Video Lengkap Dialog Sunnah-Syiah Di UIN Alauddin Makassar




Dialog ini dilaksanakan pada tanggal 24 februari 2011 di Program Pasca Sarjana UIN Alauddin Makassar.
Dalam dialog tersebut Ust Rahmat Abd. Rahman, Lc. MA, selaku wakil ketua LPPI Makassar yang mewakili Ahlus Sunnah mengungkapkan beberapa Konstruksi berpikir Jalaluddin Rakhmat yang mendorong sikap kurang amanah, ini dapat dijabarkan dalam poin-poin berikut:
1.         Memanipulasi data dengan mengutip teks tetapi tidak disempurnakan buat menguatkan asumsinya.

Contohnya dapat dilihat pada:
Hal. 3 makalah Mengapa Kami Memilih Mazhab Ahlulbait as. ?. Disebutkan perkataan Ibnu Abbas, al-Suddi, ‘Utbah bin Hakim dan Tsabit bin Abdullah bahwa yang dimaksud dengan ayat orang-orang beriman yang mendirikan salat dan mengeluarkan zakat dalam keadaan rukuk adalah Ali bin Abi Thalib. Seorang pengemis lewat (meminta tolong) dan Ali sedang rukuk di masjid. Lalu Ali menyerahkan cincinnya. Rujukannya adalah Tafsir al-Tsa’labi 4:80.
Bandingkan dengan perkataan Imam al-S|a’a>libi> (bukan al-Tsa’labi) dalam tafsir ayat yang dimaksud (Q.S. al-Ma>idah/5: 55)
وقوله تعالى إنما وليكم الله ورسوله الآية إنما في هذه الآية حاصرة وقرأ ابن مسعود إنما مولاكم الله والزكاة هنا لفظ عام للزكاة المفروضة والتطوع بالصدقة ولكل أفعال البر إذ هي منمية للحسنات مطهرة للمرء من دنس السيئات ثم وصفهم سبحانه بتكثير الركوع وخص بالذكر لكونه من أعظم أركان الصلاة وهي هيئة تواضع فعبر به عن جميع الصلاة كما قال سبحانه والركع السجود هذا هو الصحيح وهو تأويل الجمهور ولكن اتفق مع ذلك أن علي بن أبي طالب رضي الله عنه أعطى خاتمه وهو راكع قال السدي وإن اتفق ذلك لعلي فالآية عامة في جميع المؤمنين[1]
Artinya:
... al-Suddi berkata meskipun hal itu terjadi pada ‘Ali namun ayat ini berlaku umum pada seluruh kaum mukminin.
   Mengapa tidak menjelaskan pernyataan Imam al-Suddi secara sempurna agar orang memahami pendapat beliau secara benar ?.
Hal. 13 makalah Sahabat dalam Timbangan Al-Quran, Sunnah dan Ilmu, disebutkan riwayat al-Baihaqqi dalam sunannya dari Ibnu Abbas: salah seorang sahabat Nabi saw. berkata: apakah Muhammad (saw) menghalangi kami menikahi saudara-saudara sepupu kami, sementara ia boleh menikahi mantan istri-istri sepeninggal kami. Jika sesuatu terjadi padanya, kami akan kawini istri-istrinya sepeninggalnya. Maka turunlah ayat ini (Q.S. al-Ah{za>b/33: 53), perkataan ini menyakiti hati Nabi saw. Rujukannya adalah tafsir al-Durr al-Mantsur 5:404.
Bandingkan dengan Imam al-Suyuti yang mencantumkan riwayat hadis begitu banyak dalam menafsirkan ayat ini, di antaranya adalah:
أخرج البخاري وابن جرير وابن مردويه عن أنس رضي الله عنه قال : قال عمر بن الخطاب رضي الله عنه : يا رسول الله يدخل عليك البر والفاجر فلو أمرت أمهات المؤمنين بالحجاب فانزل الله آية الحجاب [2]
Artinya:
Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Ibnu Jarir dan Ibnu Mardawaih dari Anas ra. bahwa ‘Umar bin al-Khattab ra. berkata: Wahai Rasulullah (saw.) orang-orang yang bertamu ke rumah anda ada yang baik dan ada yang jahat, sekiranya anda meminta Ummaha>t al-Mukmini>n memakai hijab (tentu lebih baik), maka turunlah ayat hijab ini.
Namun JR melompat jauh dan memilih riwayat al-Baihaqi di atas padahal di dalam sanadnya terdapat dua orang perawi yang lemah, yaitu: Muhammad bin Humaid al-Razi dan Mihran bin Abu ‘Umar, sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam bukunya al-Taqri>b dan al-Mizzi dalam kitabnya Tahz\i>b al-Kama>l.
Mengapa tidak mencantumkan riwayat-riwayat yang ada atau minimal menyebutkan dan menguji kesahihannya lalu memilih ? Padahal jelas riwayat Imam al-Bukhari adalah sahih.
Hal. 138 buku al-Mushthafa Manusia Pilihan yang Disucikan, ditulis: Sufyan disebutkan oleh Al-Dzahabi dalam Mi>za>n I’tida>l sebagai “innahu yudallis wa yaktubu min al-kadzdzabin”, ia melakukan tadlis dan meriwayatkan hadis dari para pendusta.
Bandingkan dengan pernyataan Imam al-Z|ahabi dalam kitab yang dimaksud:
2325 ]3162 ت[ - ]صح[ سفيان بن سعيد (ع) الحجة الثبت ، متفق عليه ، مع أنه كان يدلس عن الضعفاء ، ولكن له نقد وذوق ، ولا عبرة لقول من قال : يدلس ويكتب عن الكذابين [3]
Artinya:
Sufyan bin Sa’id, hujjah yang kuat, disepakati kesahihannya walaupun pernah melakukan tadlis dari kalangan d{u’afa>’, namun ia punya kemampuan kritik dan kemahiran, maka tidak dapat diterima siapapun yang berkata: ia melakukan tadlis dan meriwayatkan hadis dari para pendusta.
   Perawi ini disebut dalam kitab al-Mushthafa Manusia Pilihan yang Disucikan pada penjelasan tentang kritik hadis D{ah}d}a>h} yang menjelaskan tentang Abu Talib yang masuk neraka namun hendak dilemahkan oleh JR karena mengasumsikan bahwa Abu Talib adalah orang beriman sebab berasal dari Ahl al-Bayt.
2.    Tidak konsisten menggunakan riwayat.

