Beberapa Bukti Manipulasi dan Kecurangan Ilmiah Jalaluddin Rakhmat (Edisi Revisi)






      
 
Beberapa Bukti Manipulasi dan Kecurangan Ilmiah
Jalaluddin Rakhmat

Sebelum kami memulai pembahasan ini ada baiknya kami kutipkan komentar atau peringatan beberapa ulama mengenai aliran Syiah;
a.       Imam Malik (w. 179 H)
Imam Malik ditanya tentang Rafidhah (nama lain dari Syiah,pent), Imam Malik menjawab: “Jangan kamu ajak mereka bicara dan jangan pula kamu meriwayatkan (hadits) dari mereka, karena sesungguhnya mereka itu suka berdusta”  (Minhaj al Sunnah, Juz 1, hal 13)
b.      Imam Syafi’i (w. 204 H) 
      “Saya belum pernah melihat para pengikut hawa nafsu yang lebih berani berdusta dalam setiap pengakuannya dan lebih berani bersaksi dusta dari pada Rafidhah” (al Ibanah al Kubra, Juz 2, hal 545)
c.       Al Qadhi Abu Yusuf (w. 182 H)
      “Saya tidak shalat di belakang orang Jahmiyah, Rafidhah, dan tidak juga di belakang orang Qadariyah!”  (Syarh Ushul I’tiqad Ahlu Sunnah, Juz 4, hal 733)
d.      Syekh Musthafa al Shiba’i

“Rafidhah itu merupakan aliran sesat yang paling banyak dustanya!” (al Sunnah wa Makanatuha fi al Tasyri’, hal 79)

e.       Al Khalil

“Rafidhah memalsukan ± 300.000 hadits mengenai keutamaan Ali dan Ahlu Bait” (al Sunnah wa Makanatuhan fi al Tasyri’, hal 81)

Berikut kami paparkan beberapa bukti manipulasi dan kecurangan “ilmiah” Jalaluddin Rakhmat:

1.      Sahabat Merobah-robah Agama?

Di dalam bulletin al Tanwir (bulletin dakwah mesjid al munawwarah), terbitan yayasan al Muthahhari, edisi no. 298, terbit tanggal 27 Desember 2009, JR menulis sebagai berikut: “Ada seorang sahabat lain yang namanya Al Bara’ bin Azib, ia dipuji orang: beruntung engkau sempat berjumpa dengan Nabi saw. kata Al bara’, ‘boro-boro beruntung, kamu tidak tahubahwa kami sudah mengubah-ubah agama sepeninggal Nabi.’ Itu kata Al bara’, seorang sahabat yang jaraknya dengan Rasulullah saw. masih sangat dekat. Jadi, sepeninggal Nabi, agama sudah banyak berubah. Dan hal seperti ini pun sebenarnya sudah pernah disebutkan Nabi ketika beliau masih hidup.”

Kemudian ia melanjutkan di paragraf berikutnya; “Di dalam Shahih Bukhari dan juga dalam Shahih Muslim, nabi bercerita tentang hari kiamat. ‘nanti pada hari kiamat-kata Rasulullah-aku akan menunggu di telaga al Kautsar, kemudian datanglah kepadaku serombongan orang yang mengenalku dan aku mengenal mereka. Begitu dekat tiba-tiba mereka ditarik lagi dan aku berteriak, ‘ini sahabatku, ini sahabatku’, lalu dikatakan kepadaku: “kamu tidak tahu bahwa mereka sudah mengubah-ubah agama sepeninggalmu.” ’ lalu Rasulullah saw. bersabda: ‘semoga dijauhkan dari kasih sayang Allah buat orang-orang yang mengubah-ubah agama sepeninggalku.’ ”

Tanggapan:

JR tidak mengambil penjelasan dari para ulama tentang hadis tersebut, sehingga menimbulkan pemahaman menyimpang.
Berikut  Keterangan Beberapa Ulama Mengenai Pemahaman Hadist Tersebut;
   ( وأوصيكم بأصحاب نبيكم ، لا تسبوهم ، وهم الذين لم يحدثوا بعده حدثا ، ولم يأتوا محدثا ، فإن رسول الله (صلى الله عليه وآله ) أوصى بهم. ) الأمالي ، الشيخ الطوسي ، ص 522 – 523

