad berbohong meski mudah juga ketahuan.

Ada yang berbohong atas nama Bukhari dan Muslim tentang kisah hari kamis. Siapa dia? Dia adalah Khomeini, sosok yang dianggap oleh Syi’ah sebagai wakil Imam Mahdi, imam yang bersembunyi dan tidak memunculkan diri. Kapan Imam Mahdi melantik Khomeini menjadi wakilnya? Tidak jelas kapan waktunya. Yang jelas Syi’ah meyakini hal itu. Asal pembaca tahu saja, Imam Mahdi yang diyakini Syi’ah hari ini, tidak jelas keberadaannya. Tidak ada yang bisa membuktikan keberadaannya.
Dalam Kasyful Asrar, hal. 137 -edisi bahasa arab-, Khomeini mengatakan:
عندما كان رسول الله في فراش المرض,و يحف به عدد كثير,قال مخاطبا الحاضرين: تعالوا أكتب لكم شيئا يحميكم من الوقوع في الضلالة , فقال عمر بن الخطاب : لقد هجر رسول الله. وقد نقل نص هذه الرواية المؤرخون وأصحاب الحديث من البخاري ومسلم وأحمد مع اختلاف في اللفظ ، وهذا يؤكد أن هذه الفرية صدرت من ابن الخطاب المفتري .
Terjemahannya kurang lebih demikian:
“Saat Rasulullah terbaring sakit, dan dikelilingi oleh banyak orang, Beliau bersabda pada orang-orang yang hadir di situ: ‘Kemarilah, aku akan menuliskan pada kalian tulisan yang akan menjaga kalian dari kesesatan.’ Lalu Umar bin Khattab mengatakan: ‘Rasulullah telah meracau (berbicara tidak jelas).’ Text riwayat ini telah dinukil oleh para ahli sejarah dan ahli hadits seperti Bukhari, Muslim, Ahmad, dengan sedikit perbedaan pada redaksi/lafadznya. Ini berarti menegaskan bahwa kebohongan bersumber dari Ibnul Khattab, si pembohong.”
Mari Kita lihat langsung ke sumber aslinya, dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim:
Riwayat dari Shahih Bukhari:
عن سعيد ابن جبير عن ابن عباس رضي الله عنهما أنه قال : يوم الخميس وما يوم الخميس ثم بكى حتى خضب دمعه الحصباء فقال : اشتد برسول الله صلى الله عليه و سلم وجعه يوم الخميس فقال (( ائتوني بكتاب أكتب لكم كتابا لن تضلوا بعده أبدا )) . فتنازعوا ولا ينبغي عند نبي تنازع فقالوا هجر رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ قال (( دعوني فالذي أنا فيه خير مما تدعونني إليه )).
Dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas, bahwa ia berkata: “Hari kamis, apa yang terjadi pada hari kamis, lalu ia menangis, sampai air matanya membasahi kerikil, lalu melanjutkan: Sakit Rasulullah semakin berat pada hari kamis, Nabi bersabda (pada hari itu): ‘Bawakan pena dan kertas kemari, aku akan menulis sebuah wasiat yang kalian tidak akan sesat selamanya’. Lalu mereka saling berselisih paham, padahal tidak selayaknya terjadi perselisihan di depan Nabi, lalu mereka mengatakan: ‘Rasulullah telah meracau?’ Maka Rasulullah pun bersabda: ‘Tinggalkanlah aku, keadaanku seperti ini lebih baik dari apa yang kalian serukan kepadaku.” (Shahih Al-Bukhari, bab Jawaizul Wafd, Nomer hadits: 3053).
Riwayat lain dari kitab Shahih Bukhari:
عن سليمان بن أبي مسلم الأحول سمع ابن عباس رضي الله عنهما يقول:  يوم الخميس وما يوم الخميس ثم بكى حتى بل دمعه الحصى قلت يا أبا عباس ما يوم الخميس ؟ قال اشتد برسول الله صلى الله عليه و سلم وجعه فقال (( ائتوني بكتف أكتب لكم كتابا لا تضلوا بعده أبدا )) . فتنازعوا ولا ينبغي عند نبي تنازع فقالوا ما له أهجر استفهموه ؟ فقال (( ذروني فالذي أنا فيه خير مما تدعونني إليه)).
