Menyikapi Kekeliruan Pemberitaan dan Perbedaan Pendapat


Tanggapan terhadap KHM Nur Abdurrahman “kebohongan dan pelintiran berita” FAJAR, 19/02/12 hal. 26
HM. Nur Abdurrahman adalah sosok guru yang dituakan di Makassar, tidak berlebihan kiranya dikatakan bahwa hal tersebut karena keilmuan serta berbagai pengalaman yang beliau torehkan dalam lembaran kehidupan beliau yang sarat akan makna dan manfaat bagi sekelelilingnya. Bahkan seorang guru/ ustaz yang kami cintaipun memuji beliau sebagai sosok yang dituakan dimakassar, meski guru kami ini berusia hampir 63 tahun, namun beliau masih  “menuakan” HM Nur Abdurrahman, karena keutamaan beliau yang bahkan memiliki kolom khusus di harian terkemuka di kota ini.
Kami tertarik dengan tulisan beliau yang terakhir, berjudul “kebohongan dan pelintiran berita”. kami sangat bergembira bahwa beliau juga memberi perhatian kepada masalah Sunni-Syiah. Sekilas kami merasa ada kebijaksanaan yang berimbang dalam penuturan beliau, bahkan upaya untuk membentengi umat agar menyaring tiap berita yang didengar. Namun, dengan segala kerendahan ilmu dan penghormatan kami terhadap beliau, kami mendapati bahwa opini atau berita yang beliau tulis tampaknya juga perlu untuk “disaring”. Seorang ulama berkata: “setiap orang dapat diterima dan ditolak perkataan dan pendapatnya kecuali penghuni kuburan ini (maksudnya Rasulullah saw)”.
Beliau-HM. Nur Abdurrahman- dengan menyatakan bahwa: “ada dua hal yang dipelintir oleh sumber berita Media Indonesia. Pertama, surat edaran Kementrian Agama RI No D/BA.01/4865/1983 tersebut sama sekali tidak ada yang menyatakan bahwa Syiah bertentangan dengan ajaran Islam. Yang dilakukan wartawan Media Indonesia dalam hal ini bahkan lebih dari sekedar pelintiran, itu adalah kebohongan. Kedua, rekomendasi MUI dipelintir dari perbedaan ajaran Syiah dengan Ahlussunnah Waljamaah dipelintir menjadi perbedaan ajaran Syiah dengan Islam”.
Pernyataan beliau bahwa dalam surat edaran kementrian Agama RI No. D/BA.01/4865/1983, tidak ada sama sekali yang menyatakan bahwa syiah bertentangan dengan ajaran Islam. Perlu direvisi.  Surat edaran Departemen Agama (sekarang Kementerian Agama)  berjudul: Hal Ikhwal Mengenai Golongan Syi’ah, tanggal 5 Desember 1983. Yang disinggung oleh beliau didalamnya menjelaskan sekte-sekte dalam Syiah, antara lain:  Syiah Zaidiyah, Syiah Ismailiyyah dan Syiah Imamiah. kemudian disebutlah point-point ajaran Syiah Imamiah (syiah dari Iran), dari point “a” sampai “g”. setelah itu awal paragraf yang menutup penjelasan point-point tersebut, berbunyi ”SEMUA ITU TIDAK SESUAI BAHKAN BERTENTANGAN DENGAN AJARAN ISLAM YANG SESUNGGUHNYA.”
Tentu saja kita tidak akan berani mengatakan bahwa beliau (HM. Nur Abdurrahman) memelintir berita atau bahkan berbohong. Kita berprasangka baik bahwa beliau hanya tergelincir, dan sebagai manusia itu adalah hal yang wajar. Sebagaimana wartawan yang mungkin juga tergelincir karena berbagai kelemahan atau data yang tidak berimbang. Kita pun berprasangka baik terhadap penulis berita, tentang kekeliruannya dalam mengutip dari perbedaan Ahlussunnah dengan Syiah ditulis menjadi perbedaan ajaran Syiah dengan Islam. (karena sesungguhnya hal ini tidak berbeda jauh dengan surat edaran depag yang menyatakan Syiah bertentangan dengan Ajaran Islam yang sesungguhnya).
Mengenai fatwa MUI, yang menegaskan bahwa Syiah harus diwaspadai, kita perlu melihat dengan menyeluruh. Dalam Buku kumpulan Fatwa MUI, tertulis jelas bahwa terdapat perbedaan pokok antara Ahlussunnah dan Syiah, setelah menyebut lima perbedaan itu maka keluarlah himbauan agar “meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran syiah”
Dalam fatwa MUI pun tidak disebutkan ‘Umat Islam Syiah’ hanya disebut ajaran Syiah atau Faham Syiah (Kumpulan Fatwa MUI, diterbitkan oleh sekretariat MUI, Jakarta. 2010), fatwa MUI ini selalu diartikan bahwa MUI tidak tegas menyatakan akidah syiah sesat padahal menurut A.M. Waskito- seorang penulis buku-buku keislaman- ungkapan “meningkatkan kewaspadaan” jelas bermakna warning (peringatan). Ajaran Syiah berbahaya, maka umat Islam diingatkan agar waspada oleh MUI. Jika ajaran Syiah lurus dan sah menurut syariat islam, tidak mungkin umat akan diberi peringatan untuk waspada. Kemudian beliau memisalkan seperti dalam surat Al Isra’ ayat 32 terdapat kalimat, “Wa laa taqrabuuz zina” (janganlah mendekati zina) atas ayat ini ada yang berdalih, “kita hanya diharamkan mendekati zina, kalau melakukan zina tidak apa-apa.”. Cara berpikir seperti itu tentu saja sangat keliru. Karena pendapat yang sehat adalah, “Mendekati zina saja sudah dilarang, apalagi melakukan perbuatan zina”. Maka demikian halnya dengan fatwa MUI tadi. Jika ada himbauan untuk meningkatkan kewaspadaan, maka kita katakan bahwa paham Syiah ini memiliki masalah sehingga harus diwaspadai.
 jika kita ingin sedikit menelaah kumpulan fatwa MUI tersebut akan didapati fatwa tentang ajaran syiah yang lainnya, yaitu fatwa tentang Nikah Mut’ah. Suatu ajaran khas Syiah yang menurut MUI merupakan alat propaganda paham Syiah di Indonesia, dan nikah jenis ini telah diharamkan oleh MUI. Menurut kami, paham Syiah tidak berbada jauh dengan ajarannya yaitu  nikah mut’ah  yang tidak dibolehkan. (silahkan lihat Kumpulan Fatwa MUI, diterbitkan oleh sekretariat MUI Jakarta 2010, hal. 350 dan 48) 
Mengenai pemberitaan media Indonesia yang dinilai kontradiktif. Disini kami perhatikan bahwa pernyataan “Syiah bertentangan dengan ajaran Islam”, itu benar,  pernah termuat dalam surat edaran Departemen agama tahun 1983 (sekarang kementerian Agama). Dan pernyataan Menag “ harus menimbang-nimbang dahulu dari ulama, baru saya memutuskan” adalah bentuk kehati-hatian beliau selaku Menag yang mungkin akan menimbang apakah surat edaran ini masih layak. Dan kami melihat bahwa kutipan “harus menimbang-nimbang dahulu dari ulama, baru saya memutuskan “ belum sempurna. Yang lengkap dari situs yang menjadi sumber beliau seperti ini:
“Ya harus duduk bersama-sama. karena masing-masing punya alasan. Mungkin saya harus menimbang-nimbang dahulu dari ulama, baru saya memutuskan. Sejauh ini, saya masih berpegang kepada keputusan menag yang lalu," tuturnya (tutur Menag). Dengan demikian Menag masih berpegang pada keputusan depag yang lalu, jika dikaitkan dengan surat edaran 1983 maka bisa diambil kesimpulan bahwa beliau(menag) masih mengakui bahwa syiah bertentangan dengan ajaran islam yang sesungguhnya berdasarkan pemberitaan tsb. http://www.mediaindonesia.com/read/2012/01/25/293947/293/14/Menag-Tegaskan-Syiah-Bertentangan-dengan-Islam

