Virus Sepilis Perusak Ayat Masuk ke Program Deradikalisasi

·         Virus sepilis (sekulerisme, pluralisme dan liberalisme) perusak ayat-ayat Al-Qur’an ternyata diusung para pengasong sepilis dengan memanfaatkan isu terorisme untuk menyebarkan paham sepilis tanpa kita sadari. Mulai dari memelintir ayat-ayat jihad hingga menafsirkan Al Qur’an dengan cara hermeneutika.
·         Virus berbahaya dari seorang Nasr Hamid Abu Zayd yang jelas-jelas melecehkan Al Qur’an – karena menganggap Al-Quran itu muntaj tsaqafi, produk budaya, hingga divonis murtad oleh Mahkamah Agung Mesir 1996,– malah disusupkan dan digadang-gadang dalam program deradikalisasi.
·         Padahal sudah sangat terlalu dalam melecehkan Islam, hingga pernah dikatakan Abu Zayd, “Sebagai budaya, posisi Al Qur’an tidak berbeda dengan rumput.”
·         Apalagi, Nasr Hamid Abu Zayd pun melecehkan metodelogi Imam Syafi’I.
Inilah beritanya, kemudian di bagian bawah ditambah dengan berita dan uraian penjelasan.
***
Peta Gerakan Sepilis 2012: Menyusup dalam Program Deradikalisasi
Jakarta (Voa-Islam) – Pengamat Sepilis (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme) Adian Husaini membenarkan, jika gerakan Sepilis telah menyusup dalam program deradikalisasi yang digulirkan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme). Terbukti, dalam buku yang diterbitkan oleh Lazuardi Birru, penulisnya menggadang-gadang pemikiran Nasr Hamid Abu Zaid yang telah melecehkan Al-Quran dan divonis murtad oleh Mahkamah Mesir.
Sejak awal, Adian yang ditemui Voa-Islam di Masjid UI Depok, menaruh curiga, para pengasong sepilis telah memanfaatkan isu terorisme untuk menyebarkan paham sepilis tanpa kita sadari. Mulai dari memelintir ayat-ayat jihad hingga menafsirkan Al Qur’an dengan cara hermeneutika.
Jika menyimak buku yang diterbitkan oleh Lazuardi Birru berjudul “Memutus Mata Rantai Radikalisme dan Teroris” — dari beberapa artikel yang ada —  terdapat tulisan Mu’ammar Zayn Qadafy yang diberi judul “Aplikasi Teori Interpretasi Nashir Hamid Abu Zaid Dalam Ayat-ayat Qital”. Kenapa, seorang Nashir Hamid Abu Zaid yang jelas-jelas melecehkan Al Qur’an itu malah disusupkan dan digadang-gandang dalam program deradikalisasi. Aneh!
Mungkin tak semua pembaca tahu, siapa Nashir Hamid Abu Zaid itu (atau maksudnya Nasr Hamid Abu Zayd)? Menurut Adian Husaini dalam bukunya “Membendung Arus Liberalisme di Indonesia” (Penerbit Pustaka Al-Kautsar), Nasr Hamid Abu Zayd adalah tokoh liberal yang pendapat-pendapatnya sangat ekstrim, sehingga dia divonis murtad oleh Mahkamarh Mesir. Dia lalu melarikan diri ke Leiden University. Dari sanalah, ia dengan dukungan negara Barat, mendidik beberapa dosen UIN/IAIN. Beberapa muridnya sudah kembali ke Indonesia dan menduduki posisi-posisi penting di UIN.

Di Indonesia, para penghujat Al-Qur’an di kampus-kampus UIN/IAIN hampir selalu menjadikan Abu Zayd sebagai rujukan. Menurut Nasr Abu Zayd, Al Qur’an bukan lagi dianggap sebagai wahyu suci dari Allah kepada Muhammad Saw, melainkan produk budaya. Metode tafsir yang digunakan adalah hermeneutika, karena metode tafsir konvensional dianggap sudah tidak sesuai dengan zaman. Juga dikatakan Abu Zayd, “Sebagai budaya, posisi Al Qur’an tidak berbeda dengan rumput.”
