Akhirnya Kutemukan Kebenaran (2) Kebodohan Dr. Muhammad Tijani


 
Oleh. Dr. Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili
Sebelum membantah secara rinci masalah-masalah yang disebutkan oleh penulis (Dr. Muhammad At-Tijani, dan setiap disebutkan “penulis” maka yang dimaksud adalah Dr. Tijani) dalam bukunya yang pertama “Tsumma Ihtadaitu” (Akhirnya Kutemukan Kebenaran) saya harus menjelaskan terlebih dahulu cara dan metode yang ia gunakan dalam penyusunan bukunya, bagaimana tingkat kejujurannya, amanahnya, dan bagaimana kedalaman ilmunya, agar pembaca mengetahui itu semua sebelum masuk pada tahap bantahan.
Itu dengan cara menjelaskan tingkat kebodohan penulis (Dr. Muhammad At-Tijani), tipu dayanya, kedustaannya, tadlis (pemutarbalikan fakta) nya dan kontradiksi ucapan-ucapannya. Dan juga penjelasan bagaimana ia mengikuti prasangka semata dalam berbagai pernyatannya, tidak becusnya dalam menukil, melencengnya dari prinsip-prinsip dasar penyusunan sebuah karya ilmiah  pada buku-bukunya, penyimpangannya terhadap metode yang ia terapkan sendiri, bahkan penyimpangannya terhadap akidah Rafidhah yang sudah dikenal di kalangan mereka.
semua ini akan dipaparkan dengan cara menelaah perkataan-perkataannya, membandingkannya, kemudian mendialogkan masalah-masalah yang ia tulis pada keempat bukunya yang telah disebutkan.
Berikut perinciannya:
Pertama: Kebodohannya
Yang menunjukkan kebodohannya adalah apa yang ia tulis tentang dirinya, bahwasanya dia tidak memiliki perpustakaan khusus kecuali setelah seorang Rafidhah di Irak menghadiahkan kepadanya sekumpulan kitab, ia berkata, “Ketika saya masuk ke rumah saya, saya dikagetkan dengan banyaknya buku yang tiba sebelum saya dan saya tahu dari mana datangnya…..saya sangat senang, kemudian saya susun buku-buku itu dalam satu rumah khusus yang saya beri nama perpustakaan(lihat “Tsumma Ihtadaitu, hal 86-87”)
Kemudian setelah itu dia berkata, “Saya pergi ke ibu kota, saya beli shahih Bukhari, Muwaththa’ Malik, dan selainnya dari kitab-kitab yang terkenal, saya tidak menunggu pulang ke rumah, di sepanjang jalan antara Tunisia dan Qafshah dalam angkutan umum yang saya naiki, saya buka-buka Shahih Bukhari, saya cari kisah Tragedi hari kamis dengan berharap agar tidak mendapatkannya, namun sayangnya saya mendapatkannya…..” (Tsumma Ihtadaitu, hal 88)
Silakan pembaca perhatikan ucapannya, “Kemudian saya susun buku-buku itu dalam satu rumah khusus yang saya beri nama perpustakaan”, seakan-akan dialah orang yang pertama kali membuat perpustakaan di rumah kemudian memberinya dengan nama ini (perpustakaan) yang dia kira belum ada orang yang mendahuluinya (dalam memberikan nama dengan nama “perpustakaan”), kemudian dia beli dua kitab shahih dan kitab-kitab yang terkenal dalam bidang hadis setelah sebelumnya dia tidak mempunyainya dan tidak mengetahuinya.
Dalam waktu yang sama, hampir-hampir semua kitab ini dimiliki oleh penuntut ilmu yang pemula, bagaimana lagi jika orang yang mengklaim dirinya ulama, kemudian memberanikan diri melakukan penelitian dan penyusunan dalam masalah yang paling kompleks dan paling rumit, yaitu masalah akidah.
Inilah dia. Penulis juga telah memperkenalkan dirinya bahwa dia tidak mempunyai ilmu-ilmu syari’i, dimana ia mengklaim –karena kebodohannya- bahwa dia tidak butuh pengetahuan perihal para sahabat dalam penelitiannya.
