Kajian Ilmiah Pemikiran Keagamaan


Dengan mengucapkan syukur alhamdulillahi rabbil ‘alamin dan setelah Shalawat kepada Nabi Muhammad saw, FOKUS (Forum Komunikasi Islam) bekerjasama dengan beberapa lembaga dan ormas di antaranya, LPPI Makassar (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam), KPPSI (Komite Persiapan Penegakan Syariat Islam), FUI (Forum Umat Islam), FPI (Front Pembela Islam), dan FUI (Forum Ukhuwah Islamiyah) telah sukses mengadakan Dialog Terbatas dengan tema “Pemikiran dan Gelar Doktor Prof. Dr. Jalaluddin Rakhmat di UIN Alauddin dalam Timbangan” 29 Oktober 2011, di gedung Diklat Depsos Jl. Perintis Kemerdekaan, Makassar, dengan pemateri 1. Prof. Dr. Jalaluddin Rakhmat (Ketua Dewan Syuro IJABI) 2. Dir. Pascasarjana UIN Alauddin Makassar 3. KH. Muh. Said Abd. Shamad, Lc (Ketua LPPI/ Anggota Majelis Tarjih Muhammadiyah Sul-Sel), dan 4. KH. Muh. Idrus Ramli (Tim Internalisasi Ahlu Sunnah wal Jamaah PW. Nahdlatul Ulama Jawa Timur) yang dihadiri oleh utusan-utusan ormas-ormas Islam, Lembaga, Masjid se kota Makassar.
Meskipun pemateri dari IJABI yaitu Jalaluddin Rakhmat (selanjutnya disebut JR) dan utusan dari UIN Alauddin tidak hadir, dialog terbatas tetap dilaksanakan dan berjalan dengan sukses yang ditandai dengan selesainya acara ini secara damai, para hadirin satu kata dalam aqidah Islam Ahlu Sunnah wal Jamaah, ini sesuai dengan semboyan yang harus selalu kita dengung-dengungkan “satu kata dalam aqidah, toleransi dalam furu’ dan khilafiyah”, dan menghasilkan rekomendasi yang akan dibawa ke Gubernur, DPRD, Kepolisian, dan Kehakiman.

Namun ketidakhadiran dua pemateri tersbut sebenarnya merugikan mereka karena terkesan mereka takut untuk menyampaikan argumen mereka di hadapan audiens.
Acara kedua adalah Tabligh Akbar dilaksanakan di Masjid Raya Makassar, 30 Oktober 2011, dengan pemateri 1. KH. Muh. Said Abd. Shamad, 2. KH. Muh Idrus Ramli, 3. Ir. H. Abd. Aziz Qahhar Mudzakkar, pemateri terakhir berhalangan hadir dikarenakan kondisi kesehatan beliau yang kurang fit dari perjalanan umrah. Namun itu tidak mengurangi kualitas isi dan bobot yang disampaikan oleh kedua pemateri di atas, Tabligh Akbar ini bertemakan “Meneladani Nabi Ibrahim AS dalam Menjaga Umat dari Penyimpangan Aqidah”

Agama dijual untuk mencari uang
Pada Tabligh Akbar di Masjid Raya, KH. Muh Idrus Ramli mengungkapkan kenyataan di balik penyebaran ajaran Syiah di Indonesia, Syiah disebarkan di Indonesia bukan uuntuk tujuan Syiah-isasi tapi untuk tujuan mencari uang, banyaknya jumlah yayasan dan lembaga Syiah di Indonesia tidak menunjukkan banyaknya pemeluk Syiah, namun agar uang yang digelontorkan oleh Syiah bias lebih banyak lagi. “agama dijual untuk mencari uang” kata beliau, buktinya adalah kejadian yang terjadi di Jember sekitar delapan bulan yang lalu, orang Syiah di kota tersebut mengadakan acara Zikir Akbar yang tidak memakai simbol Syiah sama sekali dan pesertanya adalah warga Ahlu Sunnah wal Jamaah yang dijemput oleh orang Syiah dengan mobil di kampung-kampung mereka. Yang hadir sekitar seribu orang. Kemudian difoto dan fotonya itu dikirim ke Iran sebagai bukti gencarnya Syiah-isasi di Indonesia. sehingga uang yang mengalir semakin lancar. Inilah salah satu bentuk Imperialisme baru, datangnya orang timur dari Iran menjajah aqidah umat Islam untuk menghancurkan Islam dari dalam.
Bahkan kata KH. Muh. Idrus Ramli, ada seorang ustadz Syiah, saking tidak lakunya di jawa timur ia menempel poster-poster tentang dirinya agar diundang dalam ceramah-ceramah agama secara gratis bahkan kalau diperkenankan sang ustadz yang akan menyumbang.
Jelas mereka-mereka itu para musuh agama yang berjuang bukan untuk Izzul Islam wal Muslimin namun memakai pakaian agama untuk mencari uang. Ini pun dengan berbagai kedustaan, kebohongan public dan manipulasi data.
Muhammadiyah dan NU bersatu menolak Syiah
Dalam kedua acara yang telah dilaksanakan oleh beberapa Ormas dan Lembaga Islam tersebut kedua pemateri telah memperlihatkan ukhuwah yang luar biasa, meskipun keduanya aktif dalam dua organisasi berbeda, KH. Muh. Said Abd. Shamad memuliakan KH. Muh Idrus Ramli dengan menyebutnya sebagai guru kita, begitu pun sebaliknya KH. Muh Idrus ramli memuliakan KH. Muh Said Abd. Shamad.
Dalam Muqaddimah materi yang disampaikan oleh KH. Muh Idrus Ramli di Gedung Depsos, menjelaskan alasan beliau datang dengan memakai atribut NU Jawa Timur. Alasannya karena sebagian besar orang di Indonesia menganggap NU tidak berseberangan dengan Syiah. Padahal justru sebaliknya, sebagai bukti otentik adalah hasil scan kitab KH. Hasyim Asy’ari, Pendiri NU, yang berbahasa arab menyebutkan Syiah-lah yang menghadang dakwah Islam ahlu sunnah wal jamaah di Indonesia.
KH. Muh. Said Abd. Shamad pun demikian. Beliau memakai atribut Muhammadiyah sul-sel untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa sebenarnya Ormas Islam tidak setuju dengan aqidah yang dibawa oleh agama Syiah. Karena kita “bersatu dalam aqidah, toleransi dalm furu’ dan khilafiyah”

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More