Mengenai pemberitaan di http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/message/164264, yang juga ditulis sebagai sumber oleh beliau-KH. Nur Abdurrahman.  Sumber pemberitaan itu memiliki beberapa kelemahan. Pertama, dalam pemberitaan yang dikemukakan sama sekali tidak disebutkan sumber ataupun penulisnya. Pembukaannya hanya menyebut ”Baru saja dapat dari sebuah laman facebook:…dst”. dari sini akan muncul pertanyaan, seperti: laman facebook yang mana, siapa penulisnya, dst.  jika dikaitkan dalam dunia hadis maka pemberitaan ini dianggap tidak memiliki “sanad”- jalur pemberitaan-sama sekali, berbeda dengan pemberitaan di situs resmi media Indonesia yang ditulis oleh wartawan, dan yang kita tahu memiliki kode etik dalam kepenulisan juga kode etik kejujuran, serta dapat ditelusuri “sanad” atau jalur pemberitannya. Jika kedua pemberitaan tersebut disandingkan, kami akan lebih condong kepada situs resmi, dibandingkan dengan pemberitaan yang hanya dari group internet tanpa sumber yang jelas.
Akhirnya kita patut bersyukur, ada sosok ulama seperti HM. Nur Abdurrahman yang menjadi sumber ilmu bagi kita dan para pembaca yang budiman. Surah al hujuraat, 49: 6 memberi kita pelajaran, untuk lebih teliti terhadap suatu berita hingga diperoleh suatu yang jelas, tidak membuat musibah bagi suatu kaum yang pada akhirnya menyebabkan penyesalan, seperti diutarakan oleh beliau. Namun kita tidak menggunakan ayat ini untuk menganggap fasiq orang yang diteliti beritanya, tetapi sebagai bentuk tabayyun untuk lebih dekat kepada kebenaran dan kemaslahatan. Wallahu a’lam. 

(Fandy/LPPIMakassar.blogspot.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More