Ia berkata dalam nukilan perdebatannya dengan seorang alim sunni, “Ia berkata: ‘Anda tidak mungkin melakukan ijtihad sebelum anda mengetahui tujuh belas ilmu, di antaranya ilmu tafsir, bahasa, nahwu, sharf, balaghah, hadis, tarikh, dan lain sebagainya.’ Kemudian saya potong dan saya katakan, ‘Saya tidak berijtihad untuk menjelaskan kepada manusia hukum-hukum yang ada dalam Al Quran dan Sunnah atau ingin menjadi pemilik mazhab dalam Islam, tidak, akan tetapi agar saya mengetahui siapa yang berada di atas kebenaran dan siapa yang berada di atas kebatilan, untuk mengetahui jikalau Imam Ali berada di atas kebenaran atau Muawiyah misalnya, dan ini semua tidak harus menguasai tujuh belas ilmu tadi, cukuplah saya mempelajari peri kehidupan keduanya dan apa saja yang mereka perbuat sampai saya menjelaskan hakikatnya’.” (Tsumma Ihtadaitu, hal 150)
Saya katakan, dengan cara inilah penulis jatuh dalam banyak kesalahan dan kepandiran yang penuntut ilmu pemula saja tahu.
Seperti ungkapan dalam bukunya, Fas’aluu Ahla Adz-Dzikri, “Jika anda bertanya pada mereka –Ahlus Sunnah- tentang orang-orang munafik yang pada mereka turun lebih dari 150 ayat dalam dua surat, At-Taubah dan Al-Munafiqun, mereka akan menjawab, ‘Dia itu Abdullah bin Ubay dan Abdullah bin Abi Salul’, setelah dua nama ini mereka tidak akan mendapatkan nama lain” (Fas’aluu Ahla Adz-Dzikri, hal 119)
Dia juga katakan, “Bagaimana mungkin orang-orang munafik hanya dibatasi pada Ibnu Ubay dan Ibnu Abi Salul yang sudah diketahui oleh seluruh kaum Muslimin” (Fas’aluu Ahla Adz-Dzikri, hal 119)
Dia telah terjatuh dalam beberapa kesalahan yang sangat ceroboh:
Pertama: Perkataannya, “Yang pada mereka turun lebih dari 150 ayat dalam dua surat, At-Taubah dan Al-Munafiqun”, jumlah ayat dari dua surat, At-Taubah dan Al-Munafiqun tidak sampai 150 ayat, At-Taubah berjumlah 129 ayat dan Al-Munafiqun berjumlah 11 ayat, dengan catatan bahwa tidak semua ayat itu berbicara tentang perihal orang-orang Munafik, 3 ayat akhir dari dari surat Al-Munafiqun tidak berbicara tentang orang-orang munafik, begitu juga pada surat At-Taubah banyak ayat-ayatnya yang tidak berbicara tentang perihal orang-orang munafik.
Dan yang dipahami dari perkataannya bahwa ayat-ayat yang turun berkenaan dengan orang-orang munafik terbatas pada dua surat, ini merupakan kesalahan yang lain, padahal banyak ayat yang turun berkenaan dengan orang-orang munafik tidak hanya pada dua surat tadi, seperti yang terdapat dalam surat Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisa’, Al-Maidah dan lain sebagainya. (sebagai contoh, dalam surat Al Baqarah: 8-20, 204-206, dalam surat Ali Imran: 120 dan 154, dalam surat An-Nisa’: 60-66, 72-73, 138-146, dan dalam surat Al-Maidah: 41, 52 dan 53)
Kedua: Sangkaannya bahwa Ibnu Ubay bukanlah Ibnu Salul dan bahwa mereka itu dua laki-laki yang berbeda, padahal sebenarnya mereka itu satu orang, dia itu Abdullah bin Ubay bin Salul, gembong munafikin dan pemimpin mereka di Madinah.
