Pages

Fenomena Aliran Sesat Dalam Timbangan Al-Quran dan As Sunnah




Alhamdulillah, wasyukruillah wash shalaatu wa salaamu ‘alaa rasulillah, wa ‘alaa aalihi wa ashhaabihi wa man waa laah. Amma ba’du.
Sesungguhnya mengenal aliran sesat yang berkembang dalam masyarakat adalah sangat penting bagi seorang muslim, untuk menjaga diri dari padanya dan untuk mengingatkan orang lain agar tidak mengikutinya. Adanya aliran sesat ini termasuk dalam rangkaian upaya syaitan untuk menjerumuskan  manusia ke dalam neraka, sebagaimana peringatan Allah: S. Fathir, 35; 6.
 
Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka anggaplah ia musuh(mu), karena Sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala
Ini tidak mengherankan, karena aliran sesat ini adalah jalan-jalan yang menyimpang dari jalan Allah yang lurus.(Shirathal Mustaqim). Jika shirathal mustaqim akan membawa kita menuju surga, maka jalan0jalan yang lain itu adalah aliran sesat yang akan menjauhkan kita dari surga dan medekatkan ke nereka. Firman Allah; S. Al-An-am,6: 153“dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa”.
عن عبد الله - هو ابن مسعود ، رضي الله عنه - قال : خط رسول الله صلى الله عليه وسلم خطا بيده ، ثم قال : " هذا سبيل الله مستقيما " وخط على يمينه وشماله ، ثم قال : " هذه السبل ليس منها سبيل إلا عليه شيطان يدعو إليه " ثم قرأ : ( وأن هذا صراطي مستقيما فاتبعوه ولا تتبعوا السبل فتفرق بكم عن سبيله .
Berkata Ibnu Mas’ud ra (dalam Tafsir Ibnu Katsir): Nabi saw membuat satu garis dengan tangannya lalu bersabda; “Ini jalan Allah yang lurus”. Kemudian beliau membuat garis-garis disebelah kanan dan disebelah kiri garis lurus tadi lalu beliau bersabda; “dan inilah jalan-jalan yang tiada satupun jalan daripadanyamelainkan ada syeitan atasnya yang mengajak (manusia) kepadanya. Lalu beliau membaca Surah Al An-‘am ayat 153 tadi. (HR. Ahmad 1: 465)
-          Ash-Shirathal Mustaqim.
Dari ayat dan hadis diatas nyatalah adanya ash-shirathal mustaqim, yang merupakan jalan keselamatan dunia dan akhirat, sehingga Allah Ta’ala menyuruh kita berdoa agar diberi petunjuk untuk mengenal dengan jelas dan menetapi jalan tersebut. Bukankah setiap shalat pasti kita membaca surah Al-Fatihah, yang didalamnya terdapat do’a:
Tunjukilah Kami jalan yang lurus,

Di ayat selanjutnya diterangkan tentang jalan lurus yaitu:
  
(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
Mengenai orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, diterangkan dalam S. An-Nisaa’,4: 69
  
dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: para Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh, dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.
Sehingga dapat dikatakan orang yang mendapat nikmat dari Allah ialah orang yang mentaati Allah (dengan mentaati Al-Quran) dan mentaati RasulNya (dengan mentaati sunnah-sunnahnya). Maka ash-shirathal mustaqim ialah Al-Quran dan As Sunnah.
-          Al-Quran dan As Sunnah sesuai pemahaman dan pengamalan salafus shaleh
Al-Quran dan As Sunnah kadang dipahami dengan versi yang bermacam-macam sehingga sehingga timbul pemahaman dan pengamalan yang bermacam-macam, bahkan saling bertentangan satu sama lain. Orang yang berpaham Pluralisme mengaku berdasarkan Al-Quran dan As Sunnah, orang Ahmadiyah, orang Syiah dan lain-lainnya juga demikian. Maka harus ada suatu standar baku untuk memahami keduanya secara benar, ialah jika pemahaman dan pengamalan itu sesuai dengan pemahaman para salafus shaleh, yaitu golongan yang dekat masanya dengan Nabi saw yaitu para sahabat, tabi;in, tabiit-taabiiyn serta para imam yang disepakati ilmu dan akhlaknya seperti imam yang empat; Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’iy, dan Imam Ahmad-rahimallahu ‘anhum ajmain. Hal ini sesuai hadis;
إنه من يعش منكم بعدي فسيرى اختلافا كثيرا، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين  
Sesungguhnya siapa yang hidup diantara kamu maka ia akan melihat perselisihan yang banyak maka ikutilah sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk (HR. Ahmad 4: 126-127 dan Abu Daud 46: 7. Juga hadis:
وستفترق هذه الأمة على ثلاث وسبعين فرقة، كلها في النار إلا واحدة، قيل: من هي يا رسول الله؟ قال: من كان على مثل ما أنا عليه اليوم وأصحابي. وفي رواية: قيل فمن الناجية؟ قال: ما أنا عليه وأصحابي رواه جماعة من الأئمة.

