Menghidupkan Toleransi Mengubur Pluralisme

Pria ini mengubur Bentley seharga Rp 5,7 milyar miliknyaSuatu ketika Nabi Muhammad Saw menyampaikan nasihat di hadapan para muridnya (para sahabat beliau), sabda beliau yang artinya; “kalian (umat Islam) kelak akan mengikuti cara-cara beragama orang-orang sebelum kalian (yahudi dan nasrani) sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai jika mereka masuk ke lubang biawak pun kalian akan mengikutinya” (HR. Muttafaq Alaih)
Inilah dia pesan dari manusia mulia nan agung itu, yang mestinya dijadikan bahan pelajaran oleh umatnya yang selalu bersaksi atas kebenaran risalah beliau.
Dengan maraknya teror berupa ledakan bom yang terjadi dimana-mana pada tahun-tahun terakhir, ada kelompok masyarakat menawarkan solusi untuk menghilangkan tindakan-tindakan kekerasan kemanusiaan itu, namun ternyata solusi itu keliru, karena solusi itu tidak lain hanyalah merupakan usaha keluar dari satu masalah kepada masalah yang ternyata dampaknya jauh lebih parah dari yang pertama.
Mereka memberikan solusi dengan menerapkan sistem toleransi aqidah yang biasa disebut dengan Pluralisme agama.
MUI memberikan definisi dari Pluralisme; ia adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralism agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga (Himpunan Fatwa MUI, th 2010, hal 96). Kemudian MUI menegaskan; “Umat Islam HARAM mengikuti paham pluralisme, sekularisme dan liberalisme agama” (hal 97)
Piagam Madinah
Sebagian kaum yang berpenyakit Sepilis (Sekularisme. Pluralisme dan Liberalisme Agama) biasanya berargumen dengan Piagam Madinah, sebagai dalil untuk mengkampanyekan kebenaran yang bersifat relatif dan tidak menyalahkan keyakinan agama lain, benarkah demikian?, ini sebenarnya tidak lebih dari usaha pendangkalan aqidah keyakinan seorang mukmin. Kalau kita sudah bersyahadat, kemudian yakin akan kebenaran agama kita, buat apalagi kita mesti ragu terhadap kebatilan agama lain?
Kemudian apakah mereka sudah baca dan teliti klausul perjanjian Piagam Madinah?
Piagam Madinah dibuat untuk menciptakan kedamaian, keamanan, kebahagiaan dan kebaikan bagi semua manusia, kemudian mengatur kehidupan di daerah itu dalam satu kesepakatan. Oleh karenanya Rasulullah saw menerapkan undang-undang yang luwes penuh tenggang rasa, yang tidak pernah terbayangkan dalam kehidupan dunia yang selalu dibayangi fanatisme.
Poin pertama disebutkan; “orang-orang yahudi Bani Auf adalah satu kelompok warga dengan orang-orang Mukmin. Bagi orang-orang Yahudi agama mereka dan bagi orang-orang Muslim agama mereka, termasuk pengikut-pengikut mereka dan diri mereka sendiri. Hal ini juga berlaku bagi orang-orang Yahudi selain Bani Auf” ini seperti konsep Lakum Diinukum Waliya Diin (Bagimu agamamu dan bagiku agamaku) yang ada dalam surat Al Kafiruun.
Kemudian barulah pada poin-poin berikutnya dijelaskan kewajiban dan hak masing-masing pihak (lihat Sirah Nabawiyah, Syekh Shafiyyurrahman Al Mubarakfury, Pustaka al Kautsar hal 213-214)
Sikap Plin-plan
Salah satu dampak dari sekian banyak dampak berbahaya paham pluralisme yang nampak di tengah masyarakat adalah dilaksanakannya perayaan Natal bersama, di mana setiap pemeluk agama dianjurkan untuk mengikuti perayaan hari natal yang merupakan ibadah khusus bagi kaum kristiani, yang kata mereka itu adalah hari kelahiran Tuhan mereka, Isa al Masih.
Maka nampaklah sikap plin-plan sebagian umat Islam dalam menyikapi seruan ini, dimulai dari presiden, gubernur, wali kota, stack holder pemerintahan dan pemimpin-pemimpin partai yang menghadiri acara-acara perayaan Natal atau bahkan mengadakan acara Natalan, memberikan sambutan, tampil di TV mengucapkan selamat Natal dan tahun baru, muncul di baliho-baliho pinggir jalan dengan mengenakan pernak-pernik sinterklas dan natalan, memakai topi dan baju khas kaum Kristen.
