Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam Pemahaman Salafush Shaleh







oleh: Dr. Nashir bin Abdullah bin Ali Al Qifari
a.      Pengenalan
Banyaknya golongan yang mengklaim diri mereka sebagai Ahlussunnah, yang sesungguhnya melahirkan probelamitka tersendiri dalam internal umat Islam, sehingga benturan demi benturan sering terjadi baik opini maupun fisik. Hal ini dapat dipahami karena setiap kubu mengklaim merekalah yang paling benar, siapa pun di luar mereka pasti akan sesat dan pihak lain juga berpendirian demikian.
Banyaknya tangan-tangan jahil dari golongan ingkar sunnah serta para pengagum hawa nafsu yang diamini oleh para ahli bid’ah mejadikan ajaran Islam terkontaminasi dengan ragam bid’ah dan khurafat, sehingga distorsi ajaran yang pada awalnya murni pure menjadi sebaliknya.
Hal ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, umat harus kembali menelaah sumber-sumber asli dalam ajaran Islam; kembali kepada Al Qur’an sumber sebagai rujukan awal dan Sunnah sebagai sumber kedua serta bersandar kepada Ijma’ Sahabat, pendapat Tabi’in, Tabi’ tabiin, serta para ulama salaf yang senantiasa mentransformasi kebenaran dari zaman ke zaman hingga saat ini.
Salah satu permasalahan khusus yang kembali harus ditelaah dan dipahami secara komprehensif adalah mengetahui makna dan hakikat Ahlussunnah wal Jamaah, termasuk dalam hal ini telaah historis penamaannya.
Tulisan saduran ini, sedikit banyak akan membantu pembaca mengetahui asal usui kata “Assunnah” dan “Al Jamaah” baik dari segi bahasa, istilah, sejarah munculnya, dan pendapat-pendapat ulama dari kalangan Salafus Salih.
b.      Pengertian “Assunnah”
Kata “Assunnah” dalam segi bahasa adalah “jalan”  yaitu cara atau jalan yang terpuji maupun yang tercela. Dan ada pun bentuk jamak (plural)-nya adalah “sunan”  cara-cara atau jalan-jalan. Sebagaimana Sabda Rasulullah, “Barang siapa yang menunjukkan jalan satu kebaikan dalam Islam dan orang tersebut melakukannya maka pahala (bagi yang menunjukkan) akan sama dengan pahala orang yang melakukan petunjuk tersebut,  dan tidak berkurang sedikit pun, dan barang siapa yang menunjukkan satu kejahatan lalu orang itu melakukan maka (bagi yang menunjukkan) juga akan mendapat dosa seperti pelakunya tidak berkurang sedikit pun...” (H. Muslim).
Namun yang dimaksud dari “Assunnah” dalam judul diatas adalah, jalan yang terpuji, sebagimana dalam (kamus) Allisan, “Jalan yang terpuji lagi lurus”, makanya biasa juga dikatakan, Si Polan “Ahlussunnah” atau ia dari golongan yang lurus dan terpuji.
Adapun pengertian Assunnah ditinjau dari syara’ memiliki beberapa pengertian:
-          Sirah atau perjalanan hidup Rasulullah, Ibnu Faris berkata, “Sunnah rasulullah berarti perjalanan hidupnya.”.
-          Menurut pengertian para ahli hadis, Assunnah adalah apa saja yang berasal dari Nabi saw dari bentuk perkataan, perbuatan, apa yang ia diamkan, serta segala bentuk tingkahlakunya.
-          Dan begitu pula sunnah menurut istilah para ahlis ushulfiqhi’ berbeda dengan istilah  para ahli fikih.
Yang dimaksud perbedaan istilah dan makna di sini adalah tertelak dari latar belakang keahlian ilmu seseorang. Dan tidak penting untuk kita ikut mengetahui seluruh istilah-istilah tersebut tetapi yang terpenting bagi kita adalah mengetahui makna istilah “Assunnah” dengan “Ahlussunnah” ibarat petunjuk nyata dalam berakidah.
Ibnu Rajab (w. 795 H), “Sunnah adalah jalan yang ditempuh oleh Nabi saw dan  para Sahabat yang selamat dari ‘unsur’ syubhat dan syahwat,  lalu makna Assunnah dalam istilah ulama muta’akhkhir (yang datang di blakang) dari para ahli hadis dan lainnya adalah siapa yang  selamat dari syubhat dalam berakidah khususnya dalam masalah keimann kepada Allah, Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya, dan Hari Kiamat termasuk dalam masalah Qadar (ketetapan Allah), keutamaan sahabat, dan (para ulama tersebut) menulis banyak karya (kitab-kitab) dan memberinya nama ‘Assunnah’, ilmu ini diberi nama khusus dengan ‘Assunnah’ karena bahayanya besar, dan siapa yang berselisih di dalamnya seakan-akan mengakibatkan kebinasaan.”
Al Alusi (w. 1342 H) berkata, “Assunnah pada dasarnya adalah berarti apa yang telah dilakukan dan diperintahkan oleh beliau.”
merupakan pokok-pokok ajaran agama serta cabang-cabanya hingga isyarat dan diamnya, kemudian istilah ini dikhususkan dari ahlussunnah dalam penetapan nama dan sifat-sifat Allah, yang membedakan mereka dengan kaum Jahmiah yang menafikan (Sifat-sifat Allah), khususnya dalam penisbatan yang berhubungan dengan qadar (takdir), yang bertentangan dengan paham Qadariah, dan Jabariah.
