Dipertanyakan, Kenapa Republika Beritanya Iran Melulu




Ilustrasi. Republika didemo FPI kasus film “?” garapan Hanung.
Ilustrasi. Republika didemo FPI kasus film “?” garapan Hanung.
Ketika ditanya, apakah saham Republika dibiayai oleh Tommy Winata?. Pemred Republika membantah anggapan itu. “Tidak benar Republika dibiayai oleh Tommy Winata.”
Semoga saja, Republika memperbaiki kesalahannya. Terpenting, jangan pernah berada di barisan kaum liberal dan pluralism untuk mensupport penyebaran propaganda mereka. Termasuk membiayai film “?” Hanung yang kental dengan pemahaman pluralismenya yang keliru.—Suara islam online 16 April 2011 17:38
Koran Republika (dan juga republika.co.id) dikeluhkan, kenapa beritanya Iran melulu. Apakah Republika memang terindikasi syiah?

Keluhan itu mencuat dalam pertanyaan peserta tabligh akbar tentang ”Menyingkap Tabir Syi´ah¨ di Masjid Baitul Karim Kebon Kacang Tanah Abang Jakarta, Ahad 5 Feb 2012/12 Rabi´ul Awwal 1433H.
Tabligh itu menghadirkan dua pembicara, Ust. Hartono Ahmad Jaiz (penulis buku-buku Islam dan pemimpin redaksi nahimunkar.com) dan Ust. Rizki Ridyasmara (Penulis Buku-buku Konspirasi).
Terhadap keluhan masalah Republika itu, digambarkan oleh pembicara bahwa di tahun 2002 Haidar Bagir dan Ulil Abshar Abdalla (kordinator JIL/ jaringan Islam liberal) berhadapan dengan penulis buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia dalam seminar di Al-Azhar Kebayoran Baru Jakarta yang diselenggarakan YISC (Youth Islamic Study Club) Al-Azhar. Saat itu, Haidar Bagir memprotes penulis buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, karena dirinya ditulis dalam judul Gerakan Syiah di Indonesia: Ir. Haidar Bagir (Pemimpin di Harian Umum Republika) menggarap orang-orang dekat Habibie dan kelompok intelektual lainnya. Protes itu dilancarkan Haidar Bagir sampai sekitar setengah jam.

Lalu dijawab oleh penulis buku bahwa itu berlandaskan hasil dari seminar nasional tentang syiah di Masjid Istiqlal Jakarta 1997. Sedang sampai diterbitkannya buku Aliran dan Paham Sesat ini sudah lima tahun, namun tidak ada keberatan apa-apa dari Pak Haidar. Sedangkan ketika Pak Haidar dianggap sebagai orang liberal ternyata membantahnya di Majalah Sabili. Karena tidak ada bantahan tentang hasil seminar syiah mengenai nama Pak Haidar itu, maka ditulis di buku ini. Meskipun demikian, kalau Pak Haidar keberatan dimuatnya dalam buku ini, ya untuk cetakan berikutnya insya Allah dipertimbangkan.
Terhadap jawaban itu, ternyata Haidar Bagir menjawab, tidak usah-tidak usah. Karena saya beramal itu untuk Allah…
Penulis buku pun heran, kenapa tadi selama setengah jam memprotes, tapi setelah protesnya akan dipertimbangkan justru tidak mau? Ini lebih cepat dibanding istilah Jawa, esok dele sore tempe (pagi masih berupa kedelai, sore sudah jadi tempe), maksudnya mencla mencle. Apakah syiah di samping taqiyyah ada juga mencla mencle? Itulah kenyataannya.
Dengan latar belakang seperti itu, ketika Republika “kerajinan” menampilkan berita-berita tentang Iran, padahal Iran kini sedang dirasakan oleh Ummat Islam Indonesia sebagai ancaman aqidah dengan syiahnya yang sebegitu dipompakan untuk Indonesia di antaranya dengan menghadirkan ribuan mahasiswa dari Indonesia untuk belajar syiah di Iran, dan ancaman penghancuran jiwa berupa banyaknya narkoba dari Iran; maka sangat dipertanyakan Ummat Islam Indonesia. Ada apa di Republika, sebagaimana yang mencuat dalam tabligh akbar itu. Karena di samping Republika, kini dikeluhkan pula Radio Rasil (radio silaturahim) di Jakarta yang dinilai bermuatan syiah oleh beberapa misionaris syiah. (lihat artikel Radio Silaturahim Pro Syiah?).
Dalam tabligh Akbar di Tanah Abang ini juga dikeluhkan oleh peserta tentang adanya oknum MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang menyuara bahwa Syiah tidak sesat, namun oleh MUI didiamkan saja. Pembicara menjawab bahwa sudah ada keterangan dari MUI, akan dikeluarkan fatwa MUI tentang sesatnya syiah. Itu menurut janji seorang ketua MUI yang dimuat di media.
Sementara itu Rizki Ridyasmara dalam uraiannya menyimpulkan, kini ada indikasi konspirasi di dunia yang dikesankan adanya dua polisi. Polisi jahat yaitu Amerika, dan polisi baik yakni Iran. Itulah sebuah konspirasi, yang punya latar belakang sejarah panjang antara yahudi dan syiah. (nahimunkar.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More