Syi'ah Memang Beda

(Khutbah Jum’ at)
Oleh Hartono Ahmad Jaiz
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.
 اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah berkenan memberikan berbagai keni’matan bahkan hidayah kepada kita.

Shalawat dan salam semoga Allah tetapkan untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya yang setia dengan baik sampai akhir zaman.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, mari kita senantiasa bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, menjalani perintah-perintah Allah sekuat kemampuan kita, dan menjauhi larangan-laranganNya.
Jama’ah Jum’ah rahimakumullah, dalam kesempatan yang mulia ini akan kami kemukakan tentang Syi’ah memang beda.
Kaum Syi’ah percaya kepada Aqidah “AL-BADA’”, yaitu hilangnya sesuatu dari pengamatan Allah, kemudian nampak kembali bagi-Nya. (contohnya), Telah disebutkan oleh Ulama mereka, ANNUBAKHTI, bahwa Ja’far bin Muhammad Al Baqir menentukan keimamam anaknya yakni ISMAIL. Ja’far menunjuk kepada (Islmail) itu sewaktu Ismail masih hidup, tetapi Ismail kemudian mati sewaktu ayahnya yaitu Ja’far masih hidup. Oleh sebab itu kata mereka, Ja’far berkata: Tidak ada yang tampak bagi Allah dalam sesuatu hal sebagaimana yang tampak baginya dalam anak saya Ismail. (Kitab Firaqus Syi’ah hal 84).
(Artinya, adalah baru tampak bagi Allah dalam hal Ismail yang tadinya tidak tampak bagi Allah).
Kaum Syi’ah percaya kalau Imam-imam mereka itu ma’shum (tidak dapat lupa, tidak dapat khilaf, tidak dapat berbuat salah dan sempurna semenjak lahir sampai mati), sedangkan Imam mereka Ja’far As shadiq yang menurut mereka ma’shum itu telah menentukan dan menobatkan keimaman anaknnya sendiri yang bernama Ismail, tetapi kemudian Ismail itu meninggal dunia sewaktu ayahnya yakni Ja’far masih hidup. Maka untuk melepaskan diri dari problema “ISHMAH” (kema’shuman) ini, bahwa Imam tidak bisa lupa atau khilaf, mereka mengada-ngada “Aqidah Bada’”, jadi buat mereka BADA’, adalah tampak bagi Allah dalam hal Ismail yang tadinya tidak tampak, jadi buat mereka Allah boleh khilaf, tetapi Imam mereka tidak! (Wal’iadzubillah). (Fatwa Dan Pendirian Ulama Sunni Terhadap Aqidah Syi’ah Oleh : M.O. Ba’abdullah) http://www.syiah.net/2007/10/fatwa-dan-pendirian-ulama-sunni-terhadap-aqidah-syiah-bag-1.html
Dr Arifin Badri dalam makalahnya tentang syiah menyebutkan latar belakang aqidah Bada’ sebagai berikut:
Latar Belakang Munculnya Idiologi Al Bada’.
Bila kita telah mengetahui dengan baik apa maksud dari idiologi Al Bada’, maka mungkin anda bertanya-tanya: Mengapa agama Syi’ah meyakini idiologi yang penuh dengan kontroversial ini? Apa untungnya, agama Syi’ah tetap mempertahankan idiologi ini?
Untuk menjawab pertanyaan ini, maka anda harus kembali mengingat dua penyelewengan sebelumnya, yaitu:
  1. Anggapan bahwa para imam agama Syi’ah mengetahui seluruh hal ghaib.
  2. Keyakinan bahwa para imam senantiasa terhindar dari kesalahan.
Kedua idiologi ini menjadi biang utama dari munculnya idiologi al bada’. Doktrin al bada’ ini oleh agama Syi’ah dijadikan sebagai benteng lapis terakhir untuk mempertahankan dua idiologi mereka tentang para imamnya.
Anda dapat bayangkan, betapa kecewanya perasaan para pengikut Syi’ah, tatkala mendapatkan beribu-ribu ramalan imamnya tidak terwujud. Terlebih-lebih ramalan yang berkaitan dengan sosok imam penerusnya.