Umat ini akan terpecah belah kepada 73 golongan semuanya dalam neraka kecuali satu golongan.  Dikatakan : siapa mereka ya Rasulullah? Beliau bersabda: Orang yang menetapi apa yang aku lakukan hari ini dan dilakukan sahabatku. Dalam riwayat lain: Dikatakan  siapakah yang selamat? Beliau bersabda: apa yang aku lakukan dan dilakukan oleh sahabatku (diriwayatkan oleh segolongan dari para imam).
Dihadis lain:
‏ ‏خَيْرُ أُمَّتِي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
Sebaik-baik umat ialah pada masaku, kemudian orang-orang (yang datang) berikutnya, kemudian orang-orang (yang datang) berikutnya. (HR. Bukhari, Fathul Baari 7:3 no: 3650, Muslim, 4: 1964. No. 2535)
-          Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Kaum muslimin yang selalu berpedoman kepada Al-Quran dan As Sunnah berdasarkan pemahaman dan pengamalan para salafus saleh, disebut golongan ahlus sunnah wal jamaah. Mereka disebut ahlus sunnah karena komitmen kepada sunnah Nabi saw dan Sunnah para sahabat, dan disebut jamaah, karena ikut kepada jamaah para sahabat. Berkata Ibnu Abbas ra dalam menafsirkan firman Allah S. Ali Imran, 3: 106

ada hari yang di waktu itu ada muka-muka yang putih berseri, dan ada pula muka-muka yang hitam muram.
" يعني يوم القيامة حين تبيض وجوه أهل السنة والجماعة وتسود وجوه أهل البدعة والفرقة قاله ابن عباس رضي الله عنهما "

Yaitu pada hari kiamat, tatkala akan putih berseri-seri wajah-wajah ahlus sunnah wal jamaah dan akan hitam muram ahlul bidah dan firqah. Dikatakan oleh Ibnu Abbas. (Ibnu Abi hatim 2: 464, lihat Al Mishbah Al Munir fiy tahdzib tafsir Ibn Katsir: 273)
-          Perintah berpegangn teguh pada tali Allah dan  larangan tafarruq/ iftiraaq
Firman Allah S. Ali Imran,3: 103  
dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.
Maksudnya: Dan berpegang teguhlah kamu semua dengan kitab dari Tuhanmu dan petunjuk dari Nabimu, dan janganlah melakukan sesuatu yang membawa pada perpecahan (Al-Quranul Karim, The Miracle, hal.124)
-          Perbedaan ikhtilaf dan tafaruq (Iftiraq)
Dalam kitab Dirasatul Firaq, disebutkan: “Sebenarnya ikhtilaf (perbedaan pendapat) adalah sunnatullah yang sudah terjadi sejak umat-umat sebelum kita. Namun ikhtilaf yang membawa kepada iftiraq (perpecahan pen.) itulah yang dicela oleh Allah Ta’ala. Ada beberapa sisi perbesaan antara iftiraq dan ikhtilaf, yaitu:
1.      Ikhtilaf yang terjadi pada masa sahabat, tabi’in, para aimmah dan ulama tidak berakibat kepada iftiraq dan pemusuhan dalam dien/ agama
2.      Iftiraq terjadi pada prinsip-prinsip aqidah, perkara-perkata yang qath’I (jelas), ijma’ (kesepakatan ulama) dan hal-hal yang dapat menyebabkan penyimpangan dari jama ‘atul muslimin dan para imam mereka sementara ikhtilaf tidak demikian
3.      Dalam ikhtilaf, jika seorang berijtihad kemudian salah akan diampuni namun dalam iftiraq tidak demikian
4.      Dalam ikhtilaf, jika berijtihad kemudian benar, maka ia mendapat pahala. Namun dalam iftiraq tidak
5.      Iftiraq selalu berangkat dari hawa nafsu dan kejahilan sedang ikhtilaf berdasarkan ilmu dan taqwa
6.      Iktilaf bisa menjadi rahmat, sementara. Iftiraq adalah sesat dan adzab (hal. 21-22 dengan beberapa perobahan)
Sebab timbulnya firaq dalam Islam.
1.      Ghuluw (sikap berlebih-lebihan). Contoh Khawarij
2.      Membantah bid’ah dengan bid’ah semisal. Contoh, paham Murjiah dan  Mu’tazilah
3.      Pengaruh dari luar Islam, seperti Syiah, Qadiriah, Jahmiah
4.      Mengedepankan akal. seperti Mu’tazilah
5.      Kebodohan yang merajalela
6.      Tidak memiliki standar pemahaman yang benar
7.      Rasa ashabiyah (fanatik golongan)
8.      Kedengkian dan hawa nafsu (Dirasatul Firaq, hal. 23-24 dengan penyesuaian)

-          Beberapa aliran Sesat dalam timbangan Al-Quran dan As Sunnah
Dengan standar pemahaman yang benar yaitu pemahaman dan pengamalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah, yang selalu berpedoman kepada Al-Quran dan As Sunnah berdasarkan pemahaman dan pengamalan salafush shaleh, para sahabat, tabi’in, taabi it taabi-in dan para Imam yang mu’tabar, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi-iy, Imam Ahmad bin hanbal dan sebagainya, maka kita dengan mudah menilai suatu aliran, apakah ia benar atau sesat. Contohnya:
1.      Aliran Ahmadiyah yang mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi sesudah Rasulullah saw. Ini nyata sesatnya, karena bertentangan dengan;
  a.       QS. Al-Ahzab,33:40           
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.
b.      Hadis, sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah terputus, maka tidak ada rasul dan nabi sesudahku (HR. Ahmad 3: 267)
c.       Para sahabat memerangi dan membunuh orang yang mengaku nabi seperti Musailamah al Kadzzab