Sebagaimana juga apa yang dipahami oleh Salafus Shalih dalam masalah Imamah (kepemimpinan pasca Nabi) dan keutamaan, menghentikan perselisihan tentang para sahabat-sahabat Nabi...
Ahlussunnah adalah: mereka yang mengikuti Assunnah dan berpegang teguh terhadapnya mereka adalah para Sahabat Nabi dan siapa saja yang mengikutinya dengan baik hingga hari kemudian. Ibnu Hazm berkata, “Dan Ahlussunnah adalah para pengikut kebenaran (al haq), dan siapa yang menyelisihi mereka maka ia dari penganut (ahlul) bid’ah. Mereka adalah para Sahabat Nabi saw  yang diikuti manhajnya oleh generasi tabi’in (pengikut sahabat) terpilih, yang mereka dirahmati oleh Allah. Kemudian diikuti oleh para ahli hadis, selanjutnya oleh para ahli fikih (ahlul fiqhi), dari satu generasi ke generasi selanjutnya hingga sampai pada saat ini, dan siapa saja (orang awam) yang mengikutinya dari Timur maupun Barat, Allah akan merahmati mereka.
Kenapa mereka dinamakan Ahlussunnah, jawabannya ada pada perkataan Ibnu Taimiah, “Dikatakan Ahlussunnah karena mereka mengikuti Sunnah Rasulullah saw.” Begitu pula apa yang dikatakan oleh Abu Muzafar al Isfaraini, “Alasan mengapa dinamakan sebagai Ahlussunnah disebabkan mereka mengikuti sunnah Rasulullah saw “ kemudian ia berkata ketika Rasulullah saw ditanya tentang golongan yang selamat, ia bersabda, “yang aku dan para sahabatku berjalan di atasnya.” Dan sifat ini menunjukkan sifat dasar Ahlussunnah karena mereka mengambil khabar dan atsar (perbuatan dan perkataan) rasulullah saw dan para sahabat. Tidak termasuk dalam golongan ini adalah mereka yang mencela para sahabat dari golongan Khawarij dan (Syiah) Rafidah.
c.       Pengertian “Al Jamaah”
Kata “Jama’ah” dari kalimat “Ahlussunnah wal Jama’ah” adalah jamaah kaum muslimin yang mengikuti Rasulullah dan para Sahabatnya,  sebagaimana hadis Khuzaifah, (... talzumu jama’atul muslimin wa imamihim....) jadi jelas bahwa yang dimaksud jamaah adalah jamaah kaum muslimin. Begitu pula ketika Rasulullah ditanya tentang golongan yang selamat, siapakah mereka? Rasulullah menjawab, “yang aku dan para sahabatku berjalan di atasnya.. sebagaimana juga yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa makna dari al Jama’ah adalah siapa yang melakukan kebenaran walau pun itu tinggal engkau seorang. Abu Syamah (w. 665 H) mempertegas, “Perintah agar wajib berjamaah adalah keharusan mengikuti kebenaran walaupun itu yang berpegang teguh pada kebenaran sedikit jumlahnya dan para penentangnya lebih banyak, karena kebenaran adalah sebagaimana yang telah dilalui oleh generasi awal dari para sahabat Nabi saw, bukan melihat dari banyaknya golongan yang sesat setelah mereka.” Jadi makna dari jamaah di sini adalah mengikuti kebenaran.
Perlu ditekankan bahwa  makna kata sunnah dalam perkataan para ulama salaf adalah mencakup sunnah dalam ibadah dan aqidah. Kemudian dipersempit lagi khusus kepada urusan aqidah khususnya masalah-masalah yang menyelisihi para pngikut bid’ah. Oleh karena itu kita temukan perkataan jamaah dengan artian sebagaimana pendapat Ibnu Mas’ud di atas, yaitu yang mengikuti kebenaran secara umum kemudian lebih terperinci khusus yang berhubungan dengan masalah aqidah yang telah diselewengkan oleh para penganut bid’ah. Oleh itu Imam Abu Hanifah memperkenalkan kata ‘Jamaah’ dengan arti, mengutamakan Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali ra. Dan tidak mencela salahsatu pun dari para sahabat Nabi, tidak mengkafirkan mansia hanya karena berdosa serta mensalatkan bagi siapa yang mengucapkan La Ilaha Illallah...
Dan kita akan temukan di depan kita sumber-sumber bacaan yang menerangkan tentang makna dari “Al Jama’ah” dari pokok-pokok serta asal-usul katanya, sebagaimana yang diperkenalkan oleh Imam Abu Hanifah tentang kata “Al Jama’ah” dari segi asal usulnya, sebagaimana kita dapati Ibnu Taimiah mewajibkan mengambil prinsip Ahlussunnah dalam belajar yang dapat membedakan antara Ahlussunnah dan para penentangnya, ia mengatakan, “Siapa yang berkata sesuai dengan al Qur’an dan Sunnah serta Ijma’ maka ia adalah dari golongan Ahlussunnah waj Jama’ah. Dan ia berkata, “Karena jama’ah adalah (kelompok) masyarakat lawannya adalah perpecahan... mereka menilai dari tiga dasar ini dari manusia berupa perkataan, perbuatan, dan segala yang berhubungan dengan agama.
