10 Kriteria Aliran Sesat Versi MUI, Syiah Masuk 7 di antaranya!!!



Kesesatan Aqidah Syiah yang Disusung Jalaluddin Rakhmat
Setelah berakhirnya era orde lama dan dimulainya era reformasi, kran kebebasan semakin terbuka lebar, dulu Majelis Ulama Indonesia memiliki kedudukan yang sangat dihormati dan sangat diperhatikan oleh pemerintah sehingga keputusan-keputusan yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia dikawal ketat oleh aparat pemerintahan, karenanya peluang aliran dan pemahaman sesat untuk berkembang menjadi kecil, namun sekarang ini seakan-akan MUI dibiarkan berjalan sendiri tanpa kawalan dari pemerintah, olehnya banyak kita dapati akhir-akhir ini oknum-oknum atau pribadi-pribadi yang secara bebas menghujat beberapa fatwa MUI, entah itu di TV, Koran atau media massa yang lainnya. 
Terlepas dari itu semua kita patut berterima kasih kepada para ulama di Negara kita ini yang tertampung dalam wadah MUI, dimana setelah melihat kenyataan kemorosotan akidah yang salah satunya ditandai dengan bermunculannya aliran-aliran sesat, Majelis Ulama Indonesia pada tahun 2007 menetapkan 10 kriteria aliran sesat, yaitu sebagai berikut:

1.      Mengingkari salah satu rukun iman dan rukun Islam
2.      Meyakini atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i (Al Qur’an dan Sunnah)
3.      Meyakini turunnya wahyu setelah Al Qur’an
4.      Mengingkari autentisitas dan kebenaran Al Qur’an
5.      Menafsirkan Al Qur’an yang tidak berdasar kaidah-kaidah tafsir
6.      Mengingkari kedudukan Hadits sebagai sumber ajaran Islam
7.      Melecehkan / mendustakan Nabi dan Rasul
8.      Meningkari Nabi Muhammad sebagai Nabi dan Rasul terakhir
9.      Mengurangi / menambah pokok-pokok ibadah yang tidak ditetapkan syari’ah
10.  Mengkafirkan sesama muslim hanya karena bukan kelompoknya
 
Menurut MUI dan pernyataan Bapak Sekum MUI Pusat, Drs. H.M. Ichwan Sam bahwa masyarakat dapat menggunakan kriteria tersebut untuk menilai sebuah aliran itu sesat atau tidak, keluar dari ajaran Islam atau tidak.  Jika satu saja kriteria yang muncul dari suatu paham atau aliran dari sepuluh kriteria di atas maka paham atau aliran tersebut sudah dapat divonis SESAT dan menyimpang dari ajaran Islam yang sesungguhnya.
Berikut ini beberapa poin dari ajaran atau aqidah Syiah dan disebarkan oleh JR yang masuk dalam 10 kriteria aliran sesat.

1.    Mengingkari salah satu rukun iman dan rukun Islam.
Rukun Iman Syiah:
1.    Tauhid (percaya keesaan Allah yang mutlak)
2.    ‘Adalah (percaya kepada keadilan ilahi)
3.    Nubuwwah (Kenabian, termasuk pada kitab-kitab yang dibawa para Nabi dan malaikat yang menurunkannya)
4.    Imamah (percaya pada para imam setelah Nabi saw)
5.    Al-Ma’ad (percaya pada hari akhir)
Rukun Islam Syiah:
1.        Shalat
2.        Puasa
3.        Zakat
4.        Khums
5.        Haji
6.        Jihad
7.        Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar
8.        Tawalla (membenci apa yang dibenci Rasul saw dan Ahlul Baitnya)
9.        Tabarra (mencintai apa yang dicintai Rasul saw dan Ahlul Baitnya)
10.    Amal Shaleh.
(Sumber: buku “40 Masalah Syiah”, karya istri JR yang bernama Emilia Renita AZ, JR sebagai editor, dan sebagaimana yang kami sebutkan sebelumnya, bahwa buku “40 Masalah Syiah” ini dijadikan sebagai pedoman dakwah kelompok IJABI)
Sedangkan Rukun Iman yang benar ada 6 (enam) dan Rukun Islam yang benar hanya ada 5 (lima)!!!, ini jelas penyimpangan yang sangat nyata!


