Ukhuwah Di Atas Satu Aqidah




Alhamdulillah, Puji syukur kepada Allah yang hanya menerima amal ibadah hamba yang aqidah dan ibadahnya sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw, Shalawat serta salam untuk sang Nabi pejuang aqidah islamiyah, Nabi yang kita yakini ajaran kebenarannya, Nabi yang kita harapkan syafaatnya kelak di hari kiamat yang tentunya didapatkan dengan izin Allah.

Sudah menjadi sunnatullah dalam kehidupan dunia ini kebenaran dan kebathilan akan terus berperang hingga pada akhirnya peperangan itu dimenangkan oleh pengusung dan pejuang kebenaran. Keduanya sudah ada sejak diciptakannya manusia dan jin yaitu Adam alaihis salam sebagai pengusung kebenaran dan Iblis sebagai pengusung kebathilan, peperangan al haq dan al bathil telah melewati masa yang panjang sepanjang umur dunia ini dengan dua cara berperang, perang hakiki dengan terjun di medang pertempuran fisik dan perang majazi yaitu perang pemikiran (Ghazwul Fikri).

Paragraf di atas ini tidaklah menjelaskan bahwa kita cinta peperangan dan perselisihan. Sungguh tidak, namun itulah sunnatullah kehidupan di dunia ini dan tidak akan ada yang dapat merubah ketetapan Allah itu. Yaitu adanya penantang-penantang kebenaran, penantang-penantang syariat agama Allah, Dan ini, bukan berarti Allah ridha akan perpecahan dan perselisihan, sama sekali tidak, ketetapan Allah yang telah menakdirkan umat Islam ini berpecah-pecah hanyalah untuk menguji kita, siapa yang bisa bertahan di tengah banyak tawaran akidah rusak itu dan ketika ia sudah mendapatkan hidayah dari Allah dengan akidah yang benar, Allah akan mengujinya apakah ia termasuk yang memperjuangkannya atau termasuk yang mengaburkannya.

Justru karena cintanya kita akan kedamaian dan persatuan untuk kebangkitan umat Islam di masa yang akan datang, kita melakukan ini, memperjuangkan kemurnian akidah yang dulu dibawa dan menjadi misi Rasulullah saw, karena kita semua yakin bahwa dua akidah yang berbeda tidak akan pernah bisa bersatu dalam satu payung agama! Apalagi tiga, empat, lima akidah yang berbeda.

Bersatu berpadu dan berukhuwah tidak mungkin dalam ranah akidah yang berbeda.

Justru akidah sempalan itulah yang mengacaukan indahnya persatuan umat Islam yang dulu di bawah satu akidah islamiyah yang benar, akidah palsu itulah yang meruntuhkan kejayaan umat Islam dan menghilangkan wibawanya di mata umat-umat yang lain.

Hidup tak akan tentram jika satu konsep keberagamaan dalam menjalani kehidupan ini tidak disepakati oleh semua pihak. Jika masing-masing sekte mempunyai cara pandang sendiri mengenai keyakinannya tentang Allah, tentang Rasulullah saw, tentang sahabat-sahabat Rasulullah saw, tentang al Quran, dan tentang semua rukun Iman dan rukun Islam bagaimana kita akan menjalani hidup dengan tentram dan damai kemudian bersatu padu dalam satu barisan memperjuangkan agama Allah?

Rasulullah saw tidak pernah menyampaikan solusi gila di tengah perbedaan tajam umat ini seperti yang ditawarkan oleh orang-orang yang mengaku cendikiawan muslim yang menginginkan penyatuan semua sekte-sekte itu tanpa melihat bagaimana akidah mereka.

Rasulullah saw pernah menyampaikan solusi yang sangat baik, solusi yang datang dari wahyu ilahi yang mengetahui kondisi umat saat ini, yang mengetahui kemaslahatan umat Islam untuk kejayaannya di masa yang akan datang.

Suatu ketika Rasulullah saw mengabarkan suatu kondisi yang akan menimpa umatnya di masa yang akan datang, beliau mengatakan, “Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan ahlu kitab telah berpecah belah menjadi 72 golongan, sesungguhnya umat islam akan berpecah belah menjadi 73 golongan, 72 golongan tempatnya di dalam neraka dan hanya satu golongan di dalam surga, yaitu al jama’ah” (HR. Abu Dawud, Ahmad, Al Hakim dan Ad Darimi). Dalam riwayat lain disebutkan, “Semua golongan tersebut tempatnya di neraka, kecuali satu (yaitu) yang aku dan para sahabatku berjalan di atasnya” (HR. Tirmidzi dan Hakim)

