Akhirnya Kutemukan Kebenaran (4) Kontradiksi Perkataan-perkataan Tijani

Oleh: Dr. Ibrahim Bin Amir Ar-Ruhaili
Keempat: Kontradiksi Perkataan Tijani
Perkataan-perkataan penulis saling bertentangan satu dengan yang lainnya, begitu juga dengan pernyataan-pernyataan yang ia lontarkan. Hampir tidak ada masalah yang ia sebutkan kecuali terdapat kontradiksinya di tempat lain. Hingga hal ini menjadi ciri tersendiri kitab ini. Dan ini tidak mengherankan karena yang demikian adalah ciri khas para pengikut hawa nafsu dan pelaku bid’ah, karena sebenarnya perkataan dan pernyataan mereka dibangun atas pikiran-pikiran manusia semata dan hawa nafsu mereka, Allah I berfirman :
Seandainya Al Qur’an itu berasal dari selain Allah maka mereka akan mendapatkan di dalamnya pertentangan yang banyak. (Terjemahan QS. An-Nisa’: 82)
Berikut ini beberapa kontradiksi dalam kitab tersebut:
1.Dalam buku Asy-Syiah Hum Ahlu Sunnah ia mengatakan, “Satu dalil saja sudah cukup membuktikan kepada kita, sebagaimana yang telah kami sebutkan, bahwa Ahlus Sunnah wal Jamaah tidaklah dikenal kecuali pada abad kedua hijriah dengan menolak Syiah yang telah mengakui dan menjadikan Ahlul bait sebagai pedoman. Kami tidak mendapati sedikitpun dalam fiqh dan ibadah mereka yang bersumber dari Sunnah Nabawiyah yang diriwayatkan dari Ahlul Bait” (Asy-Syiah Hum Ahlu Sunnah, hal 300)
Perkataannya ini bertentangan dengan pernyataannya yang lain pada kitab yang sama, “Jika kita ingin memperluas pembahasan kita akan sampai pada kesimpulan bahwa Ahlus Sunnah wal Jamaah-lah yang memerangi Ahlul Bait Nabi yang dipelopori oleh para pemimpin Bani Umayyah dan Abbasiyah. Oleh karena itu kalau Anda lihat aqidah dan kitab-kitab hadis mereka Anda tidak akan mendapatkan sedikitpun fiqh ahlul bait yang disebut-sebut. Bahkan, Anda akan temukan semua fiqh dan hadis mereka bersumber dari musuh-musuh ahlul bait” (Asy-Syiah Hum Ahlu Sunnah, hal 295)
Pada teks yang pertama ia mengklaim bahwa semua aqidah dan fiqh ahlu sunnah merujuk kepada Ahlul Bait, sedangkan pada teks yang kedua kebalikannya 180 %. Ia mengklaim bahwa ahlu sunnah mengambil semua aqidah dan fiqh mereka dari musuh-musuh Ahlul Bait dan juga fiqh Ahlul Bait tidak disebutkan sama sekali.   
2.Perkataannya, “Isyarat menunjukkan bahwa syiah mengambil hukum berlandaskan al Qur’an dan Sunnah dan tidak menambahkannnya sedikit pun, itu karena adanya teks-teks yang ada pada para Imam mereka di setiap masalah yang dibutuhkan oleh manusia” (Asy-Syiah Hum Ahlu Sunnah, hal 138)
Bertentangan dengan perkataannya, “Rangkaian ahli fiqhi mujtahid dimulai sejak zaman itu hingga hari ini saling bersambung tanpa ada yang terputus. Di setiap masa ada satu rujukan (marja’) utama atau beberapa rujukan milik syiah, mereka bertaklid kepada amalan para ulama yang dijadikan marja’ itu, sesuai dengan risalah-risalah ilmiah yang digali hukumnya oleh setiap ulama dari al qur’an dan sunnah, dan mereka tidak berijtihad kecuali dalam urusan kontemporer yang ada pada zaman itu disebabkan perkembangan ilmu dan teknologi” (Asy-Syiah Hum Ahlu Sunnah, hal 144)
Pada teks yang pertama ditegaskan bahwa syiah berpatokan pada teks alqur’an dan Sunnah, dan tidak menambahkannya sedikit pun, karena telah ada nash yang cukup bagi mereka pada setiap permasalahan.
Namun pada teks yang kedua ia katakan bahwa rangkaian para fuqaha’ mujtahidin syiah senantiasa bersambung dari masa ke masa, mereka menggali hukum dari teks-teks (Al Quran dan hadis) yang mereka butuhkan berupa permasalahan-permasalahan kontemporer.