2.    Meyakini atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’i (Al-Quran dan Sunnah)
-       Mereka sangat menjelek-jelekkan sahabat Nabi saw yang seharusnya dimuliakan karena jasa dan perjuangannya dalam Islam. Seperti tuduhan: Umar ra meragukan kenabian Rasulullah saw, para sahabat membantah perintah Nabi saw, para sahabat merobah-robah agama dan murtad (bulletin At-Tanwir, no. 298, 10 Asyura 1431H: "Bersama Al-Husain: Hidupkan Kembali Sunnah Nabawiyah hal.3) padahal keyakinan semcam ini sangat bertentangan dengan Al-Quran dan Sunnah, di antara dalil-dalil yang menunjukkan bahwa keyakinan semacam ini (membenci dan melaknat bahkan mengkafirkan para sahabat) bertentangan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya adalah sebagai berikut:
1.    Allah SWT telah ridha kepada semua sahabat Nabi Muhammad SAW,
a.    Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah: 100)
b.    Sungguh Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon, Dia mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka, lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka dan member balasan dengan kemenangan yang dekat. ” (QS. Al-Fath: 18)
2.    Rasulullah saw telah melarang umatnya dari mencela-cela sahabat beliau saw
a.    Janganlah kalian mencaci-maki sahabatku, demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya, jika seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas sebesar gunung Uhud, maka belum mencapai nilai infaq mereka meskipun (mereka  infaq hanya) satu mud (yaitu sepenuh dua telapak tangan) dan tidak juga separuhnya ” (Shahih riwayat Bukhari no. 3673, Muslim no. 2541, Abu Dawud no. 4658, dll)
b.    Barang siapa mencaci-maki para sahabatku, maka ia akan mendapatkan laknat Allah, Malaikat, dan manusia seluruhnya.” (Hasan riwayat Ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabiir [XII/111] no. 12709, Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah no. 2340)

-       Syiah meyakini Aqidah Bada’
Dari Ar-Rayyan bin Shalt, ia berkata: Saya mendengar Ar-Ridha alaihis salam berkata: “Allah tidak mengutus Nabi kecuali diperintahkan untuk mengharamkan khamr dan menetapkan sifat bada’ kepada Allah.[1]
Bada’ artinya jelas, yang sebelumnya masih samara tau berarti munculnya pendapat baru.
Bada’ dengan kedua arti di atas berkait erat dengan didahuluinya ketidaktahuan, atau munculnya pengetahuan baru, kedua sifat itu mustahil bagi Allah tapi orang Syiah menisbatkan sifat Bada’ ini kepada Allah SWT.
Bayangkan bagaimana mereka menisbatkan kebodohan kepada Allah SWT, yang Dia berfirman tentang Dzat-Nya sendiri, “Katakanlah, ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah’.” (An-Naml: 65).
Di balik itu mereka berkeyakinan dan beranggapan bahwa para imam mereka mengetahui segala ilmu pengetahuan, tidak ada sedikitpun yang samar baginya. Apakah ini Aqidah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw?

3.    Meyakini turunnya wahyu setelah Al-Qur’an
Untuk yang satu ini sampai saat ini kami belum menemukan data mereka yang berkaitan dengan ini. Namun yang perlu diketahui, mereka punya banyak kitab suci; Al Jami’ah, Shahifah an-Namus, Shahifah al ‘Abithah, Shahifah Dzu’abah As Saif, Shahifah Ali, Al Jafr, dan Mushaf Fathimah!!!

4.    Mengingkari autentisitas Al-Qur’an

Mereka tidak hanya meragukan keotentikan Al-Qur’an yang ada di tangan kaum Muslimin sekarang ini, bahkan ulama kenamaan mereka, Al Nuri Al Thubrusi (Fashl Khithab Fi Istbat Tahrifi Kitabi Rabbil Arbaab) membuat satu kitab khusus yang menetapkan dan menegaskan akan adanya perubahan pada Al-Qur’an, bahkan dalam muqaddimah bukunya tersebut ia mengetengahkan hampir 40 nama ulama Syiah yang mendukung pendapatnya!