Apalagi, Nasr Hamid Abu Zayd pun melecehkan metodelogi Imam Syafi’I, dan menyimpulkan poligami bukan ajaran Islam. Juga dalam hal warisan, hukum 2:1 dinilai belum final.
Atas pemikirannya, kunjungan Nasr Hamid Abu Zayd ke Indonesia ditolak di sejumlah daerah, seperti Riau dan Malang. Pada 23 November 2007, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) menerima pernyataan sikap dari MUI Riau dan sejumlah ormas Islam lainnya tentang penyelenggaraan Konferensi Tahunan Studi Islam ke-7 yang diselenggarakan di UIN Riau. Dalam pernyataan sikapnya, ditegaskan: “Umat Islam Riau Tolak Kehadiran Nasr Hamid Abu Zayd. MUI Riau mempersoalkan mengapa dalam acara tersebut akan diundang Prof. Dr. Nasr Hamid Abu Zayd, ilmuwan Mesir yang divonis murtad oleh Mahakamah Mesir karena tulisan-tulisannya dinilai melecehkan Al-Qur’an.
Setelah ditolak di Riau, Nasr Hamid Abu Zayd, juga ditolak umat Islam di Malang yang direncanakan akan hadir dalam Konferensi Internasional di Unisma (Universitas Islam Malang), 27-29 November 2007.
Lazuradi Birru Besarkan Nama Nasr Hamid Abu Zayd
Kehadiran Abu Zayd ke Indonesia – disadari atau tidak – adalah sebuah konspirasi untuk merusak pemikiran Islam di Indonesia dengan menyebarkan paham-paham liberal.  Terlebih, tidak dihadirkan pembanding yang mengkritisi pemikiran sesat Abu Zayd tersebut.
Semakin jelas, program deradikalisasi adalah kedok untuk menyusupkan paham sepilis kepada kaum intelektual, terutama mahasiswa di berbagai kampus di Indonesia dengan membesar-besarkan pemikiran Nasr Hamid Abu Zayd terkait ayat-ayat Qital.
Menurut Mu’mmar Zayn Qadafy, yang menulis artikelnya “Aplikasi Teori Interpretasi Nashir Hamid Abu Zaid Dalam Ayat-ayat Qital”, dipilihnya metode tafsir hermeneutika ala  Nasr Hamid Abu Zayd dianggap penafsiran baru yang lebih tepat, relevan untuk dijadikan pisau analisis, terutama ayat-ayat qital.
Desastian Rabu, 28 Dec 2011 (Voice of Al Islam on South East Asia)
***
Belum lama ini ada situs yang lantang menyoroti Lazuardi Birru. Diantaranya ditulis:
Lazuardi Birru mitra BNPT hancurkan Islam
Lazuardi Birru yang berkantor di Manara Karya, Jalan Rasuna Said Kuningan, Jakarta belakangan santer namanya disebut-sebut, terutama karena gencar melakukan proyek deradikalisasi bersama BNPT.
Dana operasional BNPT sebesar Rp. 225 Miliar untuk tahun anggaran 2011 sudah tentu menggiurkan bagi siapa saja, termasuk Lazuardi Birru. Rencananya, BNPT mengajukan kenaikan anggaran di tahun 2012 nanti. Catatan hasil rapat anggaran BNPT dengan Komisi III tanggal 19 September 2011, menyebutkan bahwa Nahdatul Ulama (NU) sudah megajukan proposal 100 nama ulama di seluruh propinsi untuk ceramah keagamaan deradikalisasi. Ansyad Mbai, pimpinan proyek BNPT mengharapkan setiap masjid, dua anggota takmirnya di pihak BNPT dan bermaksud menjangkau 800 ribu masjid dan 40 ribu pesantren di seluruh Indonesia.