Begitu pula dari, asal usul Ahlussunnah wal Jama’ah adalah kewajiban berjamaah dan tidak boleh berperang dengan pemimpin yang membedakan dengan para ahlul ahwa’ (mengikuti hawa nafsu) yang menilai bahwa berperan melawan para pemimpin adalah pokok ajaran agama mereka. Jadi kita dapat menemukan makna jamaah yang berarti jamaah kaum muslimin jika bersatu dengan para penguasa. Dan inilah yang dimaksud salahsatu riwayat Attabari dari Amru bin Harits ketika ditanya oleh Said bin Zaid ia berkata, “Kapan Abu Bakar ke Buwai’? dia menjawab, ‘di hari wafatnya rasulullah saw, dia enggang untuk tinggal beberapa hari dan mereka bukan termasuk dalam jamaah.”
Dari pokok-pokok (ajaran) Ahlussunnah adalah semua berpegang teguh kepada (agama) Allah dan tidak bercerai-berai dan saling bermusuhan. Sebagaimana dari Hadis yang bersumber dari Ali ra.  “Bersatulah kalian sebagaimana kalian dipersatukan, karena sesungguhnya aku benci perselisihan hingga manusia hidup dalam satu jamaah.”
Ibnu Hajar berkata, kalimat, “Sesungguhnya aku benci perselisihan” atau yang mendorong terjadinya perpecahan. Ibnu Attin berkata, artinya adalah menyelisishi Abu Bakar dan Umar, serta selain mereka berdua. Maksudnya menyelisihi segala apa saja yang mengakibatkan timbulnya perpecahan dan fitnah dan ini diperkuat dengan perkataannya “hingga manuisa menjadi berjamaah.”
Untuk itulah tahun di mana terdapat Hasan dan Muawiah sebagai tahun “Jamaah”. Ibnu Bathal (w. 449 H) berkata, “Hasan menyerahkan pemerintahan ke Muawiah dan membaiatnya untuk menegakkan kitab (hukum) Allah dan Sunnah Rasul-Nya, akhirnya Muawiah masuk ke Kufah dan dibai’at oleh orang-orang, makanya dinamakan tahun “Jamaah” karena manusia sudah bersatu dan sepakat untuk menghentikan perang.”
Namun sebab penamaan Ahlussunnah wal Jamaah menurut Abdul Qahir al Bagdadi (w. 429 H) bahwa Ahlussunnah tidak saling mengkafirkan antara satu sama lain, tidak ada perselisihan di antara mereka yang mewajibkan baginya bersikap lepas diri dan mengkafirkan. Jadi Ahlul Jamaah adalah yang menegakkan kebenaran atas nama Allah senantiasa menjaga kebenaran para pengikutnya, tidak berada dalam perselisihan dan perpecahan dan bukanlah sempalan dari golngan orang-orang yang melanggar (aturan) kecuali di dalamnya saling mengkafirkan antara satu sama lain, atau berlepas diri antara satu dengan yang lain seperti Khawarij, Rafidhah, Qadariah, hingga mereka bersatu dalam sebuah majlis lalu mereka bercerai-berai karena saling mengkafirkan satu dengan yang lainnya...
Ibnu Taimiah berkata,  -sebagaimana yang telah lalu- “Dinamakan Ahlul Jamaah karena jamaah adalah masyarakat, lawannya adalah perpecahan, walaupun kata jamaah itu telah menjadi nama terhadap satu kaum pada masyarakat, dan “ijma’” adalah urutan ketiga dalam hirarki ilmu dan agama. Dan mereka berpatokan pada tiga dasar utama yaitu, al Qur’an, Assunnah, dan al Ijma’, yang dimiliki manusia dari perkataan dan perbuatan yang berhubungan dengan agama.
Ibnu Taimiah di sini menekankan penamaan al jamaah dengan al ijtima’ (golongan dengan masyarakat), tanpa adanya perpecahan, dan persatuan adalah dasar dari prinsip dasar Ahlussunnah, bahwasanya mereka bersatu (pemahaman) terhadap al Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw, dan apa yang telah disepakati oleh para salafus salih. Dan pokok inilah menjadi ukuran utama seorang manusia.
d.      Pendapat Ulama
Yang dimaksud jamaah adalah kebenaran dalam berakidah atau mereka yang berakidah dengan benar, dan telah disampaikan tentang makna jamaah dari pokok asal usulnya, sebagaimana yang telah dipaparkan di atas, bahwa ini sangat sesuai dengan sunnah, dalam hal ini dapat dikatakan, “perkataan Assunnah dan Al Jamaah jika dipisahkan maka ia akan menyatu dalam makna, namun begitu pula jika disatukan maka ia akan berpisah makananya, jika berpisah misalnya dan disebut salahsatunya maka ia saling memaknai satu sama lain, dan maknanya menjadi satu. Untuk itu kebanyakan yang digunakan adalah “Ahlussunnah” saja karena keduanya saling memaknai.
Namun jika keduanya disatukan –Ahlussunnah wal Jama’ah- maka maknanya akan berbeda antara satu dengan lainnya. Sebagaimana yang ditafsirkan oleh at Thahawiah, katanya, “Assunnah adalah Jalan (tata cara rasulullah) dan Jamaah adalah golongan kaum muslimin mereka adalah para Sahabat (Nabi) serta para pengikutnya dengan baik hingga ke hari kemudian.”