3.  Perkataannya, “Adapun para Shahabat yang bukan golongan syiah, para khalifah, raja dan umara yang memerintah kaum muslimin sejak era Abu Bakar hingga masa khalifaan Abbasiah Muhammad bin Ar-Rasyid al Mu’tashim tidak mengakui kekhalifaan Ali bin Abu Thalib t bahkan ada diantara mereka yang melaknatnya, dan tidak mengannggapnya sebagai muslim” (Asy-Syiah Hum Ahlu Sunnah hal 45)
Juga perkataannya, ”Dan setiap itu kami katakan bahwa Ahlu Sunnah wal Jama’ah tidak mengakui kekhalifaan Ali bin Abu Thalib kecuali jauh setelah masa Imam Ahmad bin Hambal (Asy Syiah hum Ahlu Sunnah hal 38)
Teks-teks lain yang menunjukkan hal yang sama sangat banyak. (lihat: Asy Syiah hum Ahlu Sunnah hal 24-49-152-229-230)
Semua ini bertolak belakang dengan perkataannya, “Adapun Ali bin Abu Thalib dibaiat oleh kaum Muhajirin dan kaum Anshar tanpa ada rasa paksaan dan itu secara menyeluruh kecuali Muawiyah dari syam” (Asy Syiah hum Ahlu Sunnah hal 232)
Juga perkataannya, “Dan adakah penanya yang bertanya kepada Ibnu Umar dan yang berkata dengan ucapannya dari Ahlu Sunnah wal Jama’ah, kapankah terjadi Ijma’ pada seorang khalifah dalam sejarah seperti yang terjadi pada Amirul Mukminin, khalifah Ali bin Abu Thalib?” (Asy Syiah hum Ahlu Sunnah hal 231)
Begitu juga perkataannya tentang Ibnu Umar Radiallahu ‘anhuma,”Kami menganggap ia tidak mau membaiat Ali bin Abu Thalib yang kaum muslimin bersepakat (untuk membaiatnya)” (Asy Syiah hum Ahlu Sunnah hal 232)
Kita tidak tahu, mana perkataannya yang kita bisa pegangi, apakah klaimnya bahwa Ahlu Sunnah tidak mengakui kekhalifahan Ali hingga zamannya Imam Ahmad bin hambal? atau ungkapannya bahwa para sahabat sepakat atas kekhalifaan Ali bin Abu Thalib sejak awal tanpa ada paksaan?
4.  Perkataannya, “Pada bagian ini sejarah telah menuliskan kepada kita bahwa Imam Ali adalah orang yang paling alim diantara para sahabat, dan para sahabat menjadikannya sebagai tempat untuk bertanya atas masalah-masalah penting. Dan kami tidak dapatkan bahwa Imam Ali pernah merujuk kepada salah satu dari mereka. Abu Bakar mengatakan, “Allah tidak menyisakan bagiku satu masalah rumit kecuali Abul Hasan (Ali) mengetahuinya” dan Umar bin Khattab berkata, “Seandainya bukan Ali, binasalah Umar”.(Tsumma Ihtadaitu hal. 173)
Pernyataan ini sangat bertentangan dengan perkataannya, “Mereka menjauhi Ali bin Abu Thalib, mereka menyelisihinya dan meninggalkannya serta tidak mengunjungi rumahnya. Tidak menyertainya dalam urusan apapun selama seperempat abad, supaya menjadi hina dan dijauhi oleh manusia …dan memang betul Ali salamullahi ‘Alaihi berada pada keadaan seperti itu selama masa khalifah Abu Bakar, Umar, dan Ustman bin Affan, semuanya menghinakannya, meredupkan cahayanya serta menyembunyikan keutamaan dan kemuliannya” (Fas’alu ahla adz dzikr hal 252).
5.  Perkataannya, “Dan hal ini tidak menjadikan kaum Quraisy takjub. Olehnya Kaum Quraisy kembali emosi setelah wafatnya Rasulullah r. mereka berusaha menghabisi semua keturunannya, mereka kelilingi rumah Fatimah dengan kayu bakar, seandainya bukan Ali yang menyerahkan diri dan mengorbankan haknya atas kekhalifahan, maka  ia akan memberi putusan buruk kepada mereka, dan Islam akan berakhir sejak hari itu” (Asy syiah hum ahlu Sunnah hal. 110-111)
Pernyataan ini ia tentang dan tolak sendiri ketika menjawab seorang penanya yang diakui bersumber darinya yaitu: Apakah Imam Ali rela terhadap apa yang terjadi dan membaiat al jama’ah?, ia menjawab, ”Tidak, Imam Ali tidak ridha terhadap apa yang terjadi dan ia tidak diam. Bahkan ia berhujjah terhadap segala sesuatu, ia tidak mau membaiat mereka karena takut ancaman....Ali tidak diam. Sepanjang hidupnya, setiap mendapatkan kesempatan ia akan membalas orang yang mendzoliminya dan merampas haknya. Cukuplah apa yang ia katakan dalam khutbahnya yang terkenal di Asy-Syaqsyaqiyah sebagai satu dalil. (Fas’alu Ahla Adz-Dzikri hal 250-251).