Seorang anggota rapat mengatakan : “Banyak rakyat yang lapor ke komisi III bilang, densus adalah alat bunuh dari asing” … Dia juga bilang bahwa BNPT jangan sampai jadi badan yang dibiayai asing untuk membunuhi dan menangkapi rakyat Indonesia. Faktanya, itulah yang terjadi!
Read more: http://arrahmah.com/read/2011/10/10/15682-lazuardi-birru-deradikalisasi-ala-mantan-kadensus-88.html#ixzz1htG6Y6WR
Dari berita itu, apakah Lazuardi Birru main saing-saingan dengan NU yang sudah mengajukan 100 kyainya untuk ceramah deradikalisasi  atau tidak, itu urusan mereka. Dan apakah mereka juga saing-saingan dalam mengajukan “permohonan” untuk menjaga gereja, belum ada penjelasan. Yang jelas, sebuah media memberitakan, pihak gereja mengaku bahwa memang ada yang menyediakan diri seperti biasanya dari organisasi tertentu.
Dan apakah nanti Lazuardi Birru akan sinis kepada Ummat Islam tapi manis kepada kafirin sebagaimana ormas tertentu itu atau tidak, belum ada kejelasan. Tetapi ketika yang disusupkan adalah faham orang murtad yang menghujat Al-Qur’an, maka berita tersebut di atas merupakan bukti nyata.
Mungkin BNPT juga mengaji kepada Depag (kini Kementerian Agama, lembaga terkorup di Indonesia menurut KPK) yang sudah pengalaman dalam berkiprah menggarap Ummat Islam dalam misi pemurtadannya.
Pemurtadan dibungkus forum ilmiah
Pemurtadan secara sistematis oleh Departemen Agama (kini Kementerian Agama) di antaranya dengan menghadirkan dedengkot yang sudah divonis murtad oleh Mahkamah Agung Mesir 1996 yakni Dr Nasr Hamid Abu Zayd ke Indonesia untuk menatar (cara-cara memurtadkan yang efektif  dan sistemiatis?)  para dosen perguruan tinggi Islam se-Indonesia di Riau 2007. Masih pula untuk memberi materi (pemurtadan?) ke Jawa Timur di antaranya ke Malang.
Alhamdulillah, qadarullah upaya Depag (departemen paling korup menurut KPK itu) dalam misi pemurtadannya dengan menghadirkan dedengkot murtad tersebut tercium oleh Ummat Islam, hingga dapat digagalkan dengan adanya protes dari MUI Riau. Demikian pula Ummat Islam di Jawa Timur menolaknya. Sehingga gagallah pemberian materi (pemurtadan?) yang sudah diatur rapi oleh Departemen Agama dan para wadyabalanya dari UIN, IAIN, STAIN se-Indonesia saat itu. Namun tahun-tahun berikutnya, menurut sumber, kumpul-kumpul para doctor sekitar 160-an orang dari perguruan tinggi Islam se-Indonesia itu masih senantiasa diadakan dengan biaya dari pihak yang dulu dikenal membiayai kaum liberal (44 lembaga liberal di Indonesia) berpusat di Amerika. Hanya saja tempatnya biasanya yang agak tersembunyi, sehingga tidak tercium oleh Ummat Islam yang anti pemurtadan secara sistematis oleh lembaga Negara terkorup itu. Hal itu menunjukkan bahwa apa yang ditulis dalam buku “Ada Pemurtadan di IAIN” memang benar, bahkan tampaknya menjadi salah satu proyek.
Di antara proyeknya adalah yang ditolak oleh MUI Riau ini.