2.      Aliran Syiah yang tidak mengakui kepemimpinan Abu Bakar ra., Umar ra., Usman ra., dan kahlifah atau penguasa muslim sesudah Ali ra., mereka hanya mengakui Ali ra. dan kedua putranya Hasan ra., dan Husein ra. Mereka menjelek-jelakkan para sahabat dengan tuduhan fasik, kafir, murtad dan sebagainya. Aliran ini nyata sesatnya, karena:
a.       QS. At-Taubah, 9: 100
š  
orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.


b.      Sabda Nabi saw tentang mengikuti sunnahnya dan golongan yang selamat ialah yang mengikuti Nabi dan sahabat ra.
c.       Para sahabat sepakat memilih Abu Bakar ra. lalu Umar ra., lalu Usman ra., kemudian Ali ra., dan Ali ra. pun ikut membaiat dan mentaati serta membantu  khalifah-khalifah sebelumnya. Jika benar Nabi saw. telah menunjuk Ali ra. sebagai khalifah langsung sesudahnya, tidak mungkin para sahabat sepakat mendurhakai Nabi saw, dan tidak mungkin sahabat, terutama Ali ra. mau mendiamkan haknya.
Pluralisme  yang memandang semua agama sama, nyata bertentangan dengan:
a.       QS. Ali Imran, 3: 19 dan 85
¨ 
Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.   
Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

" لا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِيٌّ ، وَلا نَصْرَانِيٌّ فَمَاتَ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

b.      Hadis yang berbunyi: “ tidak ada seorangpun dari umat ini yang mendengar tentang aku, apakah ia Yahudi atau Nasrani, kemudian ia mati dengan tidak beriman kepada apa yang aku diutus dengannya, kecuali ia termasuk penghuni neraka (HR. Muslim 1: 93)
c.       Para sahabat menyebarkan agama Islam ke berbagai penjuru dan mengajak penduduknya untuk ber-Islam, sampai kepada kaum Yahudi dan Nasrani diajak masuk Islam, jika tidak maka harus membayar Jizyah

Pandangan MUI (Ahlus Sunnah Wal Jamaah) Terhadap Faham Sesat[1]
Ada banyak hal yang membuat MUI mengeluarkan fatwa haram memasuki kelompok sesat/sempalan dalam Islam, khususnya yang sekarang ini sedang berkembang di tanah air, seperti faham syi’ah, Islam Jama’ah, Darul Arqam, Aliran Ahmadiyah, Pluralisme, Liberalisme, Sekularisme Agama, Jaringan Islam Liberal (JIL) dan Lain-lainnya. Berkaitan dengan faham sesat tersebut maka Majelis Ulama Indonesia pada tahun 2007 menetapkan tanda-tanda faham sesat, diantaranya:

1.      Mengingkari salah satu rukun iman dan rukun Islam
2.      Meyakini atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’Ii(Al Qur’an dan Sunnah)
3.      Meyakini turunnya wahyu setelah Al Qur’an
4.      Mengingkari autentisitas dan kebenaran Al Qur’an
5.      Menafsirkan Al Qur’an yang tidak berdasar kaidah-kaidah tafsir
6.      Mengingkari kedudukan Hadits sebagai sumber ajaran Islam
7.      Melecehkan / mendustakan Nabi dan Rasul
8.      Meningkari Nabi Muhammad sebagai Nabi dan Rasul terakhir
9.      Mengurangi / menambah pokok-pokok ibadah yang tidak ditetapkan syari’ah
10.  Mengkafirkan sesama muslim hanya karena bukan kelompoknya
Berdasarkan kriteria faham sesat diatas, maka MUI dalam rapat kerja Nasionalnya telah merekomendasikan tentang faham Syiah sebagai berikut:
Faham Syiah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia. Perbedaan itu diantaranya:
1.      Syi’ah menolak hadis yang tidak diriwayatkan oleh Ahlul Bait, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak membeda-bedakannya asalkan hadis itu memenuhi syarat ilmu mustalah hadis
2.      Syi’ah memandang “Imam” itu ma’sum (orang suci) sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandangnya sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan (kesalahan)
3.      Syi’ah tidak mengakui ijma’ tanpa adanya “Imam”, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengakui Ijma tanpa mensyaratkan ikut sertanya “Imam”
4.      Syi’ah memandang bahwa menegakkan kepemimpinan/ pemerintahan (imamah) adalah termasuk rukun agama, sedangkan Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) memandang dari segi kemaslahatan umum dengan tujuan keimanan adalah untuk menjamin dan melindungi da’wah dan kepentingan ummat.
5.      Syi’ah pada umumnya tidak mengakui kekhalifaan Abu Bakar as-Siddiq, Umar Ibnul Khattab, dan Usman bin Affan, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengakui keempat Khulafa Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali bin Abi Thalib)
Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti tersebut diatas, terutama mengenai perbedaan tentang “Imamah” (pemerintahan), Majelis Ulama Indonesia mengimbau kepada ummat Islam Indonesia yang berfaham Ahlus Sunnah wal Jama’ah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasari atas ajaran “Syi’ah”
Beberapa data LPPI Perw. IndTim tentang Prof. Jalaluddin Rakhmat (Ketua Dewan Syuro IJABI, kelompok berpaham Syiah):
I.            Ajaran yang dianut dan disebarkan Jalaluddin Rakhmat (selanjutnya disingkat JR) adalah ajaran yang telah direkomendasikan oleh MUI (7 Maret 1984) sebagai ajaran menyimpang yang bertentangan dengan ajaran Ahlussunnah yang dianut oleh mayoritas kaum muslimin Indonesia, sehingga perlu diwaspadai.[2] Dan ajaran yang disebarkan JR dan kelompoknya, termasuk pemahaman sesat, sesuai kriteria ajaran sesat yang diputuskan oleh MUI (th. 2007).[3] Juga surat Edaran Depag  1983 tentang Hal Ikhwal Mengenai Golongan Syi’ah menyebut ajaran Syiah tidak sesuai dan bertentangan dengan ajaran Islam.[4]
Pantaskah tokoh ajaran Syiah ini malahan di beri gelar doktor ilmu agama oleh UIN Alauddin Makassar? Dengan demikian JR lebih bebas dan legal menyebarkan ajarannya.  Menurut ketua MUI Sul-Sel KHM. Sanusi Baco, Lc: ini sama halnya dengan  menjual beras ketan kepada orang yang akan membuatnya menjadi minuman yang memabukkan.

