DASAR-DASAR PEMAHAMAN AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH



Oleh: Ilham Kadir, S. Sos. i
Pengenalan
Adalah bukanlah sebuah kebetulan setiap umat Nabi Muhammad shallallhu ‘alaihi wa sallam (saw) yang mangaku dirinya beriman, menjalankan perintah agama dan menjauhi larangannya agar Allah mewajibkan baginya untuk selalu membaca surah al Fatihah dalam setiap salatnya. Tentu saja karena surah pertama dari al Qura’an ini memiliki ragam keistimewaan. Surah yang bernama ummul kitab dan fatihatul kitab atau al fatihah ini adalah ibarat tonggak utama untuk masuk menyelami lautan ilmu dalam Islam. Di antara kandungan surah perdana dalam kitab suci al Qur’an yang perlu bahkan wajib dipahami secara rinci dan komprehensip bagi kita adalah ayat ke-6 dan ke-7.
Tulisan ini akan berusaha menjabarkan ayat yang dimaksud berdasarkan pemahaman ahlusunnah wal jama’ah sebagaimana yang telah dirumuskan oleh Rasulullah saw yang berbicara dengan wahyu bukan dengan hawa nafsunya, sebagimana juga yang telah dilaksanakan oleh para sahabat, tabi’in, tabi’tabi’in generasi kedua dan ketiga dari zaman kenabian yang merupakan generasi terbaik umat ini. Sebagaimana pula apa yang telah dirumuskan dan dilaksanakan para penerus generasi terbaik di atas. Merekalah yang telah mentrasformasi kebenaran dari satu generasi ke generasi selanjutnya, hingga mata rantai kebenaran itu tetap utuh tanpa terputus kepada kita semua.
Dalam memahami ayat-ayat Allah –yang termatub dalam kitab-Nya, tentulah memiliki metodologi tersendiri, tidak bersandarkan kepada akal semata-mata, apalagi jika menafsirkan dengan hawa nafsu termasuklah hal ini berusaha memaksakan agar ayat-ayat al Qur’an untuk menjustifikasi pendapatnya, hal tersebut sangat bertentangan dengan kaidah-kaidah penafsiran yang telah dirumuskan oleh para ulama terdahulu.
Karena pokok bahasan kita adalah ayat ke-6 dan ke-7 dalam surah al Fatihah, maka penulis akan berusaha menjabarkan ayat di atas dengan memaparkan beberapa ayat yang sesuai, karena sebagaimana kita ketahui bahwa alqur’an pada dasarnya saling menafsirkan antara satu dengan yang lainnya, al Qur’am yufassiru ba’duha biba’din kemudian merujuk kepada sabda rasul sebagai penerang bagi ayat-ayat al Qur’an, perkataan sahabat, generasi setelah sahabat, generasi pelanjut, dan para ulama yang mu’tabar kapabel di bidangnya.
Jalan Yang Lurus
Firman Allah Ta’ala,

“TunjukilahKami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Alfatihah [1]:7-8).
 Dalam pengertian ayat, “Dan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat” adalah sebagaimana yang ditafsirkan dengan ayat lain yaitu dalam Surah Annisa’ Ayat, 69.
 
“Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. Annisa’ (4): 69).
Ibnu Katsir (w. 774 H) menyebutkan bahwa makna shiratal mustaqim –jalan yang lurus mencakup empat penafsiran yaitu, al haq atau kebenaran; dinul islm atau agama Islam; al Qur’n dan terakhir adalah Abu Bakar dan Umar. Ibnu katsir sebagai salah satu mufassir terkenal dan mu’tabar sekaligus murid Ibnu Taimiyah dengan yakin berpendapat bahwa keempat penafsiran tersebut benar dan saling menyelarasi antara satu dengan yang lainnya dengan argumentasi bahwa orang yang mengikuti Nabi dan juga mengikuti jejak dua khalifah tersebut di atas maka dengan sendirinya ia telah mengikuti kebenaran, dan siapa yang mengikuti kebenaran maka ia telah berislam dengan benar sesuai tuntunan al Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw. Lebih jelasnya bahwa siapa saja yang ingin mencari kebenaran maka kebenaran itu ada pada agama Islam, dan Islam itu bersumber dari wahyu Allah (al Qur’an dan Sunnah) dan kedua sumber tersebut wajib dipahami sebagaimana pemahaman para sahabat.
Satu lagi murid Ibnu Taimiyah yang juga memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni, Ibnul Qayyim al Jauziyah (w. 751 H) menafsirkan ayat di atas, katanya, “Setiap orang yang paling mengetahui kebenaran dan mengikutinya maka ia lebih berhak berada di atas shiratal mustaqim –jalan yang lurus dan tidak diragukan lagi bahwa para Sahabat Rasululllah lebih berhak menyandang sifat ini...”
Maka dapat dipastikan dengan jelas, bahwa siapa saja yang menyimpang dari shiratal mustaqim –jalan yang lurus maka ia telah menyempal dan memilih jalan yang sesat, dan lebih menyesatkan lagi karena setiap sempalan itu masing-masing mengakui bahwa dirinyalah yang paling benar, berbangga-bangga atas golongannya dan merasa paling berhak berdakwah atas Islam, padahal mereka sesungguhnya telah menyalahi kebenaran karena memiliki perbedaan prinsip, aqidah, ibadah, dan manhaj. Inilah yang dimaksud dalam sebuah hadits Nabi,
حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ قَالَ سَمِعْتُ مُجَالِدًا يَذْكُرُ عَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخَطَّ خَطًّا وَخَطَّ خَطَّيْنِ عَنْ يَمِينِهِ وَخَطَّ خَطَّيْنِ عَنْ يَسَارِهِ ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ فِي الْخَطِّ الْأَوْسَطِ فَقَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَة وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
Telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Abdullah bin Sa'id berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al Ahmar ia berkata; aku mendengar Mujalid menyebutkan dari Asy Sya'bi dari Jabir bin Abdullah ia berkata; "Kami berada di sisi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau lalu membuat satu garis, kemudian membuat dua garis di sisi kanannya dan dua garis lagi di sisi kirinya. Kemudian beliau meletakkan tangannya di garis yang tengah seraya bersabda: " Inilah jalan Allah." Kemudian beliau membaca ayat ini: "Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya."
Ibnu Taimiyah mengomentari hadits di atas dengan mengatakan, “Apabila orang berakal yang menginginkan perjumpaan dengan Allah swt, seharusnya memperhatikan permisalan ini dan juga memperhatikan keadaan setiap kelompok dari kalangan Khawarij, Mu’tazilah, Jahmiyah, Rafidhah, ahli kalam yang mendekati Ahlussunnah seperti Karamiyah, Kullabiyah, Asy’ariyah dan selain mereka. Setiap dari mereka memiliki jalan yang keluar dari apa-apa yang telah ditempuh oleh para sahabat dan ahlul hadits, dan setiap dari mereka menyangka bahwa jalan merekalah yang benar, niscaya orang yang berakal akan mendapati bahwa merekalah )sempalan-sempalan tersebut( yang telah masuk dalam perumpamaan di atas oleh Rasulullah saw yang tidak berbicara dengan hawa nafsunya wama yanthiqu anil hawa melainkan wahyu yang diwahyukan  wahyun yuha padanya.
Untuk itulah, siapa pun yang ingin menapaki jalan yang lurus shiratal mustaqims maka sudah satu keniscayaan agar ia mengikuti ittiba’ kepada para sahabat dan orang-orang setelahnya termasuk para pemimpin orang-orang yang jujur dan benar yang telah mengamalkan ajaran rasulullah saw dengan sesungguhnya. Sebagaimana firman Allah dalam Surah at Taubah (9):119,
  
Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.”
Menurut pendapat Ibnul Qayyim, bahwa lebih dari seorang generasi salaf mengatakan, ‘mereka (orang-orang) yang benar adalah para Sahabat Nabi saw, karena tidak diragukan lagi kalau mereka para sahabat adalah para pemimpin orang-orang yang jujur dan benar, dan orang jujur yang datang sepeninggal mereka adalah contoh kejujuran mereka. Dapat dimaklumi bahwa siapa saja yang menyalahi pendapat mereka dalam suatu perkara meskipun dalam perkara lain ia sependapat dengan mereka, maka tidak bisa dikatakan ia bersama mereka dalam perkara yang menyalahinya. Maka di sini harus dibedakan antara kebersamaan mutlak dan mutlak kebersamaan. Dan kebersamaan yang pertamalah yang mengikuti perintah Allah bukan yang kedua.
Hal yang terpenting dalam memilih dan memilah apa dan siapa yang harus diikuti.  Mereka  haruslah orang yang mengajak pada kebenaran itu memiliki bekal ilmu atau bashirah, jika hal itu telah ia penuhi maka wajib hukumnya kita ber-ittiba’ padanya, sebagaimana Firman Allah, dalam surah Yusuf (12):108,
  