Contohnya adalah:
Hal. 7 makalah Sahabat dalam Timbangan Al-Quran, Sunnah dan Ilmu, disebutkan riwayat sejarah ‘Umar bin al-Khattab dan para sahabat membantah ucapan dan perintah Rasulullah saw. ‘Umar ra. dianggap membantah ketika berulang kali menuntut Rasulullah saw. untuk tidak merestui perjanjian Hudaybiyyah bahkan dianggap meragukan kenabian Rasulullah saw. dan para sahabat membantah perintah Rasulullah saw. karena tidak mau bercukur dan menyembelih kurban. Rujukannya adalah al-Sirah al-Nabawiyah karangan Ibnu Katsir.
Di dalam rujukan tersebut juga disebutkan ‘Ali ra. yang menolak menghapus kalimat basmalah dan menggantinya dengan kalimat Bismika Allahumma sebagaimana kehendak suku Quraisy, dan ‘Ali ra. juga termasuk sahabat yang tidak mau bercukur dan menyembelih kurban ketika diperintah Rasulullah saw. Namun ternyata JR tidak menyinggungnya sedikitpun.
Bukan yang dimaksud dengan hal ini ikut memasukkan ‘Ali ra. dalam vonis yang dijatuhkan oleh JR kepada para sahabat khususnya ‘Umar ra. sebagai kaum pembangkang, tetapi konsruksi berpikir yang ada hendaknya diperbaiki dengan memahami riwayat sejarah secara lengkap dan tidak parsial.