II.            Ketidakjujuran JR, dengan memanipulasi dalil untuk menguatkan pendapatnya serta berani mengada-ada, yaitu:
-          JR telah menulis buku “Al-Mushthafa”, makalah “Adalah Sahabat” dan bulletin “At-Tanwir” ternyata didalamnya terdapat kebohongan, ketidakjujuran bahkan menunjukkan kebodohan JR sendiri, contoh:
1.      Dalam buku Al Mushthafa hal, 92, JR menyebutkan riwayat Aisyah ra bahwa ketika Rasulullah Saw wafat , Abu bakar ra berada di Sunh, suatu tempat kira-kira beberapa puluh kilometer diluar kota madinah. Ternyata jaraknya hanya 1 (satu) mil dari masjid Nabawi (Fathul bari, Jilid VII, no.36). ini dusta dan penipuan JR
2.      Al Mushtafa, hal. 92, JR menulis; kontradiksi perilaku Rasulullah saw dalam salatnya. Dalam hadis Bukhari no 713 tersebut: Rasulullah jalasa ‘an yasaari Abi Bakr, duduk disebelah kiri Abu Bakar. Dalam hadis no. 683 fa jalasa Rasulullahi hidzaa-a Abi Bakr, Rasulullah saw duduk dihadapan Abu Bakar ra. Dalam hadis no. 664 Rasulullah saw duduk disebelah kanan Abu Bakar ra. Masih dalam shahih Bukhari dan hanya diantarai oleh beberapa halaman saja. Ini kontradiksi, satu hidza’a (dihadapan) satu ‘an yasaari (disebelah kiri) dan riwayat satu lagi ‘an yamiini (disebelah kanan), Pada hal. 93, JR mengatakan: jadi kalau kita menemukan hadis-hadis yang seperti itu, maka dengan terpaksa kita meragukan kebenaran peristiwa itu terjadi; dalam peribahasa Belanda dikatakan bahwa kebohongan tidak punya kaki, ia goyah. Berbohong itu sukar dan kebohongan biasanya hanya bisa dipertahankan melalui kebohongan. Karena itu dalam berita bohong dengan mudah kita temukan inkonsistensi.  Dalam ilmu hadis,  inkonsistensi riwayat-riwayat seperti itu disebut sebagai idhthirab. Hadisnya disebut mudhtharib dan hadis mudhtharib termasuk hadis dhaif. Sebetulnya apa yang kita lakukan ini tidakmengada-ada karena para ulamapun sudah melakukannya sejak lama. Demikian paparan JR,
Sepintas lalu data ini sangat meyakinkan apalagi ditopang dengan ilmu mushthalah hadis yang akurat. Ternyata ini juga kedustaan, penipuan serta keberanian mengada-ada. Ternyata JR mengartikan hidza’a Abi Bakr, duduk di hadapan Abu Bakar, dengan sengaja membuang kata “ilaa janbih” karena hadis itu berbunyi: hidzaa’a Abi Bakr ilaa janbih (Nabi saw duduk sejajar Abu Bakar ra di sampingnya). Dan yang paling fatal, keberanian mengada-ada dengan kata: ‘an yamiini (disebelah kanan) katanya pada hadis no. 664. Padahal yang tertulis dihadis no. 664, ialah hatta jalasa ilaa janbih (sehingga ia duduk disampingnya), sama sekali tidak terdapat kata ’an yamiyni. Naudzubillah