6.  Perkataannya, “Kaum muslimin –tanpa ada perbedaan- telah sepakat untuk mencintai Ahlu bait. Dan untuk selainnya mereka berselisih faham” (fas’alu ahla adz dzikr hal. 164)
Ini bertentangan dengan perkataannya yang termuat dalam paparannya tentang Ahlu Bait, “Olehnya itu anda melihat mereka tidak memiliki wujud di sisi Ahlu Sunnah wal Jama’ah dan tidak pula terdapat dalam rentetan para Imam dan Khalifah yang mereka jadikan teladan, padahal salah satu dari mereka merupakan Imam Ahlu bait Alaihimussalam” (Asy-Syiah Hum Ahlu Sunnah hal. 238)
7.  Perkataannya, “Saya tambahkan bahwa Imam Ali ketika menjadi Khalifah, beliau segera mengembalikan kaum muslimin kepada sunnah nabawiyah. Dan hal pertama yang ia lakukan adalah membagikan harta baitul mal…” (Asy-Syiah hum Ahlu Sunnah hal 189)
Dan perkataannya, “Cukuplah Ali bin Abu Thalib mengembalikan manusia kepada Sunnah, hingga lebih dari pada para sahabat, mereka dikagetkan dengan hal bid’ah yang dilakukan oleh Umar” (Asy Syiah hum Ahlu Sunnah hal 190)
Dan juga perkataannya, “Sesungguhnya amirul mukminin, Ali, tidak memaksa kaum muslimin untuk membaiatnya dengan memakai kekuatan, sebagaimana yang dilakukan khalifah-khalifah sebelumnya, namun beliau Salamullahi ‘Alaihi dalam menetapkan hukum selalu berpatokan kepada alqur’an  dan Assunnah, tidak merubah dan menggantinya” (Asy Syiah hum Ahlu Sunnah hal 198)
Ini semua sangat bertentangan dengan perkataannya yang lain, “Jika saja Ali bin Abi Thalib alaihi salam -satu-satunya menentang- ia kerahkan kemampuannya untuk mengembalikan manusia kepada sunnah nabawiyah melalui perkataan, perbuatan dan hukum yang ia terapkan semasa khilafahnya. Akan tetapi itu tidak ada gunanya karena mereka sibuk dengan peperangan” (Asy Syiah hum Ahlu Sunnah hal. 260)
Begitu juga dengan perkataannya, “Ini dia kitab-kitab shahih mereka menjadi bukti benarnya apa yang kami katakan, bahwa beliau Salamullhu alaihi telah berusaha semaksimal mungkin menghidupkan sunnah nabawiyah dan mengembalikannya kepada asalnya. Akan tetapi tidak dapat diterima pendapat  orang yang tidak ditaati. Sebagaimana ketika ia mengatakannya sendiri” (Asy Syiah hum Ahlu Sunnah hal. 182)
Dan begitu juga dengan perkataannya, “Beliau menghabiskan masa kekhalifaannya dengan perang berdarah, sehingga ia mewajibkan suatu kewajiban terhadap orang-orang yang berpaling, orang-orang yang menyimpang dan orang yang murtad. Tidak ada yang keluar dari itu kecuali dengan Syahid (meninggalnya) beliau Salamullahi alaihi dan ia bersedih atas umat Muhammad”  (La akuuna ma’a ash shodiqin hal 81).

Ini semua adalah beberapa contoh yang bersumber dari kitab-kitabnya berupa kesimpangsiuran dan kontradiksi. Seandainya saya ingin menyebutkan tentang ini saja -kekeliruan penulis dari kontradiksinya-, maka saya akan menyebutkan lebih banyak lagi, dimana kitab-kitabnya penuh dengan hal-hal seperti itu, cukuplah dengan contoh-contoh yang telah saya sebutkan, agar tidak terlalu panjang dan tetap tercapai tujuan yang ingin disampaikan yang dari itu semua jelaslah kontradiksi dan kegoncagan penulis, serta kebimbangannya yang dengannya kita ragu terhadap riwayat-riwayat yang ia nukil dan dalam mengambil pendapat-pendapatnya.
(Sebelum lanjut ke silsilah berikutnya kami ingatkan bahwa beberapa seri ini merupakan bantahan secara umum terhadap empat buku Dr. Muhammad Tijani, setelah bantahan umum ini selesai, kita akan masuk ke dalam bantahan secara khusus terhadap bukunya "Akhirnya Kutemukan Kebenaran", Insya Allah, Mudah-mudahan antum bisa bersabar menunggu)
(Dialihbahasakan oleh lppimakassar.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More