Oleh karena itu, kita mengambil makna “Assunnah” dengan arti aqidah yang benar, sebagaimana istilah para ulama yang datang kemudian, atau mengarahkan pada kebenaran dalam berakidah dan semisalnya. Sebagiaman pemahaman “Assunnah” menurut ulama salaf. Dan adapun “Al-Jamaah” dapat diartikan sebagai penganut akidah di atas.
Secara umum sesungguhnya perkataan “Ahlussunnah wal Jamaah” memberi makna bahwa mereka adalah penganut golongan tersebut dan tidak boleh dipisahkan di antara kedua perkataan itu hingga menjadi sebuah istilah yang menyatu. Dan telah menjadi istilah yang sangat jelas yang artinya tidak lagi memerlukan penjabaran di antara kedua kalimat tersebut. Sebagaimana cukup menggunakan salahsatu di antara keduanya dengan arti yang terpisah. Ada pun kenapa kita mengetengahkan pembahasan istilah ini karena dianggap penting. Imam Malik pernah ditanya tentang makna “Assunnah” katanya, “Tidak ada nama selain ‘Assunnah’” dan ia pun menyebut ayat,  
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)...” (QS. (6): 153)
Ketika ia juga ditanya tentang makna Ahlussunnah ia menjawab, “Ahlussunnah adalah mereka yang tidak memiliki panggilan khusus bukan Jahmiah, buka pula Qadariah, dan juga buka Rafidhah. Maka ahlussunnah bukanlah memiliki panggilah khusus karena mereka adalah pokok yang menjadi tolok ukur para golongan pelanggar. Golongan ini adalah mereka yang terang-terangan dapat kita saksikan perbuatan bid’ahnya. Ahlussunnah adalah mereka yang berjalan pada jalan tengah yang lurus dan menyelisihi para pelaku bid’ah.
e.       Sejarah Munculnya Nama Ahlussunnah wal Jama’ah.
Yang dimaksud dengan awal munculnya adalah permulaan yang membedakan nama Assunnah wal Jamaah, sebagaimana berikut:
Ibnu Taimiah berkata, “Jalan mereka –Ahlussunnah- adalah agama Islam, namun ketika Nabi mengabarkan bahwa umatnya akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan semuanya berada dalam neraka kecuali satu yaitu al Jamaah. Maka mereka yang berpegang teguh pada agama Islam dengan keikhlasan yang tinggi merekalah Ahlussunnah wal Jamaah itu. Jadi penamaan itu telah ada sebelum datangnya perpecahan yang dimaksud oleh Nabi saw. Karena sebelum perpecahan sama sekali tidak pernah ada. Dari istilah-istilah mengikuti jalan-jalan atau golongan-golongan.  Pada dasarnya orang Islam dan kaum mulimin adalah nama dan yang dinamai, sebagaimana firman Allah,    
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam...” (QS. (3):19)
Ada pun pembatasan dalam membedakan pada awalnya adalah sebagaimana pendapat Dr. Mustafa Hilmi, bahwa sejarah awal Islam belum menetapkan Assunnah yang muncul dalam istilah ini.
Kaum muslim yang padanya diutus Rasulullah dari petunjuk dan agama yang benar, sesuai dengan kebenaran yang dipindahkan serta kebenaran nyata. Dan ketika Usman bin Affan dibunuh maka fitnah itu pun mulai muncul dan kaum muslimin saling berperang dalam pristiwa Siffin dan pertempuran tak pernah berhenti.
Dan inilah perpecahan pertama dalam kesatuan akidah yang menimpa dalam satu ikatan jamaah yang selamat, pada mulanya jamaah diikat oleh kesatuan akidah hingga muncullah gerakan Khawarij yang merupakan gerakan pertama dalam umat yang keluar dari barisan (jamaah), lalu muncullah gerakan bid’ah lainnya seperti Syiah dan golongan melampau dalam agama termasuk yang berpendapat bahwa Ali memiliki sifat-sifat ketuhanan –melalui perintah lagsung dari Allah, serta mencela Abu Bakar dan Umar. Kemuadian mereka hanya mengakui Ali sebagai Amirul Mukminin. Muncullah dua golongan Khawarij dan Syiah, mereka pun diperangi terutama yang mempertuhankan Ali ra.
Ada pun orang-orang mencela Abu Bakar dan Umar, maka ketika Ali mengetahui hal itu ia pun meminta Abdullah bin Saba’ yang meberitahukan hal itu kepadanya, lalu ia ingin dibunuh maka ia pun kabur.
Dan ada pun orang yang lebih mengutamakan Ali daripada Abu Bakar dan Umar, diriwatkan bahwa (Ali) berkata, “Siapa saja yang mengatakan kepadaku bahwa aku lebih utama dari Abu Bakar dan Umar maka akan kupotong lehernya,” dan diriwayatkan dengan mutawatir ketika ia berbicara di atas mimbar di Kufah, “Sebaik-baik umat ini setelah Nabi adalah Abu Bakar dan Umar,” dan ini diriwayatkan dari delapan puluh jalur perawi, dan adapun kedua bentuk bid’ah ini, bid’ah Khawarij dan Syiah terjadi waktu itu ketika fitnah sedang bergejolak.