Ketiga: Perkataannya, “Setelah dua nama ini mereka tidak akan mendapatkan nama lain”, ini di antara kebodohannya yang murokkab (sangat bodoh), dia sangat lancang berbicara tanpa ilmu, tidak juga dengan kroscek terlebih dahulu. Jikalau perkataan-perkataan serampangan ini dirujuk kembali (dicek) kepada kitab yang paling masyhur tentang Sirah, yaitu Sirah Ibnu Hisyam, dia akan mendapatkan bahwa penyusun buku tersebut memaparkan dalam juz dua nama-nama kelompok besar orang-orang munafik lebih dari 10 halaman, beliau menyebutkan nama-nama mereka beserta nama bapak-bapak mereka, beliau juga menjelaskan sebagian ayat Al-Quran yang turun kepada mereka orang perorang. (lihat Sirah Ibnu Hisyam: 2/548-557)
Nama-nama ini selain dari pada nama-nama yang disebutkan oleh ahli tarikh dan ahli tafsir yang lain dalam kitab-kitab tafsir.
Juga di antara kebodohan penulis yang sangat fatal adalah perkataannya, “Para sahabat yang murtad seperti Mu’awiyah, Amr bin Ash, Mughirah bin Syu’bah, Abu Hurairah, Ikrimah dan Ka’ab Al-Ahbar dan selian mereka diganti dengan sahabat yang pandai bersyukur…..” (Tsummah Ihtadaitu, hal 158). Perkataan ini dan apa yang dikandungnya berupa penyimpangan dan kesesatan yang sangat jauh, untuk bantahannya silakan merujuk pada tempat pembahasan dalam buku ini (Al-Intihsar, Dr. Ibrahim bin Amir Al-Ruhaili), maka sesungguhnya ia mengandung kesalahan yang buruk dimana dia memasukkan Ka’ab Al-Ahbar sebagai sahabat padahal dia termasuk generasi Tabi’in, beliau masuk Islam setelah wafatnya Nabi Shallallahu alaihi wasallam, kemudian ia mendatangi kota Madinah di masa Umar radhiyallahu ‘anhu, ini sudah masyhur di kalangan ahlul ilmi, akan tetapi penulis dengan kebodohannya telah jatuh pada kesalahan berat dan gamblang seperti ini.
Secara umum, kesalahan-kesalahan penulis menunjukkan kebodohannya, perbekalan ilmunya yang sedikit. Yang saya kemukakan ini hanya sebagai contoh yang menunjukkan kebodohannya, sebelum masuk ke dalam perincian bantahan kepadanya, di tengah bantahan akan ada tambahan dari apa yang telah disebutkan di atas, Insya Allahu Ta’ala.

Kedua: Kekagumannya Terhadap Dirinya Sendiri
Keperibadian penulis dihiasi dengan berbangga atas dirinya sendiri, itu nampak di sela-sela pengabarannya tentang dirinya, dan mentazkiyah dirinya sendiri dalam banyak tempat di dalam buku-bukunya, di antara contohnya:
Perkataannya tentang perjalanan hajinya, “Karena itu saya mengira bahwa Allah-lah yang memanggilku, membimbingku, dan membawa saya kepada tempat itu di mana jiwa akan mati tanpa harus sampai kepadanya dengan berlelah-lelah dan mengharap” (Tsummah Ihtadaitu, hal 14)
Dia juga berkata, “Sebagai bimbingan rabbani yang lain, dijadikan untukku bagi setiap orang yang melihatku dari para delegasi akan mencintaiku dan meminta alamatku untuk bisa berkirim surat” (Tsumma Ihtadaitu, hal 14)
Dia berkata, “Mereka juga memberikan berita gembira kepada saya bahwa Shahib Az-Zaman, yakni Syekh Ismail, telah memilihku untuk menjadi Khashshatul-Khashshah, yakni orang yang paling dekat dengannya. Mendengar ini hatiku terasa gembira sekali. Saya menangis lantaran sangat terharunya pada karunia Allah yang terus mengangkatku dari makam yang tinggi, dari kedudukan yang baik kepada yang lebih baik lagi….” (Tsummah Ihtadaitu, hal 16)