1.         "Aku berwasiat kepada kalian tentang para sahabat Nabi kalian. Jangan cerca mereka. Karena mereka tidak melakukan suatu perubahan apa pun terhadap agama setelah Nabi saw. Mereka juga tidak mendatangkan orang yang melakukan perubahan. Dan Rasulullah saw. juga berwasiat seperti itu tentang mereka."[1]
2.         Hartabi menyatakan tidak ada sahabat yang murtad, orang yang murtad dalam hadist tersebut ialah orang arab pegunungan yang tidak tercatat sebagai penolong agama. Tidak termasuk sahabat yang mahsyur.[2]
3.         Imam Nawawi menyatakan bahwa maksud hadis tersebut ialah merujuk kepada orang munafik dan murtad. Pemahaman tentang orang yang diusir dalam hadis tersebut adalah hal yang diperselisihkan  oleh para ulama, pendapat ulama terbagi tiga, yaitu:
·      Orang tersebut adalah orang munafik yang mereka juga mengambil wudhu sehingga di tangan dan kaki mereka ada bekas wudhu.
·      Orang yang dimaksud adalah orang yang beriman pada masa Nabi saw, namun setelah beliau wafat mereka murtad (wafat dalam keadaan bukan islam).
·      Orang yang berdosa besar atau bid’ah (yang tidak mengeluarkan dari Islam) dan meninggal dalam tauhid.
4.         Kubaisah menyatakan bahwa orang yang dimaksud dalam hadis tersebut adalah orang murtad di zaman Abu Bakar yang kemudian diperangi dan mati dalam kekafiran.
5.         Al Khattabi menyatakan maksudnya ialah suatu kaum dari arab badui yang tidak dikenal bantuan mereka dalam agama, hal ini tidak mengurangi kemuliaan sahabat yang mahsyur.
6.         Ibn Hajar dalam al fathi (fath-al bari) menerangkan bahwa maksud hadis tersebut ialah kaum arab badui yang masuk islam karena harapan tertentu dan hanya takut.
Jadi, dalam pemahaman para ulama kita, hadis tersebut tidak merujuk kepada sahabat Nabi saw. atau kepada khulafaur Rasyidin seperti Umar RA yang dituduh JR telah merobah agama dengan bid’ah. Dan apakah masuk akal jika Nabi saw. gagal dalam mendidik sahabatnya sehingga menjadi murtad, sebaliknya Jalaluddin Rakhmat berhasil men-Syiah-kan orang Islam?! Bagaimana mungkin mereka membela Nabi pada saat susah dan senang, serta menyerahkan segenap jiwa dan hartanya, lalu mereka murtad dan merobah-robah agama setelah kematian Nabi saw tanpa sebab?!

2.      Umar meragukan kenabian Rasulullah saw. dan para Sahabat membantah perintah Nabi saw?
            Disebutkan dalam makalah ‘adalah shahabah, sahabat dalam timbangan Al Quran, Sunnah, dan Ilmu, tulisan Jalaluddin Rakhmat; “Umar meragukan kenabian Rasulullah saw” kemudian di paragraf selanjutnya dalam makalahnya tersebut ia menukil riwayat dari Tafsir Al Durr Al Mantsur karya Imam Jalaluddin Al Suyuthi sebagai berikut; “Al Durr al-Mantsur 7:527-532 meriwayatkan hadits yang panjang tentang protes para sahabat terhadap perjanjian ini. Di antara yang protes dengan penuh kemarahan adalah Umar bin Khattab. Kita dengarkan ia bertutur; ‘Demi Allah, belum pernah aku meragukan (kenabiyan Rasulullah saw) sejak aku Islam kecuali hari itu. Aku mendatangi Nabi saw. Aku berkata: Bukankah engkau Nabi Allah?”
kemudian pada halaman 7 dari makalahnya tersebut ia menulis sebagai berikut; “kita lanjutkan laporan Umar bin Khattab: ‘setelah Rasulullah saw menyelesaikan penulisan surat perjanjian itu, beliau berkata kepada para sahabatnya: “bangunlah, sembelihlah qurban dan bercukurlah”. Demi Allah tidak seorang pun di antara para sahabat yang bangun sampai ia mengatakannya tiga kali. Ketika tidak seorang pun berdiri, beliau masuk ke tempat Ummu Salamah. Ia mengadu kepadanya tentang apa yang ia hadapi dari orang banyak. Ummu Salamah berkata: “Ya Nabiyyallah, apakah engkau ingin mereka melakukannya?” Beliau berkata; benar. Ummu Salamah berkata: “keluarlah dan jangan berbicara dengan seorang pun di antara mereka sampai engkau menyembelih hewanmu dan memanggil tukang cukurmu untuk memotong rambutmu.” Lalu Nabi saw berdiri keluar dan tidak berbicara pada seorang pun sepatah kata pun sampai ia melakukan penyembelihan dan memotong rambut. Ketika melihat Nabi berbuat seperti itu, mulailah mereka bangun dan menyembelih, serta satu sama lain saling mencukur rambut sehingga hampir-hampir mereka saling membunuh’. ”
Tanggapan:
1.      Banyak sekali ulama kaum muslimin yang meriwayatkan kisah-kisah tentang Shulh al-Hudaibiyah, di antaranya Imam Jalaluddin Al Suyuthi di atas, Imam Bukhari, Imam Muslim, Ibnu Katsir, dan banyak lagi ulama yang tidak harus kita sebutkan di sini semuanya. ulama-ulama kaum Muslimin tersebut tidak memakai pemahaman dan penafsiran seperti yang dipakai Jalaluddin Rakhmat yang sebenarnya sangat keliru.

2.      Umar bin Khattab berharap ada ayat atau surat yang turun mengenai “kegelisahannya” tersebut, dan terbukti setelah itu turun surat Al Fath (pembebasan kota makkah) dan bahkan di dalam surat tersebut ada ayat yang menyebutkan tentang keridhaan Allah terhadap semua sahabat yang ikut berbaiat kepada Nabi dalam peristiwa shul al hudaibiyah tersebut, marilah kita baca terjemahan ayat mulia tersebut; “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat” (QS. Al Fath: 18), Allah azza wa jalla sudah ridha terhadap semua sahabat yang ikut dalam baiat ridhwan pada peristiwa shul al hudaibiyah, dan Umar termasuk pelaku sejarah Shulh al Hudaibiyah, Al Quran yang memuat kalam Allah tersebut tidak akan pernah berubah, keridhaan Allah tak mungkin berubah menjadi murka dan laknat kepada Umar bin Khattab sampai hari kiamat, karena Allah Maha Mengetahui yang ghaib dan mengetahui hakekat keyakinan Umar bin Khattab sehingga turunlah ayat tersebut untuk melindungi beliau dari tuduhan orang-orang seperti JR yang rapuh bagaikan sarang laba-laba.

