Ada Ahlul Bait Yang Benar, Ahlul Bait Sosialis, Ahlul Bait Liberalis, dan Juga Ada Ahlul Bait Atheis



Syubhat: Mengapa kalian tidak mau jika ahlul bait menjadi rujukan yang hak dalam masalah agama? Padahal mereka adalah keturunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan keturunan beliau itu suci dan lebih baik daripada keturunan para sahabat yang kalian yakini mereka itu ma’shum, dan kalian ikuti sebagai ganti dari mengikuti ahlul bait?
Bantahan: Masalah yang sesungguhnya adalah kalian hingga saat ini tidak mengetahui bahwa sumber agama itu al-Qur`an dan Sunnah yang shahih, bukan sahabat atau ahlul bait. Bukan kami yang tidak menginginkan ahlul bait menjadi rujukan agama, akan tetapi Allah dan Rasul Nya yang tidak menginginkan hal itu. Allah tidak menjadikan ahlul bait sebagai rujukan ketika terjadi perselisihan, sebaliknya memerintahkan untuk rujuk kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا (٥٩)
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
(QS. An-Nisa`: 59)


Coba perhatikan, mana penyebutan ahlul bait? Mengapa Allah tidak memerintahkan kita untuk kembali kepada mereka, baik ketika terjadi perselisihan maupun lainnya?
Kemudian kalian harus memahami dua perkara dalam masalah ini. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berwasiat untuk berpegang dengan apa yang ada pada diri Nabi dan para sahabat beliau, itu tidak berarti berpegang dengan apa yang ada pada keturunan beliau. Sedangkan kalian, berpegang teguh dengan apa yang ada pada ahlul bait (keturunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam) hingga sekarang ini, padahal kalau kita renungkan, di antara mereka sekarang ini ada ahlul bait yang mengikuti kebenaran (ahlus sunnah wal jama’ah), ada pula ahlul bait yang sosialis, ada ahlul bait yang liberalis, ada yang mulhid (atheis), dan ada pula yang meminta pertolongan kepada kuburan, dan banyak lagi lainnya. Apabila yang wajib atas kaum muslimin adalah mengikuti ahlul bait, maka bagaimana kita akan mengikuti ahlul bait dari golongan pengikut paham sosialis, liberal atau lainnya dari sekte dan agama yang menyimpang?

Apa yang menjadikan kebenaran itu bersama kelompok kalian, hanya karena alasan di dalamnya terdapat ahlul bait, dan mengapa tidak kalian jadikan kebenaran itu bersama kelompok Isma’iliyah serta para imam dan pengikut mereka, karena mereka juga dari ahlul bait?
Apa yang menjadikan kebenaran bersama kelompok kalian, karena di dalamnya terdapat ahlul bait, dan tidak kalian jadikan bersama kelompok Zaidiyah serta imam-imam mereka, padahal pengikut mereka juga ahlul bait?
Bahkan mengapa kebenaran itu tidak bersama ratu kerajaan Britania, Elizabeth di mana salah seorang ulama hauzah Syi’iyah di Iran, yaitu Ali al-Kurani, mengumumkan dengan suara dan gambar bahwa Ratu Elizabet termasuk ahlul bait, karena berasal dari keturunan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, berdasarkan klaimnya yang dusta, wal iyadzu billah.
Ketika kalian menuntut kami untuk mengambil agama dari ahlul bait, maka bagaimana kami akan mengambil agama kami dari ratu Elizabet, khususnya saat ia sibuk mempersiapkan pernikahan cucunya Pangeran William, di gereja Katolik, London?
Apakah engkau lihat bagaimana hal ini akan menyeret kaum muslimin kepada pemahaman yang salah terhadap makna ahlul bait, kepada musibah besar?
Karena itu kami ajak Anda untuk mengikuti al-Qur`an dan Sunnah yang shahih, yang secara pasti para sahabat Radhiallahu ‘Anhu -termasuk di dalamnya sahabat dari kalangan ahlul bait- adalah pengikut dan peneladan keduanya (al-Qur`an dan Sunnah).
Begitu juga engkau harus tahu bahwa kami tidak berlebihan dalam hak sahabat, kami tidak mengagungkan keturunan mereka sebagaimana kalian mengagungkan ahlul bait, dan menganggap suci keturunan mereka. Sebaliknya kami melihat dua ucapan dari banyak ucapan para sahabat, dan mengambil apa yang sesuai dengan kebenaran dari dua pendapat itu tanpa fanatisme terhadap satu sahabat atas lainnya. Yang haq adalah kitabullah dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Tidak berarti jawaban saya bahwa kami ahlus sunnah wal jama’ah tidak menghargai ahlul bait dan tidak mencintai mereka, sebaliknya kami mencintai karena Allah setiap orang yang berasal dari keturunan Fathimah Radhiallahu ‘Anha, dan ia dalam kebenaran. Begitu pula kami membenci karena Allah, semua yang berasal dari keturunannya yang berada di atas kebatilan.*

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More