Inilah dia sebagian perkataan penulis dalam menggambarkan dirinya sendiri, dan mentazkiah dirinya. Cukuplah itu sebuah keburukan bagi seseorang, kekurangan pada agama, ilmu dan akalnya, Allah swt berfirman,
“Maka Janganlah kamu mentazkiah (mensucikan) dirimu sendiri, Dialah yang mengetahui siapa yang bertakwa” (Terjemahan QS. An-Najm: 32),
Ia juga berfirman, “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikitpun. Perhatikanlah, bagaimana mereka mengada-adakan dusta terhadap Allah? Dan cukuplah perbuatan itu menjadi dosa yang nyata (bagi mereka)” (Terjemahan QS. An-Nisa’: 49-50)
Bersama dengan jatuhnya orang hina ini ke dalam bahaya yang besar, ternyata terkumpul juga padanya dosa yang lain, yaitu bangganya dia terhadap maksiat-maksiat seperti musik, banyaknya melakukan perjalanan ke negeri-negeri kafir, pengetahuannya tentang negeri-negeri itu, di mana dia katakan ketika ia berbicara tentang kunjungannya ke Mesir,
“….Tampaknya mereka kagum terhadap semangat, ketegasan serta keluasan wawasan yang kumiliki. Jika mereka bicara tentang seni, saya bernyanyi. Apabila mereka berbicara tentang zuhud dan kehidupan sufistik, kuceritakan bahwa saya dari tarekat Tijaniyah dan juga Madaniyah. Jika mereka bicara tentang dunia barat, kuceritakan kepada mereka tentang Perancis, London, Belgia, Belanda, Italia dan Spanyol yang sempat kukunjungi di masa-masa liburan musim panas. Bila mereka berbicara tentang haji maka kuceritakan bahwa saya juga telah menunaikan haji dan umrah. Kuceritakan kepada mereka tempat-tempat yang tidak mereka ketahui, sekalipun oleh mereka yang pernah pergi haji sebanyak tujuh kali, seperti Gua Hira, Gua Tsur, dan tempat dimana Nabi Ismail disembelih. Bila mereka bicara tentang sains dan penemuan-penemuan, kuceritakan juga tentang sains secara detail dan rinci. Bila mereka berdiskusi tentang politik, saja juga kemukakan pandangan-pandangan saya” (Tsumma Ihtadaitu, hal 23-24)
Sampai dia berkata, “Dan yang penting dari semua kisah yang telah saya ceritakan dalam penggalan ini adalah mulai membumbungnya perasaanku dan sikap mengagumi diri yang mulai timbul. Saya berpikir bahwa saya telah menjadi seorang alim yang berpengetahuan tinggi. Betapa tidak, ulama-ulama al-Azhar sendiri yang telah mengakui hal tersebut. Ada di antara mereka yang berkata: ‘Tempatmu sudah selayaknya di al-Azhar ini’. Dan yang lebih membanggakan lagi adalah bahwasanya Rasulullah saw memberikan izin kepadaku untuk melihat peninggalan-peninggalannya, seperti yang dikatakan oleh pegawai yang mengurus masjid Sayyidina Husain di Kairo…” (Tsummah Ihatadaitu, hal 24)
Maka selamat untuk penulis dengan kemuliaan ini. kemuliaan-kemuliaan inilah yang telah membuatnya bersungguh-sungguh untuk menetapi akidah Rafidhah, dan masuk dalam gerombolan Ibnu Saba’, Ibnu Al-Alqami, Nashir (Asy-Syirk) Ath-Thusi, Ibnu Muthahhir, Khumaini dan selain mereka.
Kita memohon kepada Allah dengan Kemuliaan-Nya dan Kemurahan-Nya keselamatan, ampunan dan akhir yang baik. Dan menjauhkan kita dan juga kaum Muslimin dari jalan kesesatan. (dialihbahasakan oleh lppimakassar.com)
Sumber: Al-Intishar, Dr. Ibrahim Ar-Ruhaili, hal 154-162

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More