3.      Tidak ada sama sekali riwayat yang menyebutkan Nabi Muhammad saw marah kepada Umar bin Khattab dan tidak ada sama sekali pernyataan para sahabat yang menyebutkan keraguan Umar bin Khattab akan kenabiyan Rasulullah saw! kecuali kalau riwayat palsu dan tidak ada asalnya yang dibuat-buat lagi oleh orang Syiah.

4.      Kegelisahan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu dan “membantahnya para sahabat” tersebut bukan karena imannya yang rendah sehingga ia ragu akan kenabiyan Rasulullah saw, mereka gelisah (bukan ragu) seperti itu karena beberapa alasan, di antaranya sebagai berikut:

a.         Umar, seluruh sahabat, dan tentunya Nabi Muhammad saw sudah sangat rindu dengan Makkah, negeri dan kampung halaman mereka yang sudah tujuh tahun mereka tinggalkan untuk hijrah ke madinah dan selama itu negeri mereka dikuasai oleh kaum musyrikin. Sehingga ketika mereka dihalangi masuk makkah, mereka shock, bingung dan enggan menerima perjanjian damai tersebut (yang dalam salah satu klausul perjanjiannya menyebutkan; tidak diizinkannya kaum muslimin untuk memasuki Makkah pada tahun itu).

b.         Janji Nabi saw kepada para sahabat bahwa mereka akan datang ke baitullah dan thawaf di sana, oleh karena itulah Nabi Muhammad saw ditanya oleh Umar dan seakan-akan beliau berkata bahwa engkau adalah Nabi, engkau adalah utusan Allah, kitalah yang berada di atas al haq, kitalah yang harusnya menang dan kitalah yang harusnya kuat dan perkasa, namun kenapa kita harus menerima perjanjian damai itu? Bukankah kami sudah berbaiat kepadamu untuk menumpas mereka sampai kita menang?, pertanyaan Umar yang seperti itu bukanlah bentuk keraguan terhadap kenabiyan Rasulullah saw. namun itu dikarenakan dorongan keimanan yang memuncak.

c.         Setelah Umar menerima jawaban dari Nabi saw dan Abu Bakar bahwa memang betul Nabi sudah pernah menjanjikan para sahabat akan memasuki makkah, berziarah ke baitullah, dan thawaf di sana, tapi bukan tahun ini (tahun terjadinya shulh al hudaibiyah), maka menjadi tenanglah hati Umar.



5.      Sikap Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu tersebut bukanlah sebuah keraguan! Buktinya adalah kisah kekasih Allah, Ibrahim alahis salam di dalam surat Al Baqarah sebagai berikut; “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: ‘Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati’. Allah berfirman: ‘belum yakinkah kamu’  Ibrahim menjawab: ‘Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku menjadi tenang (dengan imanku)’. Allah berfirman: (kalau demikian) ‘ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya’. Allah berfirman: ‘lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera’. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al Baqarah: 260)

Apakah dalam ayat ini kita akan simpulkan bahwa Nabi Ibrahim ragu kepada Allah?, Nabi Ibrahim bertanya seperti itu adalah karena dorongan keimanannya yang kuat dan karena kedekatan hubungannya dengan Allah subhanahu wa ta’ala.

6.      Jalaluddin Rakhmat memotong-motong atau tidak menyempurnakan riwayat kisah tersebut, sehingga yang dimunculkan hanyalah “keburukan-keburukan” para sahabat, ada beberapa kejadian dari peristiwa itu yang sengaja ia tidak masukkan ke dalam makalahnya tersebut. Di antaranya adalah kisah Ali bin Abi Thalib[3] yang “membantah” perintah Nabi Muhammad saw ketika diperintah oleh Nabi saw untuk menghapus kalimat ‘Muhammad utusan Allah’ dalam surat perjanjian damai, untuk kemudian diganti menjadi ‘Muhammad anak Abdullah’.

Jika kita (misalnya) mengikuti pola pikir JR, maka tentu tuduhan itu juga berlaku untuk Imam utama mereka, Ali bin Abi Thalib. Hasil akhirnya, kepercayaan kita terhadap Sahabat dan Ahlul Bait akan hilang, lalu akan dikembalikan kepada siapa mata rantai ajaran Islam yang kita anut?? Dan Apakah tindakan memotong-motong riwayat suatu peristiwa bisa dikatakan sikap obyektif?

Inilah yang (sengaja) disembunyikan oleh JR untuk mempropagandakan paham syiah dan mendikotomikan antara Sahabat dan Ahlul Bait. Pendikotomian inilah yang sebenarnya menyulut perpecahan umat.

Oleh karenanya, kita perlu membaca peristiwa tersebut dengan utuh dan seksama sehingga tidak menimbulkan pemahaman yang keliru.

Sekali lagi, Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib berbuat demikian bukan karena mereka ragu terhadap Nabi saw. atau sengaja ingin membantah perintah Nabi saw. namun itu mereka lakukan karena tingginya keimanan mereka dan kedekatan mereka dengan Nabi Muhammad saw.