Masyarakat di bawah ikut-ikutan larut terbawa dalam suasana gemerlap “hari-hari besar itu”. Seorang pramuniaga, lengkap dengan jilbabnya, ternyata mengenakan topi ala sinterklass di kepalanya. Ada hotel yang mengganti  seragam pramusajinya dengan pakain santa clause, padahal nama-nama mereka adalah nama-nama yang Islami. Mungkin alasan tuntutan pekerjaan dan jabatan yang penting, tapi banyak juga yang memakainya dengan bangga.
Ini semua mereka lakukan dengan dalih toleransi dan tenggang rasa sesama umat beragama! Seperti itukah makna toleransi yang mereka dengung-dengungkan atau itu hanya sekedar sikap plian-plan yang menunjukkan jati diri seseorang yang tak punya prinsip?
Sikap kaum Muslimin
Kaum muslimin yang memegang prinsip tauhid percaya kepada firman Allah Swt yang artinya; “Sungguh telah kafirlah orang yang mengatakan bahwa Allah itu (Isa) Al Masih putra Maryam, padahal Al Masih berkata, ‘Wahai Bani Israil sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.’ Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya adalah neraka. Dan tidak seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu”.
Kemudian Allah Swt menegaskan pada ayat berikutnya bahwa; “Sungguh telah kafirlah orang yang mengatakan bahwa Allah itu satu dari tiga oknum (Trinitas)” (QS. Al Maaidah: 72-73)
Itulah sikap kaum mukmin, percaya bahwa Nabi Isa atau Yesus dalam kosa kata kaum Kristen adalah salah satu nabi dari Nabi-nabi Allah, ia juga seorang hamba seperti halnya kita yang bertugas menyembah Tuhannya yang tunggal, Allah Swt. Dan semestinya kita bersikap ekslusif, dalam artian tidak mencampuradukkan aqidah dan ibadah umat Islam dengan aqidah dan ibadah pemeluk agama lain (lihat Fatwa MUI, hal 97).
Umar ra. pernah berkata, “Jauhilah musuh-musuh Allah dengan menjauhi (tidak merayakan) hari-hari besar mereka karena murka Allah akan turun kepada mereka” (HR. Baihaqi)
Maka menampakkan sikap ikut-ikutan mengucapkan selamat Natal dan selamat-selamat yang lain (yang ditujukan untuk menghormati ibadah agama tertentu) menjadi TERLARANG karena ada unsur dukungan persetujuan terhadap keyakinan agama Kristen atau agama yang lain. Karena penting dan perlunya masalah ini dipahami oleh umat Islam, Ibnu Taimiyah sampai menulis sebuah kitab yang beliau beri judul “Al Jawaab al Shahih liman Baddala Diin al Masih” (jawaban yang benar terhadap orang yang telah mengubah agama al Masih/ Nabi Isa as)
Bahkan Imam Ibnul Qayyim, murid dari Imam Ibnu Taimiyah, mengatakan bahwa ucapan selamat bagi hari raya mereka sama saja kedudukannya dengan mengucapkan selamat atas sujudnya mereka kepada salib!, dan di sisi Allah Swt hal itu dosanya lebih besar daripada orang yang memberi ucapan selamat kepada peminum khamr, pembunuh, pezina dan pelaku kemaksiatan lainnya –atas kemaksiatan mereka- (Ahkaam Ahli al Dzimmah, Juz 1, hal 441)

Namun, semua dalil di atas tidak bisa kita jadikan sebagai alat justifikasi terhadap tindakan-tindakan kejahatan kemanusiaan berupa intimidasi, penyerangan, pembersihan etnis, teror bom, pembunuhan, dll. Karena Allah Swt telah menuntun umat ini agar bersikap adil dan toleran; “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil” (QS. Al Mumtahanah: 8)
Melalui ayat ini hendaknya kita bersikap adil dan bahu-membahu untuk memberikan masing-masing haknya sebagai satu warga negara yang sama, kita hidupkan toleransi namun tidak perlu memakai Pluralisme yang sangat merusak itu. (Muh. Istiqamah/lppimakassar.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More