Di Indonesia sendiri sudah ada beberapa data dan fakta mengenai keyakinan orang Syiah terhadap ketidak-aslian Al Quran;
-       Pada suatu waktu Ust. Muh Said Abd. Shamad, Lc mengisi  pengajian di Bank Muamalat (Jl. Dr. Sam Ratulangi Makassar) khusus untuk para karyawan, dalam pengajian tersebut beliau menyinggung mengenai aliran Syiah dan di akhir pengajian seorang karyawati menghampiri beliau dan menyatakan bahwa dalam pengkaderan Syiah yang diadakan di salah satu kampus di Makassar ia mendengar seorang pemateri mengatakan bahwa Al Quran yang ada di tangan kaum Muslimin saat ini adalah sudah tidak murni lagi karena ayat-ayat menngenai kepemimpinan Ali bin Abi Thalib sudah dibuang. Al Quran yang lengkap versi pemateri Syiah itu adalah tiga kali lipat lebih tebal dari Al Quran yang ada saat ini.


Sekitar pertengahan tahun 2006 saya ‘bertaqiyyah’ sebagai pemuda Syi’i. Tujuan saya, melakukan penelitian lapangan. Kawan-kawan dan Ibu saya sempat protes, kenapa harus pura-pura jadi Syi’ah untuk investigasi di lembaga Syiah?

“Memaksa Syiah untuk membuka diri itu tidak mudah, biasanya sesama orang syiahnya mereka bisa terbuka”, jawab saya pada mereka. “Sudahlah jangan khawatir, di belakang saya ada yg membimbing,” jelas saya pada Ibu yang sempat melarang saya untuk melakukan kegiatan ini.

Saya pun bergerak ke sebuah Yayasan “Y” milik Syiah yang terkenal kota B di Jawa Timur. Untuk jaga-jaga, saya tidak membawa KTP, tapi KTM (kartu tanda mahasiswa). Sebab jika menunjukkan KTP, khawatir ‘intel-intel’ Syiah mengecek ke rumah. Saya memperpenalkan diri sebagai mahasiswa yang ingin belajar Syiah.

Tidak perlu banyak ‘ngoceh’ ternyata untuk meyakinkan satpam dan beberapa santri senior di yayasan tersebut bahwa saya mahasiswa yang sedang belajar jadi Syiah. Saya tidak berani menyebutkan tentang kitab al-Kafi, sebab kitab ini pada waktu itu konon tidak umum di kalangan Syiah awam, alias Syiah ikut-ikutan.

Bisa curiga mereka bila saya bercerita bahwa saya punya kitab tersebut. Namun sekarang kitab itu bukan menjadi rahasia lagi, kalangan Sunni (baca: muslim) sudah banyak yang mengoleksi.

Setelah mengutarakan niat, saya dibawa oleh petugas keturunan Arab ke perpustakaan yang terletak di lantai dua masjid tersebut. Ratusan buku-buku Syiah berderet di rak. Saya amati kebanyakan diterbitkan di Iran. Kitab-kitab Ahlus sunnah juga menghiasi rak-rak buku perpustakaan tersebut.

Ketika saya menyatakan ingin meminjam atau mengkopi beberapa kitab, si petugas yang berwajah arab itu melarangnya. Ia pun menghadiahi beberapa buku propaganda berbahasa Indonesia. Saya terima saja, meski beberapa di antaranya saya sudah memilikinya.

Di perpustakaan itu saya dibawa ke sebuah ruangan kecil berukuran sekitar 3×4 meter. Di situ sudah menunggu pemuda-pemuda Syiah berwajah Arab. Saya diperkenalkan, dirangkul disambut dengan hangat. Beberapa kali saya meresponnya dengan berbahasa Arab, sekedar untuk mengakrabkan diri.

Dari perkenalan itu, saya mengetahui bahwa mereka adalah mahasiswa sebuah perguruan tinggi milik Syiah di Depok. Setelah tukar no HP, kami berdiskusi tentang ahlul bayt, imam Ali dan sebagainya.

Ternyata mereka tidak curiga, saya direkomendasikan untuk mengikuti kelompok diskusi mahasiswa Syiah di kota M. Setelah tiga puluh menit, saya diantar menemui ketua yayasan di kantornya.