3.    Memilih interpretasi yang jauh dari maksud teks ketimbang mengikuti pandangan ulama hadis.

Contohnya adalah:
Hal. 2 tulisan pada buletin dakwah al-Tanwir: Bersama Al-Husein Hidupkan Kembali Sunnah Nabawiyah, riwayat hadis al-Bukhari ... Tidak henti-hentinya mereka itu murtad meninggalkan agama kamu setelah engkau meninggalkan mereka. Menurut JR, Rasulullah saw. sangat sedih bahwa sahabatnya akan murtad sepeninggal dia.
Bandingkan dengan interpretasi ulama hadis, seperti Ibnu Hajar al-‘Asqalani dan al-Nawawi yang berpendapat:
وَلَا يَبْعُدُ أَنْ يَدْخُلَ فِي ذَلِكَ أَيْضًا مَنْ كَانَ فِي زَمَنه مِنْ الْمُنَافِقِينَ وَسَيَأْتِي فِي حَدِيث الشَّفَاعَة " وَتَبْقَى هَذِهِ الْأُمَّة فِيهَا مُنَافِقُوهَا " فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُمْ يُحْشَرُونَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ فَيَعْرِف أَعْيَانَهُمْ وَلَوْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ تِلْكَ السِّيمَا فَمَنْ عَرَفَ صُورَتَهُ نَادَاهُ مُسْتَصْحِبًا لِحَالِهِ الَّتِي فَارَقَهُ عَلَيْهَا فِي الدُّنْيَا[4]
Artinya:
Dan tidak jauh untuk masuk dalam balasan ini juga kaum munafik yang hidup pada zaman Rasulullah saw. dan akan datang penjelasan hadis “wa tabqa> haz\ihi al-ummah fi>ha muna>fiqu>ha”, maka hal ini menunjukkan bahwa mereka dikumpulkan bersama kaum mukminin ...
Sehingga dengan tegas al-Khattabi menyampaikan:
لَمْ يَرْتَدَّ مِنْ الصَّحَابَةِ أَحَدٌ وَإِنَّمَا اِرْتَدَّ قَوْمٌ مِنْ جُفَاةِ الْأَعْرَابِ مِمَّنْ لَا نُصْرَةَ لَهُ فِي الدِّينِ وَذَلِكَ لَا يُوجِبُ قَدْحًا فِي الصَّحَابَةِ الْمَشْهُورِينَ[5]
Artinya:
Tidak ada satu orang sahabat pun yang murtad, tetapi yang murtad adalah sekelompok Arab Badui yang tidak punya kontribusi terhadap agama, dan hal itu tidak mencederai para sahabat yang masyhur sedikitpun.