***
Siaran Pers
MUI Riau Tolak Prof Nasr Hamid
MAJELIS ULAMA PROVINSI RIAU
Wadah Musyawarah Para Ulama, Zu’ama, dan Cendekiawan Muslim Komplek Masjid Agung An-Nur Pekanbaru Telp (0761) 21415 Fax (0761) 29332
———— ——— ——— ——— ——— ——— -
Siaran pers MUI Riau
Nomor: A-187/MUI-R/ XI/2007
Tentang: “Annual Conference on Islamic Studies (ACIS) in Indonesia Indonesia VII”
Pekanbaru, 22 November 2007
UMAT ISLAM RIAU TOLAK KEHADIRAN NASR HAMID ABU ZAYD
Nasr Hamid Abu Zayd, intelektual Mesir yang divonis murtad di negerinya, telah ditolak kehadirannya oleh umat Islam Riau. Penolakan itu dilakukan oleh MUI Riau bersama sejumlah Ormas Islam lainnya. Semula, pihak Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Agama memang menjadwalkan akan menghadirkan Abu Zayd dalam acara Annual Conference on Islamic Studies (ACIS) in Indonesia VII, yang secara resmi telah dibuka oleh Menteri Agama, H. Maftuh Basuni pada Rabu malam 21 November di hotel Syahid Pekan Baru.
Tapi, penolakan terhadap Abu Zayd sangat kuat dari umat Islam Riau. Abu Zayd akhirnya batal hadir. Dalam pidato sambutan pembukaan ACIS VII, Direktur Pendidikan Tinggi Islam Depag RI, Prof. Dr. Abdurrahman Mas’ud, MA, menjelaskan bahwa Abu Zayd tidak bisa datang karena satu hal. Namun katanya, Abu Zayd berjanji akan hadir pada acara International Seminar di UNISMA Malang, 26 November minggu depan.Malang,
Nasr Hamid Abu Zayd adalah tokoh liberal yang pendapat-pendapatnya sangat ekstrim, sehingga dia divonis murtad oleh Mahkamah Mesir. Dia lalu melarikan diri ke Leiden University. Dari sanalah, dengan dukungan negara-negara Barat, dia mulai mendidik beberapa dosen UIN/IAIN. Beberapa muridnya sudah kembali ke Indonesia dan menduduki posisi-posisi penting di UIN/IAIN.
Di Indonesia, para penghujat al-Quran di kampus-kampus UIN/IAIN hampir selalu menjadikan Abu Zayd sebagai rujukan. Dalam hasil penelitiannya terhadap perkembangan paham-paham keagamaan Liberal di sekitar kampus UIN Yogyakarta, Litbang Departemen AgamaYogyakarta, Litbang Departemen Agama menulis:
“Al-Quran bukan lagi dianggap sebagai wahyu suci dari Allah SWT kepada Muhammad saw, melainkan merupakan produk budaya (muntaj tsaqafi) sebagaimana yang digulirkan oleh Nasr Hamid Abu Zaid. Metode tafsir yang digunakan adalah hermeneutika, karena metode tafsir konvensional dianggap sudah tidak sesuai dengan zaman. Amin Abdullah mengatakan bahwa sebagian tafsir dan ilmu penafsiran yang diwarisi umat Islam selama ini dianggap telah melanggengkan status quo dan kemerosotan umat Islam secara moral, politik, dan budaya. Hermeneutika kini sudah menjadi kurikulum resmi di UIN/IAIN/STAIN seluruh Indonesia. Bahkan oleh perguruan tinggi Islam di Nusantara ini hermeneutika makin digemari.” (Lebih lengkap tentang kekeliruan pemikiran Abu Zayd bisa dilihat dalam buku “Al-Qur’an Dihujat”, karya Henri Shalahuddin, MA (GIP, Jakarta: Mei 2007).
MUI Riau bersama MUI pusat saat ini telah menghimpun data-data pelecehan dan penghujatan al-Quran di lingkungan UIN/IAIN. Bahkan, di IAIN Surabaya, gugatan terhadap al-Quran sebagai Kitab Suci pernah menghebohkan, ketika seorang dosen di sana, secara sengaja menginjak lafaz Allah yang ditulisnya sendiri. Ia ingin membuktikan bahwa al-Quran bukanlah kitab suci, tetapi merupakan hasil budaya manusia. Kata dosen tersebut: “Sebagai budaya, posisi Al-Quran tidak berbeda dengan rumput.” (Majalah GATRA, 7 Juni 2006). Karena itulah, MUI Riau sangat berkeberatan dengan kehadiran orang-orang seperti Abu Zayd dan antek-anteknya yang secara jelas-jelas telah begitu melecehkan Kitab Suci al-Quran. Pola pikir orientalis Yahudi-Kristen sangat mewarnai tulisan-tulisan di berbagai jurnal, tesis, buku, dan artikel-artikel para penghujat al-Quran tersebut.