Berwajah Arab, memakai gamis putih, berjenggot tipis, perawakan tidak terlalu tinggi, pelit tertawa atau tersenyum dan sorot mata tajam. Itulah kesan pertama bertemu AU, si pemimpin yayasan. Orang ini terkenal di kalangan Syiah, bahkan disegani pengikut syiah di Indonesia.

Saya sempat khawatir kehadiran saya dicurigai oleh AU. Ternyata kekhawatiran saya buyar, ketika dia tiba-tiba to the point bicara syiah di Indonesia. Saya sempat terkejut. Sebab, tidak mudah si AU ini blak-blakan pada orang lain yang baru dikenal.

Secara diam-diam, saya mulai menyalakan perekam yang saya letakkan di dalam tas ransel. Ini kesempatan bagus! Pikirku saat itu. Pertama-tama saya bertanya buku-buku apa saja yang sudah ia tulis. Ia menyebutkan beberapa. Yang paling saya tunggu-tunggu telah tiba. “saya telah menulis naskah buku tentang kepalsuan al-qur’an yang ada di tangan kaum muslimin, hanya belum diterbitkan bahkan beberapa kawan melarang saya untuk menerbitkan,” bebernya secara jujur.

Betapa gembiranya saya jika mendapatkan naskah itu. Namun sayang, saya gagal merayunya untuk mengkopi naskah sesat itu. Oke, tidak apa-apa, yang penting saya dapat informasi dia menulis buku kepalsuan al-Qur’an.

“Kenapa kawan-kawan ustadz melarang buku itu diterbitkan,” selidik saya. Ia menjawab, ”Akan memicu pertikaian di kota ini, jika saya menerbitkannya dan diketahui oleh Sunni”.

Informasi berharga lainnya adalah dia membeberkan tentang rencana merusak ormas NU dan Muhammadiyah. “Tunggu saja, saya sudah memiliki orang-orang di NU dan Muhammadiyah yang mengobrak-abrik ormas itu secara diam-diam.”

Ketika saya tanya siapa orang-orang Syiah yang ada di ormas tersebut. Dia menolak menyebutkan nama. Yang jelas, orang-orang ini adalah orang penting di organisasi. Kata dia, kyai-kyai Sunni itu bodoh. Sebab, tidak tahu orang Syiah yang ia tanam di ormas justru jadi kepercayaannya.

Cara merusaknya dengan membuat kebijakan-kebijakan yang menguntungkan Syiah. Mengadakan kerjasama dengan pemerintah Iran. Dan menciptakan konfilk di tubuh ormas itu. Konon pemerintah Iran menggelontorkan 1/5 penghasilan pajak untuk ‘dakwah’ di Indonesia.

Selama satu jam lebih saya di ruangan kantornya. Saya cukup beruntung, waktu itu hanya ada saya dan dia di kantor tersebut. Saya memang tidak berhasil membawa beberapa buku di yayasan Y.

Tapi informasi yang terakhir ini sudah cukup bagi saya. Sempat terbesit niat untuk ‘mencuri’ sebuah buku dan kaset di kantor, ketika si AU ke kamar mandi sebentar. Akan tetapi saya bingung bagaimana caranya. Karena baru pertama di situ, saya simpan niat ‘mencuri’ itu, khawatir kedatangan berikutnya saya dicurigai.

Setahun setelah saya penelitian, terjadi demo besar-besaran di kota B menentang Syiah. Saya tidak tahu apa yayasan Y mengetahui identitas saya apa tidak. Yang jelas beberapa bulan pasca demo, saya datang lagi. Dan saya tidak ditemui siapa-siapa.

Saya dibiarkan menunggu di ruang satpam tanpa ditemui, dan diajak ngobrol orang-orang di situ. Satpam pun memasang sikap berdiam diri. Saya utarakan untuk bertemu ustadz AU, tapi semua orang tidak menjawab. Tanpa berpikir panjang, saya pun lari dari situ naik angkot menuju rumah. Alhamdulillah selamat. (Zahir Nawwab/email ada pada redaksi)