4.    Menolak fakta sejarah.

Contohnya:  
Hal. 89-94 buku al-Mushthafa Manusia Pilihan yang Disucikan, JR menolak dan mengajak orang untuk menolak fakta Abu Bakar menjadi imam salat pada hari-hari terakhir Rasulullah saw. Alasannya sangat absurd, yaitu riwayat hadisnya kontradiktif meskipun diriwayatkan oleh al-Bukhari. Sifat kontradiktif dalam hadis itu bersumber dari interpretasinya sendiri, sebab riwayat-riwayatnya jelas. Misalnya hadis Bukhari no. 713 menjelaskan Nabi saw. duduk di sebelah kiri Abu Bakar (jalasa ‘an yas>ari Abi Bakrin), hadis no. 683 Nabi saw. duduk sejajar dengan Abu Bakar ra. (jalasa hiz\a>’a Abi Bakrin ila> janbihi) dan hadis no. 664 Nabi saw. duduk di samping Abu Bakar ra. (jalasa ila> janbihi). JR mengartikan hiza\>’a dengan di hadapan, lalu hadis no. 664 dituliskan sebelah kanan Abu Bakar (‘an yami>ni) padahal riwayatnya tidak berbunyi seperti itu. 
Demikian pula ketika mengartikan Sunh} sebagai tempat yang berjarak beberapa puluh kilometer di luar kota Madinah, padahal menurut Ibnu H{ajar jaraknya hanya 1 mil dari masjid Nabawi[6].
   Hal. 164 buku al-Mushthafa Manusia Pilihan yang Disucikan, JR menganggap bahwa ‘Usman bin ‘Affan bukan menikah dengan Ruqayyah dan Ummu Kulsum putri Rasulullah saw. tetapi Ruqayyah dan Ummu Kulsum lain. Padahal faktanya telah menjadi ijma’ kaum muslimin hingga hari ini bahwa yang dinikahi oleh ‘Usman ra. adalah dua orang putri Rasulullah saw. sehingga digelari sebagai Z|u> al-Nu>rain (pemilik dua cahaya).
Demikian beberapa paparan Ust Rahmat Abd. Rahman, Lc. MA, tentang beberapa Konstruksi berpikir Jalaluddin Rakhmat yang mendorong sikap kurang amanah.
Dalam sesi Tanya jawab, beberapa pertanyaan dari peserta tak mampu dijwab oleh Jalaluddin Rakhmat, di antara pertanyaan-pertanyaan itu ialah:
1.      Pertanyaan Ustadz H. Muhammad Said Abdul Shamad, Lc
kalau kang jalal itu menganggap tidak pernah ahlul bait itu, malahan sayidina ali tidak pernah salah dan sekarang minta keterangan, maka saya menjelaskan bahwa sebenarnya kesalahan dari sayyidina Ali itu dari hadis yang dibawakan oleh istrinya kang jalal. Jadi saat ia mengatakan.
فاطمة بضعة منّى فما أذاها أذاني وما أرابها أ رابني
Dimana Nabi saw mengatakan: Fatimah adalah belahan nyawaku,  siapa yang menyakitinya maka dia telah menyakitiku dan siapa yang membuat murka Fatimah, ia membuat aku murka (shahih Bukhari 5,hadits 61 dan 111; shahih Muslim 4: 1904-1905).
Cuma kang jalal tidak jujur karena dia menganggap bahwa hadits ini berkaitan dengan sayyidina Ali yang ingin menikah dengan putrinya Abu jahal maka Fatimah sangat tersinggung dan melapor kepada bapaknya, maka Nabi sallalahu ‘alaihi wasallam naik di atas mimbar menurut riwayat dari bukhari, dan mengatakan : kecuali kalau sayyidina Ali mau mentalak putri saya, saya tidak ingin atap rumah ini didalamnya dua putri, putrinya Muhammad saw dan putrinya musuh Allah. Tetapi kang jalal tidak menyebutnya dan istrinya juga tidak menyebutnya karena memang begitu kebiasaanya mungkin.
2.      Pertanyaan Ustadz H. Muhammad Ikhwan Abdul Jalil, Lc
pertama : dalam dua interaksi kita sebagai manusia, apakah asalnya orang itu baik atau asalnya orang itu buruk, kalau kita tarik apa yang akan menjadi jawaban wallahu ‘ alam apakah asalnya orang itu buruk , apakah asalnya kita melihat sahabat Rasulullah itu ‘udul atau asalnya dia harus membuktikan ke’udulannya ? atau kebaikannya ? itu yang pertama, yang kedua, tadi disebutkan penelitian tentang sahabat dan bahwa hasil penelitian tersebut ada 150 sahabat imajiner, saya dalam kerangka ingin mencari persamaan ini berbahaya, saya tidak meyakini namun untuk menagatahui, barang kali saya bisa bantu untuk disebutkan dalam forum ini beberapa sahabat imjiner tersebut tidak usah sampai 150 cukup 10 saja. Dan tiga diantaranya tolong disebutkan kenapa dia disebut imajiner dan kaidah-kaidah ilmiah yang kita sama ketahui. Yang ketiga, saya sekedar menta’kid kalau ada yang ingin dijawab dari pernyataan –pernyataan Ust Rahmat tadi, saya Cuma mengusulkan dengan kerendahan hati tolong dijawab  bagaimana sebab nuzulnya atau sebab wurudnya tulisan dikitab al –musthafa tentang tsauri yang terjadi قطع الكلام (pemotongan kalimat) yang sangat menghilangkan makna yang sangat maudhu’iyyah makna yang sangat subtantif terhadap penilaian adz-dzahabi terhadap sufyan ats-tsauri.