3.      Dalam buku Al Mushthafa, hal. 166, JR menulis; jadi asumsi kita selama ini bahwa Usman memiliki keistimewaan dua cahaya karena dia memiliki dua orang istri yang keduanya putri Rasulullah, terpaksa harus kita mansukh (hapus). Dua orang itu ternyata dua putri asuh (rabiybah Rasulullah). Juga JR menulis pada hal 164, memang ada Ruqayyah yang menikah dengan Usman. Juga ada Ummu Kaltsum yang menikah dengan Usman. Tapi semuanya lahir sebelum bi’tsah. Padahal, ahli tarikh sepakat bahwa putri-putri Rasulullah  lahir setelah bi’tsah. Juga JR menulis alasannya dengan mengutip kitab riwayat dari kutub al Ansab, hal 157 dan 158, oleh Mash’ab Al-Zubairi (terlampir) kesimpulan dari riwayat tersebut Ruqayyah dan Zainab yang menikah dengan Usman bin Affan ra bukan putri-putri Rasulullah (hal. 165)
Astaghfirullah, JR begitu berani membantah sesuatu yang sudah disepakati kaum muslimin (ijma’ para ulama  dari dahulu sampai sekarang. Yang menjadi pertanyaan: 1. Ahli tarikh siapa yang sepakat bahwa putri-putri Rasulullah lahir setelah bi’tsah. 2. Kenapa JR tidak mengutip dari dari Az-Zahabi (1274-1348) yang mengakui Usman ra sebagai suami dari dua putri Nabi saw (terlampir). Atau Ibnu Saad yang menulis dalam bukunya; Thabaqaat Al Kubraa, Jilid 3 hal 56; Nabi saw menikahkan Usman dengan putrinya Ruqayyah. Lalu Rukayyah meninggal dunia, maka Nabi saw menikahkannya dengan putri beliau yang kedua yaitu Ummul Kaltsum, lalu iapun meninggal dunia, maka Usman disebut dzun nurain (mempunyai dua cahaya). Karena belum ada seseorang yang menikahi 2 putri Nabi sebelumnya dan sesudahnya kecuali Usman ra. Bersabda Rasulullah saw setelah Ummu Kaltsum pun wafat; Andaikata aku mempunyai putri yang ketiga, niscaya aku nikahkan dia dengan Usman (Jaulah Taarikhiyyah fiy Ashri al Khulafa’ al Rasyidin, oleh Dr. Muh. Sayyid al Wabil, hal. 305)Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muadz bin Jabar: sesungguhnya Usman orang yang paling serupa denganku, akhlaknya, bentuk dan penampilannya. Dialah dzun nurain, aku menikahkannya degann dua putriku. Dia di surga bersamaku seperti ini, dan Nabi saw menggerakkan telunjuk dan jari tengahnya (Tarik A’lam al Shahabah, 52 Shadiq Muhammad Jumaliy). Inilah hadis dan riwayat ahli sejarah yang terkenal dan dipercaya, maka nampaklah ketidakjujuran JR

4.      Dalam kitab Al Mushthafa hal 138 JR menuls: Sufyan disebutkan oleh Al-Dzahabi dalam Mizaan I’tidal sebagai ; “Innahu yadallis wa yaktubu minal kadzdzaabin, ia melakukan tadlis dan meriwayatkan dari para pendusta. Ternyata disini tampak lagi kecurangan JR dan melakukan pembodohan publik, karena ternyata dalam kitab yang dikutipnya. tertulis; wa laa ibrata liqauli man qaala: innahu yadallis wa yaktubu an al-kadzdzaabiin. Artinya: dan tidak perlu diperhatikan perkataan orang yang mengatakan: (Sufyan) melakukan tadlis dan meriwayatkan hadis dari para pendusta.Jadi yang digelapkan dan dibuang oleh JR, kata: wa laa ibratah liqauli man qaala..” sehingga artinya berbalik 180 derajat.La haula wala quwwata illa billah.

5.      Muawiyah ra menurut JR didalam buku “ Al Mushthafa “ adalah seorang yang curang,  licik, kejam, biadab, pendengki, termasuk dengki kepada  Nabi saw, fasik, kafir, telah dilaknat oleh Nabi saw.

Di hal. 9 JR menulis:  Muawiyah berusaha mengubah tarikh Nabi saw dengan meyebarkan versi tarikh mereka dan membungkam versi tarikh lain. Masih di halaman yang sama JR menulis; pada waktu itu, yang paling menderita adalah penduduk Kufah karena kebanyakan dari mereka adalah pengikut imam Ali as. Lalu Muawiyah menugaskan Ziyad bin Sumayyah untuk memerintah di Kufah berikut Basrah. Ia mengenal orang-orang Syiah karena pada zaman Ali ia pernah bergabung sama mereka. Ia mengejar Syiah dan membunuh mereka disetiap lembah dan bukit, meneror mereka, memotong tangan dan kaki, mencungkil mata, menyalibnya pada batang pohon kurma dan mengusir mereka sehingga tidak tersisa salah seorangpun dari mereka.

Pada hal. 11 JR menulis; kemudian Muawiyah  menerbitkan lagi surat perintah keseluruh negeri, selidikilah orang-orang yang terbukti mencitai Ali dan Ahlul Baitnya. Hapuskan nama mereka dari daftar. Putuskan tunjangan mereka. Bersama surat perintah ini Muawiyah melengkapinya dengan naskah yang lain. Siapa yang kalian curigai mencintai kaum tersebut, hukumlah dia dan hancurkan rumahnya.