3.      Nikah Mut’ah Halal?

Di dalam buku “40 Masalah Syiah” karya Emilia Renita Az[4] (editor; Jalaluddin Rakhmat) yang merupakan buku pedoman dakwah untuk anggota IJABI[5] (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia)[6] dikatakan bahwa nikah mut’ah itu halal/ boleh.[7] Namun dalam wawancara khusus dengan wartawan harian Fajar[8],  Jalaluddin Rakhmat mengeluarkan pernyataan yang ambivalen[9] tentang nikah mut’ah, di dalam wawancara khusus tersebut ia menegaskan larangan nikah mut’ah bagi anggota IJABI bahkan bisa dipecat dari keanggotaan IJABI jika terbukti melakukan praktek nikah mut’ah.

Pernyataan yang saling bertentangan itu juga terbukti di media massa, dalam wawancara khusus dengan wartawan harian Fajar, minggu, 25 Januari 2009, Jalaluddin Rakhmat mengatakan; “Nikah Mut’ah memang boleh saja dalam pandangan agama karena masih dihalalkan oleh Nabi saw. dan apa yang dihalalkan oleh Nabi saw. maka itu berlaku sampai kiamat”.

Namun di kemudian hari Jalaluddin Rakhmat mengeluarkan pernyataan yang bertolak belakang dengan apa yang telah ia sampaikan di Harian Fajar tadi. Lewat ketua umum IJABI Sul-Sel, Syamsuddin Burhanuddin menyampaikan bahwa Jalaluddin Rakhmat membantah menghalalkan Nikah Mut’ah (Tribun Timur, selasa, 19 Juli 2011), dengan redaksi; “Prof Dr Jalaluddin Rakhmat membantah dirinya penyebar pemikiran yang condong mengkafirkan sejumlah sahabat utama Nabi dan menghalalkan nikah mut’ah (kawin kontrak)”

Tanggapan:
1.      Nikah Mut’ah sudah diharamkan oleh Nabi saw., MUI pun telah mengeluarkan fatwa tentang keharaman Nikah Mut’ah tersebut dengan berbagai pertimbangan[10] yang sesuai dengan kaidah ilmiah, sesuai dengan tuntunan ilmu Syari yang benar dan berbagai pertimbangan kemaslahatan bagi umat, di antaranya sabda Nabi saw. yang berbunyi: “Wahai manusia, aku pernah membolehkan kamu melakukan (nikah) mut’ah dengan wanita. Kemudian Allah telah mengharamkan hal itu sampai hari kiamat. Oleh karena itu, jika masih ada yang memiliki wanita yang diperoleh melalui jalan mut’ah maka hendaklah ia melepaskannya dan janganlah kamu mengambil sedikitpun dari apa yang telah kamu berikan kepada mereka” (HR Muslim)

Maka, apakah kita akan meremehkan penjelasan (Fatwa) para ulama kita, yang telah mengerahkan segala potensi Ilmu dan itikad baiknya kepada umat, hanya dengan sekedar pandangan seorang ilmuan komunikasi yang juga memiliki itikad yang kurang baik?

2.      Jalaluddin Rakhmat telah berdusta (Taqiyah) di Harian Fajar, minggu, 25 Januari 2009, ia katakan halal, namun di Harian Tribun Timur, selasa, 19 juli 2011, ia membantah menghalalkan.

3.      Sudah banyak mahasiswa dan mahasiswi yang mempraktekkan nikah mut’ah karena doktrin ajaran Syiah.[11] Yang di antara doktrinnya disebutkan bahwa nikah mut’ah sangat dianjurkan untuk dijalankan karena termasuk Sunnah Rasulullah saw. dan hal demikian dipertegas dalam hadits-hadits Syiah yang mengatakan bahwa apabila tidak menjalankannya akan berdosa bahkan bisa dianggap golongan kafir!