3.      Pertanyaan Ustadz H. Muhammad Yusran Anshar
Hadits pertama : hadis tentang  dhahdhah, sudah dijelaskan dihalaman 138 mudah-mudahan Prof Jalal bawa buku Al mushtafa, kita lihat satu persatu (sanadnya), dia (JR) katakan bahwa “Jika kita perhatikan orang-orang yang meriwayatkan hadis atau rijalnya hampir semua termasuk rangkaian para pendusta atau mudallis atau tidak dikenal” , Mari kita liat satu persatu (untuk membuktikan kebenaran pernyataannya).
(Perawi)Pertama : Ibn abi umar, kata prof.jalal orang ini menurut “Para ahli hadis sebagai majhul”, ada dua pertanyaan untuk JR disini, Siapa para ahli hadis yang dimaksudkan? dan (kedua) majhulnya ini, majhul hal atau majhul ‘ain?.Majhul hal artinya seorang perawi yang tidak diriwayatkan kecuali dua orang saja, dan majhul ‘ain seorang perawi adalah seorang perawi yang cuma satu yang meriwayatkannya. Padahal siapa itu Ibn abi umar ? Buku-buku rijal hadis semuanya menyebutkan bahwa dialah Muhammad bin Yahya bin Abi Umar al Adani dan dia diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, Ibn majah, Baqi’ bin Makhlad, Abu Zur’ah ad Dimasyqi, Abu Zur’ah ar Razi, Abu Hatim ar Razi dan banyak sekali ulama, (kalo begitu) dari mana dikatakan bahwa dia seorang majhul? padahal begitu banyak sekali perawi hadis yang meriwayatkan dari dia, Tolong dijawab ini!
Kemudian perowi yang kedua: Sufyan ats Tsauri tadi sudah disebutkan oleh ust. Rahmat, tolong dijawab pertanyaan tersebut!
(perawi) Ketiga adalah : Abdul Malik bin ‘Umair; di sini disebutkan beberapa perkataan rijal hadis atau ulama hadis yang melemahkannya karena usianya sudah tua dan akhirnya buruk hafalannya dan seakan-akan (semuanya sepakat mengatakan seperti itu), ya di sini juga dikatakan bahwa imam dzahabi menukil perkataaan ibnu Mu’in, ini juga (diantara)kesalahan yang fatal dalam buku ini, (yaitu) salah dalam meyebutkan nama-nama perawi hadis menunjukkan bahwa tidak ditelaah dengan baik padahal seharusnya Ibnu Ma’in dan juga di sini dikatakan bahwa Ibn Hibban mengatakan (bahwa Abdul Malik bin ‘Umair) mudallis padahal dalam mizanul I’tidal yang disebutkan disini tidak ada sama sekali perkataan ibnu hibban bahkan imam dzahabi meyimpulkan dalam bukunya Mizanul I’tidal (yg katanya dikutip oleh Jalal) bahwa perawi ini Abdul Malik bin Umair ialah sama dengan Abu Ishak as Sabi’i dan Said al Maqbury yang mana setelah terjadi ikhtilath padanya dalam artian setelah tua dan hafalannya sudah buruk maka dia berhenti untuk meyebutkan (meriwayatkan) hadis. Artinya hadis-hadis yang telah disampaikan adalah hadis-hadis yang beliau riwayatkan ketika hapalannya masih kuat, jadi tidak ada persoalan. Dan sungguh sangat disayangkan dalam buku ini (al Mustafa) prof jalal mengatakan, “Lihat mizanul I’tidal jilid 22 hal 690”, buku mizanul I’tidal cetakan apa ini? Padahal Mizanul I’tidal cuma 5 jilid dalam semua cetakannya, cuma 5 jilid jadi tolong diterangkan jilid 22 ini dari mana?
Hadis yang kedua : Hadis yang diriwayatkan oleh imam bukhari, dia (JR) menyebutkan (hadits ini) sebagai contoh rangkaian rijal yang lemah untuk membantah hadits yang menyatakan Abu Thalib masuk neraka. Dia (JR) mengatakan dalam buku ini (almustafa, hal 144) dalam shahih bukhari perawinya orang-orang yang tidak bisa diambil hadisnya.