Ketika menyebutkan takdir dan ketetapan Allah yang beliau dapatkan informasinya dari langit yang ketujuh tidaklah dalam rangka meridhainya dan menyetujuinya. Jikalau begitu niscaya Rasulullah saw tidak memvonis 72 golongan dengan Neraka!, cobalah para cendikiawan berfikir bijak untuk kemaslahatan umat sebagaimana Rasulullah saw bersikap arif dalam masalah perpecahan ini.
Seruan dari para “cendikiawan” untuk menyatukan seluruh umat yang berkiblat ke ka’bah dalam shalatnya tanpa melihat separah dan serusak apa akidahnya adalah sama saja dengan membiarkan mereka dalam kesesatan dalam waktu yang lama, berjuanglah sebagaimana Rasulullah saw berjuang menegakkan agama ini, membersihkan manusia dari segala bentuk penyakit pemikiran dan pemahaman yang menyimpang.
Berukhuwah dengan Syiah
Syiah sebagai salah satu sekte dalam Islam tidaklah mungkin hidup berdampingan dan damai bertetangga dengan kaum Muslimin. Kaum Muslimin seluruh dunia menghormati sahabat-sahabat Nabi saw sebagai panutan mereka dalam beragama, sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah saw lewat hadis di atas untuk menghindari perpecahan, sedangkan Syiah menjadikan sahabat-sahabat Nabi sebagai tujuan pencaci-makian, pelaknatan dan sumpah serapah.
Jika pun seandainya terjadi,  maka ukhuwah yang akan dijalin adalah ukhuwah palsu dan persaudaraan semu dengan topeng taqiyah (sikap munafik). Tidak pernah tercatat dalam sejarah perjalanan panjang agama Islam adanya suatu komunitas kehidupan yang damai dan tentram jika berdampingan dan hidup di dalamnya orang-orang Syiah.
Nikmatullah Al Jazairi berkata, “Sesungguhnya kami tidak sama dengan mereka dalam malasah ketuhanan, tidak pula nabi, begitu pula Imam, itu karena mereka mengatakan bahwa Tuhan mereka yang Nabinya Muhammad, khalifah setelahnya adalah Abu Bakar!!!”
Ulama Syiah sendiri yang mengakui bahwa Tuhan dan Nabi kita tidak sama, itu mereka katakan karena Khalifah setelah Nabi adalah Abu Bakar.
Orang-orang Syiah sangat benci dengan sahabat-sahabat Nabi, semakin besar jasanya terhadap Nabi maka akan semakin dibenci, seperti Aisyah, istri Nabi sendiri, Abu Bakar, Umar, Utsman dan yang lainnya.
Sahabat di mata kaum Muslimin adalah generasi gemilang, generasi pertama yang mengambil tongkat estafet melanjutkan perjuangan Nabi Muhammad saw. Generasi yang telah dididik dan digodok oleh Rasulullah saw.
Menyatakan keadilan sahabat termasuk di antara akidah umat Islam, karena mencela sahabat merupakan perbutan dosa besar, di tangan merekalah Al Quran dikumpulkan, lewat kegigihan merekalah sabda-sabda dari sang Nabi tetap terjaga.
Merendahkan dan mencaci-maki mereka adalah meragukan Al Quran yang telah mereka kumpulkan dan hadis-hadis yang mereka sebarkan, Jika mereka para sahabat itu pantas dicaci dan dihina, maka bagaimana kualitas keaslian Al Quran dan hadis yang mereka bawa? Juga,  menilai sahabat dengan penilain negatif adalah mencela Allah swt yang telah memuji dan menyanjung mereka dengan pujian yang tinggi dan menjamin mereka dengan surga.
Mulut para ulama Syiah tak henti-hentinya mengeluarkan kata-kata yang keji untuk mencela sahabat-sahabat Nabi saw, Dalam kitab mereka “Miftah al Jinan” mirip “Dalail al Khairat” milik orang Sufi, tedapat wirid yang mencela keduanya, bunyinya, “Ya Allah berilah salawat kepada Rasulullah dan ahlu baitnya dan laknatlah dua berhala Quraisy, dua setan mereka, dua thagut mereka dan juga kedua anak mereka berdua” dan yang mereka maksud adalah Abu Bakar dan Umar bin Khattab, Aisyah, dan hafshah radiallahu ‘anhum.
Wirid ini sebagaimana yang dikatakan oleh Sayyid Hasan al Musawi, “Khumaini berdzikir dengannya tiap hari selesai shalat shubuh”

Ni’matullah Al Jaza’iri berkomentar tentang Amirul Mukminin, Umar, “Sesungguhnya Umar ditimpa suatu penyakit pada duburnya yang tidak dapat sembuh kecuali dengan mani laki-laki”
Ali bin Yunus al Bayadhi berkomentar tentang Utsman ra, “Sesungguhnya Utsman termasuk orang yang dipermainkan, dia termasuk khuntsa (seseorang yang mempunyai dua kelamin)”

Ibnu Rajab Al Bursi berkomentar tentang Ummul Mukminin, Aisyah, Istri Sayyidul Mursalin, “Sesungguhnya Aisyah mengunmpulkan empat puluh dinar pengkhianatan”

Kebencian orang Syiah sampai pada tahap memberi nama anjing-anjing mereka dengan nama “Abu Bakar” dan “Umar” ra, sekarang mereka membunuh di Irak sesuai dengan hawa nafsu mereka, setiap orang yang namanya Abu Bakar atau Umar atau Utsman maka akhir perjalanannya adalah pembunuhan.

Mereka sangat memuliakan Abu Lu’luah al Majusi, si pembunuh Umar, mereka juga menggelarinya dengan Abu Syuja’ (Sang Pemberani), mereka marayakan hari syahidnya (kematian) Umar, Al Qummi berkata, “Sesungguhnya hari dibunuhnya Umar bin Khattab adalah hari raya yang terbesar, hari berbangga, hari penghormatan (kepada pembunuh Umar-pent), hari penyucian yang besar dan hari keberkahan”

Dapatkah kita menerima, orang-orang yang menjadi panutan dan teladan kita itu dicaci dan dimaki oleh orang yang hidup berdampingan dengan kita sedangkan hati kita tidak panas mendengarnya? Kedamaian dan ketentraman yang bagaimanakah yang diimpikan oleh para “cendikiawan” itu?
(Muis/LPPIMakassar.blogspot.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More