Katakanlah: "Inilah jalan (agama)-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik".Dan firman Allah dalam Surah al Ahqaf (46):31,

Hai kaum Kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih
Orang yang mengajak pada Allah di atas bashirah maka secara otomatis ia telah mengajak pada kebenaran yang telah diketahuinya dan mengajak pada hukum-hukum Allah berarti juga mengajak kepada Allah, karena ia adalah seruan untuk mentaati segala apa yang diperintah dan dilarang oleh Allah swt. Para sahabat telah mengikuti rasulullah saw, maka kewajiban kita adalah juga mengikuti ittiba’ pada mereka apabila mereka mengajak kepada Allah. Ayat di atas juga mengisyaratkan tiga ketentuan yang bermuara pada satu tujuan, yaitu: bahwa orang yang mengikuti rasulullah maka pada dasarnya orang itu telah berdakwah dan mengajak kepada Allah atas bashirah (ilmu). Para sahabat adalah orang yang paling sempurna ittiba’nya sehingga mereka adalah manusia yang paling layak untuk diikuti; bahwa orang yang berdakwah mengajak kepada Allah wajib untuk diikuti dan para sahabat adalah orang yang paling sempurna dakwahnya dalam mengajak kepada Allah sehingga wajib bagi kita untuk mengutamakan ittiba’ pada mereka; bahwa orang yang berdakwah mengajak kepada Allah di atas bashirah (ilmu) wajib untuk diikuti, dan para sahabatlah yang paling sempurna bashirah-nya sehingga mengikuti mereka adalah sebuah keniscayaan.
Golongan Yang Selamat
Berangkat dari pemahaman dan penafsiran di atas, maka kita setidaknya dapat mengambil pemahaman dan ilmu yang sangat asasi dalam agama kita, bahwa golongan yang selamat hanyalah merek yang senantiasa menapaki shiaratal mustaqim berpegang teguh kepada ajaran-ajaran Islam yang pure sebagaimana dipahami oleh Rasulullah, para sahabat dan generasi terdekat dengannya plus ulama-ulama yang senantiasa konsisten menjaga kemurnian agama ini. Mereka inilah yang kita sebut sebagai kaum salafush shalih atau pendahulu pendahulu kita yang salih, sebagaimana lazim kita sebut salafi.
Apa dan bagaimana sebenarnya manhaj generasi terbaik umat ini? Berikut bebepa informasi tentang itu.
Pengertian salaf dari sisi bahasa berasal dari kata salafa-yaslufu-salafan, artinya telah berlalu. Kalimat al Qaum as Sullaf, kaum yang terdahulu. Sedangkan salafu ar rajuli bapak-bapak mereka yang terdahulu. Kata salaf juga bermakna seseorang yang telah mendahului (terdahulu)  dalam ilmu, iman, keutamaan, dan kebaikan. Sebagaimana pendapat Ibnu Manzur, bahwa salaf juga berarti orang yang mendahului kita, baik dari bapak, mau pun orang-orang terdekat (kerabat) yang lebih tua umurnya dan lebih utama. Karena itu  generasi pertama dari umat ini dari kalangan para Tabi’in, disebut sebagai as Salafush shalih. Termasuk juga sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Sesungguhnya sebaik-baik salaf (pendahulu) bagimu adalah aku.
Adapun dalam segi istilah, salaf adalah sifat yang khusus dimutlakkan kepada para sahabat. Ketika disebut kata salaf maka yang dimaksud pertama kali adalah para sahabat, dan ada pun selain mereka yang ikut serta dalam panggilan tersebut adalah orang-orang yang mengikuti mereka. Dalam artian bila mereka mengikuti para Sahabat maka disebutlah Salafiyyin, yaitu para salafus shalih.
Para ulama ulama dari beragam aliran dan generasi telah sebulat suara mengakui bahwa yang dimaksud dengan salaf adalah para Sahabat Nabi. Imam al Ghazali berpendapat bahwa ketika mendefinisikan kata salaf yang ia maksud adalah mazhab para sahabat dan tabi’in. Ada pun al Baijuri berpendapat bahwa maksud dari orang-orang terdahulu (salaf) adalah orang-orang terdahulu dari kalangan para Nabi, Sahabat, Tabi’in, dan para pengikutnya. Senada dengan itu, sebuah hadis membenarkan pendapat-pendapat di atas, sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Bukhari  dan Muslim, “Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (masa para Sahabat), kemudian yang sesudahnya (tabi’in), kemudian yang setelah itu, (masa pengikut para tabi’in).
Imam al Auza’i (w. 157 H) berkata, “Bersabarlah dirimu atas sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para ssahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan salafush shalih karena akan mencukupimu apa saja yang mencukupi mereka.”