Dari Sulaiman bin Abi muslim Al-Ahwal telah mendengar Ibnu Abbas mengatakan: “hari kamis, apa yang terjadi di hari kamis, lalu menangis, sampai air matanya membasahi kerikil, lalu aku bertanya, Wahai Abul Abbas, apa yang terjadi pada hari kamis? Ibnu Abbas melanjutkan: Sakit Rasulullah semakin berat pada hari kamis, lalu beliau bersabda: Bawakan pena dan kertas kemari, aku akan menulis sebuah wasiat yang kalian tidak akan sesat selamanya, lalu mereka berselisih paham, padahal tidak selayaknya terjadi perselisihan di depan Nabi, lalu mereka mengatakan: Apa yang dikatakan Rasulullah, apakah Rasulullah telah meracau? Mintalah penjelasan lagi. Lalu Rasulullah bersabda: Tinggalkan aku, keadaanku saat ini lebih baik dari ajakan kalian.” (Shahih Al-Bukhari, bab Ikhrajul Yahud Min Jaziratil Arab, Nomer hadits: 3168).
Riwayat lain dari Shahih Bukhari:
عن سعيد بن جبير قال قال ابن عباس : يوم الخميس وما يوم الخميس ؟ اشتد برسول الله صلى الله عليه و سلم وجعه فقال (( ائتوني أكتب لكم كتابا لن تضلوا بعده أبدا )) . فتنازعوا ولا ينبغي عند نبي تنازع فقالوا ما شأنه أهجر استفهموه ؟ فذهبوا يردون عليه فقال (( دعوني فالذي أنا فيه خير مما تدعونني إليه )).
Dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas mengatakan: “Hari kamis, apa yang terjadi di hari kamis, lalu ia menangis dan melanjutkan: Sakit Rasulullah semakin berat pada hari kamis, lalu beliau bersabda: Bawakan pena dan kertas kemari, aku akan menulis sebuah wasiat yang kalian tidak akan sesat selamanya, lalu mereka berselisih paham, padahal tidak selayaknya terjadi perselisihan di depan Nabi, lalu mereka mengatakan: Rasulullah telah meracau? Lalu Rasulullah bersabda: Tinggalkan aku, keadaanku seperti ini lebih baik dari ajakan kalian.” (Shahih Al-Bukhari, bab Maradhin Nabiy Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam, Nomer hadits: 4431).
Riwayat dari Shahih Muslim:
عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ قَالَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ يَوْمُ الْخَمِيسِ وَمَا يَوْمُ الْخَمِيسِ ثُمَّ بَكَى حَتَّى بَلَّ دَمْعُهُ الْحَصَى. فَقُلْتُ يَا ابْنَ عَبَّاسٍ وَمَا يَوْمُ الْخَمِيسِ قَالَ اشْتَدَّ بِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَجَعُهُ. فَقَالَ (( ائْتُونِى أَكْتُبْ لَكُمْ كِتَابًا لاَ تَضِلُّوا بَعْدِى )) فَتَنَازَعُوا وَمَا يَنْبَغِى عِنْدَ نَبِىٍّ تَنَازُعٌ. وَقَالُوا مَا شَأْنُهُ أَهَجَرَ اسْتَفْهِمُوهُ.
Dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas mengatakan: “Hari kamis, apa yang terjadi di hari kamis, lalu menangis, sampai air matanya membasahi kerikil, lalu aku bertanya, Wahai Ibnu Abbas, apa yang terjadi pada hari kamis? Ibnu Abbas melanjutkan: Sakit Rasulullah semakin berat pada hari kamis, lalu beliau bersabda: Bawakan pena dan kertas kemari, aku akan menulis sebuah wasiat yang kalian tidak akan sesat selamanya, lalu mereka berselisih paham, padahal tidak selayaknya terjadi perselisihan di depan Nabi, lalu mereka mengatakan: Apa yang dikatakan Rasulullah, apakah Rasulullah telah meracau? Mintalah penjelasan lagi.” (Shahih Muslim, bab Tarkil Washiyyah Liman Laisa Lahu Syai’un Yushii fiihi, nomer hadits: 1637).