Pada halaman. 13 JR menulis, Muawiyah berusaha mendiskreditkan Rasulullah saw dan keluarganya karena ada kaitannya dengan Bani Hasyim. Dia menyewa beberapa ulama atau mufti dari para sahabat Nabi untuk memutar balikkan peristiwa tentang Rasulullah.

Pada hal 16 JR menulis; Muawiyah berkata: ….lalu tengoklah saudara Hasyim. Namanya disebut lima kali sehari-Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah. Lalu tindakan apa lagi yang masih kita lakukan? Tidak demi Allah sampai mati sekalipun. Pada hari yang lain Muawiyah mendengar azan. Ia berkata; demi Allah, wahai putra Abdullah, engkau betul-betul ambisius. Hatimu belum puas sebelum namamu didampingkan bersama nama Tuhan Alam Semesta (maksudnya Muawiyah tidak senang dan geram mendengar nama Nabi saw selalu disebut-sebut dikala adzan dikumandangkan) (penj.). Muawiyah ingin menghapuskan semua hal yang berhubungan dengan Nabi saw. Ia  gagal. Tapi ia berhasil mendiskreditkan Nabi saw dengan kisah kisah yang diciptakan oleh pengikutnya

Pada hal 24, JR mengutip perkataan Ibn Abi al Hadid: “ Banyak diantara sahabat kami mengecam agama Muawiyah. Mereka tidak hanya menganggapnya fasik, bahkan ada yang mengatakan bahwa dia kafir karena tidak meyakini kenabian