Tidak diragukan lagi, bahwa pada awalnya bid’ah ini tidaklah begitu berpengaruh secara keseluruhan atau mayoritas umat Islam apalagi mereka yang masih terus berpegang teguh pada Assunnah dan Al Jamaah (Ahlussunnah wal Jamaah).  Dan pada awalnya belum dibutuhkan membuat satu formula untuk membedakan (golongan) tersebut. Karena yang memulai adalah para penyelisih itu dan merekalah yang harus membikin perbedaan untuk dapat dibedakan. Sebagaimana yang telah dikatakan oleh Imam Malik ketika ditanya tentang Ahlussnunnah, ia menjawab, “Ahlussunnah adalah mereka yang tidak memiliki nama panggilan untuk diketahui, mmereka bukan Jahmiah, bukan Qadariah, dan bukan pula Rafidhah.”
Dari sini kita setuju dengan pendapat Dr. Mustafa Hilmi, katanya, “Sesungguhnya Ahlussunnah wal Jamaah adalah generasi penerus bagi umat Islam secara alami yang telah ditinggal pergi oleh rasulullah yang ridho terhadap mereka. Kita tidak bisa membatasi kapan mulainya muncul sebagaimana kelompok-kelompok yang memisahkan diri. Dan pertanyaan yang menanyakan kapan munculnya Ahlussunnah wal Jammah adalah tidak ada tempatnya, sebagaiman pertanyaan kapan munculnya firqoh-firqoh (golongan) lain.
Ibnu Taimiah berkata, “Mazhab Ahlussunnah wal Jamaah adalah mazhab lama, diketahui sebelum Allah menciptakan Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad, mereka adalah mazhab para sahabat yang langsung berguru pada Nabi mereka, dan siapa saja yang menyelisihi mereka maka mereka adalah ahli bid’ah menurut pemahaman Ahlussunnah wal Jama’ah. Dan ada pun Ahmad bin Hambal yang terkenal sebagai pemimpin Assunnah, seandainya ia menyendiri dan menyatakan perkataan baru, akan tetapi Assunnah pada hakekatnya telah diketahui sebelum ia mengajarkan dan dengannya ia berdakwah, dan bersabar terhadap rintangan yang ingin memisahkan ia dari (Ahlussunnah), dan para imam pendahulunya telah meninggal sebelum fitnah itu  datang. Dan Imam Ahmad bin Hambal tetap dalam pendiriannya dan ia pun menjadi Pemimpin dari para pemimpin Ahlussunnah, dan menjadi panji dari panji-panji (Ahlussunnah) dalam mengamalkan dan mengangkat serta memperlihatkan (kapada seluruh manusia), juga dalam membeberkan setiap sumber-sumber dan nash-nash utamanya, dalam menerangkan yang tersembunyi dari rahasia-rahasianya, bukan karena ia ingin membuat tulisan yang baru dengan bersandar pada pendapatnya pribadi.
Imam Allal Lilka’i menulis pada muqaddimmah bukunya, “Syarh aw Hujaj Ushul al I’tiqad Ahlu as Sunnah” dengan menyebut pepimpin para Assunnah yang telah terpola setelah wafatnya rasulullah saw, ia mulai menulis dengan menyebut Abu Bakar dan ketiga khalifah pelanjutnya. Serta para pemimpin agama dari para sahabat dan para pengikutnya dengan baik hingga zamannya. Dan ia telah menyebut banyak pemimpin dari kalangan Ahlussunnah dari negeri-negeri terkenal dalam pemerintahan Islam. Kita lihat al Bagdadi menunjuk kepada pertentangan antara Ahlussunnah  dengan para pembuat bid’ah dengan cara menyebut pemimpin-pemimpin dari segenap sahabat para tabi’in dan siapa yang melawan para ahli bida’h “yang terjadi pada masanya” dengan mengatakan, “yang pertama dibahas tentang sahabat adalah Ali ra, dengan melihat Khawarij dalam masalah janji dan ancaman, dan melihat pendapat Qadariah terhadap keinginan dan kemampuan Allah dalam berbuat, kemudian Abdullah bin Umar ra yang berlepas diri dari Jahmiah dalam mengingkari Qadar “ketetapan” kemudian al Bagdadi melangkah naik dengan menyebut Abdullah bin Umar hingga Umar bin Abdul Aziz serta menyebut bahwasanya ia memiliki buku yang bagus dalam menentang paham Qadariah, dan Hasan Al Basri dan zaid bin Ali, As Syu’bi, Zahraqi, dan yang datang setelahnya tulisan Ja’far bin Muhammad “As Shodiq” dan menyebut bahwa ia memiliki buku “Arra’du alal Qadariah” dan kitab “Arra’du alal Khawarij” serta “Tulisan yang menentan golongan pelampau dari  (Syiah) Rafidhah”.
Dari sini kita mengambil kesimpulan dengan mengatakan bahwa pertanyaan tentang kapan munculnya golongan Ahlussunnah sebagaimna pertanyaan tentang kapan munculnya gerakan-gerakan sempalan bukanlah untuk dibicarakan pada tempat ini. Karena mazhab mereka adalah mazhab Sahabat yang telah belajar langsung dari nabi mereka akan tetapi pertanyaan lebih diarahkan kepada, “permulaan penamaan kepada firqoh-firqoh tersebut” bukan penamaan terhadap yang dinamai, dan ia bermazhab dan pengikutnya dan dari kesalahan dan campur aduk dalam hal itu.
