Antara Academic Freedom dan Akhlak Mulia serta Keunggulan Intelektual di UIN Alauddin


Visi UIN Alauddin Makassar adalah menjadi pusat keunggulan akademik dan intelektual yang mengintegrasikan ilmu-ilmu agama dengan ilmu pengetahuan dan teknologi serta menjadi pusat pengembangan nilai-nilai akhlak mulia, kapasitas, potensi, dan kepribadian muslim Indonesia yang lebih berperadaban (Profil UIN 2009)
Beberapa kegiatan LPPI yang akhir akhir ini mempersoalkan proses doktoral Prof. Dr. Jalaluddin Rakhmat (JR) di UIN Alauddin dianggap provokatif dan bertentangan dengan UUD 45 dan UU RI No. 20 tahun 2003 tentang academic freedom (kemandirian akademik) yang dijunjung tinggi setiap perguruan tinggi (Harian Fajar, “Tolak Anugrah Doktor, Academic Freedom Terancam, hal. 6). Tentunya LPPI sangat menghormati Academic Freedom UIN Alauddin, sehingga dalam surat ke Rektor UIN Alauddin yang lalu, kami dahului dengan permohonan maaf karena kami mempersoalkan sesuatu yang merupakan urusan kedalam pihak UIN Alauddin.
Dan disaat UIN Alauddin memberi gelar doktor  kepada Ust. Ir. H. Fuad Rumi, kami sebagai warga UMI sangat gembira dan bangga. Mungkin yang disoroti karena banyaknya pihak yang kami hubungi, sehingga dianggap sebagai bentuk provokasi, padahal kami menganggap ini sekedar memperingatkan tokoh-tokoh Islam tentang suatu masalah yang serius, yang besar dampaknya terhadap aqidah umat sekarang dan dimasa yang akan datang, bahkan juga berkaitan dengan kredibilitas UIN Alauddin sendiri sebagai perguruan tinggi Islam dengan visi dan misi yang sangat luhur itu. Menurut KH. Abd. Rahim Amin (ketua bidang Pesantren di YW. UMI) : ”Yang harus diingat oleh kita semua ialah UIN Alauddin, cikal bakalnya adalah lembaga pendidikan tinggi Islam yang dibangun atas prakarsa para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah dari NU, Muhammadiyah, PSII dan lainnya”. Dengan demikian harus diwaspadai agar lembaga ini tidak dimanfaatkan oleh orang-orang yang ingin memasukkan pemahaman dan aliran yang bertentangan dengan Ahlus Sunnah Wal Jamaah, apalagi yang telah diputuskan oleh MUI sebagai aliran yang menyimpang, seperti pluralisme, liberalisme, dan sekularisme dalam agama, juga Ahmadiyah dan Syiah. Kalaupun aliran ini dipelajari dalam perbandingan mazhab, maka seharusnya bertujuan mengkaji penyimpangan aliran-aliran tersebut, bukan untuk diakui sebagai mazhab Islam yang sah dan benar. Dan disaat rombongan LPPI menghadap Bapak Rektor UIN dan dihadiri oleh Pr. I, Dir. PPs, Sek. Dewan Guru Besar UIN dll, Prof. Dr. KH. Abd. Muin Salim (alm) mengungkapkan pendapatnya dan berkata: “Saya mempertanyakan apa maksud JR itu ingin lagi meraih gelar Doktor padahal JR sudah Professor dan Doktor. Dan apalagi kita sudah diwanti wanti oleh Menteri Agama agar mewaspadai berkembangnya ajaran sempalan di perguruan tinggi Islam”. Ternyata banyak yang setuju dengan pandangan seperti ini dan ikut tanda tangan memberi dukungan kepada LPPI untuk mempermasalahkannya. Diantaranya , KHM. Nur (alm), KH. Jamaluddin Amin, KH. Bakri Wahid, KHM. Rafi’ Yunus, KHM. Farid Wajdi, Prof. Sadli, Prof. HAM. Akil, Prof. Faisal  Attamimi, Prof. Nur Bahri Nur, sampai 26 tokoh. Tentunya kami tidak berani dan tidak mampu melakukan provokasi kepada beliau-beliau ini. Yang meresahkan kami sebagai anggota masyarakat bahkan sangat tersinggung ialah tulisan dan pernyataan JR bahwa: Umar meragukan kenabian Rasullullah saw; para sahabat membantah perintah Nabi saw; para sahabat merobah-robah agama; para sahabat murtad; Muawiyah tidak hanya fasik, tapi ia kafir karena tidak meyakini kenabian; Amr bin Ash dilahirkan oleh seorang ibu yang promiskuitas (digagahi oleh beberapa laki-laki) ; Ijabi melarang anggotanya nikah mut’ah namun nikah mut’ah itu memang dihalalkan oleh Nabi saw. dan apa yang dihalalkan oleh Nabi saw, maka itu berlaku sampai kiamat, Sufyan Ats Tsauri mudallis dan meriwayatkan dari para pendusta dan pernyataan lainnya.