Pada hal 73-74, JR menulis; lalu siapakah yang pernah dilaknat oleh Rasulullah saw? Tidak mungkin disini kita menyebut semua orang yang dilaknat Nabi saw. Sebagai contoh Rasulullah saw pernah melaknat Abu Sufyan, Muawiyah dan Amr bin Ash. Setelah Nabi saw meninggal dunia mereka menjadi penguasa. Ketika menyebar hadis yang melaknat mereka, mereka keluarkan hadis bahwa yang dilaknat Nabi saw itu akan memperoleh ampunan, rahmat dan pensucian Allah. Dalam shahih Muslim diriwayatkan kutukan Rasulullah kepada Muawiyah, “Semoga Allah tidak pernah mengenyangkan perutnya”. Konon ia mati karena kebanyakan makan. Bandingkan keterangan JR ini dengan tulisan Muhibbuddin al Khatib dalam bukunya; Maa al Ra’iyl al Awwal, hal. 176-179 dan hal 212 (terlampir) dimana disebutkan kelebihan dan pujian terhadap Muawiyah ra dengan tetap meyadari bahwa ia adalah manusia biasa yang ada kesalahan dan kekeliruannya. Didalam tulisan tadi disebutkan tentang  Muawiyah ra :
a.       Muawiyah ra dan tentaranya yang telah meyerang dan merebut Ciprus pada tahun 27 H yang dimasa pemerintahan Utsman ra. telah dilihat Nabi saw dalam mimpinya sebagai umatnya yang akan berjuang dijalan Allah dengan mengarungi laut (HR. Bukhari) (hal 176)
b.      Umair bin Sa’ad ra melarang membicarakan Muawiyah ra kecuali dengan baik karena beliau yang telah didoakan Nabi: Ya Allah berilah petunjuk (manusia) dengannya. (hal 177)
c.       Berkata Saad bin Abi Waqqash: “ saya tidak melihat seseorang sesudah Utsman yang paling (baik) memutuskan (perkara) berdasarkan kebenaran, lebih dari pada pemilik pintu ini (Muawiyah) (hal 177)
d.      Abu Darda ra berkata kepada penduduk negeri Syam; saya tidak melihat seseorang yang shalatnya menyerupai shalat Nabi lebih dari shalatnya imam kamu  ini (maksudnya Muawiyah) (hal 177)
e.       Berkata Abdullah bin Abbas ra: Saya tidak melihat seorang laki-laki yang paling pantas menjadi raja , lebih dari Muawiyah (hal. 178)
f.       Ibn Abbas ra berkata; Dia itu faqih (dia maksudnya Muawiyah ra). ( hal 178)
g.      Nabi saw mendoakannya. Ya Allah jadikanlah ia (dapat) memberi petunjuk, yang ditunjuki dan berilah petunjuk dengannya (HR. Tirmidzi) (hal. 178)
h.      Nabi saw mendoakannya; Ya Allah, ajarkanlah kepadanya kitab dan hisab serta jagalah ia dari azab (HR. Thabrani), dan dalam riwayat Bisyr bin as Sirry, ditambah (doa tadi) : dan masukkanlah ia ke dalam surga. (hal. 178)
i.        Berkata Abdullah bin Amr bin Ash ra; Saya tidak melihat seseorang yang paling pandai memerintah lebih dari Muawiyah ra. Berkata Jabalah bin Sahim; aku berkata: Dan tidak juga Umar  ra (lebih pandai memerintah dari Muawiyah ra?). ia berkata : Umar ra lebih baik dari Muawiyah ra, tapi Muawiyah ra lebih pandai memerintah dari Umar ra (Ibnu Katsir dalam tarikhnya) (hal. 179)
j.        Berkata Qatadah: Andaikata kamu berada dalam kekuasaanya (Muawiyah ra), maka kebanyakan kamu akan berkata: “inilah al Mahdi” (HR. Abu Bakar al Atsram dari Ibnu Baththah.) (hal. 179)
k.      Berkata Mujahid : Andaikata kamu mendapati (pemerintahan) Muawiyah ra, niscaya kamu akan berkata: “inilah al Mahdi” (HR. Ibnu Baththah) (hal. 179)
l.        Berkata al A’masyi: Bagaimana andaikata kamu  mendapati Muawiyah. Mereka berkata: tentang kelembutannya?, Ia berkata: tidak, demi Allah, bahkan tentang keadilannya (HR. al Atsram.) hal 179
m.    Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: tidak ada di antaraa raja-raja Islam yang lebih baik dari Muawiyah ra dan tidak pernah manusia pada pemeritahan satu raja dari  raja-raja islam yang lebih baik dari pada manusia pada pemerintahan Muawiyah ra (hal. 179)
n.      Imam Mujahid Abdullah bin Mubarak (118-177 H) ditanya: mana yang lebih mulia, Muawiyah bin Abi Sufyan ra atau Umar bin Abdul Aziz? Beliau menjawab: Debu yang masuk ke dalam hidung Muawiyah bersama Rasulullah SAW lebih utama dari seribu Umar bin Abdul Aziz. Muawiyah telah shalat di belakang Nabi SAW, lalu Rasulullah SAW membaca sami’allahu liman hamidah lalu Muawiyah ra berkata: Rabbana walakal hamdu, maka adakah kemuliaan yang lebih tinggi dari ini? (hal. 212)
Mana yang kita pilih, apakah keterangan para Ulama’ yang terkenal dan jujur dengan ditopang oleh dalil yang kuat ataukah pendapat JR dalam bukunya “Al Musthafa” dari sumber yang tidak terkenal dan tidak ditopang dalil yang tidak kuat?. Belum lagi kalau kita melihat ayat al Quran, surat al Fath, 29, bahwa sahabat itu ibarat bibit tanaman yang ditanam dan dirawat Nabi SAW, dengan pertumbuhan yang sangat menyenangkan beliau dan menjengkelkan orang-orang kafir ? Bukankah Muawiyah ra termasuk sahabat yang dididik langsung oleh Nabi SAW dimana beliau sangat gembira melihat hasil didikannya. Bukankah Ia dipercaya oleh Khalifah Umar ra dan Utsman ra sebagai gubernur di Syam? Kita akui bahwa ia bersalah karena berperang melawan Khalifah yang sah Ali ra, namun setelah ia menerima kekuasaan dari Hasan bin Ali ra, maka sisa hidupnya ia gunakan untuk memimpin kaum muslimin menuju kemakmuran hidup dan berjihad menyebarkan agama dan mengibarkan bendera islam di berbagai penjuru dunia. Muawiyah ra telah berhasil menghimpun kekuatan kaum muslimin sehingga dapat membangun kekuasaan Islam yang paling besar dalam sejarah Islam. Mulai dari tembok Cina di sebelah timur sampai ke perbatasan Eropa, sebelah barat.
6.      Dalam buku “40 masalah Syiah” halaman 90, Emilia Renita, istri JR menulis: dengan merujuk kepada sabda Nabi SAW; “Fathimah belahan nyawaku, siapa yang menyakiti Fathimah, dia menyakitiku; siapa yang membuat murka Fathimah, ia membuat aku murka” (Shahih al Bukhari 5, hadits 3 dan 61; Shahih Muslim 4: 1904-1905) ) dan menurut Al Quran, Allah melaknat orang yang menyakiti Rasulullah saw, maka Syiah melaknat orang-orang yang menyakiti Fatimah.
Dr. Tijani dalam bukunya: Akhirnya Kutemukan Kebenaran berkata; kenapa beliau (Umar) tidak takut kepada Allah  ketika mengancam akan membakar rumah Fatimah ra jika orang-orang yang didalamnya tidak mau keluar untuk membaiat (Abu Bakar ra),.ketika dikatakan padanya bahwa Fatimah ada didalamnya, ia menjawab “sekalipun dia ada” (hal 115) dihalaman lain Dr. Tijani menulis : Fatimah ra juga pernah berkata kepada Abu Bakar dan Umar demikian: aku minta persaksian dari Allah kepada kalian berdua, apakah kalian tidak mendengar Rasulullah saw bersabda ; Keridhaan Fatimah adalah keridhaanku dan kemarahan Fatimah adalah kemarahanku. Siapa yang mencintai putriku Fatimah, maka dia telah mencintaiku, siapa yang membuat Fatimah rela maka ia telah membuatku rela , siapa yang membuat Fatimah marah, maka ia telah membuatku marah, “ ya kami telah mendengar dari Rasulullah saw” jawab mereka berdua. Lalu Fatimah ra berkata lagi: Sungguh, aku minta pesaksian Allah dan para malaikatNya bahwa kalian berdua telah membuatku marah dan tidak rela. Jika kelak aku berjumpa dengan Rasulullah saw maka pasti kusampaikan keluhanku padanya (ibid hal. 140)
Tentang Fatimah marah dan murka kepada Abu Bakar dan Umar, juga dikemukakan oleh JR dalam buku kecil yang berisi ceramah Asyuro bahwa: Fatimah telah marah kepada Abu Bakar karena Abu bakar tidak memenuhi permintaan Fatimah atas tanah Fadak yang diakui oleh Fatimah sebagai warisannya dari Nabi saw, jadi yang dimaksud oleh Emilia Renita tersebut diatas ialah Abu Bakar dan Umar itu dilaknat oleh Syiah, karena telah menjadikan Fathimah marah kepadanya.