4.      Fathimah melaknat Abu Bakar dan Umar?
Pembaca budiman, salah satu aqidah atau keyakinan yang ditanamkan oleh Agama Syiah adalah memisahkan manhaj (metode beragama) golongan Ahlul Bait (keluarga Nabi Muhammad saw.) dengan Golongan Sahabat sebagai bagian yang sangat penting dalam mata rantai silsilah riwayat agama ini dan menganggap sahabat itu kaum pembangkang dan kaum yang pantas dilaknat karena “dosa-dosa mereka”.
Di antara tuduhan Jalaluddin Rakhmat  yang merupakan salah satu tokoh penyebar dan pengusung ajaran Syiah di Indonesia adalah menganggap Sahabat Nabi Muhammad saw. sekaliber Abu Bakar sebagai orang yang sudah dilaknat, ia menukil sebuah kisah “permusuhan antara Abu Bakar dan Umar dengan Fathimah” di dalam bukunya Meraih Cinta Ilahi, dengan redaksi sebagai berikut; “Dalam Ibn Qutaibah, Al Imamah wa Siyasah, diriwayatkan pengakuan para sahabat tentang hadis ini: Fatimah bertanya kepada Abu Bakar dan Umar: ‘Kami minta kalian bersaksi demi Allah, apakah kalian mendengar sabda Rasulullah saw, Ridha Fathimah adalah ridhaku, murka Fathimah adalah murkaku. Barang siapa mencintai Fathimah, ia telah membahagiakanku. Barang siapa membuat Fathimah marah, ia telah membuatku marah juga?’ keduanya menjawab: ‘Benar, kami mendengar Rasulullah saw berkata seperti itu’. Fathimah kemudian berkata: ‘Aku bersaksi kepada Allah dan para malaikatNya, kalian berdua telah membuatku marah dan tidak senang. Jika berjumpa dengan Nabi Allah saw, aku akan mengadukan kalian berdua kepadanya’. Abu Bakar menangis keras, hampir pingsan. Fathimah berkata, ‘Demi Allah, aku akan mendoakan (agar Allah membalas perbuatanmu) pada setiap shalat yang aku lakukan’. Abu Bakar keluar dan berkata kepada orang-orang di sekitarnya: ‘Kalian tidur dengan senang sambil memeluk kawan tidur kalian dan meninggalkan aku dengan segala persoalanku. Aku tidak perlu baiat kalian. Lepaskan dari aku baiat itu’.” (Meraih Cinta Ilahi, Hal. 404-405)
Kemudian disebutkan dalam buku istrinya JR, Emilia Renita Az, “40 Masalah Syiah” dengan redaksi sebagai berikut: “Syiah melaknat orang yang dilaknat Fathimah RA”[12]  Jadi dengan dalil tersebut ia bisa memasukkan Abu Bakar ke dalam orang yang dimurkai Fathimah, yang jika Fathimah murka kepada seseorang maka orang tersebut juga dimurkai oleh Nabi Muhammad saw. dan dengan jelas kita bisa mengetahui sikap JR kepada Abu Bakar, yaitu ikut melaknat atau murka kepada Abu Bakar karena Fathimah yang notabene Ahlu Bait juga murka kepada Abu Bakar. Inilah anggapan dan pemahaman yang diinginkan JR tertanam di kepala-kepala kita, agar kita juga ikut memurkai Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu. Mudah-mudahan kita dijauhkan dari keyakinan dan aqidah busuk ini, amiin…
Tanggapan:
1.      Kitab Al Imamah wa Al Siayasah yang meriwayatkan kisah “pertengkaran Fathimah dengan Abu Bakar dan Umar” yang dinisbahkan kepada Ulama Ahlu Sunnah, Imam Al Hujjah Al Tsabt Abu Muhammad Abdullah bin Muslim bin Qutaibah (213-176 H), adalah penisbatan dusta! Imam Ibnu Qutaibah sama sekali tak pernah menulis kitab Al Imamah wa Al Siyasah, sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab Al ‘Awashim min Al Qawashim[13] pada halaman 248, sebagai berikut; “tidak shahih semua yang ada dalam kitab tersebut (untuk dinisbatkan kepada Imam ibnu Qutaibah), jikalau benar kitab tersebut dinisbatkan kepada Al Imam Al Hujjah Al Tsabt Abu Muhammad Abdullah bin Muslim bin Qutaibah (213-276 H) niscaya sebagaimana yang dikomentari oleh Ibnu Al ‘Arabi, dikarenakan kitab Al Imamah wa Al Siyasah  penuh dengan kebodohan, kepandiran, kelemahan, kebohongan, dan kepalsuan. Saya juga sebutkan dalam kitab saya, Al Muyassar wa Al Qadaah di halaman 26-27, komentar dan argumen para  ulama tentang kitab Al Imamah wa Al Siyasah bahwa kitab tersebut bukan milik Ibnu Qutaibah, dan saya tambahkan sekarang dari apa yang telah saya sebutkan (di dalam Al Muyassar wa Al Qadaah) bahwa penulis Al Imamah wa Al Siyasah banyak meriwayatkan (kisah dan peristiwa di dalam buku Al Imamah wa Al Siyasah tersebut) dari dua ulama besar di Mesir, sedangkan Ibnu Qutaibah tidak pernah ke Mesir dan tidak mengambil riwayat dari dua ulama tadi, maka semua itu menunjukkan bahwa kitab (Al Imamah wa Al Siyasah) tersebut didustakan (penisbatannya) padanya ”.

2.      Penggalan riwayat hadits yang menyebutkan bahwa ridha dan murka Fathimah adalah juga ridha dan murka Rasulullah saw. adalah hadits yang shahih yang diriwayatkan oleh Amirul Mukminin fil Hadits Al Imam Muhammad bin Isma’il Al Bukhari di dalam kitabnya yang merupakan kitab hadits yang paling shahih di dunia, namun yang perlu dipahami di sini bahwa hadits tersebut punya sabab al wurud (sebab adanya hadits itu). Sabab wurud-nya itu bisa kita lihat di dalam kitab Imam Muhammad bin Isma’il Bukhari, dari Musawir bin Mukhzimah, ia berkata; saya mendengar Rasulullah saw. bersabda sedang beliau di atas mimbar: “Sesungguhnya Bani Hasyim bin Al Mughirah meminta izin untuk menikahkan anak perempuan mereka kepada Ali bin Abi Thalib, maka saya tidak memberi izin, kemudian (sekali lagi) saya tidak memberi izin, kecuali (Ali) Ibnu Abi Thalib  ingin menceraikan anakku dan ia menikah dengan anak perempuan mereka, maka sesungguhnya dia (Fathimah) itu bagian dariku, siapa yang membuatnya ia sedih juga membuatku sedih, dan juga membuatku sakit siapa yang menyakitinya”.[14] Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim dalam shahihnya dari Musawir bin mukhzimah dengan redaksinya sendiri.

Setelah membaca riwayat di atas akan menjadi jelas bagi kita bahwa sebab munculnya hadits “Fathimah bagian dariku, siapa yang membuatnya sedih ia juga membuatku sedih, dan juga membuatku sakit siapa yang menyakitinya” adalah riwayat yang menyebutkan keinginan Ali bin Abi Thalib (suami fathimah) menikahi anak-anak perempuan Bani Hasyim bin Mughirah. Dan jika kita ingin memakai konstruksi berpikir Jalaluddin Rakhmat, maka sebenarnya Ali bin Abi Thalib-lah yang pantas dimurkai oleh Nabi Muhammad saw. karena Ali bin Abi Thalib telah memantik kecemburuan Fathimah dan membuatnya sakit hati.

