Siksaan kubur ada menurut Ijma’ para ulama


“Makanya di Al Quran yang memuat semua peristiwa penting, tak ada satupun ayat yang bicara tentang siksa kubur, karena siksa kubur memang tidak mungkin ada. Allah Ta’ala adalah teramat sangat adil, mustahil melanggar asas praduga tak bersalah, menyiksa arwah orang jahat di alam kubur, sebelum divonis dulu di Mahkamah Akhirat, dimana hakimnya adalah Allah Ta’ala sendiri (Prof. Achmad Ali, Fajar, 2 November 2011, Hukum & 1001 Masalah Kemasyarakatan, Gubernur dengan 95 Gelar dan Award)
Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah dengan adanya seperti Bapak Prof. Achmad Ali, yang sangat pakar di bidang hukum dan berakidah Islam yang kuat, terbukti dalam beberapa tulisan tulisannya beliau mengeritik Ahmadiyah dan mengeritik Prof. Qasim Mathar yang suka membela-bela aliran yang sesat menurut MUI, seperti Ahmadiyah dan Syiah. Namun yang sempurna itu hanya Allah Ta’ala, terbukti dalam tulisan
diatas beliau secara  sadar telah meniadakan siksa kubur yang telah disepakati oleh para ulama’ (Ijma para ulama) tentang ada dan benarnya siksa kubur. Dan yang disesali karena beliau berani mengklaim tidak ada satu ayatpun dalam Al Quran yang bicara tentang azab kubur. Juga kalimat: (Allah) mustahil melanggar asas praduga tak bersalah, terasa tidak patut
Sebagai suatu pelajaran tentang tingkatan pemahaman terhadap Al Quran yang untuk satu pihak dipahami secara biasa, tapi bagi pihak yang lain , yang lebih ahli, bisa menangkap suatu pemahaman yang tidak dipahami pihak yang lain. Umar ra pernah bertanya kepada para sahabat tentang firman Allah: Idzaa jaa-a nashruLLAAHI wal fathu, apa yang mereka pahami dari ayat ini? Sebagian sahabat diam dan sebagiannya menjawab: Allah memerintahkan kepada kita untuk memuji dan istighfar kepadaNya disaat ia menolong dan memberi kemenangan kepada kita. Berkata Umar ra kepada Ibnu Abbas ra: Apakah demikian pendapatmu?. Berkata Ibnu Abbas ra: Tidak demikian wahai Amirul Mu’minin. Ayat ini merupakan pemberitahuan Allah Ta’ala kepada Nabi saw tentang (dekatnya) ajalnya. Maka Umar ra memuji Ibnu Abbas ra dan berkata: Saya tidak memahami ayat tadi kecuali seperti yang engkau katakan. (Tafsir Ibnu Katsir: 1511). Jadi disini Ibnu Abbas ra dan Umar ra memahami dari ayat tadi, pemahaman yang tidak diketahui oleh sahabat lainnya. Maka dengan demikian jika kita telah membaca seluruh ayat Al Quran, lalu merasa tidak ada ayat yang berbicara tentang siksa kubur, maka tidak boleh kita langsung berpendapat tidak ada ayat tentang siksa kubur. Sebaiknya kita bertanya kepada para ulama sesuai firman Allah: “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (S. An-Nahl: 43)
Beberapa ayat tentang azab kubur
1.      QS. Alif Lam Mim Sajadah ayat: Dan sesungguhnya Kami merasakan  kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali ke jalan yang benar (S. As-Sajadah: 21). Berkata Al Bara’ bin Azib, Mujahid dan Abu Ubaidah: maksudnya (siksa yang dekat) ialah azab kubur (Ma-arijul Qabul: 584)
2.      Dan Firaun beserta kaumnya (pengikutnya) dikepung oleh azab yang amat buruk. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat (dikatakan kepada malaikat); Masukkanlah Firaun dan pengikutnya ke dalam azab yang sangat keras. (S. Al-Mu’min: 45, 46); berkata Ibnu Katsir. Ayat ini landasan yang kuat yang digunakan oleh Ahlussunnah sebagai dalil (adanya) siksa kubur (Tafsir Ibnu Katsir: 1202). Yang demikian itu karena sebelum terjadinya kiamat, Firaun dan pengikutnya telah dikepung oleh azab yang buruk diantaranya arwah-arwah mereka dihadapkan kepada neraka setiap pagi dan petang
3.      Maka biarkanlah mereka hingga mereka menemui hari (yang dijanjikan kepada) mereka yang pada hari itu mereka dibinasakan; (yaitu) hari ketika tidak berguna bagi mereka sedikitpun tipu daya mereka dan mereka tidak ditolong. Dan sesungguhnya untuk orang-orang yang zalim, ada azab selain itu, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS. Ath-Thur: 45-47) Yang dimaksudnya azab yang lain ialah adanya musim kemarau, kelaparan, malapetaka yang menimpa mereka, azab kubur, dll. (Al-Quran dan Terjemahnya. Hal 869. Catatan kaki no: 1428)

Nash-nash sunnah tentang penetapan adanya siksa kubur

Berkata Syekh Hafizh bin Ahmad Al Hukmi: Nash-nash sunnah (hadis) tentang penegasan adanya siksa kubur mencapai tingkat (hadis) mutawatir. Para imam hadis meriwayatkannya dari sejumlah sahabat Nabi saw, di antaranya Anas bin malik RA, Ibnu Abbas RA (dan seterusnya beliau menyebut sebanyak 33 nama sahabat). (Ma’arijul Qabul: 586)

Di halaman lain beliau berkata: “Dan sungguh banyak nash-nash syariat Al Quran dan Sunnah yang saling menguatkan (tentang adanya pertanyaan di kubur, fitnah kubur, siksaan dan kenikmatan di kubur). Para imam Ahlu Sunnah, yaitu para sahabat, tabi’in, dan (imam-imam) sesudah mereka (imam madzhab yang empat), telah sepakat atas yang demikian” (Ma’arijul Qabul: 578)

Di antara dalil hadis tentang siksa kubur yang paling sering kita baca dan amalkan dalam salat sebelum salam ialah: Allahumma inniy a’udzubika min adzaabi jahannama wa min ADZAABIL QABRI wa min fitnatil mahyaa wal mamaati wa min syarri fitnatil masiyhid dajjal (HR. Muslim)
Dan terakhir tentang asas praduga tak bersalah, ini cocok untuk manusia, tapi sangat tidak sesuai untuk Allah Ta’ala Yang Maha Mengetahui, “Sesungguhnya Allah itu, tidak ada yang tersembunyi bagiNya sesuatupun dibumi dan dilangit” (S. Ali Imran:5). “Maka sesungguhnya Dia mengetahui yang rahasia dan yang lebih tersembunyi” (S. Thaha: 7) Jadi karena dalil siksa kubur begitu banyak dan kuat dalam Al Quran dan Hadis, berarti sudah menjadi kehendak Allah adanya siksa kubur. “(Allah) Maha kuasa berbuat apa sesuai apa yang di kehendakiNya” (S. Al-buruj: 16). “Dan Manusia tidak boleh protes atau kurang senang terhadap kehendak Allah. Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuatNya, dan merekalah yang akan ditanyai” (S. Al Anbiya: 23)
Mudah-mudahan dengan keterangan ini, dapatlah kita meyakini tentang adanya siksa kubur, karena dalilnya begitu banyak dari Al Quran dan Sunnah serta Ijma’ para ulama. Wallahu a’lam

H. Muh. Said Abd. Shamad, Lc
(Ketua LPPI Sul Sel. Anggota Majelis Tarjih Muhammadiyah Sulsel.)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More