Berdusta Atas Allah


Beda Iman tapi Seagama
“ Dan janganlah mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidah kamu secara dusta ini halal dan ini haram, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (itu adalah) kesenangan yang sedikit dan bagi mereka azab yang pedih “ (S. An-Nahl,116-117)
Ayat ini didahului dengan petunjuk Allah agar kaum muslimin memakan rezkiNya secara halal dan baik. Namun diantara yang diciptakanNya itu,  ada yang diharamkan yaitu bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembeih dengan menyebut nama selain Allah. Maka selain yang diharamkan oleh Allah dan rasulNya, tidak ada seorangpun yang berhak mengharamkan. Jadi dengan ayat diatas, Allah melarang kaum muslimin mencontoh perbuatan kaum  musyrikin yang membuat-buat sendiri ketetapan  halal dan haram pada makanan, tanpa dalil.
Perbuatan menetapkan “ini boleh dan ini tidak boleh” tanpa dalil adalah membuat kedustaan atas Allah, yang diancam siksa yang pedih. Jika terhadap makanan saja, yang pada dasarnya diciptakan untuk manusia, kita dilarang membuat-buat ketetapan hukum sendiri, maka apatalagi jika penetapan itu berkaitan dengan masalah aqidah agama, maka tentunya lebih terlarang lagi, jika tidak mempunyai dalil yang kuat dan benar. Penulis yang banyak menimbulkan  kontroversi  jika menulis tentang masalah aqidah agama Islam ialah Prof. Qasim Mathar, penulis kolom Jendela Langit, harian Fajar. Pada hari selasa(23/11/10), misalnya, Prof. Qasim menulis; Beda Agama tapi Seiman, sebagai kutipan dari kata sambutan Uskup Agung Makassar Monseur Dr. John Liku, ahad lalu dalam pelantikan Ikatan Ikatan Sarjana Katolik Indonesia Sul-Sel. Uskup Agung mengatakan; saya dan dia (Prof. Qasim) seiman walau beda agama.
Menurut  Prof. Qasim Mathar ungkapan ini tentu benar dengan alasan; ada ungkapan Al-Quran bahwa orang-orang beriman itu bersaudara. Al-Quran (secara tekstual) tidak mengatakan orang-orang Islam itu bersaudara. Dengan demikian Al Quran mengenalkan ungkapan , Ukhuwah Imaniah atau persaudaraan seiman. Alasannya, menurut Prof. Qasim, karena keimanan itu bisa mencakup agama yang berbeda. Misalnya keimanan kepada Tuhan , iman kepada hari akhirat dan beberapa lagi keimanan lainnya yang ada pada beberapa agama yang berbeda. (Jendela Langit, Harian Fajar selasa 23/11/2010).
Yang meresahkan dari tulisan ini karena sepanjang yang kita kenal dari tulisan para ulama yang mu’tabar dalam dunia Islam,seperti Imam mazhab yang empat atau ulama nasional seperti KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asyari, Prof. Hasbi Ashshiddiq, Prof. Hamka, maupun ulama lokal seperti KH. Asad, KH. Abdullah, KH. Abd.Jabbar Ashiri, KH. Ambo Dalle, KH. M.Nur tidak pernah mengatakan orang Islam dan non-muslim  itu seiman. Jadi seharusnya Prof. Qasim mengeluarkan pendapat berdasarkan para ulama Islam, bukan dari pemuka  agama lain, karena ini masalah aqidah  Islam dan ditulis untuk pembaca yang mayoritas umat Islam. Selanjutnya:
1.      Iman dalam Islam dengan iman non-muslim itu jauh berbeda; iman dalam islam percaya Allah, satu-satunya yang disembah dan di tempati  berdoa, tidak beranak dan tidak tidak diperanakkan. Sedang iman agama lain percaya kepada Tuhan Bapak, Tuhan Anak dan Ruhul Kudus. menyembah dan berdoa kepada selain Allah. Maka dalam Al Quran disebutkan:
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam", Padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.
Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga", Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. Al-Maidah,5; 72-73.

2.      Orang-orang arab jahiliyah juga mengakui dan beriman bahwa pencipta langit dan bumi itu adalah Allah, namun mereka tetap dicap sebagai musyrik, karena disamping itu mereka menyembah dan berdoa kepada berhala-berhala. Apakah dengan alasan mereka sama-sama mengakui Allah sebagai pencipta langit dan bumi, lalu ada persaudaraan seiman dengan mereka? Firman Allah:
Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka akan menjawab: "Semuanya diciptakan oleh yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui" S. Az- Zukhruf, 43:9

3.      Sedang masuk Islam saja belum tentu sudah seiman, bagaimana mungkin seiman dengan yang tidak masuk Islam? Didalam suatu surah, Allah menggambarkan dua jenis manusia yang masuk Islam; ada yang sudah mengakar iman dalam hatinya, sehingga merasa cinta dan nikmat beriman dan beramal shaleh, bahkan berkorban dan berjuang sekalipun. Tapi ada juga yang sudah masuk Islam, namun iman belum masuk dihatinya. Firman Allah
Tetapi Allah menjadikan kamu 'cinta' kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.S.Hujurat,49;7 dan firman Allah;
Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi Katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu. S. Al Hujurat,49; 14. Bukankah keduanya telah masuk Islam?tapi berbeda imannya. Jadi yang benar, beda iman tetapi seagama bukan beda agama tapi seiman.
4.      Dalam bahasa Arab, ayat: Innamal Mu’minuna Ikhwah (Sesungguhnya orang orang beriman itu bersaudara), kata Al-Mu’minuna disini, didahului dengan Al yang disebut Al Ta’rif , yang artinya orang-orang beriman yang sudah dikenal dengan ciri dan sifat-sifat tertentu, bukan orang beriman sembarangan, yang sekedar mengaku beriman
5.      Jika kita mau ikut Nabi saw, maka beliau itu mengajak Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani) masuk Islam, dan memperingatkan mereka tentang bahaya apabila tidak masuk Islam. Bukan malah membenar-benarkan mereka, apalagi menganggap agama mereka benar dan diterima juga oleh Allah,karena sikap ini tidak sesuai dengan pernyataan Al-Quran:
Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Ali Imran,3:19.
Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. Ali Imran,3: 85.

Di dalam Al-Quran nabi Muhammad saw diperintahkan mengajak ahlul kitab masuk Islam.;
Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al kitab dan kepada orang-orang yang ummi: "Apakah kamu (mau) masuk Islam". jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya. Ali Imran,3: 20.


Perintah ini dilaksanakan oleh Nabi saw dengan mengirim surat kepada penguasa non-muslim, seperti Heraklius yang beragama Nasrani; Islamlah agar kamu selamat, jika tidak, maka kamu berdosa dan akan memikul dosa rakyatmu.

Dengan pemahaman dan ungkapan ”Beda Agama, tapi Iman” dan “Persaudaraan Seiman” Prof.Qasim ingin mengajak kaum muslimin kepada pendapat dan sikapnya bahwa:
a.       Boleh mengucapkan selamat natal
b.      Boleh menghadiri acara natal
c.       Boleh nikah lintas agama
d.      Boleh saling mewarisi lintas agama
Yang hukumnya telah diharamkan oleh para ulama, dan termasuk MUI Pusat. Maka berhati-hatilah “berfatwa” yang bisa berakibat “berdusta atas Allah” karena akan berakibat buruk di dunia apalagi di akhirat. Semoga bermanfaat.

(H.M. Said Abd. Shamad, Lc. Ketua LPPI Makassar)


0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More