Sunnatullah Dalam Perbedaan



Rasulullah saw pernah bersabda akan perpecahan umat ini, “Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan Ahlul Kitab telah berpecah belah menjadi 72 golongan. Sesungguhnya umat Islam akan berpecah belah menjadi 73 golongan, 72 golongan tempatnya di dalam neraka dan hanya satu golongan di dalam surga, yaitu al-Jama’ah” (shahih riwayat Abu Dawud, 4597) dalam riwayat lain disebutkan, “semua golongan tersebut tempatnya di Neraka, kecuali satu (yaitu) yang aku dan para Sahabatku berjalan di atasnya” (Hasan riwayat at Tirmidzi 2641).

Pembatasan Rasulullah saw kepada 72 golongan bukanlah pembatsan secara angka, namun penggambaran angka 72 tersebut adalah gambaran akan banyaknya aliran keyakinan yang akan muncul untuk memecah belah umat Islam.
Hadis di atas merupakan pemberitaan (wahyu) dari Allah kepada Nabi Muhammad saw tentang kejadian masa yang akan datang yang akan menimpa umat Islam, itulah takdir perjalanan sejarah umat Islam dan itulah sunnatullah yang telah digariskan dan pasti akan terjadi, dan kebenaran sabda Nabi terbukti sebagaimana yang terjadi di dunia Islam saat ini.

