Apakah Nabi SAW berdakwah dengan Pluralisme?



Banyak orang yag mengatakan bahwa orang Liberal dan Pluralis adalah orang-orang moderat, arif, dewasa, dan bijaksana dalam menyikapi kemajukan keyakinan dalam sebuah masyarakat. Namun di balik wajah kebijaksanaan itu terdapat otak yang busuk berwatak iblis. Dzahirnya adalah rahmat namum batinnya adalah adzab, kulit luarnya adalah perdamaian namun isinya adalah penghancuran aqidah.

Ketika seorang yang mengusung paham pluralisme agama-agama mengatakan bahwa tidak ada hak mengklaim kebenaran sendiri, semua agama adalah sama, sama-sama menuju surga yang sama dan tuhan yang sama. Sejatinya ia telah berdiri di luar aqidah Islam, karena mempercayai dan meridhai yang juga diyakini oleh orang pagan yang menyembah patung.

Ia mengumpulkan semua aqidah agama-agama dalam hatinya dan itulah kebenaran yang ia yakini. Inilah sebanarnya kegagalan aqidah sang pemilik hati ini. Ia tak yakin dengan aqidahnya, sehingga membenarkan juga aqidah milik agama lain. Sebenarnya dalam kondisi seperti ini ia telah melecahkan dan menghina semua agama yang ada, kitab samawi, para ulama, para pendeta, para rahib, para biksu, dan semua pemeluk agama yang ada.

Karena para ulama tak mungkin meyakini apa yang diyakini para pendeta, para rahib tak mungkin meyakini keyakinan para biksu, dan begitu seterusnya, orang muslim tak mungkin shalat di vihara, orang Kristen tak mungkin pula melakukan kebaktian di sinagog.

Lantas mengapa kaum pluralis tidak menyetop ajakan para orientalis, dakwah para da’i, ceramah para rahib yang selalu mengajak pada agamanya masing-masing?

Mengapa kaum pluralis tidak menghancurkan saja semua rumah ibadah agama-agama dan membuat satu rumah ibadah saja untuk agama PLURALISME yang di dalamnya orang Muslim, Kristen, Yahudi, Budha, dan Hindu melakukan ritual ibadah yang sama.

Kondisi seperti di atas tak akan mungkin tercapai, kalau mau lakukanlah langkah-langkah di atas, dan cobalah hidup di dunia dengan satu agama saja. Ini jelas mustahil bin mustahil. Sungguh sulit mewujudkan kondisi seperti ini, ini menentang sunnatullah, ini menentang ketetapan dan kehendak Allah yang telah menciptakan beragam jenis manusia corak, warna kulit, suku, bangsa, agama, dan keyakinan.

Sungguh sangat naïf perjuangan segelintir orang yang menawarkan pluralisme ketika kerukunan umat beragama sedang ternodai, perdamaian yang mereka angan-angankan hanyalah tipu muslihat untuk membuat kabur aqidah kita. Membuat kita tak yakin dengan sempurna pada agama kita.

Apakah Nabi Muhammad saw ketika sampai di madinah mengatakan “wahai kaum ahli kitab, tetaplah pada agama kalian, karena kalian semua sama seperti kami, juga akan masuk surga, tuhan kita sama, yaitu Allah”, Tidak, bahkan Nabi Muhammad saw bersabda; “Demi Allah yang diri Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah seorang dari umat Yahudi dan Nasrani yang mendengar diutusnya aku, lalu ia mati dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang aku diutus dengannya (Islam), niscaya ia termasuk penghuni Neraka.”

Apakah Nabi Muhammad saw ketika sampai di Makkah pada saat Fathu Makkah melihat patung-patung disekeliling ka’bah hanya diam saja dan membiarkan para penyembahnya berbibadah kepada patung tersebut? Tidak, bahkan Nabi saw sendirilah yang mengambil palu godam dan menghantam semua patung tersebut satu-persatu.