Namun tentu kita sangat menghormati Ali bin Abi Thalib sebagai Ahlul Bait, Sahabat Nabi, dan orang yang memiliki banyak sekali keutamaan. Akan tetapi kita tetap menganggap beliau sebagai orang yang tidak ma’shum.[15] Maka jelas penjelasan JR ini adalah pembodohan umat dan upaya sistematis untuk mendikotomikan Sahabat dan Ahlul Bait untuk mempropagandakan pemahaman menyimpang JR (Syiah Imamiyah)

Maka sangat tidak pantas bagi seorang yang mengaku ilmuan yang kritis untuk mengeluarkan hadits tersebut dari sabab wurud-nya dan mencoba menampilkan kisah buatan yang tidak ada asalnya, dan dikoneksikan dengan riwayat palsu tadi.


3.      Riwayat tentang kemarahan Fathimah kepada Abu Bakar dan Umar dan pengaduan nasibnya kepada Nabi Muhammad saw. (yang telah wafat pada waktu itu) merupakan dalil yang tak berdasar, karena perbuatan semacam ini merupakan hal yang tak pantas dan tak layak disandarkan kepada Fathimah.
Dan jika seandainya Fathimah murka, maka kemurkaannya itu lebih tepat kepada Ali bin Abi Thalib karena ia ingin menikahi putri-putri Bani Hasyim bin Mughirah, dan akhirnya tidak diizinkan oleh Nabi Muhammad saw. kecuali kalau Ali bin Abi Thalib mau menceraikan Fathimah. Namun kita tidak mengaggapnya demikian, Ali hanyalah manusia biasa yang tidak ma’shum, beliau hanyalah seorang manusia yang mempunyai keutamaan yang banyak namun kadang juga bertindak salah.


4.      Jika memang terbukti riwayat itu shahih maka kenapa Imam Ibn Qutaibah tidak menganut aqidah Syiah? Bahkan Ibn Qutaibah selalu membela dan memperjuangkan ‘adalah para sahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in[16]


5.      Tulisan-tulisan seperti ini sangat tidak layak untuk seorang yang mengaku ilmuan. Bahkan JR terkesan ‘memaksakan’ pendapatnya dengan manipulasi untuk mempropagandakan pemahamannya yang keliru, bahkan dengan tidak segan-segan menghujat keutamaan Sahabat Nabi yang mulia. Padahal Rasululullah saw. bersabda:
لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنْفَقَ أَحَدُكُمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ
“Janganlah kamu mencaci-maki sahabatku, demi Dzat yang diriku berada dalam genggaman-Nya, jika seandainya salah seorang dari kalian berinfaq sebesar gunung Uhud berupa emas, maka itu belum mencapai nilai infaq mereka meskipun (mereka berinfaq hanya) satu mud (yaitu sepenuh dua telapak tangan) dan tidak juga separuhnya.”[17]


6.      Adapun hadits yang mengisahkan permintaan Fathimah kepada Abu Bakar akan warisan Nabi Muhammad saw. adalah hadits yang shahih dengan redaksi yang panjang yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya pada ­kitab al maghazi, bab ghazwatu khaibar. Jika kita membaca hadist tersebut secara seksama maka kita akan menemukan kisah yang indah dan menakjubkan yang menunjukkan hubungan baik antara Sahabat dan Ahlul Bait. Bukan dengan cara membaca dan arah berfikir yang dipakai orang Syiah (baca: JR) dengan cara memotong-motong riwayat dan dengan sangkaan politik! Silakan para pembaca yang mulia membuktikan sendiri dengan membuka Kitab Shahih Bukhari di dalam bab ghazwatu khaibar.


7.      Sedangkan Alasan mengapa Abu Bakar tidak memberikan “harta warisan” Nabi Muhammad saw. kepada Fathimah adalah sebagai berikut:
Bahwasanya Nabi Muhammad saw. telah bersabda: “Kami (para Nabi) tidak mewarisi dan apa yang kami tinggalkan itu adalah sedekah”, dan yang meriwayatkan hadits ini dari Nabi Muhammad saw. adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali bin Abi Thalib!, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdurrahman bin ‘Auf, ‘Abbas bin Abdul Muththalib, Abu Hurairah, serta istri-istri Nabi Muhammad saw., dan riwayat ini ditemukan di kitab-kitab Shahih dan Musnad, oleh karena itu Abu Bakar melaksanakan wasiat Nabi Muhammad saw. dan sangat tidak pantas dicela hanya karena perbuatannya yang tidak memberikan “harta warisan” kepada Fathimah, Apakah pantas orang yang ingin melaksanakan wasiat Nabi saw dilaknat?! Pantaskah kita (berprasangka buruk) menuduh Abu Bakar ingin menyakiti Ahlul Bait Nabi? Pantaskah kita berprasangka buruk terhadap orang yang memiliki banyak keutamaan dan peranan yang besar dalam Islam seperti Abu Bakar?!
Hadits lain yang berbicara mengenai harta peninggalan para Nabi yang tidak menjadi warisan dan berubah menjadi sedekah adalah sebagai berikut, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia  berkata: Rasulullah saw. bersabda: “warisanku tidak dibagikan baik dinar ataupun dirham, sedangkan yang kami tinggalkan itu –setelah nafkah kepada para istriku dan biaya mengurusi jenazahku- maka itu adalah sedekah”[18]
Juga diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud di dalam Sunan-nya, hadits yang diriwayatkan oleh Abu Darda’ bahwasanya Nabi Muhammad saw. bersabda: “….. dan sesungguhnya Ulama itu pewaris para Nabi, sedangkan para Nabi itu tidak mewariskan dinar dan tidak juga dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka barang siapa yang mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang banyak”[19]
Riwayat yang bercerita mengenai hadits-hadits semisal di atas sangatlah banyak, oleh karenanya bukanlah sikap yang bijak dan obyektif jika mengambil riwayat seenaknya dan meninggalkan riwayat lain semaunya.