Sebagai contoh: Pada mulanya agama Syi’ah meyakini bahwa sosok pengganti Imam Ja’far As Shadiq (imam ke 6-pen ) adalah putranya yang bernama Ismail. Tanpa ragu, merekapun menyebarkan hal ini kepada setiap penganut paham Syi’ah. Sebagaimana, mereka juga merekayasa berbagai riwayat tentang regenerasi ini. Akan tetapi tanpa mereka duga dan kira, Ismail terlebih dahulu meninggal dunia sebelum ayahnya. Menurut anda, kira-kira apa dan bagaimana sikap penganut paham Syi’ah menghadapi fakta ini? Kira-kira bagaimana reaksi mereka dengan berbagai ramalan imam Ja’far As Shodiq yang telanjur mereka ekspos secara luas? Akankah mereka masih dapat mempercayai sepenuhnya berbagai berita /ramalan tersebut.
Kejadian yang sama menimpa ramalan Ali bin Muhammad bin Ali Al Hady (imam ke 10). Agama Syi’ah terlanjur menyebarkan ramalnya: bahwa  yang akan menggantikan kedudukannya sebagai imam adalah putranya yang bernama Muhammad Abu Ja’far. Akan tetapi tanpa diduga dan dikira, Muhammad meninggal dunia sebelum ayahnya. Dengan terpaksa, agama Syi’ah kembali menggunakan tameng al bada’ untuk menenangkan gejolak pengikutnya. Mereka kembali mendoktrin pengikutnya bahwa Allah telah berubah keinginan, yaitu menunjuk Al Hasan Abu Muhammad sebagai calon imam mereka yang ke 11.
Agar pamor imam-imam mereka tidak padam, dan agar para pengikutnya tidak kecewa lalu menggunakan akal sehatnya, maka dicetuskanlah doktrin al bada’.
Tidak hanya cukup sampai di situ, mereka juga mendoktrin pengikutnya untuk benar-benar mematikan akal sehat dan hati nuraninya. Oleh karena itu, mereka menjanjikan pahala berlipat bagi yang berhasil menutup rapat pintu hati nurani dan akal sehatnya. Mereka meriwayatkan dari imam mereka Abu Ja’far alaihissalam ucapan:
إذا حدثناكم الحديث، فجاء على ما حدثناكم ، فقولوا: صدق الله، وإذا حدثناكم الحديث فجاء على خلاف ما حدثناكم به، فقولوا: صدق الله، تؤجروا مرتين.
“Bila kami menyampaikan suatu hadits (kabar), selanjutnya benar-benar terjadi sebagaimana yang kami kabarkan, maka hendaknya kalian mengucapkan: Maha Benar Allah. Dan Bila kami menyampaikan suatu hadits (kabar), selanjutnya kejadiannya tidak seperti yang kami kabarkan, maka hendaknya kalian mengucapkan: Maha Benar Allah, niscaya kalian mendapatkan dua pahala.” (Bihaarul Anwaar oleh As Sayyid Ni’matullah Al Jaza’iry 4/132).
Bagaimana menurut Islam, ibadah paling agung, tetapi keyakinan syi’ah seperti itu?
Dalam Islam, Ustadz Arifin Badri membantah aqidah syiah itu dengan sejumlah ayat, di antaranya Allah Ta’ala telah menegaskan:
]وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ[ الأنعام 59
"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya selain Dia sendiri. Dan Dia mengetahui apa yang di daratan, dan lautan, tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan telah tertulis dalam kitab yang nyata (Al lauh Al Mahfuzh)." (An An'am 59)
Imam Bukhary rahimahullah telah meriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Umar t bahwa Rasulullah r telah bersabda:
(مَفَاتِحُ الْغَيْبِ، خَمْسٌ: ]إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ [ لقمان 34
"Kunci-kunci ilmu ghaib itu ada lima: "Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah ilmu tentang Hari Kiamat, dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada orang yang mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya esok hari. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."  (Luqman: 34)
Dan pada ayat lain Allah lain Allah Ta'ala berfirman:
]قُل لاَّ يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ [ النمل 65
"Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghaib, selain Allah, dan mereka tidak mengetahui bahwa mereka akan dibangkitkan." (An Namel 65).
Jama’ah jum’ah rahimakumullah, telah terbukti aqidah syiah dibangun di atas penentangan dan celaan terhadap Allah Yang Maha Suci. Bahkan para malaikat pun untuk menjawab pertanyaan Allah, ungkapan pertama adalah dengan memahasucikan Allah, dan mengakui ilmu yang dimiliki hanya dari Allah.
] سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَا إِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ[ البقرة 32
 "Maha Suci Engkau, tiada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (Al Baqarah 32).
Makna سُبْحَانَكَ Maha Suci Engkau adalah kami mensucikan Engkau dari apa yang tidak patut dengan keadaan-Mu yang Maha Suci. (lihat Tafsir Abis Su’ud mengenai ayat 32 Surat Al-Baqarah).