Rasulullah Muhammad SAW menangis ketika melihat Sahabat yang mulia, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu ketika kedapatan oleh Nabi saw memegang lembaran Taurat, maka Nabi Muhammad SAW menasehatinya, “Wahai Umar, kalau saja saudaraku, Musa hidup pada masa ini, maka tidak ada pilihan bagi beliau kecuali mengikuti aku”

Nabi Muhammad SAW tidak mengatakan kepada Umar; “Aku bangga padamu wahai Umar, engkau orang yang kritis dan dewasa, pelajarilah taurat dan masuklah ke dalam agama Yahudi, karena kaum Muslimin akan bersaudara dengan kaum Yahudi di surga”

Nabi Muhammad SAW tidak akan mengatakan perkataan syirik seperti itu, karena Nabi Muhammad saw yakin penuh dengan agama yang ia bawa, sehingga dengan sekuat tenaga, siang dan malam, dengan kucuran keringat dan darah ia memperjuangkan aqidah yang ia yakini kebenarannya. Nabi Muhammad saw tidak ragu sedikit pun dengan aqidah yang ada dalam hatinya, sehingga dengan keraguan itu membuat beliau membenarkan sebagian aqidah agama lain. Tidak sama sekali, Nabi Muhammad saw mendakwahkan Tauhid bukan kesyirikan model baru yang bernama Pluralisme!

Para pentolan paham pluralisme ini adalah gerakan orientalis gaya baru, sekarang bukan lagi orientalis asli yang terjun ke lapangan mengacaukan aqidah kita, namun cukuplah para perindu dunia dari kaum Muslimin diiming-imingi beasiswa belajar di Negara barat, di sanalah otak mereka dicuci, dan hasilnya sungguh luar biasa, “kaum cendikiawan muslim” sendiri yang datang ke tanah air mengobrak-abrik tatanan aqidah kaum Muslimin.

Bukan kejayaan yang mereka dambakan, bukan agamanya yang ingin dimenangkan, justru agamanya diinjak-injak, dan membangun satu agama baru buatan iblis beserta serdadunya dari kalangan manusia dan jin.

Namun kaum Muslimin harus bersabar dari paham seperti ini sebagaimana sabarnya kita menggenggam bara api, karena ternyata paham seperti ini sudah dilembagakan, di-organisasi-kan, bahkan menjadi kurikulum suatu perguruan tinggi Islam.

Begitu dahsyatnya gelombang ini sehingga menjadikan para pemuda yang baru belajar mengeja al-quran mulai berani menghina, melecehkan, bahkan menghancurkan bangunan aqidah yang telah dengan susah payah ia wariskan dan ia jaga dari orang tuanya.

Menjadikan para ‘cendikiawan’ pengusung paham tersebut menjadikan tema khutbah, ceramah dan kuliah mereka berkisar paham ini. Siapa yang rugi? Jelas yang paling rugi adalah kita. Selain aqidah banyak syariat kita yang dirubah-rubah.

Pluralisme merupakan jantungnya semua kesesatan aliran, mereka membelanya mati-matian, kaum homo ia dukung, kaum lesbi ia bela, penghujat al-quran ia usung , perubah syariat disokong, dan semua jenis dan cabang kesesatan dikaburkan penyimpanngannya.

Membuat ragu-ragu kaum Muslimin adalah cita-cita mereka yang tertinggi, ketika mereka ragu maka ia pun ragu terhadap kesalahan dan penyimpangan aqidah yang bukan dalam hatinya.

Mereka telah terjebak dalam hujjah yang lemah, yaitu “Rahmatan lil ‘alamin”, semata-mata hanya karena ingin mengaplikasikan ayat ini ia mendustakan dan menolak mentah-mentah beribu-ribu ayat yang lainnya.

Terjebak dalam tujuan damai yang palsu, tidak akan damai bumi ini jika dihuni manusia seperti mereka. Selama mereka tetap dalam aqidah dan paham yang merusak ini selama itu pula kerusuhan, huru-hara, dan konflik semakin menemukan gaya barunya, semakin berkobar api penghancurannya.

Marilah kita renungkan, apakah orang seperti mereka berdakwah karena dorongan syahadat la ilaha illallah atau karena kumpulan semua syahadat agama-agama, sehingga mereka memperjuangkan penyatuan agama dan penyatuan aqidah. Sungguh kasihan mereka, hidup mereka tergadaikan untuk kepentingan agama lain. Perjuangannya untuk ‘hak-hak’ hidup agama lain.

Inilah dia kekhawatiran Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu yang telah terbukti di zaman kita sekarang ini, yaitu munculnya orang berilmu yang menyesatkan manusia.


(Muis/LPPIMakassar.blogspot.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More