Perowi pertama: (JR menyebut) Abu Yaman adalah al Hawzani; padahal Abu Yaman al Hawzani tidak meriwayatkan sama sekali dalam Shahih bukhari, kalau kita lihat tahdzibut tahdzib saja; salah satu buku yang paling kecil dalam rijal hadis, dia (Abu Yaman al Hawzani) adalah disebutkan ibn hajar (dengan symbol): mim dal artinya dia ini cuma diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Marasil dan tidak disebutkan (periwayatannya)dalam shahih bukhari. Maka  jangan pilih dia sebagai Abu Yaman yang dimaksudkan shahih bukhari, tapi abu yaman di sini adalah al Hakam bin Nafi’ yang dikenal sebagai tsiqah tsabt (terpecaya dan sangat kuat) dan tidak ada khilaf didalamnya. Dan dia ini Hakam bin Nafi’ al Bahroni bukan al Hawzaini,
Perawi kedua: Kemudian dia (JR) katakan bahwa, “Syuaib tidak dikenal”, subhanallah. padahal Syuaib ini dalam riwayat ini meriwayatkan dari az Zuhri dan syuaib sebagiamana kata ulama kita dia adalah Syuaib bin Abi Hamzah dan dia adalah  autsaqun nas fi az zuhri (dia adalah murid azzuhri yang paling kuat yang meriwayatkan hadis-hadis dari azzuhri) dan beliau mengatakan, ya, prof jalal ini mengatakan “tidak dikenal”, bagaimana (mungkin) dikatakan tidak dikenal?  padahal dalam buku-buku hadis sangat-sangat banyak meyebutkan dan memuji Syuaib bin Abi Hamzah ini,
Perawi ketiga: Kemudian dikatakan (oleh JR) bahwa “al Zuhri termasuk orang yang sangat membenci imam Ali”, dari mana landasannya ini?. Kita lihat landasannya dari Ibnu Abil Hadid dan buku-buku syiah, sayang, dia (JR) tidak menyebutkan buku ahlussunnah dan ibn habi hadid sendiri sudah dijelaskan oleh uama kita bahwa buku-bukunya tidak ada yang bersanad, padahal sanad adalah sandaran dalam menilai benar tidaknya suatu perkataan. (JR telah menuduh al Zuhri) padahal ibnu hajar mengatakan siapa itu zuhri? dia adalah al hujjah ats tsabat muttafun ‘ala jalalatihi wa itqonihi (hujjah, sangat kuat hafalannya dan para ulama telah sepakat akan kemuliaan dan kekuatan hafalannya)
Hadits ketiga: kemudian yang terakhir, dari sekian banyak contoh yang bisa disebutkan  setelah itu alinea terakhir dalam hal. 145. Riwayat muslim yang dia (JR) juga lemahkan tentang kisah kematian abu thalib dalam keadaan musyrik. Dia (JR) katakan “Kita menemukan rangkaian riwayat yang juga dhaif” Perawi pertama: (JR mengatakan), “Harmalah bin Abdullah al Farhadani daif”(Mizan al I’tidal 1”472), siapa dia?, tidak disebutkan dalam buku-buku hadis(termasuk Mizanul I’tidal), ada yang namanya Harmalah bin Abdullah, yang ada adalah Harmalah bin Yahya at Tujibi dan inilah orang yang dimaksudkan oleh Imam Muslim dalam shahih  muslim dan dia ini seorang yang tsiqah dan tak ada kata-kata dhaif dalam mizanul I’tidal karya imam adzdzahabi.
Perawi kedua: Kemudian Abdullah bin Wahhab; dia (JR) katakan, “Imam Ahmad ditanya tentang dia(Abdullah bin Wahhab), apakah ia suka salah dalam mengambil hadis? jawab imam ahmad; benar(Mizan al-Itidal 4:477-485)”, Ternyata kalau kita lihat di Mizanul I’tidal, imam ahmad rahimahumullahu ta’ala ketika ditanya, Alaysa kaana yusii’u al akhdz? (bukankan ia pernah salah dalam mengambil hadits), dia (imam Ahmad) mengatakan: “bala walakin idza nadzarta fi haditsihi wa ma rawa ‘anhu masyikhuhu wa jadtahu shahihan” (ia benar, tapi jika kamu lihat hadisnya dan apa yang diriwayatkan oleh para gurunya kamu akan dapatkan shahih). Hal ini (perbuatan JR) mengingatkan kita dengan orang yang hanya mengatakan “fa wailullil mushallin” lalu ia tidak sambung, bahaya. Atau membaca “La taqrabush shalah”, lalu dia tidak sambung, ini bahaya. Dia mengutip perkataan imam ahmad dan memotong sampai kata “benar”, padahal imam ahmad melanjutkan; tetapi riwayat haditsnya shahih, Tolong dijawab ini!,
