Tidak Tertarik Akhwat Syiah



Nikah Mut'ah Menjadi Kebiasaan Kaum Syiah
(Kisah Lanjutan Penelusuran Zahir Nawwab Ke Kantong Syiah)
Saya langsung mengontak teman begitu mendapat undangan peringatan maulid via sms yang diadakan oleh sebuah yayasan Syiah. Saya ingin ada teman agar bisa membantu untuk memantau siapa-siapa saja yang hadir di situ. Namun sayang, ternyata teman saya berhalangan. Dia hanya berpesan, pasang mata tajam-tajam dan hati-hati membawa kamera tersembunyi.

Baiklah, saya akhirnya terjun sendirian lagi. Untuk kamera, saya tenteng biasa, tidak perlu saya sembunyikan. Saya pikir tidak masalah sebab, saya sudah kenal dengan beberapa orang di situ.

Jam Sembilan saya pun tiba di lokasi. Begitu masuk pintu gerbang, salah seorang ustadz muda dan mahasiswa sebuah perguruan tinggi Depok menyambut hangat saya. “Ahlan wa Sahlan ya akhi, kaifa halukum”, sambut pemuda-pemuda syiah di situ sambil memeluk erat saya.


Hmmm….ini memang cara syiah. Begitu lembut, halus dan ramah terhadap seorang yg di‘target’ masuk ke dalam golongannya. Suasana masjid yayasan ternyata sudah ramai oleh para hadirin. Saya berusaha menyerobot agar bisa dapat tempat di depan panggung yang di pasang di hadapan mimbar masjid.

Ternyata acara ini digelar besar-besaran. Masyarakat sekitar yayasan banyak yang hadir, mulai dari Ibu-Ibu, Bapak-bapak sampai anak-anak. Saya cukup prihatin melihatnya. Mereka tidak tahu apa-apa tentang ini.

Saya memang memasang mata tajam-tajam waktu itu. Saya temukan ada tetangga saya sendiri yang hadir. Ada pula beberapa santri di kota saya yang cukup hidmat mengikuti acara tersebut.

Bahkan acara itu dihadiri oleh seorang kepala daerah setempat dan pejabat aparat keamanan. Memang, acara tersebut tidak memperlihatkan identitas syiah secara vulgar. Ceramah yang disampaikan da’i syiah dari Jakarta pun, sesungguhnya tidak menonjolkan ajaran Syiah secara kental. Hanya menyebut keutamaan-keutamaan ahlul bait saja. Itu mungkin yang mencolok.

Tapi yang paling mencolok sesungguhnya bacaan shalawatnya. Mereka menambahi dengan kalimat “Wa aali Muhammad” dibaca tiga kali secara serempak.

Simpatisan syiah dari berbagai kota di Jawa Timur dan Jakarta memenuhi lokasi. Kebanyakan mereka berwajah Arab. Yang akhwat ada yang memakai cadar, ada pula yang tidak.

Sesunggunya akhwat Syiah yang tidak memakai cadar ini cukup mencolok. Mereka keturunan Arab. Ada yang bermata agak kecoklatan. Dalam hati saya berkata: “Kasihan mereka, cantik jelita tapi masuk jurang syiah. Di antaranya pasti ada yang pernah mut’ah (nikah kontrak)”. Saya ingin ambil gambar mereka, tapi tidak jadi, sebab mereka bukan target saya.

Saya pun mencoba iseng mengirim sms ke salah seorang teman. Saya bilang, "Ya akhi, akhwat-akhwat syiah di sini menggoda iman!"

Teman saya malah menjawab, ”Itu kesempatan ente. Coba tawari mereka mut’ah, ente akan tahu jerohan syiah’, hahahaha”. Dasar teman saya, bercandanya keterlaluan.

Bagi saya, mereka sama sekali tidak menarik. Meski mereka cantik, jelita, putih mulus, mata kecokklatan, kerab-araban dan alis menyelurit tapi siapa tahu mereka sudah ‘Seken’ dan tidak ‘ting-ting’ lagi.

Kita tidak tahu mana akhwat syiah yang sudah mut’ah dan mana yang belum. Sama sekali tidak tertarik! Walau ditawari anaknya tokoh syiah yang cantik sekalipun, saya tetap mencintai akidah Ahlus Sunnah Wal Jamaah, yang bersih dari ajaran-ajaran keji itu.

Dalam tradisi syiah, kawin mut’ah (kawin kontrak) adalah keutamaan. Mereka berpegang kepada riwayat palsu buatan ulama syiah: “Barang siapa melakukan mut’ah sekali, maka derajatnya sama dengan Husein. Barangsiapa melakukan mut’ah dua kali, maka derajatnya sama dengan Imam Hasan, dan barang siapa mut’ah tiga kali maka derajatnya sama dengan Imam Ali” (Minhahus Shodiqin halaman 356). Pantas saja di Iran, ratusan bayi tidak diketahui bapaknya hasil hubungan dari nikah mut’ah. Naudzubillah min dzalik!

Dengan begini, masihkah akhwat-akhwat Syiah tidak menyadari ajaran ‘aneh’ ini? (Zahir Nawwab/Alamat Email ada pada redaksi)

1 komentar:

knp kagak cerita klo mu'awiyah juga pelaku nikah mut'ah.

Fath al-Bari Volume 9 pages143-144:
Mu'awiya contracted Mut'ah with a woman from Ta'if and this narration carries a sahih chain.

When Mu'awiya arrived in Taif, he performed Mut'ah with an unnamed slave belonging to Banu Hazrmee called Ma'ana, Jabir states that remained alive throughout Mu'awiya's reign, and he gave her yearly stipends every year
This has been similarly recorded in Musannaf of Abd al-Razzaq Volume 7 p 499.

Fath al-Bari, Volume 9 p. 74 Dhikr Mut'ah:
Those Sahaba of Ibn Abbas from Makka and Mina, remained firm on the position that Mut'ah was Mubah (permissible), and Ibn Hazm said, those that deemed Mut'ah halaal after Rasulullah(s) and remained firm in this position, included Ibn Masud, Mu'awiya, Abu Saeed, Salma wa Majid, Umayya's son, Jabeer and Umar bin Harith, Jabir cited the practise of Mut'ah by the Sahaba during the reign of Abu Bakr and Umar, amongst the Tabieen the jurists of Makkah and Taus and Saeed bin Jabayr and Ata deemed Mut'ah halaal. Those Tabieen that Ibn Hazm quoted on the lawfulness of Mut'ah, carried a Sahih chain, according to ‘Abd ar-Razzaq as-San‘ani

Nayl al-Awtar Volume 6 page 53 (or 153 or 533) chapter Nikah Mut'ah:
Those Sahaba who deemed Mut'ah halaal after Rasulullah(s) were Asma binte Abu Bakr, Jabir bin Abdullah, Abdullah bin Masud, Abdullah bin Abbas, Mu'awiyah, Umro bin Harith, Abu Saeed and Salma binte Umayya. Amongst the Taabi'een who deemed Mut'ah to be Halal were al Taus, Ata and Saed Bin Jabeer.

“Laa hijrata ba’dal Fathi"

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More