Dalam acara ACIS VII ini pun, sekali pun Abu Zayd tidak datang, tetapi buku karya murid kesayangannya, yaitu Dr. M. Nur Kholis Setiawan (dosen UIN Yogyakarta, yang disertasinya diterbitkan dengan judul “Al-Quran Kitab Sastra Terbesar”) yang berjudul “Orientalisme, Al-Qur’an dan Hadis”, telah diproyekkan untuk dibagikan kepada semua peserta ACIS VII. Yang menjadi pertanyaan kemudian, “Apakah relevansinya bagi kemajuan studi al-Qur’an di Indonesia sehingga buku Nur Kholish itu dijadikan proyek untuk dimiliki semua peserta?”
Adalah aneh, jika sosok Abu Zayd yang jelas-jelas menghina dan menghujat al-Quran dan Imam Syafii dalam berbagai karyanya justru dipromosikan pemikirannya oleh Departemen Agama RI. Lebih aneh lagi, pihak panitia ACIS sama sekali tidak menghadirkan pembicara yang mampu mengkritik pemikiran Abu Zayd. Padahal, dalam semboyannya ditulis: “ACIS: Barometer Perkembangan Studi Keislaman di Indonesia”.
MUI Riau memandang aneh dengan semboyan ACIS tersebut, mengingat, selain Abu Zayd, pembicara dari luar negeri yang diundang oleh panitia, tidak ada satu pun yang dikenal oleh umat Islam sebagai ulama-ulama terkemuka, tetapi justru para orientalis Barat dan orang non-Muslim. Mereka adalah: Prof. Mark Woodward, Ph.D., Prof. Ron Lukens Bull, Ph.D., dan Prof. Peter Suwarno, Ph.D yang diundang untuk berbicara tentang Islam.
Prof. Peter Suwarno, Ph.D yang saat ini menjabat sebagai associate director of the School of International Letter and Cultures at Arizona StateUniversity USA, Arizona State University USA, di awal presentasinya mengatakan bahwa dia bukan ahli agama dan tidak tahu banyak tentang Islam. Dia memang dikenal kedekatannya dengan Prof. Abdurrahman Mas’ud yang sering berkunjung ke Arizona. Peter menamatkan S1-nya di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.
Para pembicara seperti itukah yang dikatakan akan dijadikan sebagai “BAROMETER STUDI ISLAM DI INDONESIA?”
Disamping itu, diantara tema-tema yang dibincangkan adalah isu utama dalam paham liberalisme di bidang keagamaan, baik yang dipaparkan secara halus maupun kasar. Di antara tema-tema yang disetujui untuk dilombakan dalam debat di acara pekan ilmiah mahasiswa dalam rangkaian kegiatan ACIS VII adalah sebagai berikut:
- Formalization of Syariah as the Real Enemy of Democracy (=Formalisasi Syariah sebagai Musuh Nyata Demokrasi)
- Ranjau Formalisasi Syariat
- Mendamaikan Syariat Islam dengan demokrasi Pancasila
- Pancasila dalam kepungan formalisasi Syari’ah Islam.
- Menolak Poligami: ditinjau dari berbagai pendekatan
- Pembaharuan Hukum Islam dalam konteks keindonesiaan merupakan suatu keharusan
- Benarkah poligami sebagai sunah nabi?
Ditilik dari tujuannya, sebenarnya ACIS merupakan acara yang bertujuan mulia. ACIS VII ini mengusung tema utama: “Konstribusi ilmu-ilmu keislaman dalam menyelesaikan masalah-masalah kemanusiaan pada millenium ketiga”. Dalam pelaksanaannya, tema utama tersebut dirinci dalam lima bidang yang mencakup:
Islam, politik dan ekonomi global.