Untuk melihat beberapa perubahan ayat Al Quran yang diklaim oleh mereka dan perbandingannya dengan Al Quran yang asli dapat dilihat dalam beberapa buku berikut ini:
-       Mengapa Kita Menolak Syiah: Kumpulan Makalah Seminar Nasional Tentang Syiah Di Aula Masjid Istiqlal Jakarta, 21 September 1997, Umar Abduh dan Kirtos Away (editor), Penerbit: Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) Jakarta, Cet VI, 1432H/ 2011 M, hal 203-222.
-       Mewaspadai Gerakan Syi’ah Di Indonesia, Karya M. Amin Djamaluddin, dkk., Penerbit: Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) Jakarta, Cet I, 2011 M, hal 32-58.
-       Syi’ah: Menguak Tabir Kesesatan dan Penghinaannya Terhadap Islam, Karya Drs. Muhammad Thalib, Penerbit: Pusat Studi islam An Nabawy Yogyakarta dan Penerbit El-Qossam, 1428 H/ 2007 M.

5.    Menafsirkan Al Qur’an yang tidak berdasar kaidah-kaidah tafsir

-       Pada Kitab Ushul Kafi, Kitab Tauhid, Bab Firman Allah Ta’ala: Ar Rahmanu ‘ala al ‘Arsy istwaa, Hadits nomor enam, Dari Abu Abdillah, bahwasanya ia ditanya tentang Firman Allah SWT Ar Rahmanu ‘ala al ‘Arsy istwaa maka ia menjawab, Allah bersemayam di semua tempat, tidak ada sesuatu pun yang lebih dekat padanya.[2]
-       Pada Kitab yang sama, pada Bab setelahnya, Bab Firman Allah Ta’ala: Wa huwa alladzi  fi al samaa’i ilaahun wa fi al ardhi ilahun, Dari Abu Syakir Al Dayashaniyyu: -secara ringkas- Maka katakanlah juga demikian (tentang ayat di atas) pada Allah, Tuhan kita. Di langit ada tuhan, di bumi ada tuhan, di laut ada tuhan, dan di segala tempat ada tuhan.
Kedua penafsiran dua ayat di atas mengantarkan kita pada keyakinan wihdatul wujud (penyatuan dzat makhluq dengan Dzat Tuhan), padahal keyakinan kita bahwa Allah itu di langit bersemayam di atas arsy.

6.    Mengingkari kedudukan hadits sebagai sumber ajaran Islam
Untuk sampai saat ini kami belum menemukan data mereka yang berkaitan dengan poin ini.

7.    Melecehkan / mendustakan Nabi dan Rasul
Telah kami sebutkan pada pembahasan sebelumnya bahwa pelecehan dan penghinaan kepada seorang murid adalah juga pelecehan dan penghinaan kepada gurunya, dan JR banyak melakukan itu, menghina, mencaci-maki bahkan mengkafirkan para sahabat Nabi.
Sebagai tambahan kami sebutkan di sini perkataan Khumaini tentang Rasulullah saw: “Semua Nabi datang untuk menancapkan kaidah keadilan di dunia, akan tetapi mereka tidak berhasil. Bahkan Nabi Muhammad, penutup para Nabi yang datang untuk memperbaiki umat manusia, menjalankan keadilan dan mendidik manusia juga tidak berhasil dalam hal itu.”[3] Ini adalah ungkapan Al Khumaini secara jelas melecehkan peran Nabi Muhammad saw.

Bahkan dikisahkan, suatu waktu di masa hidup Khumaini ia pernah berziarah ke makam Rasulullah saw di Madinah Munawwarah, ia meludah ke makam Rasulullah saw, kejadian ini disaksikan oleh mata kepala Imam Masjid Nabawi waktu itu, Imam Al Hudzaifi rahimahullah, tentu beliau sangat jengkel dan marah melihat ada orang yang berani dan lancang meludah ke kuburan Rasulullah saw, keesokan harinya beliau berkhutbah di Masjid Nabawi dan menyebutkan peristiwa meludahnya Khumaini di kuburan Rasulullah saw sekaligus lewat mimbar Masjid Nabawi itu beliau menyampaikan kemarahan dan kekesalan beliau kepada Khumaini sebagai pembelaan dan kecintaan beliau kepada Nabi umat ini, Rasulullah saw, singkat cerita kabar tentang khutbah itu didengar oleh pihak pemerintah Iran yang dengan seketika langsung menghubungi kerajaan Arab Saudi dan memberitahukan bahwa jika Imam Al Hudzaifi tidak diasingkan maka pemerintah Iran akan mengirim sniper (penembak jitu) untuk membunuh Imam Hudzaifi, ini tekanan politik Iran kepada Arab Saudi, namun untuk menjaga keselamatan Imam Hudzaifi akhirnya beliau diasingkan dan meninggalkan posisinya sebagai Imam di Masjid Nabawi selamat tiga tahun!

