Mengapa Kita Menolak Program Doktoral JR di UIN Alauddin Makassar

         


I.              Asumsi terhadap UIN Alauddin dalam sikapnya kepada JR berdasarkan Statutanya;

1.      UIN berlabel Islam sedang Islam sangat menghargai dan memuliakan para sahabat Nabi Muhammad saw sebagai murid langsung beliau yang telah mengorbankan diri dan hartanya, bercucuran air mata, keringat dan darahnya untuk mengamalkan, membela serta memperjuangkan ajaran Islam sehingga tetap eksis berkembang ke pelosok dunia. Maka sangat mengherankan kalau UIN Alauddin memberi peluang emas kepada orang yang suka mencela para sahabat menjadi pembimbing, panutan, Imam dengan gelar doktoral ilmu agama Islam.

2.      UIN pasti tahu bahwa JR itu Syiah, yang banyak mencela-cela sahabat, banyak kebohongannya serta ajarannya termasuk ajaran sesat berdasarkan 10 kriteria aliran sesat MUI. Kalau UIN tidak tahu, maka ini masalah besar bagi UIN. Kalau sudah tahu lalu tetap juga member peluang kepada pelakunya, La haula wala Quwwata illa billah.

3.      UIN pasti tahu bahwa dalam hukum fiqhi, pembohong dan pencela salaf (sahabat dan tabi’in) tidak boleh diterima persaksiannya, apatah lagi akan diberi kehormatan menjadi Doktor dalam ilmu agama Islam. Kalau UIN juga tidak tahu, maka ini juga masalah besar bagi kehebatan intelektual UIN. Kalau sudah tahu, lalu tokoh perbuatan ini malah mau diberi gelar doktor ilmu agama Islam, Wallahul musta’an.

4.      UIN Alauddin pasti tahu bahwa orang yang menjelek-jelekkan apalagi melaknat sahabat dan tabi’in itu berarti menodai dan merusak ajaran Islam, melanggar Al-Quran dan Hadits serta fatwa para Ulama dulu sampai sekarang termasuk MUI dan Depag serta tokoh ulama dan zuama Islam di Makassar.

5.      UIN Alauddin pasti tahu bahwa ajaran Syiah tidak sesuai dengan aspirasi pendiri UMI dan pendiri IAIN Alauddin termasuk yang memilih nama Alauddin untuk IAIN.

6.      UIN Alauddin pasti tahu bahwa ajaran Syiah, Liberalisme, Pluralisme dan Sekularisme adalah ajaran sempalan yang dinyatakan sesat/ menyimpang oleh MUI dan Depag serta Menteri Agama telah mewanti-wanti agar diwaspadai penyebarannya di perguruan tinggi Islam.

7.      UIN Alauddin pasti tahu adanya praktek Nikah Mut’ah dikalangan mahasiswa (i) akibat kajian-kajian Syiah di kampus.

8.      UIN Alauddin pasti tahu bahwa pengikut Syiah di Makassar telah memaki dan melaknat sahabat dan melakukan praktek shalat yang berbeda dari pengamalan umum.


II.      Beberapa Kesalahan UIN Alauddin & Akibatnya:

A.    Beberapa Kesalahan UIN Alauddin

1.      Sengaja menutup mata bahwa JR itu Syiah, yang mencela bahkan melaknat sahabat dan telah nyata  kedustaannya. Dan sepertinya tidak tahu hukum fiqhi Islam terhadap pendusta dan pencela salaf bahwa tidak boleh diterima persaksiannya, apalagi diberi kehormatan sebagai doktor agama Islam.

2.      Sepertinya tidak tahu fatwa ulama dan Edaran Depag serta Fatwa MUI Pusat tentang Syiah, padahal UIN dibawahi Depag, dan cukup banyak pengurus teras MUI Sul-Sel dan MUI Makassar adalah juga guru besar UIN Alauddin Makassar. Dan MUI Bandung tahun 1985 telah mengeluarkan fatwa melarang JR berpidato di Bandung karena Syiahnya. Kalau sudah tahu lalu tetap menyepelekannya maka ini sangat menyedihkan.

3.      Masyarakat Sulsel adalah Ahlus Sunnah, ingin agar anaknya dididik di UIN sesuai akidah Ahlus Sunnah, UIN menerima gaji dari pajak Ahlus Sunnah, UIN dibangun oleh ulama Ahlus Sunnah, kenapa UIN membiarkan bahkan membantu pengrusakan akidah Ahlus Sunnah dengan akidah Syiah dan pluralism seperti sekarang ini?

4.      Mengabaikan visi dan misi UIN Alauddin sendiri sebagai pusat keunggulan akademik dan intelektual yang mengintegrasikan ilmu-ilmu agama dan ilmu pengetahuan dan teknologi dan mengembangkan nilai-nilai akhlak mulia serta mengabaikan Pola Ilmiah Pokok UIN Alauddin yaitu kajian Al Quran-Hadis, perdamaian dan peradaban.