Berpijak dari keterangan dan argumen di atas menjadi terang dan jelaslah bagi kita bahwa kata salaf mutlak ditujukan untuk para Sahabat Nabi saw, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Barangsiapa mengikuti mereka dalam agama yang benar ini  maka secara otomatis ia adalah generasi penerus dari sebaik-baik pendahulu yang mulia. Jadi dapat disimpulkan bahwa istilah salaf adalah istilah yang sah digunapakai untuk orang-orang yang menjaga keselamatan aqidah dan manhajnya sebagaimana yang telah dilaksanakan dan dicontohkan oleh Rasulullullah beserta para sahabat sebelum terjadi perselisihan dan perpecahan.
Adapun istilah salaf adalah istilah yang dibolehkan penisbatannya kepada manhaj yang benar dan bukanlah suatu bid’ah yang tercela atau pun mazhab baru dalam agama ini. Ibnu Taimiyah (w. 728 H) mengatakan, “Bukanlah merupakan aib bagi orang yang menampakkan mazhab salaf dan menisbatkan dirinya kepadanya, bahkan wajib menerima yang demikian itu darinya berdasarkan kesepakatan (para ulama) karena mazhab salaf tidak lain kecuali kebenaran.”
Istilah salaf pada dasarnya tidaklah menunjuk pada satu golongan, aliran, atau ormas, tertentu  tetapi kepada siapa saja yang berpegang teguh pada al Qur’an dan Sunnah menurut pemahaman yang benar, karena umat ini telah berpecah dan berfirqah-firqah namun yang selamat hanya satu. Sebagaimana sabda Nabi saw, “Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan Ahlul Kitab telah berpecah belah menjadi 72 golongan. Sesungguhnya umat Islam akan berpecah belah menjadi 73 golongan. 72 golongan tempatnya dalam neraka, dan hanya satu golongan di dalam surga, yaitu al Jama’ah.
Imam al Jurri rahimahullah (w. 306 H) berkata, “Selanjutnya, sesungguhnya beliau rasulullah saw pernah ditanya (oleh sahabat), ‘Siapa yang selamat itu?’ maka beliau menjawab, ‘Yang aku dan para sahabatku berjalan di atasnya.’ Dalam hadis lain beliau menjawab, ‘Kelompok yang besar,’ dan pada kesempatan yang lain  ia pernah menjawab, ‘Satu di dalam surga yaitu al Jama’ah.”
Pada hadis yang lain yang bersabda, “... ‘hendaklah engkau berpegang teguh (bersatu) kepada jama’ah dan imam kaum muslimin.’ Kemudian Hudzaifah bertanya, ‘Bagaimana kalau mereka sudah tidak memiliki jama’ah dan imam lagi?’. Rasulullah menjawab, ‘Jauhilah semua kelompok tersebut, meskipun engkau harus menggigit akar pohon tersebut, hingga engkau mati dalam keadaan semacam itu.’”
Senada dengan itu, Al Qhadi Ibnu Abil ‘Izz al Hanafi (w. 792 H) berkata, “Al Jama’ah ialah jama’ah kaum Muslimin, mereka adalah para Sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari pembalasan.”
Nah timbul pertanyaan, apa hubungan antara salafiyah atau salafus sholeh atau salafi dengan ahlussunnah wa jama’ah? Berbanding dengan istilah salafiyah tentu saja jauh lebih awal dari pada penyebutan ahlussunnah wa jama’ah. Istilah ini muncul justru pada saat ragam bid’ah bermunculan dengan maraknya di tengah-tengah masyarakat yang menyesatkan sebagian manusia, sehingga perlu adanya pembedaan jama’ah kaum muslimin yiaitu dengan berpegang teguh kepada sunnah sehingga mereka pun dikatakan ahlus sunnah sebagai lawan dari ahlul bid’ah. Dikatakan jama’ah karena mereka adalah ashl atau pokok, sedang orang-orang yang menyempal adalah mereka menyelisihi ahlussunnah wal jama’ah. Merupakan hal yang naif jika para penganut ahlussunnah wal jama’ah ini alergi jika dipanggil atau disebut salafiyah apalagi salafi. Padahal manhaj salaf itulah manhaj ahlussunnah yang sesungguhnya. Untuk itulah perlu juga diketahui nama-nama lain dari salaf atau salafiyah, seperti:
a.        Al jamaah. Maksud dari Al Jama’ah di sini adalah merujuk kepada sabda nabi sebagai berikut,
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ ح و حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عُثْمَانَ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ قَالَ حَدَّثَنِي صَفْوَانُ نَحْوَهُ قَالَ حَدَّثَنِي أَزْهَرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْحَرَازِيُّ عَنْ أَبِي عَامِرٍ الْهَوْزَنِيِّ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ
أَنَّهُ قَامَ فِينَا فَقَالَ أَلَا إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِينَا فَقَالَ أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ

“Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Yahya keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Al Mughirah berkata, telah menceritakan kepada kami Shafwan. (dalam jalur lain disebutkan) Amru bin Utsman berkata, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah ia berkata; telah menceritakan kepadaku Shafwan seperti itu. Ia berkata, "telah menceritakan kepadaku Azhar bin Abdullah Al Harazi dari Abu Amir Al Hauzani dari Mu'awiyah bin Abu Sufyan Bahwasanya saat sedang besama kami ia berkata, "Ketahuilah, ketika sedang bersama kami Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Ketahuilah! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan ahlu kitab berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan; tujuh puluh dua golongan masuk neraka dan satu golongan masuk surga, yaitu Al Jama'ah."

b.      Jama’atul Muslimin berdasarkan sabda Rasulullah,

...كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا قَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ
“...Orang-orang bertanya Rasulullah saw tentang kebaikan sedang aku bertanya beliau tentang keburukan karena khawatir jangan-jangan aku terkena keburukan itu sendiri. Maka aku bertanya 'Hai Rasulullah, dahulu kami dalam kejahiliyahan dan keburukan, lantas Allah membawa kebaikan ini, maka apakah setelah kebaikan ini ada keburukan lagi? Nabi menjawab 'Tentu'. Saya bertanya 'Apakah sesudah keburukan itu ada kebaikan lagi? 'Tentu' Jawab beliau, dan ketika itu ada kotoran, kekurangan dan perselisihan. Saya bertanya 'Apa yang anda maksud kotoran, kekurangan dan perselisihan itu? Nabi menjawab 'Yaitu sebuah kaum yang menanamkan pedoman bukan dengan pedomanku, engkau kenal mereka namun pada saat yang sama engkau juga mengingkarinya. Saya bertanya 'Adakah steelah kebaikan itu ada keburukan? Nabi menjawab 'O iya,,,,, ketika itu ada penyeru-penyeru menuju pintu jahannam, siapa yang memenuhi seruan mereka, mereka akan menghempaskan orang itu ke pintu-pintu itu. Aku bertanya 'Ya Rasulullah, tolong beritahukanlah kami tentang ciri-ciri mereka! Nabi menjawab; Mereka adalah seperti kulit kita ini, juga berbicara dengan bahasa kita. Saya bertanya 'Lantas apa yang anda perintahkan kepada kami ketika kami menemui hari-hari seperti itu? Nabi menjawab; Hendaklah kamu selalu bersama jamaah muslimin dan imam mereka! Aku bertanya; kalau tidak ada jamaah muslimin dan imam bagaimana? Nabi menjawab; hendaklah kau jauhi seluruh firqah (kelompok-kelompok) itu, sekalipun kau gigit akar-akar pohon hingga kematian merenggutmu kamu harus tetap seperti itu.( HR. Bukhari & Muslim ).
               Al Qadhi Ibnu Abil Izza al Hanafi (w. 792 H), mengomentari hadis dia atas sebagai berikut, “Al Jama’ah ialah kaum muslimin, mereka adalah para Sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari pembalasan.”
c.       Al firqatun najiyah, atau golongan yang selamat dari api neraka. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah ketika menyebutkan hanya satu golongan umatnya yang selamat dari neraka,