 Pernyataan seperti ini, adalah ciri khas orang Syiah dan JR memang sudah menyatakan diri Syiah. MUI telah bersikap terhadap Syiah dan memuat dalam keputusannya; Bahwa mayoritas umat Islam Indonesia adalah penganut paham sunni (Ahlus Sunnah wal Jamaah) yang tidak mengakui dan menolak paham Syiah secara umum dan ajarannya tentang nikah mut’ah secara khusus (Himpunan Fatwa MUI, 351) Dan dalam rekomendasi MUI tentang Syiah: mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syiah dan Ahlus Sunnah wal Jamaah seperti tersebut diatas, terutama mengenai perbedaan tentang “Imamah” (pemerintahan), MUI menghimbau kepada umat Islam Indonesia yang berpaham Ahlus Sunnah wal Jamaaah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya paham yang didsasarkan atas ajaran Syiah (Himpunan Fatwa MUI, hal. 49) Termasuk perbedaan pokok yang tercantum dalam rekomendasi MUI tersebut: “no.5. Syiah pada umumnya tidak mengakui kekhalifaan Abu Bakar ra, Umar ra, Utsman ra” Dan Depag  sendiri telah membahas ajaran Syiah ini secara mendalam lalu mengeluarkan  Edaran bahwa: Ajaran Syiah bertentangan dengan ajaran Islam (Edaran Depag no: D/BA.01/4865/1983).
Dari hasil penelitian kami terhadap tulisan dan ceramah JR, nyatalah bahwa: - JR adalah penganut bahkan tokoh utama penyebar  ajaran Syiah yang telah telah ditetapkan dan direkomendasikan oleh Depag dan MUI sebagai ajaran yang bertentangan dengan Islam dan harus diwaspadai. – Jr banyak mencela cela dan menjelek jelekkan para sahabat dan tabi’in yang dalam hukum fiqhi Islam dianggap sebagai orang fasik yag tidak boleh diterima persaksiannya. – Jr banyak berdusta dan memanipulasi dalil bahkan berani mengada-ada dengan mendaifkan hadis Bukhari. Berdusta, dalam pandangan fiqhi Islam juga menjadi penghalang bagi seseorang untuk diterima persaksiannya. Bagaimana mungkin orang yang tidak dapat diterima persaksiannya lalu dimuliakan dan diberi pengakuan sebagai doktor dalam ilmu agama Islam?. – JR ternyata belum jelas kapan dan dimana mendapat gelar professor sebagai guru besar, dan siapa pula promotornya. Tapi dimana-mana JR sudah dipasang namanya Prof. Dr. KH. Untuk diketahui MUI Bandung sejak tahun 1985, telah mengeluarkan fatwa larangan berpidato bagi JR di Bandung karena Syiahnya. -JR berani memfatwakan halalnya nikah mut’ah sehingga sebagian dari mahasiswa(i) kita sudah mempraktekkannya dengan asumsi bahwa nikah mut’ah itu sunnah Nabi, berpahala melakukannya dan berdosa meninggalkannya bahkan bisa kafir.
Atas dasar data-data tersebut dan data lainnya LPPI berpandangan dan diamini oleh banyak ulama dan cendekiawan muslim bahwa, UIN Alauddin sebagai lembaga pendidikan tinggi Islam tidak boleh menerima JR sebagai mahasiswa program doctor by research karena: - Melanggar aturan fiqhi Islam yang tidak membolehkan pendusta dan pencela para salaf diterima persaksiannya, apalagi dinobatkan sebagai doctor dalam ilmu agama Islam; - Melanggar Edaran Depag dan putusan serta rekomendasi MUI, dan seharusnya UINlah yang harus menjalankan putusa-putusan MUI. Bukankah pengurus teras MUI SulSel dan Makassar adalah dosen UIN Alauddin?
Pada akhirnya kami mengajak penanggung jawab masalah ini di UIN Alauddin dapat bersikap seperti Umar bin Khaththab ra. disaat menghadapi sorotan dan gugatan umatnya, kalau merasa benar maka beliau segera menyampaikan alasan dan hujjah sehingga umatnya mengerti dan puas.  Inilah keunggulan intelektual . Disaat seorang ibu mengeritiknya dengan membacakan ayat, dan beliau merasa diri keliru maka dengan jujur, beliau berkata: ” Akhtha a  Umar wa ashaabatil mar ah” Umar yang salah dan Ibu ini yang benar. Inilah akhlak yang mulia. Nabi saw menyuruh kita semua meneladani Umar ra dengan sabdanya: “Ikutilah sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk”. Kami sarankan semoga UIN dapat meneladani Umar ra terhadap penolakan doctoral JR, yaitu pihak UIN membuka diri menerima sanggahan itu dan mencermati alasan-alasannya. Dan aapabila UIN tetap merasa benar, maka kemukakanlah hujjah dan dalil Syar’I (Al Quran dan Hadis)- bukan alasan academic freedom. Inilah bukti keunggulan akademik dan intelektual UIN Alauddin. Dan kalau merasa diri memang keliru, maka dengan sportif, berani merobah kebijaksanaan yang keliru, dan inilah pengembangan nilai-nilai akhlak mulia. Semoga dengan semangat bulan ramadhan sekarang ini, hal ini tidak sukar, bukankah kita semua selalu membaca dzikir: Nasyhadu al laa ILAAHA illaLLAH wa nastaghfiruLLAH. Nas aluka ridhaa ka wan a udzu bika min sakhatika wan naar. (kami bersaksi bahwa tiada tuhan yang sebenarnya kecuali Allah, ya Allah kami mohon ridha dan surgaMU dan kami berlindung kepadaMu dari murka dan siksa nerakamu). Wallahu a’lam.
Ust H. Muh Said Abd Shamad
Ketua LPPI Perw. IndTim

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More