Sesungguhnya permulaan penamaan Ahlussunnah adalah sebagaimana yang tertera dalam nash-nash yang menyeru untuk mengikuti sunnah serta mewajibksn berjamaah, jadi penamaan tersebut diambil dari sunnah dan terdapat dalam perkataan-perkataan para salaf (pendahulu). Ada pun yang dimaksud dengan permulaan penamaan adalah permulaan munculnya nama tersebut dengan mengarah pada pengikut dan penganut pada golongan, namun bahasan ini tidaklah begitu penting sebagaimana yang kita ketahui tentang pembicaraan mengenai awal-awal penamaan di atas dan kapan munculnya orang-orang yang memberi nama itu, “Golongan dan pengikutnya” sehingga seakan-akan jika kita berbicara tentang Assunnah makan kita seperti menceritakan golongan-golongan yang sesat dalam Islam, sebagaimana golongan-golongan lain yang terbelah.
f.       Kesimpulan
Untuk itu sangat penting hal di atas diterangkan dengan jelas!
1.      Pendapat yang paling aneh adalah sebagaimana yang disampaiakan oleh Dr. Mustafa Asy Syak’ah, beliau berpendapat bahwa penamaan mayoritas kaum muslim tentang Ahlussunnah adalah penamaan yang datang kemudian, muncul sekitar abad ke tujuh Hijriah atau setelah wafatnya Imam Ahmad beberapa abad kemudian.
Pendapat di atas ia kemukakan tanpa alasan yang jelas serta informasi yang kuat untuk mendukung pendapatnya karena nash-nash yang tertulis sangat bertentangan dengan pendapat di atas, sebagaimana kita ketmukan kitab-kitab karya ulama salaf pada kurun ke tiga dan ke empat Hijriah dengan memberinya nama “Ahlussunnah” pendapat ini cukup menegaskan bahwa penamaan Ahlussunnah sudah ada pada zaman itu dan sebelumnya sebagaimana kita akan lihat.
Kita dapat ketemukan bahwa penamaan Ahlussunnah telah muncul pada abad pertama setelah munculnya fitnah dan banyknya golongan bid’ah, dari situ kita dapat ketahui dari perkataan Ibnu Sirrin (w. 110 H) bahwa pada awalnya kita tidak pernah bertanya tentang sanad ketikan mendengar hadis, namun setelah menuculnya fitnah maka mereka pun berkata, sebutlah orang-orang yang merewikan hadis kalian dan mereka melihat jika ia dari golongan Ahlussunnah maka hadisnya diterima namun jika berassal dari ahli bid’ah maka hadisnya ditolak.
Dari sini menunjukkan bahwa fitnah yang terjadi pada era Usman bin Affan adalah awal mula munculnya pembeda antar Ahlussunnah dengan golongan lainnya.
Digambarkan juga pada kita bahwa perbedaan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir Attabari dari Mus’ab bin Abdullah bin Zaubaer dari Ayahnya Abdullah bin Mus’ab diberitakan bahwa Arrasyid berkata kepadanya, “ Apa yang kamu katakan terhadap orang yang mencela Usman? Ia berkata, aku telah berkata, “ Wahai Amirul Mukminin ia dicela oleh orang-orang sedang ia juga bersama dengan orang-orang, ada pun yang mencelanya maka ia telah berpissah darinya dan mereka itulah golongan Syiah dan para pelaku bid’ah, dari golongan Khawarij, dan yang bersamanya (Usman) maka mereka inilah dari golongan Ahlul Jamaah saat ini. Ia pun berkata kepadaku, saya tiak lagi butuh untuk bertanya tentang masalah ini setelah hari ini.
2.      Sebagaimana pendapat “Asyak’ah” oleh Dr. Muhammad Abdul Hamid Musa ia mengatakan bahwa, “telah dipakai perkataan Assunnah wal Jamaah sebagai istilah yang timbul pada zaman Sahabat dan lebih khusus lagi Imam yang empat, Abu Hanifah, Malik, Syfi’i dan Ahmad.”
Namun pendapatnya di atas juga tidak memiliki landasan dan penulis berpendapat  bahwa seandainya ia mengatakan telah muncul istilah “Ahlussunnah wal Jamaah” maka ini kita maklumi dan telah ketahui bersama karena terdapat dari perkataan para salaf sebagaimana telah diterangkan, dan adapun permulaan penamaannya sangat dikaitkan dengan munculnya fitnah dan timbulnya golongan ahli bid’ah.
3.      Amir Ali menyebutkan bahwa nama Ahlussunnah wal Jamaah diketahui pada zaman pemerintahan di era Abbasiah yaitu pada pemerintahan al Mansur.
Sebagaimana yang telah dikatakan nama (Assunnah dan al Jamaah) telah diketahui dan karena perintah untuk berpegang teguh kepada Assunnah dan al Jamaah telah ada dalam nash-nash, karena permulaan munculnya penamaan itu adalah untuk membedakan mereka dengan para ahli bid’ah.
Namun jika pendapat di atas dikatakan bahwa nama (Ahlussunnah wal Jamaah) makin terkenal dan kuat pada era Abbasiah karena banyaknya golongan ahli bid’ah pada zaman itu maka bisa diterima. Karena menurut Ibnu Taimiah perkataan Assunnah telah muncul sebelum pemerintahan Abbasiah namun mulai terkenal dan kuat pada Zaman Abbasiah karena pada massa itu terlampau banyak golongan Syiah dan  golongan ahli bid’ah lainnya.[1]
Diterjemahkan oleh LPPI Makassar
(Ilham Kadir/lppimakassar.com)  