Rasulullah saw ketika menyebutkan perpecahan umat ini bukanlah dalam rangka meridhai perpecahan tersebut, sama sekali beliau tidak ingin perpecahan tersebut terjadi, bahkan ia ingin agar umat ini bersatu-padu dan menjauhi bibit-bibit perpecahan sebagaimana perintah Allah, “wa’tashimuu bihablillahi jami’an wala tafarraquu” Dan berpegang tugehlah kalian kepada tali (agama) Allah dan janganlah kalian bercerai-berai.
Namun Rasulullah saw memberikan solusi kepada kita ketika aliran-aliran tersebut bermunculan agar menetapi ajaran yang disampaikan dan diamalkan oleh beliau dan para sahabatnya.
Ini sesuai dengan pesan Rasulullah saw kepada sahabatnya ketika di suatu waktu para sahabat berlinangan air mata dan bergetar hati mereka ketika mendengar wejangan dan nasihat Rasulullah saw kepada mereka, maka seseorang berkata, ‘Wahai Rasulullah, nasehat ini seakan-akan nasehat dari orang yang akan berpisah, maka apa yang engkau wasiatkan kepada kami?’ Maka Rasulullah saw bersabda, ‘Aku wasiatkan kepada kalian supaya tetap bertaqwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak dari Habasyah. Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian sepeninggalku maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah Khulafa-ur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama), karena sesungguhnya setiap perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu adalah sesat.’ (Shahih riwayat Abu Dawud 4607)
Sunni, Syiah dan Ahmadiyah
Allah swt memberikan solusi kepada kita jika kelak pengabaran Rasulullah saw tentang perpecahan umat Islam tersebut terjadi, agar kita kembali kepada Alquran dan Sunnah Nabi. (QS. AN Nisa’: 59)
Bagi Syiah dan Ahmadiyah, mereka tidak mungkin kembali kepada Kitabullah (Alquran) ketika terjadi perbedaan, karena Syiah meragukan keaslian Alquran, Al Karmani (ulama Syiah) mengatakan tentang Alquran, “Terjadi pengubahan dan pengurangan dalam Alquran, Alquran yang terjaga itu tidak ada melainkan ada pada Imam Mahdi, orang Syiah terpaksa membaca Alquran ini sebagai bentuk Taqiyyah karena perintah dari Keluarga Muhammad alaihimus salam”, (Al Karmani, Al Radd ‘Ala Hasyim Asy Syami, hal 13, Cet Iran) dan juga Ahmadiyah punya kitab suci sendiri yaitu Tadzkirah. Oleh karenya tidak mungkin mencairkan perbedaan jika Alqurannya saja sudah beda!
Kelompok Sunni yang meyakini keaslian Alquran, bersyahadat dengan dua syahadat kepada Allah sebagai Tuhannya, dan Muhammad sebagai Nabinya, Kelompok Syiah yang meragukan keaslian Alquran, besyahadat dengan tiga syahadat kepada Allah sebagai Tuhannya, Muhammad sebagai Nabinya, dan Ali bin Abi Thalib ra sebagai waliyullah, kelompok Ahmadiyah yang punya kitab suci sendiri, Tadzkirah, bersyahadat dengan dua syahadat kepada Allah sebagai Tuhannya, dan Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabinya. Apakah masuk akal tiga kelompok ini bisa bersatu ketika ketiga-tiganya sudah meyakini aqidah yang berbeda-beda?
Ketiga kelompok ini terbentuk dari sunnatullah, dan tidak ada yang dapat merubah Sunnatullah yang telah ditetapkan oleh Allah swt. Apakah Allah bersalah ketika menakdirkan umat ini terpecah-pecah? Tentu tidak, Allah menakdirkan perpecahan dan perbedaan-perbedaan ini untuk menguji kita, siapa yang terbaik amalannya, siapa yang benar aqidahnya, dan siapa yang steril pemahamannya sesuai dengan yang diajarkan Nabi Muhammad saw kepada umatnya.
Prof. Muh Qasim Mathar mengatakan, “Sudah saatnya menyetop untuk mengungkit perbedaan sesama muslim. Gemar mengumbar dan mempertajam perbedaan, apalagi membawanya pada pengafiran dan penyesatan, bukan saja merupakan sikap ahistoris, tetapi juga menunjukkan kedangkalan pikiran” (Harian Fajar, “Dunia Islam: Stop Ungkit Perbedaan, Kembangkan Jejaring” Selasa, 6 Maret 2012)
Layakkah seseorang dikatakan dungu dan dangkal pikirannya ketika berjuang menegakkan dan memurnikan agama Allah? padahal Nabi Muhammad saw bersabda, “Senantiasa ada segolongan umat dari umatku yang selalu dalam kebenaran menegakkan perintah Allah, tidak akan mencelakai mereka orang yang melecehkan mereka dan orang yang menyelisihi mereka sampai datang perintah Allah dan mereka tetap di atas yang demikian itu,” (HR. Bukhari dan Muslim)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berjuang dengan sangat gigih melawan kelompok-kelompok menyimpang dengan banyak menulis kitab yang berjilid-jilid, sebutlah di antaranya Minhajus Sunnah An Nabawiyah, sebuah kitab untuk melawan Syiah, Haqiqah Al Ittihadiyyin Al Qa’ilina bi Wihdatil Wujud, sebuah kitab untuk melawan Shufiyah yang berpaham Wihdatul Wujud, Al Hijaj Al ‘Aqliyah wa An Naqliyah Fima Yunafi Al Islam Min Bida’I Al Jahmiyah Wa Ash Shufiyyah, sebuah kitab untuk melawan paham sesat Jahmiyah dan kelempok Sufi. Apakah Ibnu Taimiyah dikatakan bodoh dan dangkal pikirannya ketika beliau berjuang memurnikan ajaran agama?
Imam Syafi’i pernah berkata, “Saya tidak pernah melihat sebuah kelompok sesat yang paling berani bersaksi dusta selain daripada Rafidhah (kelompok Syiah),” apakah beliau dikatakan bodoh dan dangkal pikirannya ketika beliau berjuang menjelaskan kesesatan kelompok Syiah?
Sikap yang bijak di tengah perbedaan seperti ini bukanlah dengan membiarkan perbedaan-perbedaan itu terus terjadi, semakin lama perbedaan-perbedaan dipupuk dan dibiarkan begitu saja maka tunggulah kekekacauan, perpecahan dan konflik di NKRI. Sejarah membuktikan bahwa ketika kelompok Syiah kuat ia akan memangsa saudaranya Ahlus Sunnah, di Iran begitu banyak masjid dirobohkan dan ulama Sunni yang dibunuh (lihat: Kedholiman Syiah Terhadap Ahlus Sunnah Di Iran, LPPI, 1420 H), di Pakistan, di Irak, di Lebanon dan sekarang di Suriah ketika kelompok minoritas Syiah Nushairiyah memegang tampuk kekuasaan dengan pimpinan Basyar Al Asad telah membantai ribuan rakyat Suriah Muslimin Ahlus Sunnah, dari anak-anak, wanita, orang tua, remaja dan orang dewasa.
Sebagai cendekiawan muslim hendaknya turut ambil bagian dalam memurnikan ajaran yang pernah diajarkan Rasulullah saw kepada para sahabatanya, bukan malah memperkeruh suasana kehidupan masyarakat. Karena Allah akan menguji kadar perjuangan kita dalam menegakkan agama ini, apakah kita termasuk orang yang senantiasa berjuang memurnikan agama Allah ataukah kita termasuk orang yang mengaburkan agama Allah.

Oleh: Muhammad Istiqamah, mahasiswa semester 6 jurusan Fiqh & Ushul Fiqh Kampus STIBA Makassar
(Muis/LPPIMakassar.blogspot.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More