Sunni-Syiah Dalam Ukhuwah?



Tanggapan atas tulisan Dr. Muammar Bakri
Imam Malik pernah mengucapkan satu perkataan yang sangat masyhur, “Semua perkataan bisa diterima atau ditolak, kecuali perkataan pemilik kubur ini” sembari menunjuk ke arah kuburan Nabi Muhammad saw.
Termasuk perkataan dan pendapat yang ingin mempersatukan Sunni-Syiah, bisa diterima dan bisa juga ditolak, menurut kami itu perlu melalui pertimbangan dan penelitian yang matang. Salah satu indikasinya adalah penyimpangan Syiah dari ajaran Islam yang murni sudah terlalu parah, buktinya, di antara 10 kriteria aliran sesat versi MUI, Syiah masuk ke dalam tujuh poin, padahal kalau satu poin saja sudah bisa divonis menyimpang bahkan sesat.(lihat  http://lppimakassar.blogspot.com/2012/02/10-kriteria-aliran-sesat-versi-mui.html)
Tidak hanya itu, Depag sejak dahulu telah mengeluarkan surat edaran nomor D/BA.01/4865/1983 pada 5 Desember 1983, dengan tegas menyatakan Semua itu (paham Syiah) tidak sesuai dan bahkan bertentangan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya. Ditambah Fatwa MUI yang merekomendasikan untuk mewaspadai paham Syiah.
Kadang bahkan selalu fatwa ini dipahami bahwa ini bukan fatwa yang memvonis sesat paham Syiah. Namun bagi kami, ungkapan meningkatkan kewaspadaan jelas bermakna WARNING (peringatan). Ajaran Syiah dianggap berbahaya, maka umat islam diingatkan agar waspada oleh MUI. Kalau ajaran Syiah lurus dan sah sesuai syariat Islam, tidak mungkin umat akan diberi peringatan agar waspada oleh MUI.
Ahlus Sunnah di Iran
Tentang kehidupan Ahlus Sunnah di Iran yang dikatakan tenang dan bebas perlu diteliti kembali, karena data-data yang kami dapatkan menunjukkan kebalikannya, banyak masjid Sunni yang disita dan dihancurkan dan para ulama Ahlus Sunnah dipenjara dan dibunuh. Di antara masjid-masjid itu adalah Masjid Sunnah di Baah Waz, Masjid Turbat Jam, Masjid Syaikh Faidh, Masjid Nakur di kota Jabhar di daerah Balusytan dan sampai sekarang tidak ada Masjid Sunni yang diizinkan berdiri di Teheran.
Para ulama Ahlus Sunnah banyak  yang diracun, dipenjara, disiksa dan dibunuh,, di antaranya Syekh Maulawi Abdul Aziz Surbazy, Syekh Abdul Wahab Khofi, Syekh Qudratullah Ja’fari, Syekh Nashir Subhani, Dr. Mudho Faryan, Syekh Ahmad Mufti Zaadah, Syaikh Abdus Sattar Bazar Kazadah dan masih banyak lagi. (silakan dilihat di Kedholiman Syi’ah Terhadap Ahlus Sunnah di Iran, LPPI, Jakarta, 1999)
Adapun klaim tentang Hamas yang Sunni yang di-back up dengan senjata dan finansial oleh Iran perlu diteliti dengan data yang valid.
Perbedaan Prinsipil Sunni-Syiah
Kalau kita masuk ke rumah-rumah penduduk warga Iran atau bahkan langsung ke tempat percetakan Al Quran di Iran, kita akan dapati Al Quran yang sama dengan kita  dan tidak ada bedanya sama sekali. Namun betulkah mereka meyakini keaslian Al Quran yang ada sekarang?
Adanya kitab Fashlul Khithab fi Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab (kata pemisah untuk menegaskan terjadinya perubahan pada Kitab Tuhannya para Tuhan) yang ditulis oleh ulama Syiah merupakan bukti bahwa mereka tidak meyakini keaslian Al Quran, di dalam kitab itu terdapat banyak contoh perubahan ayat-ayat Al Quran. (lihat daftarnya di buku “Mengapa Kita Menolak Syiah” terbitan LPPI Jakarta), bahkan dalam muqaddimah kitab itu penulisnya mencantumkan tidak kurang dari 30 nama ulama Syiah yang mendukung pendapatnya!, kemudian bagaimana menilai kondisi di Iran sekarang yang Al Qurannya sama dengan kita?, untuk menjawab ini mari kita simak penuturan ulama Syiah yang lain.
Al Kirmani mengatakan, “Terjadi perubahan dan pengurangan pada Al Quran!, Al Quran yang terjaga itu tidak ada melainkan ada pada Al Qa’im (Imam mahdi), dan Syiah itu terpaksa membaca Al Quran ini (Al Quran sekarang) sebagai bentuk taqiyyah (menyembunyikan yang diyakini) dari perintah keluarga Muhammad alaihis salam” (Al Kirmani, Ar Radd ‘ala Hasyim Asy-Syami, hal 13, cet Iran)