Islam dan masalah hak asasi manusia (HAM).
Islam dan masalah pendidikan global.
Islam an hegemoni budaya global.
Islam dan masalah kesehatan, lingkungan dan perkembangan IPTEK.
Oleh sebab itu, harusnya, pihak Depag dan panitia berembuk dengan ulama-ulama Islam lainnya untuk menyusun acara. Bukan malah menghadirkan para pembicara yang sudah dikenal sebagai tokoh-tokoh Liberal, baik di Indonesia maupun di dunia internasional.
Sebagai lembaga pemerintah, harusnya Depag berpikir lebih serius dalam mengembangkan studi Islam di Indonesia, demi kemaslahatan umat dan bangsa Indonesia. Dalam hal pengembangan pemikiran liberal, sikap MUI sudah jelas melalui fatwanya no. 7/MUNAS/MUI/ II/2005 yang mengharamkan penyebaran paham liberal di Indonesia. Juga, pemikiran yang meragu-ragukan keotentikan al-Quran, oleh MUI dimasukkan ke dalam salah satu kriteria ajaran/aliran sesat.
Dewan Pimpinan
Majelis Ulama Indonesia Provinsi Riau
Ketua: Sekretaris Umum
H. Ridwan Syarif H.Fajeriansyah, Lc.
***
Orangnya mati, penghujatannya terhadap Al-Qur’an disusupkan
Orangnya yang ditolak itu kemudian pulang ke Belanda. Namun dikabarkan, sepulang dari Indonesia, Abu Zayd dedengkot penghujat Al-Qur’an itu dikabarkan terkena virus aneh. Akhirnya dia mati.
Terjangkit Virus Aneh, Nashr Hamid Abu Zaid Tutup Usia
Tuesday, 06 July 2010 08:38
Meninggal pada umur 67 tahun. Terjangkit virus ‘aneh’ beberapa pekan setelah ia berkunjung ke Indonesia
Pada Senin pagi (5/7), tepatnya pada pukul 09.00, Nashr Hamid Abu Zaid menghembuskan nafasnya yang terakhir di rumah sakit spesialis As Syeikh Zaid, wilayah 6 Oktober, Kairo, sebagaimana dilansir situs Al Ahram. (Hidayatullah.com–)
Meskipun penghujat Al-qur’an itu telah mati, namun pemikiran rusaknya masih diusung oleh antek-anteknya di Indonesia, di antaranya dimasukkan ke program deradikalisasi, di samping ke perguruan tinggi Islam di Indonesia, karena memang sudah ada muridnya.
Para antek kuffar itu menjalankan misi untuk memerangi Islam tanpa mengingat ayat-ayat yang telah menjadikan sakitnya dada-dada kaum munafiq jaman dulu (maupun sekarang). Dan mereka itu ingin menipu Allah dan kaum mu’minin, padahal justru hanya menipu diri mereka sendiri.
يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (9) فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ (10) وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (11) أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ [البقرة/9-12]
9. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.
10. Dalam hati mereka ada penyakit[23], lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.
11. Dan bila dikatakan kepada mereka:”Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi[24]“. mereka menjawab: “Sesungguhnya Kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.”
12. Ingatlah, sesungguhnya mereka Itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (QS Al-Baqarah: 9-12).
[23] Yakni keyakinan mereka terdahap kebenaran Nabi Muhammad s.a.w. lemah. Kelemahan keyakinan itu, menimbulkan kedengkian, iri-hati dan dendam terhadap Nabi s.a.w., agama dan orang-orang Islam.
[24] Kerusakan yang mereka perbuat di muka bumi bukan berarti kerusakan benda, melainkan menghasut orang-orang kafir untuk memusuhi dan menentang orang-orang Islam.
وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا آَمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الْأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (119) إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ [آل عمران/119، 120]
… apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.
Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. (QS Ali ‘Imran: 119-120).
(nahimunkar.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More