5.      Sufyan al Tsauri meriwayatkan hadits dari para pendusta?

Di antara sekian banyak bukti kebohongan dan kedustaan Jalaluddin Rakhmat adalah memotong-motong pernyataan atau komentar Imam al Dzahabi terhadap Sufyan al Tsauri. Di dalam bukunya, Al Mushthofa (Manusia Pilihan Yang Disucikan), JR menulis; “Sufyan disebutkan oleh Al Dzahabi dalam Mizan Al-I’tidal sebagai ‘innahu yudallis wa yaktubu min al-kadzdzabin’, ia melakukan tadlis dan meriwayatkan hadis dari para pendusta.”[20]

Tanggapan:

            Setelah menelaah dan melihat langsung pernyataan Imam al Dzahabi dalam buku beliau, Mizan al-I’tidal, ternyata JR memotong-motong kalimat yang seharusnya berbunyi; “Sufyan bin Sa’id, Hujjah yang kuat, disepakati keshahihahnnya walaupun pernah melakukan tadlis dari kalangan Dhu’afa, akan tetapi ia punya kemampuan kritik dan kemahiran, maka tidak dapat diterima siapa pun yang berkata: ia melakukan tadlis dan meriwayatkan hadits dari para pendusta”

            Sehingga kebanyakan orang tertipu dengan nukilan-nukilan JR yang banyak mengambil dari karya ulama-ulama besar karena kebanyakan orang enggan untuk melihat kitab aslinya secara langsung. Entah kata apalagi yang pantas bagi orang yang menunjukkan ketidak-jujuran dan penipuan publik seperti ini.


6.      Kontradiksi Perilaku Shalat Rasulullah saw.?
Pembaca budiman, di dalam buku “ilmiah” karya JR, al Mushthofa, hal 91, disebutkan kontradiksi perlikau Rasulullah saw. dalam shalat. JR menjelaskan beberapa hadits dari kitab Shahih Bukhari tentang posisi duduk Rasulullah saw. sebagai makmum dalam shalat yang dipimpin oleh Abu Bakar di akhir-akhir hayat Nabi saw. yang dinilai sebagai hadits-hadits yang saling bertentangan.
Redaksi lengkapnya sebagai berikut; “Kontradiksi perilaku Rasulullah saw. dalam salatnya. Dalam hadis Bukhari no. 713 tersebut Rasulullah jalasa ‘an yasari Abi Bakar, duduk di sebelah kiri Abu Bakar. Dalam hadis no. 683 fa jalasa Rasulullahi hidza’a Abi Bakrin, Rasulullah duduk di hadapan Abu Bakar. Dalam hadis no. 664 Rasulullah duduk di sebelah kanan Abu Bakar. Masih dalam Shahih Bukhari dan hanya diantarai oleh beberapa halaman saja. Ini kontradiksi, satu hidza’a (di hadapan), satu ‘an yasari (di sebelah kiri), dan riwayat satu lagi ‘an yamini  (di sebelah kanan).”
Tanggapan:
            Mari kita buktikan klaim JR mengenai kontradiksi Rasulullah saw dalam shalat yang dipimpin Abu Bakar, apakah betul demikian ataukah JR yang membuat-buat?
1.      Hadits no. 713 yang berbunyi  ‘jalasa ‘an yasari Abi Bakar’ Rasulullah duduk di sisi kiri Abu Bakar, itu sudah sesuai dengan yang ada di dalam kitab Shahih Bukhari.

2.      Hadits no. 683 yang berbunyi ‘fa jalasa Rasulullahi hidza’a Abi Bakrin’ Rasulullah duduk di depan Abu Bakar, itu juga sudah benar, namun sengaja tidak disempurnakan oleh JR sehingga terjemahannya menjadi ‘di hadapan’. Kata yang seharusnya ada namun dibuang oleh JR adalah ‘إِلىَ جَنْبِهِ’ (di samping), padahal kalau kita nukil secara utuh terjemahannya akan menjadi ‘Rasulullah duduk di samping Abu Bakar’.

3.      Hadits no. 664 yang berbunyi ‘an yamini’ di sebelah kanan, adalah lafadz hadits yang ditambah-tambah sendiri oleh JR, padahal yang tertulis dalam kitab Shahih Bukhari tidaklah seperti itu, yang tertulis adalah ‘hatta jalasa ila janbihi’ Rasulullah duduk di sisi Abu Bakar.
Bukan Imam Bukhari yang memasukkan hadits-hadits yang saling bertentangan dalam kitabnya, tapi JR yang menambah dan mengurangi lafadz hadits sehingga orang yang tidak melihat dan mengecek langsung ke kitab Shahih Bukhari akan menilainya sebagai hadits-hadits yang saling bertentangan. Sungguh JR telah melakukan penipuan terstruktur untuk meruntuhkan alasan mengapa Abu Bakar dipilih menjadi khalifah setelah Rasulullah saw, tujuannya dapat kita tebak, untuk mempropagandakan ajaran Syiah Imamiyah yang diembannya meski dengan manipulasi, ketidakjujuran dan pembodohan publik.


