Mahasiswa Ahlus Sunnah di Gowa Diancam Oleh Warga Syiah



Aliran sesat syiah jika ia memasuki satu wilayah dakwah yang baru maka jargon yang selalu mereka angkat adalah persatuan mazhab-mazhab Islam (taqribul madzahib), ukhuwah, toleransi dan lain sebagainya. Ini mereka lakukan untuk menarik simpati masyarakat, namun jika mereka kuat atau mungkin jika sudah menjadi mayoritas di satu tempat mereka tak kenal lagi dengan ukhuwah, toleransi, dan persatuan mazhab-mazhab Islam, mereka berubah menjadi bangsa barbar yang bertindak dengan tangan besi. Mereka tak segan-segan memakai kekerasan dengan cara apapun untuk memaksakan aqidah mereka kepada orang lain.
Di antara warga Islam yang sudah merasakan kebengisan dan kekejaman mereka adalah warga Islam (Ahlus Sunnah) di Iran, mereka membantai para ulama dan warga ahlus sunnah di sana, masjid Ahlus Sunnah tidak ada yang eksis di Teheran, padahal rumah ibadah agama lain seperti Yahudi dengan sinagognya dan Nasrani dengan Gerejanya sangat benyak menjamur di Teheran. hal di atas tidak jauh beda yang terjadi di Irak, Lebanon, Suriah, Pakistan dll.
Jika Syiah sudah kuat dalam satu komunitas masyarakat maka akan timbul perpecahan, konflik, perang saudara, dll.

Di Indonesia gelagat Syiah sudah terang-terangan, dalam waktu yang tidak lama ini jika para Ulama Ahlus Sunnah dan kaum Muslimin tidak segera mengambil tindakan yang tepat dan kewaspadaan yang tinggi maka akan terjadi konflik sisial yang makin parah seperti yang telah terjadi dan terus berlangsung di negara-negara konflik Sunnah-Syiah.
Maka di bawah ini kami kutipkan satu laporan tindakan ancaman kekerasan yang dilakukan oleh orang Syiah kepada mahasiswa Ahlus Sunnah di kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Berikut laporannya yang ditujukan kepada MUI Gowa:
Perihal: laporan Tindakan Ancaman Kekerasan
Kepada Yth,
Kepala MUI Gowa
Di,
Tempat

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan segala macam nikmat kepada manusia dan telah mengutus seorang Rasul Rahmatan Lil ‘Alamin yang menunjuki manusia kepada Islam satu-satunya jalan keselamatan dunia dan akhirat. Shalawat dan salam kepada Rasulullah Muhammad Shallallahu Alahi wa Sallam khatamun nabiyyin wa ‘ala aalihi wa ashhabihi ridwanullahi ta’ala anhum ajmain, ammabad

Dengan Surat ini kami Ahmad Gozali (Salah Seorang mahasiswa fakultas Da’wah dan ushuluddin universitas Internasional Islam Madinah al Munawwaroh Saudi Arabia) melaporkan bahwa selama libur musim panas di Saudi kami pulang berda’wah di tempat keluarga kami yaitu Desa Mata Allo, Pakkatto (dekat Asrama Rindam VII Wirabuana). Di desa ini kami bersentuhan dengan aliran Syiah Imamiyah yang dianut oleh beberapa orang penduduk asli (khususnya anak muda). Beberapa tokoh masyarakat meminta kami untuk menjelaskan tentang aliran ini. Sesuai dengan Kumpulan Fatwa MUI tentang aliran kepercayaan halaman 95, maka kami menjelaskan bahwa Syiah adalah salah satu aliran yang harus diwaspadai. Dan sesuai dengan kumpulan makalah Seminar Nasional “Mengapa Kami Menolak Syiah” tahun 1997 yang di dalamnya terdapat rekomendasi MUI dan ORMAS Islam lainnya, seperti Muhammadiyah, NU, al-Irsyad, LPPI menyatakan bahwa Syiah adalah aliran yang sangat bertentangan dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah baik dalam masalah furu’iyah apalagi dalam masalah aqidah.



Kamipun mengadakan ceramah seputar masalah itu dan menulis beberapa makalah ilmiah. Menanggapai hal ini, masyarakat (khususnya pemuda) penganut paham Syiah ini emosi dan mengancam. Akhirnya setelah iedul fitri pada hari senin 13 September 2010 sekitar pukul 21.00 Wita di perjalanan menuju ke rumah kami dihampiri oleh Pak Sekdes yang juga menganut paham Syiah dan meminta untuk diskusi di rumah salah seorang tokoh masyarakat yaitu Bapak H. Zain Sakka. Kemipun kembali ke rumah untuk mengambil beberapa literatur tentang Syiah. Setibanya di tempat diskusi ternyata mereka berjumlah kurang lebih 20 orang. sebelum diskusi dimulai salah seorang anggota mereka ada yang datang menghampiri kami dengan emosi, namun kami berusaha menenangkan situasi. Diskusipun dimulai setelah datang salah seorang warga yang menjadi penengah. Namun karena jumlah Syiah yang sangat banyak apalagi dengan emosi yang tinggi mereka cenderung menyelesaikan dengan cara kekerasan. Di tempat itu terjadi usaha pemukulan atas diri kami. Bahkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan oleh seorang muslimpun benyak menghujani kami. Kami tidak menyebut peristiwa ini sebagai diskusi tapi lebih tepat sebagai usaha untuk menghakimi kami secara sepihak. Bahkan setelah acara itu ada penganut Syiah yang mengamuk dan mengajak kami untuk adu fisik dan mengeluarkan kata-kata kotor (maaf, seperti tailaso, ustad najis). Dan hal ini disaksikan oleh tuan rumah dan seorang warga yang jadi penengah.
Inti dari permintaan Syiah kepada kami adalah agar kami berhenti berda’wah baik lisan maupun tulisan tentang masalah Syiah. Bahkan mereka mengancam akan menggunakan cara kekerasan untuk menghentikan dakwah kami. Akhirnya kamipun pulang dari tempat itu dengan dikawal oleh polisi dan masyarakat.
Inilah sebagian fenomena aliran-aliran dalam islam khususnya Syiah yang mencoba menyelesaikan masalah dengan ancaman bahkan tak segan-segan melakukan kekerasan fisik. Tentu hal ini tidak sesuai dengan Islam itu sendiri sebagai agama rahmatan lil ‘alamin. Kami mengharapkan perhatian dari MUI khususnya MUI Kabupaten Gowa, karena hal ini berada dalam kawasan wilayah dan kewenangan MUI Gowa selaku pimpinan yang mengurusi masalah agama. Agar supaya kasus ini bisa untuk ditindak lanjuti, karena perkembangan aliran yang bertentangan dengan Islam pada akhirnya akan membahayakan kesauan NKRI.
Sekian laporan ini kami buat, di dalamnya juga kami cantumkan makalah tentang Syiah yang kami tulis mudah-mudahan bisa menjadi bahan untuk mengambil tindakan. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Desa Mata Allo, 15 September 2010
Pembuat Laporan
        Ttd
Ahmad Gozali
(Muis/LPPIMakassar.blogspot.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More