Perawi ketiga: Kemudian ini masih dalam rangkaian hadis. JR mengatakan, “Yunus, ada banyak nama Yunus diantaranya ada yang pendusta, hafalannya jelek, majhul, munkarul hadis”, Inilah persoalannya karena JR hanya mengambil dari kitab Mizanul I’tidal, sehingga prof jalal tidak bisa menentukan ini Yunus siapa ini? padahal orang yang baru belajar hadits dan masih tingkat pemula bisa menyimpulkan bahwa dia adalah Yunus bin Yazid al Ayli, salah seorang periwayat dari shahih bukhari dan muslim, beliau ini menurut imam Dzahabi seorang tsiqah dan hujjah.
Perawi keempat: Dan yang paling terkhir, walaupun sebenarnya masih banyak contoh dan inilah yang paling memilukan, ketika ia (JR) mengatakan, “Ibn Syihab, tidak terdapat dalam kitab-kitab rijal” .Padahal tadi dia (JR) sudah menyebutkan az zuhri, padahal ibn syihab ini tidak lain dari Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Abdillah bin Syihab az Zuhri dan seandainya mahasiswa kami di stiba, masih tingkat awal ditanya tentang ibnu syihab az zuhri, dia bisa meyebutkan namanya secara lengkap. Ini sungguh sangat disayangkan kalau UIN akan menggolkan doktornya seorang seperti ini. Wallahu a’lam.
Syiah, Agama Tersendiri
Di akhir dialog, Jalaluddin Rakhmat  menyampaikan kepada peserta bahwa aliran Syiah yang ia anut dan ia sebarkan adalah agama tersendiri dan berbeda dengan agama Islam yang kita anut. Waktu itu LPPI Makassar sangat menginginkan agar tidak terjadi konflik di tengah masyarakat dengan cara merekomendasikan kepada IJABI agar tidak mencela dan mencaci maki sahabat-sahabat Nabi atau tidak mengadakan acara-acara peringatan hari Asyuro atau peringatan 40 hari meninggalnya Imam Husain radhiyallahu ‘anhu yang pada peringatan-peringatan itu sahabat Nabi banyak dicaci-maki oleh mereka, namun JR menjawab: “Saya kira di antara saling menghormati di antara kita ialah saling menghormati upacara agama masing-masing!”, kepada pembaca yang ingin membuktikan kebenaran informasi perkataan JR silakan menuju ke link berikut:  http://www.youtube.com/watch?v=zxuSPc8nIPE
Silakan menyaksikan dan mendengarkan secara seksama hingga akhir video. Dan bagi yang ingin menyaksikan jalannya dialog sunnah-syiah secara utuh silakan menuju ke link berikut: http://www.youtube.com/results?search_query=debat+sunni+syiah+jilid+II&oq=debat+sunni+syiah+jilid+II&aq=f&aqi=&aql=&gs_sm=e&gs_upl=31762l35559l0l36536l9l9l0l8l0l0l200l200l2-1l1l0

Berikut Video Lengkapnya:





























(lppimakassar.com)



[1]‘Abdurrah}man bin Makhlu>f al-S|a’a>libi>, al-Jawa>hir al-H{isa>n Fi> Tafsi>r al-Qur’a>n, Jilid I (Beirut: Muassasah al-A’lami>, T. Th), h. 471.
[2]‘Abdurrah{ma>n bin al-Kama>l Jala>luddin al-Suyu>t}i>, al-Durr al-Mans\ur, Jilid VI (Beirut: Da>r al-Fikr, 1993), h. 639-640.
[3]Syamsuddin Muh}ammad bin Ah{mad al-Z|ahabi>, Miza>n al-I’tida>l Fi> Naqd al-Rija>l, Jilid III (Cet. I; Beirut: Da>r al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1995), h. 244-245.
[4]Ah{mad ibn ‘Ali ibn H{ajar al-‘Asqala>ni>, Fath{ al-Ba>ri Bi Syarh{i Sah{i>h{ al-Bukha>ri, Jilid XI (Cet. II; Kairo: Da>r al-Rayya>n, 1409 H), h. 393.

[5]Ibid.
[6]Ibid., Jilid VII, h. 36.

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More