7.      Sunh sebuah tempat beberapa puluh kilometer di luar kota Madinah?  
Di dalam hadits Bukhari, no. 3667, disebutkan oleh Aisyah bahwa ketika Rasulullah saw. wafat, Abu Bakar berada di Sunh. Sunh merupakan tempat tinggal Abu Bakar di kota Madinah, dan menurut JR, tempat itu berjarak berpuluh-puluh kilometer di luar madinah.[21] JR melanjutkan “Jadi pada hari-hari terakhir Rasulullah, Abu Bakar tidak berada di Madinah. Karena itu, peristiwa Abu Bakar menjadi imam salat agak diragukan terjadinya. Abu Bakar tidak berada di Madinah pada hari-hari terakhir Rasulullah”.[22]
Tanggapan:
            Sunh berjarak berpuluh-puluh kilometer dari Madinah adalah klaim JR. Dan itu tidak ilmiah. Karena rujukannya tidak ada. setelah menelaah keterangan para ulama, ditemukan bahwa sunh itu hanya berjarak satu mil dari madinah. Ini sesuai dengan penjelasan al Hafidz Ibnu Hajar al ‘Asqalani di dalam Fath al Bari sebagai berikut; berkata Abu Ubaid al Bakri tentang sunh: sunh itu merupakan perumahan Bani al Harits dari suku Khazraj di ‘Awali. Jarak antara Sunh dengan Masjid Nabawi adalah satu mil.[23]
Dengan  pemahaman seperti ini JR ingin menggiring kita agar meragukan Abu Bakar menjadi imam di saat-saat terakhir dari usia Nabi kita yang mulia, Muhammad saw. lalu menuduh bahwa sahabat telah berkhianat, karena (menurut keyakinan Syiah Imamiyah) yang harus menjadi khalifah sepeninggal Nabi saw adalah Ali bin Abi Thalib. Kemudian kebencian terhadap sahabat Nabi mulai diusung dengan mengetengahkan pembelaan terhadap hak-hak Ahlul Bait yang seolah tertindas, padahal tidak ada pendikotomian antara Ahlul Bait dan Sahabat Nabi saw.!

(lppimakassar.com)


[1] al Amaali, karya Syekh ath Thuusi, hal. 522-523
[2] Fath Al-bari Juz 11;358

[3] Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dianggap Imam pertama oleh orang Syiah, padahal Ali bin Abi Thalib tidak ridha, bahkan sebaliknya murka dan sampai membakar pendiri agama Syiah, Abdullah bin saba’ si yahudi dan pura-pura masuk Islam dan menjadi munafiq, kemudian ia (Abdullah bin saba’) menyusupkan aqidah Syiah kepada orang-orang yang belum kuat imannya pada waktu itu di mesir.
[4] Istri Jalaluddin Rakhmat yang juga orang Syiah
[5] Lihat “40 Masalah Syiah” hal 13
[6] Salah satu ormas orang Syiah di Indonesia
[7] Lihat “40 Masalah Syiah” hal 217
[8] Lihat Koran Fajar, minggu, 25 Januari 2009
[9] Pernyataan yang saling bertolak belakang
[10] Lihat “Himpunan Fatwa MUI”, 2010, tentang Nikah Mut’ah, hal 350
[11] Skripsi Mahasiswa Fakultas Psikologi UNM, Perempuan dalam Nikah Mut’ah, 2011, hal 59
[12] Emilia Renita AZ, 40 Masalah Syiah, hal 90.
[13] Sebuah kitab yang mengungkap kedustaan kisah-kisah yang diriwayatkan secara tak bertanggung jawab dengan penjelasan ilmiah, terutama peristiwa-peristiwa yang terjadi setelah wafatnya Rasulullah saw.
[14] Silakan lihat Shahih Bukhari, Kitab Nikah, Bab Dzabb al Rajul ‘an ibnatihi fi al ghiratihi wa al inshafi, No. 4932
[15] Ma’shum: terjaga dari dosa
[16] Silakan lihat Bal Dhalalta, karya Syeikh Khalid al ‘Asqalaani, hal. 149
[17] HR. Bukhari (no. 3673), Muslim (no. 2541), Abu Dawud (no. 4658), at Tirmidzi (no. 3861), Ahmad (III/11)
[18] Shahih Bukhari, Kitab al Washaaya, no. 2624, dan shahih Muslim, Syarah Imam Nawawi, Kitab al Jihad, al Siyaar, dengan no. 1760
[19] Sunan Abu Dawud, kitab al ‘Ilmi, bab Fadhl al ‘Ilmi, no. 3641, silakan juga merujuk ke Shahih Abu Dawud, no 3096
[20] Jalaluddin Rakhmat, Al Mushthofa (Manusia Pilihan yang Disucikan), hal 138
[21] Jalaluddin Rakhmat, Al Mushthofa (Manusia Pilihan yang Disucikan), Simbiosa Rekatama Media; Bandung, 2008, hal 92
[22] Ibid
[23] Ibnu Hajar al ‘Asqalani, Fath al Bari, Dar Al Fikr, Jilid VII, hal 29

1 komentar:

Syi'ah sering meneliti hadits dengan tidak lengkap, sehingga menyesatkan. Mudah-mudahan Allah SWT melindungi kaum muslimin dari kesesatan Syi'ah. Amin

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More