Ø  Mana bukti keunggulan akademik dan intelektual di saat:
1.        Tidak sadar bahwa JR Syiah, pencela salafus shaleh dan pendusta.
2.        Tidak mengerti bahwa Syiah telah dinyatakan sesat oleh ulama dahulu sampai sekarang, termasuk MUI dan Depag. Pencela salaf dan pendusta itu tidak boleh jadi saksi apalagi dinobatkan jadi doktor agama Islam.
3.        Tidak berani terbuka menjawab penolakan masyarakat dengan cara mengemukakan dalil yang kuat tentang kebenaran sikapnya dalam proses doktoral JR dalam suatu forum diskusi.

Ø  Mana bukti pengembangan nilai-nilai akhlak mulia di saat:
1.        Mengabaikan sikap ulama sejak dahulu.
2.        Mengabaikan Edaran Depag dan Putusan MUI
3.        Mendiamkan orang yang berdusta bahkan membelanya padahal kedustaaanya merusak masyarakat
4.        Membela bahkan member gelar penghormatan kepada orang yang akidah dan “fatwa”nya merusak masyarakat
5.        Mengabaikan pernyataan sikap dari para ulama dan zuama di Makassar

Ø  Mengabaikan pola ilmiah pokok UIN Alauddin Makassar karena:
1.        Tidak memberi argumentasi dari Al Quran dan Hadis
2.        Tidak mempertimbangkan perdamaian dan peradaban dalam putusannya
  
B.     Akibat yang Akan Terjadi;

1.         UIN Alauddin telah menodai Islam, melanggar Alquran dan Hadits, mengabaikan peringatan para Ulama sejak dahulu, melecehkan Depag dan MUI dan tidak menghiraukan pernyataan Ulama dan Zuama Islam setempat, serta mengabaikan sejarah UIN Alauddin sendiri.

2.         UIN Alauddin menginjak-injak aturan Fiqhi Islam tentang pembohong dan pencela salaf.

3.         UIN Alauddin ikut memberi andil yang besar dan sangat signifikan akan semakin menyebarnya aliran-aliran sesat di Indonesia.

4.         Pejabat terkait UIN Alauddin telah menyalahgunakan jabatannya untuk memperkuat dominasi aliran menyimpang di UIN Alauddin sendiri, seperti Pluralisme dan Syiah.

5.         Pejabat terkait UIN Alauddin secara sadar atau tidak sadar telah mempraktekkan dan mengemban misi kaum orientalis dan misionaris untuk menyebarkan ajaran-ajaran sempalan agar merusak Islam yang murni (akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah)

6.         Pejabat terkait UIN Alauddin telah ikut membantu penggunaan gelar palsu, memuliakan orang yang di-black list di tempat lain karena penyimpangan akidahnya.

7.         Pejabat terkait UIN Alauddin ikut ambil bagian tersebarnya perbuatan haram, nikah mut’ah dikalangan mahasiswa (i), perbuatan mencela-cela sahabat dan shalat 3 waktu.

8.         Pejabat terkait UIN Alauddin sangat tidak empati, tidak lagi mengenal kearifan lokal dan tidak lagi mau memahami aspirasi masyarakat dari tokoh Islam, Ulama dan Zuama di Makassar.

Dengan demikian maka UIN Alauddin telah melanggar statutanya sendiri!

 III.   Harapan-harapan Kepada UIN Alauddin & Para Ulama, Zuama Islam

1.         Kiranya meninjau kembali kebijaksanaan terhadap program doktoral JR, karena dampaknya sangat besar terhadap:

a.    Instabilitas keamanan dan ketentraman ditengah-tengah masyarakat sekarang dan akan datang.
b.    Menurunnya kredibilitas UIN Alauddin sendiri ditengah-tengah masyarakat Islam
c.    Merosotnya kewibawaan fatwa-fatwa MUI dan Edaran Depag serta saran para ulama dan zuama.
d.   Semakin menyebarnya, praktek-praktek berlabel agama yang menyimpang, seperti: nikah mut’ah, mencela dan melaknat para sahabat, shalat 3 (tiga) waktu, sujud diatas tanah Karbala dll.

Bukankah setiap keputusan (kebijaksanaan itu) selalu diakhiri dengan kalimat: Akan ditinjau kemudian jika ada kekeliruan dan kekhilafan.
                        Allah Ta’ala mengingatkan
-        QS. An-Nisa 4: 85
Barangsiapa yang memberikan syafa'at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. dan Barangsiapa memberi syafa'at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

2.         Marilah kita menyadari posisi kita sebagai pewaris Nabi saw. dengan tugas yang luhur, medorong keberagamaan masyarakat dan mewaspadai hal-hal yang bisa merusak aqidah umat.

3.         Marilah kita tidak segan-segan saling mengingatkan kalau terjadi ketimpangan baik kedalam kalangan sendiri maupun keluar.

Ingatlah Firman Allah:

-       QS. Al Ahzab, 33: 39 Ulama pewaris Nabi, yang tidak boleh segan menyampaikan kebenaran risalah.
(yaitu) orang-orang yang menyapaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. dan cukuplah Allah sebagai Pembuat perhitungan.

-       QS. Al Maidah, 5: 78-79. Ancaman kutukan Allah jika saling mendiamkan kemungkaran.
Telah dila'nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan Munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya Amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.

-            QS. Hud, 11: 116, seharusnya ada orang-orang utama yang selalu melarang kemungkaran terjadi
Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.


Wallahu a’lam.

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More