...َ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلَانِيَةً لَكَانَ فِي أُمَّتِي مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي
“...Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Pasti akan datang kepada ummatku, sesuatu yang telah datang pada bani Israil seperti sejajarnya sandal dengan sandal, sehingga apabila di antara mereka (bani Israil) ada orang yang menggauli ibu kandungnya sendiri secara terang terangan maka pasti di antara ummatku ada yang melakukan demikian, sesungguhnya bani Israil terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan semuanya masuk ke dalam neraka kecuali satu golongan, " para sahabat bertanya, "Siapakah mereka wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Mereka adalah golongan yang mana aku dan para sahabatku berpegang teguh padanya". Abu Isa berkata; 'Hadits ini hasan gharib mufassar, kami tidak mengetahuinya seperti ini kecuali dari jalur sanad seperti ini.'Attirmidzi).
Yusuf bin Asbath berkata bahwa akar dari bid’ah itu ada empat: Rafidah, Khawarij, Qadariyah, dan Murji’ah. Kemudian tiap-tiap firqah itu bercabang menjadi delapan belas firqah, itulah 72 firqah, dan firqah ke-73 adalah al Jama’ah yang disabdakan oleh Nabi saw, bahwa firqah inilah yang selamat. (Jawwas, 2008:36)

d.       Ath Tha’ifah al Manshurah, Ahlul Ittiba’ dan al Ghuraba’. (golongan yang mendapat pertolongan Allah), penamaan ini berdasarkan sabda Rasulullah saw yang artinya, “Senantiasa ada segolongan dari umatku yang selalu dalam kebenaran menegakkan perintah Allah, tidak akan mencelakai mereka orang yang melecehkan mereka dan orang yang menyelisihi mereka sampai datang perintah Allahdan mereka tetap di atas yang demikian itu.” (Bukhari & Muslim).
Selain keempat nema dan gelar di atas ada beberapa lagi nama yang dinisbatkan pada mereka seperti, Salaf, Ahlul hadits, Ahlul Atsar, Ahlussunnah wal Jama’ah, dan al Ghuraba’. Nama-nama tersebut bertujuan agar dapat membedakan dengan gelar-gelar aliran-aliran sempalan lainnya, hal ini dapat ditinjau dari beberapa sisi:
-          Bahwa Salafiah atau Ahlus Sunnah merupakan nisbat yang tidak pernah terpisah bahkan sekejap pun dari umat Islam semenjak terbentuknya Manhaj Nubuwwah.
-          Bahwa ia mencakup seluruh aspek dalam agama Islam: al Qur’an dan as Sunnah. Maka ia tidak dkhususkan dengan label yang menyelisishi keduanya, baik dengan menambah maupun mengurangi keduanya.
-          Bahwa di antara gelar-gelar tersebut di atas ada yang telah shahih berdasarkan sunnah yang sahih, dan ada pula yang nampak dan muncul kepermukaan pada saat menghadapi manhaj-manhaj (cara beragama) ahlul ahwa’ dan firqoh-firqoh yang sesat guna membantah bida’ah-bida’ah mereka dan membedakan diri dengan mereka.
-          Bahwa ikatan al wala’ dan al bara’, mencintai dan memusuhi bagi mereka berdasarkan Islam, bukan yang lainnya.
Yang terpenting adalah gelar-gelar tersebut samasekali tidak mengajak untuk a’ashshub (fanatik) kepada seseorang selain daripada rasulullah saw.  Wallahu a’lam!
 (Ilham/LPPIMakassar.blogspot.com)



1 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More