Apa yang dilakukan Malaikat dengan memahasucikan Allah Ta’ala itulah yang benar. Kemudian ketika diikuti dengan taat kepada perintah Allah ketika disuruh sujud kepada Adam, maka para malaikat itu tetap dalam keadaan benar. Berbeda dengan Iblis yang membangkang terhadap perintah Allah Ta’ala, dan sombong maka kafirlah Iblis.
Ketika aqidah syiah justru mengotori ke-Maha Sucian Allah Ta’ala dengan sifat yang sangat tidak patut yakni bada’ (tadinya tidak tahu, baru kemudian tahu) itu mengandung berbagai kekurang ajaran, kelancangan, dan pembantahan yang sangat jahat.
Kenapa?
Karena para malaikat saja jelas-jelas hanya punya ilmu dari pemberian Allah Ta’ala. Itu saja mengenai ilmu, bukan mengenai sifat Allah Ta’ala. Sekarang kalau ada kelompok yang mengaku Islam tetapi mensifati Allah Ta’ala dengan sifat yang sangat tercela, dan tanpa keterangan dari Allah, lantas hal itu dari mana?
Ditambah lagi, dianggapnya celaan terhadap Allah Ta’ala itu justru ibadah yang sangat agung. Itu dari mana?
Padahal ibadah itu hanya hak Allah, sedang tata aturannya juga hanya yang dari Allah Ta’ala.
Kepada mereka, walaupun mereka mengaku beriman, namun karena telah berbuat dusta kepada Allah Ta’ala, maka ayat ini pun sangat penting untuk dijadikan peringatan:
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُوَ يُدْعَى إِلَى الْإِسْلَامِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (7) يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ [الصف/7، 8]
 7. dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada Islam? dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.
8. Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”. (QS As-Shaff: 7-8).
Resiko dari perbuatan mereka itu di antaranya telah diancam pula dalam ayat, di antaranya:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّبِعُ كُلَّ شَيْطَانٍ مَرِيدٍ (3) كُتِبَ عَلَيْهِ أَنَّهُ مَنْ تَوَلَّاهُ فَأَنَّهُ يُضِلُّهُ وَيَهْدِيهِ إِلَى عَذَابِ السَّعِيرِ [الحج/3، 4]
3. di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah[976] tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap syaitan yang jahat,
4. yang telah ditetapkan terhadap syaitan itu, bahwa barangsiapa yang berkawan dengan dia, tentu dia akan menyesatkannya, dan membawanya ke azab neraka. (Al-Hajj: 3-4)
[976] Maksud membantah tentang Allah ialah membantah sifat-sifat dan kekuasaan Allah, misalnya dengan mengatakan bahwa malaikat-malaikat itu adalah puteri- puteri Allah dan Al Quran itu adalah dongengan orang- orang dahulu dan bahwa Allah tidak Kuasa menghidupkan orang-orang yang sudah mati dan telah menjadi tanah.
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا  [النساء/115]
115. dan Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu[348] dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS An-Nisaa’: 115)
[348] Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan.
Jama’ah jum’ah rahimakumullah, sudah sedemikian jelas jauhnya kesesatan Syi’ah. Apakah masih ada bisikan syetan pada hati kita  bahwa syiah itu tidak sesat? Semoga saja kita tidak mengikuti langkah-langkah syetan. Karena telah diperingatkan dengan tegas oleh Allah Ta’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (208) فَإِنْ زَلَلْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْكُمُ الْبَيِّنَاتُ فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ [البقرة/208، 209]
208. Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.
209. tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS Al-Baqarah: 208-209).
Yaitu Allah akan menyiksa kamu karena Allah Ta’ala Maha Menang untuk mengatur perkaranya, Maha Bijak dalam mengatur dan melaksanakan janji dan ancaman (siksa)Nya. (lihat Aisarut Tafassir liljazaairi, pada ayat 209 surat Al-Baqarah).
Sekali lagi, masihkah ada bisikan syetan di dada kita bahwa syiah tu tidak sesat?
Semoga dengan penjelasan yang dilandasi dalil yang tegas ini, Allah membuka hati kita dengan memberikan hidayahNya sehingga kita mampu membedakan mana yang haq dan mana yang batil dan diberi kemampuan untuk melaksanakan yang haq dan menjauhi yang batil.  Amien ya Rabbal ‘alamien.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ.
Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}
ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. وَأَقِمِ الصَّلاَةَ.
(nahimunkar.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More