Tentang sahabat, bohong jika dikatakan bahwa orang Syiah tidak mencela sahabat-sahabat Nabi Muhammad saw, Sebagai contoh, kuburan pembunuh Umar sangat diagung-agungkan, bangunan kuburannya seperti istana, bahkan ia dijuluki Pahlawan Pembela Agama, bukankah ini bukti konkret akan bencinya mereka terhadap Umar bin Khattab?
Al Majlisi berkata, “Perkataan alaihis salam ‘huma/ mereka berdua’ adalah Abu Bakar dan Umar, dan yang dimaksud dengan ‘Fulan’ adalah Umar, artinya Jin yang disebutkan di dalam ayat adalah Umar, dia dinamakan demikian karena dia merupakan setan, baik ia menyerupai setan karena ia anak zina atau karena makar dan tipu dayanya seperi setan, dan yang terakhir mengandung kebalikannya, yaitu yang dimaksud dengan ‘Fulan’ adalah Abu Bakar!!!” (Mir’aatul ‘Uquul, jilid 26, kitab Ar Raudhah, hal 488) bukankah ini bukti bahwa orang Syiah sangat membenci Abu Bakar dan Umar bin Khattab RA?
Ni’matullah Al Jaza’iri berkata, “Di Zaman Nabi Shallallahu alaihi wa aalihi, Utsman termasuk orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kemunafikan! ” (Al Anwar An Nu’maniyyah, jilid 1, hal 81)
Lebih dari itu, dalam acara-acara asyura mereka yang diadakan di Makassar juga di tempat lainnya mereka sangat mendiskreditkan sahabat (baca, Fajar, Selasa, 29 Des 2009)
Tentang Nikah Mut’ah MUI sudah memfatwakan keharamannya (silahkan lihat alasan dan dalil lengkapnya di Himpunan Fatwa MUI, tahun 2010, hal 350-355). Nabi Muhammad saw bersabda, “Wahai manusia, aku pernah membolehkan kamu melakukan mut’ah dengan wanita. Kemudian Allah telah mengharamkan hal itu sampai hari kiamat” (HR. Muslim)
Olehnya, sangat baik jika ada ayatullah yang berpendapat bahwa dalam konteks Indonesia tidak ada alasan untuk melegalkan Nikah Mut’ah, namun bagaimana dengan fakta yang terjadi di lapangan, Beberapa mahasiswi di Makassar sudah melakukan Nikah Mut’ah, bahkan salah satu di antara mereka mengatakan bahwa yang meninggalkan Nikah Mut’ah bisa termasuk golongan kafir! (lihat Skripsi Mahasiswa Fakultas Psikologi UNM tahun 2011 “Perempuan Dalam Nikah Mut’ah” hal 59)
Penulis pernah mendapatkan tarif Nikah Mut’ah di internet (http://www.eramuslim.com/berita/dunia/tarif-nikah-mut-ah-di-iran.htm) apakah ini mengindikasikan bahwa Nikah Mut’ah mudah dilakukan di Iran atau tidak. Wallahu a’lam
Shalat di belakang orang Syiah menurut Dr. Muammar Bakry adalah sah, namun menurut Ulama besar Islam Al Qadhi Abu Yusuf (w. 182 H) itu tidak sah, beliau mengatakan, “Saya tidak Shalat di belakang seorang Jahmiyah, Rafidhi (Orang Syiah), dan orang Qadariyah” (Syarhu Ushuul I’tiqaadi Ahlus Sunnah, jilid 1, hal 178), Imam Bukhari juga memandang demikian (Khalqu Af’aalil ‘Ibaad, hal 125)
Terakhir, Jika ingin dijabarkan lebih jauh kita akan menemukan perbedaan-perbedaan prinsipil antara Sunni dengan Syiah yang begitu banyak, perbedaan-perbedaan itu diungkap untuk menjaga aqidah umat Islam supaya tidak disusupi dengan aqidah yang rusak, karena jika aqidah rusak seluruh amalan tertolak. Hal ini dilakukan untuk memperjelas mana yang haq/ benar dan mana yang bathil/ salah, dan agar keduanya tak bercampur menjadi satu, bukan justru dikaburkan. Sunni dan Syiah akan bisa bersinergi untuk membangun peradaban Islam jika Syiah benar-benar berhenti menyakiti perasaan keagamaan kita. Apa  yang terjadi sekarang ini di Suriah menunjukkan bahwa jika mereka kuat tidak akan bertoleransi dengan kita.Wallahu a’lam

Oleh: Muhammad Istiqamah, Mahasiswa Semester 6 Jurusan Fiqh dan Ushul Fiqh, STIBA Makassar
(Muis/LPPIMakassar.blogspot.com)




0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More