Apa Kata Ulama Sulsel Tentang Doktoral Jalal



 
Komentar Beberapa Ulama dan Tokoh Masyarakat
Terhadap Rencana Pemberian Gelar Doktor Ilmu Agama Islam Melalui Program By Research kepada Prof. Dr. H. Jalaluddin Rakhmat (JR) oleh PPs UIN Alauddin Makassar

1. KHM. Sanusi Baco, Lc  (Ketua MUI Sul-Sel)
a.    Tidak boleh memberikan gelar doktor ilmu agama kepada orang yang meyakini dan menyebarkan pemahaman yang menyimpang, sebagaimana tidak boleh menjual beras ketan kepada orang yang kita tahu akan membuatnya menjadi minuman yang memabukkan
b.    JR adalah ilmuan yang tidak berakhlak karena menjelek-jelekkan para sahabat dan tabi’in (para ulama)
c.     Pihak UIN Alauddin Makassar adalah orang yang tentunya bijaksana dan berpengalaman. Tentunya tidak akan memberikan gelar doktor ilmu agama yang merupakan pujian dan penghormatan serta pengakuan kepada orang yang demikian  itu (JR)

2. KH. Jamaluddin Amin (Penasehat Muhammadiyah Sul-Sel)
Bagaimana bisa sahabat itu dijelek-jelekkan, apalagi Abu Bakar RA yang dipuji Allah sebagai sahabat Nabi saw, sesuai firmanNya: “ Tatkala keduanya didalam gua, tatkala ia berkata kepada sahabatnya, jangan takut, sungguh Allah bersama kita” (S. At-Tawbah: 40)

3. KH. Bakri Wahid (Penasehat Muhammadiyah)
Memang JR itu orang Syiah dan orang Syiah itu terkenal pembohong. Sangat tidak pantas memberi gelar doktor ilmu agama kepadanya

4. Prof. Dr. H.M. Akil (Pembina RS Ibnu Sina UMI)
Bagaimana bisa seorang yang menamakan dirinya cendekiawan muslim, mengetahui hukum-hukum agama diberi kesempatan untuk merusak akidah dan akhlak umat Islam terutama generasi muda dengan menghalalkan nikah mutah.

5. Drs. H. Abd. Rauf Assegaf, M.Ag (Sekretaris NU Sul-Sel)
KHM. Nur adalah guru kami. Kami ikut fatwanya. JR telah menulis yang sangat menyinggung perasaan keagamaan.

6. Drs. Muhammad Alwi Uddin, M.Ag (Ketua PW Muhammadiyah Sul-Sel)
KH. Jamaluddin Amin dan KH. Bakri Wahid adalah penasehat Muhammadiyah, maka tentu ilmu (pernyataannya) patut dipertimbangkan

7. KHM. Zein Irwanto, M. Ag (Ketua NU Sul-Sel)
Kami ikut kepada KHM. Sanusi Baco, Lc, Ketua Dewan Syuriah NU

8. Prof. Dr. KHM. Farid Wajdi (Pimp. Ponpes DDI Mangkoso)
Rencana pemberian gelar doktor ilmu agama kepada JR merupakan bukti keberhasilan kaum orientalis merusak Islam melalui beasiswa belajar Islam dinegara Barat. Sebagian lulusannya tidak bisa lagi membedakan mana perbedaan dalam agama yang bisa ditolerir, mana yang tidak boleh ditolerir. Ajaran Ahmadiyah, Syiah, Pluralisme, Sekularisme, Liberalisme agama tidak boleh dibiarkan karena merusak aqidah dan telah dinyatakan sesat oleh ulama sejak dahulu sampai sekarang, temasuk oleh MUI.

9. Prof. DR. dr. Amiruddin Aliah (Ketua Yayasan Masjid Nurul Amin)
Saya yakin bahwa misi UIN adalah, sebagai lembaga studi Islam, bukan universitas agama, dan agama Islam hanya satu yang sudah sempurna dari RasuluLLAH Muhammad di jazirah Arab, sepatutnya tidak memberi peluang kepada orang yang hanya mencari status S3 untuk popularitas/ dakwah agama lain, orang yang terbukti gemar menyiarkan kebohongan, kepalsuan, dan membawa misi yang akan merusak tatanan Islam yang justru diemban UIN dan bertentangan dengan prinsip ilmiah; menegakkan kebenaran berdasarkan bukti/ rujukan yang benar, bukan rujukan yang palsu/ dibuat-buat. Saya menangkap sinyal adanya imperialisme baru ke negeri/ umat Islam termasuk cendekiawan/ ulama/ dan dunia ilmiah/ PTnya! Hati-hati hukuman Allah ! WaLLAHU a’lam.

10.      Prof. Dr. (Emerius) H. Halide: Program By Research bagi seorang yang sudah bergelar Prof. Dr. itu tidak lumrah, maka UIN Alauddin harus hati-hati meskipun ada rekomendasi dari seorang Dirjen. Dulu Prof. Dr. H. Zainal Abidin Farid (alm), pakar hukum ingin mengikuti program doktoral di bidang lain (Anthropologi) di UI Jakarta, namun Dewan Guru Besar UI Jakarta menolak dan tidak jadi. Yang biasa ialah pemberian gelar doktor honoris causa sebagai penghormatan atas jasa seseorang dalam pengabdian di masyarakat.

11.       “Wasiat” KHM. Nur (alm) di RS Islam Faisal, kira-kira 10 hari sebelum wafat.

Saya ingin beritahu Nasaruddin Umar (Prof. Nasaruddin Umar, Dirjen Bimas Islam); Saya tidak setuju JR jadi doktor di UIN Alauddin. Nasaruddin itu murid saya, dia pernah tinggal di rumah saya dan belajar dengan istri saya.

Pernyataan sebelumnya di rumah beliau di Lanraki Daya’:

a.     Saya sudah lama resah mendengar rencana pemberian gelar doktor ilmu agama kepada JR yang saya tahu penganut dan penyebar ajaran Syiah
b.     Ajaran Syiah bertentangan dengan ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah yang dianut oleh mayoritas kaum muslimin di Indonesia
c.     Haram hukumnya memberi gelar doktor ilmu agama kepada JR
d.     Kewajiban semua ulama menolak rencana pemberian gelar ini
e.     Kewajiban cendekiawan dan kaum muslimin mengikuti dan menghormati fatwa ulama
f.      Jika hal ini terjadi maka kita semua berdosa

12.    Pernyataan Prof. Dr. KH. Muin Salim, kira-kira 7 hari sebelum wafatnya:

a.     Saya pertanyakan apa maksud JR mengambil gelar doktor padahal ia sudah Prof. Doktor.
b.     Kita telah diwanti-wanti Bapak Menteri Agama agar mewaspadai gerakan sempalan (yang telah dinyatakan sesat oleh MUI seperti Pluralisme Agama, Syiah) di perguruan tinggi.


(Ttd H.M. Said Abd. Shamad, Lc)


0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More