[1] Disadur dan diterjemahkan dari karya Dr. Nasir bin Abdullah bin Ali al  Qafari, “Mas’alah at Taqrib baena Ahlussunnah wa asy Syi’ah” (Cet. V; Dar Thayyibah: Riyadh, 1418 H), hl,. 23-46.

1 komentar:

Izinkanlah saya menulis / menebar sejumlah doa, semoga Allaah SWT mengabulkan, antara lain memulihkan kejayaan kaum Muslim, memberi kaum Muslim tempat yang mulia diakhirat (khususnya para al-salaf al-shaalih). Aamiin yaa rabbal ‘aalamiin.

Asyhaduu anlaa ilaaha illallaah wa asyhaduu anna muhammadarrasuulullaah

A’uudzubillaahiminasysyaithaanirrajiim

Bismillahirrahmaanirrahiim

Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin,
Arrahmaanirrahiim
Maaliki yaumiddiin,
Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin,
Ihdinashirratal mustaqiim,
Shiratalladzina an’amta alaihim ghairil maghduubi ‘alaihim waladhaaliin

Aamiin

Bismillaahirrahmaanirrahiim

Alhamdulillaahirabbil ‘aalamiin, hamdan yuwaafi ni’amahu, wa yukafi mazidahu, ya rabbana lakal hamdu. Kama yanbaghi lii jalaali wajhika, wa ‘azhiimi sulthaanika.