III.            Penegasan Syaikh Al Azhar, Dr. Ahmad Thayyib:
-          Kami tidak akan membiarkan perangkap Syiah bagi pelajar/ mahasiswa sunnah yang menyebabkan mereka beralih menjadi Syiah,yang pada akhirnya menimbulkan bentrok fisik.
-          Kami akan berhadapan bagi setiap usaha menyebarkan mazhab Syi’ah di negeri Islam sebagaimana Iran menghalangi usaha apapun menyebarkan mazhab Sunni di Iran (terlampir 3)

IV.            Dalam kitab “Al Fiqhu al Islamiy wa Adillatuhu” oleh Dr. Wahbah al Zuhailiy, jilid VII hal .567 disebutkan: ‘Tidak boleh diterima persaksian orang yang menampakkan sikap memaki para salaf seperti sahabat dan tabi’in karena sudah nampak kefasikannya, berbeda dengan orang yang menyembunyikannya, karena dia itu fasik

V.            Para ulama sangat tegas sikapnya terhadap orang yang mencela-cela, memaki apalagi melaknat para sahabat, terlebih lagi para Khulafaur Rasyidin. Mereka sepakat menghukumnya, apakah dengan mendera, memukul dengan cambuk, bahkan membunuhnya jika yang dimaki-maki atau dilaknat itu Abu Bakar RA dan Umar RA .[5]


VI.            Sebagai tambahan, kami lampirkan makalah, buletin, surat kabar  dan buku yang memuat pernyataan JR dan istrinya bahwa:
1.      Umar meragukan kenabian Rasullah saw
2.      Para sahabat Nabi saw membantah perintah Nabi saw
3.      Para sahabat merobah-robah agama.
4.      Para sahabat Nabi saw murtad
5.      Siapa yang tidak mengenal imam mati jahiliyah.
6.      Amr bin Ash (sahabat yang berjasa meng-Islam-kan  Mesir), ibunya mengandungnya dari hasil promiskuitas. Tidak jelas bapaknya. Kemudian empat orang Quraisy berunding diantara mereka dan ditetapkanlah sebagai bapaknya orang yang paling buruk nasabnya dan paling jelek kedudukannya. JR menulis: Engkaupun tahu dan merekapun tahu bahwa engkau pernah mencemooh Rasulullah saw dengan tujuh puluh bait puisi. Nabi saw bersabda: “Ya Allah, aku tidak mengatakan syair dan syair tidak pantas bagiku. Ya Allah, laknatlah dia untuk setiap harap yang dia tuliskan seribu laknat. Karena itu, engkau mendapat laknat dari Allah yang tidak terhitung” (Al-Mushthafa, 15). Ber-akhlak-kah JR dengan pernyataan seperti ini? KHM. Sanusi Baco, Lc mengatakan ini tidak berakhlak.
7.      Nikah mut’ah memang boleh saja dalam pandangan agama karena masih di halalkan oleh Nabi SAW. Dan apa yang dihalalkan oleh Nabi SAW, maka itu berlaku sampai hari kiamat (Harian Fajar, 25 januari 2009) meskipun dikatakan oleh JR: IJABI melarang nikah mut’ah. Dengan pernyataan ini beberapa mahasiswa yang dibina oleh kelompok JR telah terpengaruh melakukannya karena dianggap sunnah Nabi SAW yang sangat dianjurkan dan berdosa jika tidak dilakukan (bisa jadi kafir)

PENUTUP
Dari keterangan diatas kita dapat mengetahui tentang aliran sesat, penyebabnya dan bahayanya. Sebagaimana kita selalu mewaspadai adanya peredaran uang palsu yang akan menimbulkan kerugian bagi pemiliknya, maka kitapun harus lebih waspada adanya aliran sesat karena akan menimbulkan penyesalan di dunia apalagi di akhirat. Hal ini digambarkan dalam Al-Quran; Surah Al Baqarah, 2: 166-167
166. (yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.
167. dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: "Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami." Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.













[1] Makalah Prof. Dr. H. Minhajuddin, MA, Ketua Komisi Fatwa MUI, disampaikan dalam Diskusi Panel 5 Feb 2011, di gedung Mulo Jl. Ratulangi Makassar
[2] Himpunan fatwa MUI. 2010.  hal: 48-49
[3] Makalah Pandangan Ulama Sunni(Ahlussunnah Wal Jamaah) tentang faham Syi’ah, Prof. DR.H. Minhajuddin, MA, 2011, hal. 4-5
[4] Edaran Depag, no. D/ BA. 01/ 4865/1983. Hal. 4-5
[5] Dar-u al Ghawiyah an al Waqiiah fiy Khal al Mu’miniin Muawiyah, Ibnu Mumammad bin Ali al Qahthaniy, riyadh, 1420 H, hal: 26-27

catatan: makalah ini disampaikan dalam acara tabligh akbar di LUWU dengan mengundang Ust Muh Said Adb Shamad, Lc (LPPI Makassar)  sebagai pemateri

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar