Muslimlah Daripada Liberal



Oleh: Prof. Dr. Achmad Ali
Penasehat Ahli Jaksa Agung Republik Indonesia
Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Hasanuddin Makassar

Selain saya penggemar karya-karya Dr Zakir Naik, cendikiawan dan mubalig muslim terkemuka di dunia (pernah ceramahnya dihadiri lebih dari sejuta orang dari berbagail kalangan agama di sebuah pantai Amerika), maka saya juga penggemar buku-buku Dr Adian Husaini, seorang intelektual muda muslim yang sangat produktif dan brilian, mantan wartawan, telah menulis banyak buku yang hampir semuanya saya miliki. Bukunya yang paling tebal dan monumental, luas sekali wawasannya tentang peradaban barat dan peradaban muslim, yakni Wajah Peradaban Barat, merupakan salah satu buku the best seller. Buku-bukunya yang lain: (a) islam Liberal, (b) membendung Arus Liberalisme di Indonesia, (c) membedah Islam Liberal, (d) Tantangan Sekularisasi dan Liberalisasi di Dunis Islam, (e) Solusi Damai Islam-Kristen di Indonesia, (f) Mau Menang Sendiri, Israel Sang Teroris, (g) Pluralisme Agama: Haram, Fatwa MUI yang Tegas & Tidak Kontroversial, (h) Islam Liberal, Pluralisme Agama & Diabolisme Intelektual, dan lain-lain.
Buku terbarunya; Muslimlah Daripada Liberal, menggambarkan perjalanan ke inggris seorang mantan jurnalis yang sekarang jadi intelektual muslim terkemuka di tanah air. Di dalam bukunya itu, Adian Husaini (yang dapat saya tangkap) menggambarkan setuasi kehidupan masyarakat barat yang liberal dan sekuler, bahkan ateis. Dia juga menggambarkan bahwa sama dengan umat Islam di Indonesia yang konon sekitar 200 jutaan, tetapi Islam KTP dan statistik yang lebih banyak. Hanya sebagian yang benar-benar menyandarkan keyakinannya dan perilakunya pada Alquran dan Sunnah Nabi.
Sebagian besar orang barat adalah Kristen KTP yang tidak pernah lagi masuk gereja, bahkan ada yang terus terang mengakui bahwa sebenarnya mereka ateis. Pengaruh arus liberalisasi barat dan sekulerisasi barat  juga sudah merasuk masuk ke kehidupan sebagian kecil sosok-sosok yang masih mengaku muslim, umumnya mereka ini memperdalam ilmu.
Islamnya bukan dari perguruan-perguruan tinggi Islam di Timur Tengah, terutama dari universitas Al-Azhar, tetapi memperdalam ilmu agama dari ilmuwan barat yang non-muslim, di negara-negara barat termasuk Amerika dan eropa dan tentu saja sekembali mereka diproses “cuci otak”.
Bahkan tidak mustahil donatur mereka di barat sana, mengucurkan dana yang tidak sedikit untuk membentuk yayasan liberal dan sekuler yang merupakan upaya sistematis menghancurkan Islam, musuh bebuyutan mereka sejak zaman Nabi Musa as untuk melancarkan propaganda liberal, sekuler dan mengajarkan semua agama benar. Pertanyaan logisnya, kalau semua agama yang hidup di abad sekarang ajarannya benar semua, untuk apa Tuhan menurunkan agama sedemikian banyak jenisnya? Bukankah Islam sudah dinyatakan oleh Tuhan sebagai agama yang sempurna dan menyempurnakan ajaran agama sebelumnya yang sudah diobok-obok dan dipalsukan, terutama dana yang mengalir dari donatur barat untuk meliberalkan pendidikan Islam yang targetnya perguruan-perguruan tinggi Islam. Itulah yang dijuluki Adian sebagai virus Liberal di perguruan-perguruan tinggi di Indonesia.
Salah satu judul bab bukunya adalag: Liberalisme dan Misteri Robinhood. Apa dan bagaimana uraiannya disilakan membacanya sendiri, karena buku ini saya lihat masih dijual di Gramedia Makassar. Saya beli 20 buku itu di Jakarta, dan saya bagikan gratis kepada sahabat dan keluarga saya agar mereka tidak sesat dan disesatkan oleh kelompok Liberal yang mengatasnamakan ajaran mereka ajaran Islam.
Tulisan ini pernah dimuat di Harian Fajar, dalam kolom tetap beliau “Hukum dan 1001 Masalah Kemasyarakatan”, Rabu, 10 November 2010
(Muis/LPPIMakassar.blogspot.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More