Riwayat lainnya dari Shahih Muslim:
عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ قَالَ يَوْمُ الْخَمِيسِ وَمَا يَوْمُ الْخَمِيسِ. ثُمَّ جَعَلَ تَسِيلُ دُمُوعُهُ حَتَّى رَأَيْتُ عَلَى خَدَّيْهِ كَأَنَّهَا نِظَامُ اللُّؤْلُؤِ. قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- (( ائْتُونِى بِالْكَتِفِ وَالدَّوَاةِ - أَوِ اللَّوْحِ وَالدَّوَاةِ - أَكْتُبْ لَكُمْ كِتَابًا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ أَبَدًا )). فَقَالُوا إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَهْجُرُ.
Dari Said bin Jubair dari Ibnu Abbas mengatakan: “Hari kamis, apa yang terjadi pada hari kamis, lalu menangis, lalu air matanya mengalir di pipinya, sampai aku melihat di pipinya seakan untaian mutiara, Ibnu Abbas melanjutkan: Sakit Rasulullah semakin berat pada hari kamis, lalu beliau bersabda: Bawakan pena dan kertas kemari, aku akan menulis sebuah wasiat yang kalian tidak akan sesat selamanya, lalu mereka mengatakan: Rasulullah telah meracau? Mintalah penjelasan lagi.” (Shahih Muslim, bab Tarkil Washiyyah Liman Laisa Lahu Syai’un Yushii fiihi, nomer hadits: 1637).
Kita lihat sendiri dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, ternyata apa yang diucapkan oleh Khomeini tidak ada. Dalam seluruh riwayat di atas, tidak ada kata Umar. Sementara yang menuduh Nabi meracau adalah mereka. Artinya, jumlahnya lebih dari tiga.
Siapakah mereka yang berani menuduh Nabi meracau? Riwayat-riwayat lainnya –termasuk dalam Shahih Bukhari dan Muslim– tidak menyebutkan siapa mereka. Bahkan mereka juga ribut di depan Nabi saat Nabi sedang sakit keras. Siapakah mereka itu? Silahkan menyimak kembali makalah: “Siapa yang ribut saat Nabi sakit?”. Dengan mudah kita mendapati bahwa yang berbohong adalah Khomeini sendiri, bukan Umar bin Khattab. Khomeni lah sang pembohong, bukan Umar bin Khattab.
Ini sebuah pertanda, berbohong adalah kebiasaan ustadz dan ulama Syi’ah yang susah ditinggalkan. Kita tidak perlu heran, karena mereka bermakmum kepada Khomeini, sedangkan makmum harus mengikuti imamnya.
Apa maksud dan tujuan ini semua? Semua ini untuk mengungkapkan kebencian Khomeini kepada Umar bin Khattab, sahabat Nabi yang membawa obor cahaya Islam menaklukkan negeri Persia.
Khomeini Menyelisihi Imam Ali bin Abi Thalib dalam Hal Mut'ah
Dalam kitab Kasyful Asrar, Khomeini memulai pembahasan mengenai Mut’ah dengan judul: “Penyimpangan Umar dari Al-Qur’an”. Lalu ia mengatakan: “Sesuai dengan khabar yang mutawatir dari Ahlul Bait dan hadits yang shahih, Jabir bin Abdillah Al-Anshari menukil dalam Sahih Muslim dari pengikut sunni bahwa mereka mengatakan: ‘Kami dahulu –pada zaman Rasulullah dan Abu Bakar– melakukan Mut’ah, sampai Umar melarangnya.”
Artinya, Umar melarang sesuatu yang diperbolehkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Nikah Mut’ah yang dibolehkah oleh Allah dan Rasul-Nya, dilarang oleh Umar. Dengan itu Umar telah menyeleweng dari Al-Qur’an. Begitulah kesimpulan yang ingin dibangun oleh Khomeini.
