Pencerahan atau Pelecehan Agama?



Oleh: Prof. Dr. Achmad Ali
Penasehat Ahli Jaksa Agung Republik Indonesia
Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Hasanuddin Makassar

Mengatakan bahwa semua agama benar dan bahwa berbeda agama tapi seiman itu benarkah pencerahan? Jawabannya: bukan pencerahan, tapi pelecehan agama.
Kalau mengatakan semua agama benar menurut penganutnya masing-masing, itu benar pencerahan! Tetapi kalau mengatakan semua agama benar (titik!), maka itu pelecehan terhadap agamanya masing-masing. Dan sangat tidak logis.
Tidak mungkin sama antara umat islam yang salatnya wajib setiap jumat ke mesjid dengan umat Kristen yang beribadat setiap minggu ke Gereja. Demikian pula umat agama lainnya dengan rumah ibadatnya masing-masing.
Tidak mungkin sama antara ajaran Islam yang mewajibkan setiap umat Islam melaksanakan syahadat, salat lima waktu, puasa di bulan ramadhan, zakat, naik haji ke tanah usci bagi yang mampu sekali seumur hidup; di satu pihak: dengan umat lain yang tidak mengenal kewajiban semacam itu.
Tidak mungkin sama umat Islam yang memulai membaca Alquran dan semua hal yang baik dengan basmalah! Sedang umat Kristen dengan: Atas Nama Bapak, dan Putra dan Rahul Kudus. Amin.
Kalau ada yang mengatakan semua agama benar, kacaulah kehidupan ini. Umat Islam bisa tidak usah ke Mesjid hari Jumat, tetapi ke Gereja di hari Minggu: sebaliknya juga umat Kristen ke Mesjid hari Jumat. Toh semua agama sama? Pikiran kacau!
Bahwa agama tidak semua benar, sangat jelas jika umat Islam membaca dan memahami betul makna Alquran, khususnya Surah ke 109 ayat 2-5 yang artinya: “Aku tidak akan menyembah, apa yang kamu sembah: Dan kalian bukan penyembah apa yang aku sembah: Dan aku tidak pernah menyembah apa yang kalian sembah: Dan kalian tidak pernah menjadi penyembah apa yang aku sembah.”
Tetapi ayat 6 dari surah itu menunjukkan bahwa perbedaan bukan berarti permusuhan, toleransi hadir karena ada perbedaan. Jika semua sudah sama, tidak perlu ada toleransi, tetapi sikap toleransi, menghargai keyakinan agama lain dengan tentunya tetap tidak membenarkannya. Itulah yang ditegaskan Allah swt dalam ayat 7 Surah 109: Lakum Dinukum Wa Liya Din: Untuk kalian agama kalian, dan untuk kami agama kami.
Bagi penganut liberal kalau masih mau tobat nasuha kembali menjadi Muslim, terima dan yakini serta pahami Alquran secara kafah (utuh), jangan parsial (sepotong-sepotong), menggunakan ayat yang bisa dimanfaatkan meliberalkan dan mensekulerkan orang, dan membutakan mata dari ayat-ayat lain yang sulit mereka putar-balikkan.
Tulisan ini pernah dimuat dalam kolom tetap beliau “Hukum & 1001 Masalah Kemasyarakatan” di Harian Fajar dalam rangka menanggapi tulisan Prof. Muh Qasim Mathar di harian yang sama dengan judul “Beda Agama, Tapi Seiman”
(Muis/LPPIMakassar.blogspot.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More