Allaahumma shali wa sallim wa baarik ‘alaa Sayyidina wa Maulaana Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa ummatihi ajma’iin.

Allaahumma shali wa sallim wa baarik ‘alaa Sayyidina wa Maulaana Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa ummatihi ‘adada in’aamillaahi wa ifdhaalih.

Allaahumma innaa nas’aluka salaamatan fiddiini waddun-yaa wal akhirati wa ’aafiyatan fil jasadi wa ziyaadatan fil ‘ilmi wabarakatan firrizqi wa taubatan qablal mauti, wa rahmatan ‘indal mauti, wa maghfiratan ba’dal maut. Allahuma hawwin ‘alainaa fii sakaraatil mauti, wannajaata minannaari wal ‘afwa ‘indal hisaab.

Allaahumma inna nas aluka husnul khaatimah wa na’uudzubika min suu ul khaatimah.

Allaahuma inna nas’aluka ridhaka waljannata wana’uudzubika min shakhkhatika wannaar.

Allaahummadfa’ ‘annal balaa-a walwabaa-a walfahsyaa-a wasy-syadaa-ida walmihana maa zhahara minhaa wamaa bathana min baladinaa haadzaa khaash-shataw wamin buldaanil muslimuuna ‘aammah.

Allaahumma ahlkil kafarata walmubtadi-‘ata walmusyrikuun, a’daa-aka a’daa-ad diin.

Allaahumma syatttit syamlahum wa faariq jam-‘ahum, wazalzil aqdaamahum.

Allaahumma adkhilnii mudkhala shidqiw wa-akhrijnii mukhraja shidqiw waj-‘al lii milladunka sulthaanan nashiiraa.

------(doa khusus untuk para al-salaf al-shaalih, semoga Allaah selalu mencurahkan kasih sayang kepada mereka).

ALLAAHUMMAGHFIRLAHUM WARHAMHUM WA’AAFIHIM WA’FU ‘ANHUM

ALLAAHUMMA LAA TAHRIMNA AJRAHUM WA LAA TAFTINNAA BA’DAHUM WAGHFIRLANAA WALAHUM

Ya Allaah, terimalah amal saleh kami, ampunilah amal salah kami, mudahkanlah urusan kami, lindungilah kepentingan kami, ridhailah kegiatan kami, angkatlah derajat kami dan hilangkanlah masalah kami.

Ya Allaah, tetapkanlah kami selamanya menjadi Muslim, tetapkanlah kami selamanya dalam agama yang kau ridhai – Islam, tetapkanlah kami selamanya menjadi umat dari manusia yang paling engkau muliakan – Sayyidina wa Nabiyyina wa Maulaanaa Muhammad Shallahu’alihi wa alihi wa shahbihi wa ummatihi, wa baraka wassallam.

Ya Allaah, percepatlah kebangkitan kaum Muslim. Pulihkanlah kejayaan kaum Muslim, Lindungilah kaum Muslim dari kesesatan terutama kemurtadan. Berilah kaum Muslim tempat mulia di akhirat.

Ya Allaah, jadikanlah Indonesia dan dunia Muslim tetap dimiliki kaum Muslim. Jadikanlah Indonesia dan dunia Muslim baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur. Jadikanlah dunia non Muslim dimiliki kaum Muslim. Jadikanlah musuh Islam ditaklukan orang Islam.

Rabbana hablana min azwaajina, wa dzurriyyatina qurrata a’yuniw, waj’alna lil muttaqiina imaamaa.

Rabbanaa aatinaa fiddun-yaa hasanataw wa fil aakhirati hasanataw wa qinaa ‘adzaabannaar wa adkhilnal jannata ma’al abraar.

Rabbanaa taqabbal minna innaka antassamii’ul aliimu wa tub’alainaa innaka antattawwaaburrahiim. Washshalallaahu ‘alaa sayyidina wa nabiyyina wa maulaanaa muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa ummatihi wa baraka wassallam.

HASBUNALLAAH WANI’MAL WAKIIL NI’MAL MAULA WANI’MAN NASHIIR.

Subhana rabbika rabbil ‘izzati, ‘amma yasifuuna wa salamun ‘alal anbiyaa-i wal mursaliin, walhamdulillahirabbil ‘aalamiin.

Aamiin yaa rabbal ‘aalamiin.



Indra Ganie - Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Banten


Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More