8.    Meningkari Nabi Muhammad sebagai Nabi dan Rasul terakhir
Sampai saat ini kami belum menemukan data mereka mengenai hal ini.

9.    Mengurangi / menambah pokok-pokok ibadah yang tidak ditetapkan syari’at

Di antara sekian banyak contoh yang bisa kita kemukakan di sini adalah Syahadat mereka yang berbeda dengan syahadat agama Islam, syahadat mereka, selain dua kalimat syahadat juga ditambah syahadat dengan menyebut dua belas imam.[4]

10.     Mengkafirkan sesama muslim hanya karena bukan kelompoknya.
Mereka menganggap orang yang tidak mengenal atau mengikuti imam zamannya, dianggap mati jahiliyah, di luar Islam! (lihat buku “40 Masalah Syiah”, hal. 98)

Pembaca yang terhormat, kami, anda, dan Kaum Muslimin bukanlah orang yang berpemahaman dan beragama Syiah, oleh karena itu kita tidak mengakui Imam-imam mereka sebagai pokok Aqidah kita, jika demikian, menurut mereka jika kita mati dan tidak mengenal imam-imam mereka maka kita mati jahiliyah, mati dalam keadaan tidak beragama Islam!

Jalaluddin Rakhmat pernah menyampaikan kepada khalayak ramai bahwa aliran Syiah yang ia anut dan ia sebarkan adalah agama tersendiri dan berbeda dengan agama Islam yang kita anut. Ia menyampaikannya dalam dialog Sunnah-Syiah (Ahlus Sunnah diwakili oleh Ust. Rahmat Abd. Rahman, Lc/ wakil ketua LPPI Makassar sedangkan Syi’ah diwakili oleh Prof. Dr. Jalaluddin Rakhmat/ Ketua Dewan Syuro IJABI) di Program Pasca Sarjana UIN Alauddin Makassar pada tanggal 24 Februari 2011.

Waktu itu LPPI Makassar sangat menginginkan agar tidak terjadi konflik di tengah masyarakat dengan cara merekomendasikan kepada IJABI agar tidak mencela dan mencaci maki sahabat-sahabat Nabi atau tidak mengadakan acara-acara peringatan hari Asyuro atau peringatan 40 hari meninggalnya Imam Husain radhiyallahu ‘anhu yang pada peringatan-peringatan itu sahabat Nabi banyak dicaci-maki oleh mereka, namun JR menjawab: “Saya kira di antara saling menghormati di antara kita ialah saling menghormati upacara agama masing-masing!”, kepada pembaca yang ingin membuktikan kebenaran informasi perkataan JR silakan menuju ke link berikut:  http://www.youtube.com/watch?v=zxuSPc8nIPE
Silakan menyaksikan dan mendengarkan secara seksama hingga akhir video. Dan bagi yang ingin menyaksikan jalannya dialog sunnah-syiah secara utuh silakan menuju ke link berikut: http://www.youtube.com/results?search_query=debat+sunni+syiah+jilid+II&oq=debat+sunni+syiah+jilid+II&aq=f&aqi=&aql=&gs_sm=e&gs_upl=31762l35559l0l36536l9l9l0l8l0l0l200l200l2-1l1l0

(Muis/LPPIMakassar.blogspot.com)



[1] Ushul Kafi, Kitab Tauhid, Bab al-Bada’, Hadits no. 15
[2] Ushul Kafi, Al Kulaini, Pustaka Alaalami Library, Th 2005, Cet pertama, Juz 1 Hal 74
[3] Nahj Khumaini, hal. 46.
[4] Asy Syiah Minhum ‘Alaihim, Mamduh Farhan Al Buhairi, Dar al-Faruq, 1422 H/ 2002 M.

0 komentar:

Poskan Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More