Sikap Kritis Sebagai Bagian Dari Kepribadian Muslim



Sikap kritis, kebalikan dari sikap apatis adalah langkah awal dari setiap perubahan. Para Nabi dan Rasul, terutama nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah pribadi-pribadi yang kritis dan peka terhadap ketimpangan dan  kezaliman yang ada di sekelilingnya, lalu melaksanakan upaya-upaya perbaikan sehingga terjadilah perobahan. Andaikata para Nabi dan Rasul , dan para tokoh dan pemimpin yang membawahperubahan, memilih untuk bersikap masa bodoh, apatis, tidak peduli dan tidak kritis, maka apalah jadinya dunia ini. 


Perhatikanlah kisah Nabi Ibrahim disaat berkata kepada bapaknya, Azar ; Apakah pantas engkau menjadikan berhala  berhala ini sebagi tuhan sembahan ? Sungguh aku melihat (menilai) mu  dan kaummu dalam kesesatan yang nyata. (QS. Al An’am : 74). Para pemuda Ashabul  juga terusik dengan sikap kaumnya yang menyembah berhala, maka mereka berkata ;  Mereka itu kaum kita yang telah menjadikan selain Allah sebagai sembahan. Mengapa mereka tidak mendatangkan keterangan yang jelas atas perbuatan mereka itu. Maka siapakah yang paling aniaya selain dari pada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah ? (QS. Al Kahfi : 15). Bahkan burung hud-hud pun termasuk makhluk yang mempunyai sifat kritis yang tinggi di saat ia melihat Ratu Bulqis dan kaumnya menyambah kepada matahari, ia segera memberikan laporan kepada nabi Sulaiman AS, sehingga beliau mengambil langkah-langkah dan tindakan yang pada akhirnya Ratu Balqis tunduk menyembah Allah bersama kaumnya (QS. An Naml 23-44). Bahkan ratu semut juga termasuk peka dan kritis terhadap hal-hal yang dapat membahayakan komunitasnya, ketika Nabi Sulaiman dan bala tentaranya melawati wilayahnya, maka ratu semut berseru kepada rakyatnya untuk masuk ke sarangnya agar tidak diinjak olah tentara Nabi Sulaiman, sedangkan mereka tidak sadar (Surat An Naml : 19). 

Dan dapat dipastikan bahwa tindakan amar ma’ruf nahi mungkar yang sangat dianjurkan dalam agama kita adalah buah dari sikap kritis. Amat menarik perkataan Luqman kepada anaknya ; Wahai anakku, dirikanlah sholat dan perintahkanlah kepada yang ma’ruf dan cegahlah yang mungkar  dan bersabarlah atas apa-apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itutermasuk urusan yang diwajibkan (QS. Luqman : 17). Ayat ini memberikan pesan kepada kita, bahwa orang yang mendirikan sholat itu harus peka dan kritis sehingga dapat mengambil langkah langkah perbaikan, yaitu amar ma’ruf dan nahi mungkar. (Juga lihat QS. Al Angkabut :45)
Termasuk dalam masalah ini adalah mengkritisi orang-orang yang mencelah para sahabat  sahabat Rasulullah dan pemutarbalikan kebenaran yang dapat kita lihat dari ceramah-ceramah dan tulisan-tulisan mereka. Dari dalil-dali yang shohih, baik dari Al Qur’an, maupun hadits-hadits kita dapatkan bagaimana Allah dan Rasulnya memberikan pujian kepada para sahabat-sahabat Rasulullah dan begitupun perintah untuk berkudwah kepada mereka dan secara akal sehat, sahabat-sahabat Rasulullah orang yang paling mengetahui kebenaran yang disampaikan kepadanya karena merekalah murid murid langsung Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, mereka beriman kepada beliau, membela beliau, mengorbankan harta dan diri mereka untuk beliau. Allah Azza Wa Jalla berfirman :
مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (29)
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku` dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu'min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. Al Fath : 29)
Diantara sikap meremehkan dan mencelah para sahabat dapat kita pada ceramah dan tulisan mereka seperti apa yang ditulis dan diceramahkan oleh Prof Jalaluddin Rahmat  di UIN, 6 Februari 2009, yang berjudul “Sahabat dalam timbangan Al Qur’an,  sunnah dan Ilmu bahwa :
1.       Umar Ra meragukan kenabian Rasulullah Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam
2.       Para sahabat membantah perintah Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam
3.       Ahli badar dan Uhud tidak membayar zakat
4.       Sahabat menyakiti Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam
5.       Sahabat mengeraskan suara diatas suara Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam
6.       Sahabat melarikan diri dari medan pertempuran
7.       Sahabat lari dari sholat jum’at.
Begitupun pernyataan Prof. Jalaluddin Rahmat pada saat  acara dialog mubalig di hotel horizon, 1 januari 2009, dalam makalah mengatakan bahwa : “ Karena Ahlul Bait dijamin suci dengan firman Allah (QS. Al Ahzab 33), syiah tidak menemukan selain Ahlul Bait              yang    patut mereka patuhi”. Terbukti Umar, Abu Bakar, dan sahabat –sahabat yang lainnya banyak cacatnya, jadi pantas syiah tidak mengakui para sahabat dan tidak mengakui kepemimpinan Abu Bakar, Umar dan Utsman Radiyallah anhum.
Andaikata kayakinan ini tidak disebarkan dan didakwakan, maka hal tersebut tidak  akan kita kritisi walaupun ada kewajiban bagi kita untuk mengingatkan mereka. Namun karena mereka mendakwakan dan menyebarkan pemahaman yang menyimpang tersebut maka hal ini perlu ada diantara komponen umat Islam yang berupaya untuk mencegah mereka , karena akan berdampak kepada generasi yang akan datang. Para ulama mengatakan  : “Kalau ummat yang terakhir ini sudah mencelah umat generasi pertama, maka barang siapa yang mempunyai ilmu hendaklah ia menampakkan ilmunya, karena siapa yang menyembunyikan ilmunya pada hari itu sama dengan menyembunyikan apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Meragukan Sahabat-sahabat Rasulullah, terkhusus lagi sahabat-sahabt yang utama maka sama saja kita meragukan Al Qur’an, hadits-hadits Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan meragukan Islam  , karena yang mengumpulkan, menyebarkan, mendakwakan memperjuangkan Al Qur’an dan hadits adalah para sahabt-sahabat Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Adapun dasar yang dapat kita jadikan pegangan untuk mengkritisi sesuatu dari pemahaman dan pengamalan Agama adalah firman Allah Ta’ala :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللَّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً
Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
Begitupun sabda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam : “Sesungguhnya siapa diantara kamu yang hidup (berumur panjang), maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka ikutilah sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin yang mendapat petunjuk. (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi)

                                                                                                      ( H. Muh. Said Abd. Shamad Lc)
                                                                                                          Ketua LPPI Perw.  Makassar


0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More