Pendapat ini diikuti oleh seluruh Syi’ah, baik yang ulama, ustad maupun orang awam, yang ikutan sok kritis. Semangat ilmiah yang dinampakkan dan dihasung oleh ustad-ustad Syi’ah, ternyata tidak mereka anut sendiri. Semua itu hanya sekedar retorika untuk memukau orang awam. Para ustad Syi’ah dan ulama Syi’ah tidak mau memeriksa dalam kitab Shahih Muslim. Kepercayaan dan kharisma Khomeini telah meruntuhkan semangat ilmiyah dan objektifitas mereka sendiri.
Tapi kami tidak begitu saja percaya pada Khomeini, meski Syi’ah telah menganggapnya sebagai wakil Imam Mahdi. Ternyata wakil Imam Mahdi sengaja berbohong. Ini nampak jelas pada makalah sebelumnya tentang; “Akhlak Imam Khomeini”.
Dalam Shahih Muslim, dalam bab Mut’ah, tercantum riwayat bahwa Ali marah pada orang yang menghalalkan Mut’ah. Orang itu memberi fatwa bahwa nikah Mut’ah adalah halal, berita itu sampai kepada Ali dan Ali pun marah. Katanya: “Engkau adalah orang bingung. Rasulullah telah melarang nikah Mut’ah..” –seperti pada hadits Yahya bin Yahya dari Malik–.
Sedangkan hadits riwayat Yahya bin Yahya dari Malik adalah sebagai berikut:
Malik meriwayatkan dari Ibnu Syihab, dari Abdullah dan Hasan bin Muhammad bin Ali bin Abi Thalib, dari Muhammad bin Ali bin Abi Thalib, dari Ali bin Abi Thalib bahwa “Rasulullah melarang nikah Mut’ah pada hari khaibar, dan melarang makan daging keledai jinak.”
Ali bin Abi Thalib, yang orang sering menyebutnya dengan julukan pintu ilmu, tidak rela jika ajaran Rasulullah SAW diselewengkan. Ketika ada yang menyimpang, segera dia meluruskan dan menyampaikan apa yang didengarnya dari Rasulullah SAW. Ali yang menjadi pintu ilmu, tentunya lebih mengetahui ajaran Rasul dibanding orang yang menghalalkan nikah Mut’ah tadi.
Rupanya Khomeini tidak melihat langsung dari Shahih Muslim, hanya mendengar dari orang lain, lalu tidak dicek langsung ke Shahih Muslim. Oleh karenanya, Khomeini tidak melihat bahwa Ali juga mengharamkan nikah Mut’ah. Jika Umar divonis menyimpang dari Al-Qur’an karena menghalalkan nikah Mut’ah, apakah Ali juga akan divonis menyimpang?
Ternyata Umar telah mendengar langsung pengharaman Mut’ah dari Nabi, jika dinyatakan bahwa Umar adalah orang pertama yang mengharamkan, berarti di sini Ali telah mengikuti Umar bin Khattab, mengikuti pendapat sesatnya.
Ali pun menikahkan putrinya, Ummu Kultsum, dengan Umar bin Khattab. Ini tidak lain dan tidak bukan karena Ali menganggap Umar adalah orang baik-baik yang layak diambil menantu. Pernikahan itu melahirkan anak yang bernama Zaid bin Umar bin Khattab. Memang sebagian Syi’ah susah untuk menerima kenyataan ini, karena peristiwa ini akan meruntuhkan seluruh madzhab Syi’ah. Ada pertanyaan untuk mereka, jika memang Ummi Kultsum tidak menikah dengan Umar, siapa ayah dari Zaid bin Umar bin Khattab?
Selengkapnya bisa dirujuk ke makalah “Benarkah cucu Nabi diperkosa?”
Khomeini mengambil riwayat dari Jabir bin Abdullah dalam Shahih Muslim, tapi mengabaikan pendapat Ali bin Abi Thalib, karena tidak sesuai dengan apa yang menjadi keinginannya. Saya yakin Khomeini memiliki akses ke kitab Shahih Muslim.
Ini semakin membuat kita ragu dan bertanya, apakah madzhab yang dianut oleh Khomeini adalah madzhab Ali bin Abi Thalib? [hakekat/syiahindonesia.com].

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More