Iran Tak Sekedar Selundupkan Paham Sesat Syi’ah Tetapi Juga Narkoba

Kita bersyukur dengan kejelian aparat Bea Cukai di Bandara Soekarno-Hatta dan Denpasar Bali, juga kejelian aparat Reskrim Polri meringkus kurir dan bandar narkoba asal Iran. Namun, ada baiknya aparat tidak berhenti sampai di situ saja. Aparat juga harus jeli dan tegas terhadap diselundupkannya paham sesat Syi’ah (yang menghalalkan kawin kontrak alias nikah mut’ah) yang berasal dari Iran melalui kurir lokal.
Salah satu contoh kongkrit diselundupkannya paham sesat Syi’ah adalah sebagaimana bisa dilihat di situs aktivis Syi’ah bertajuk Islamic Cultural Center Jakarta (http://www.icc-jakarta.com/). Dalam rangka menyambut tahun baru Islam, situs Syi’ah ini antara lain mengumumkan digelarnya sebuah acara khas Syi’ah berjudul Kanvas Darah di Senja Karbala “Sketsa Kematian Teragung” yang berlangsung mulai 17 Desember 2009 hingga 26 Desember 2009 (selama sepuluh hari) dari jam 18:30 wib hingga 21:00 wib. Acara tersebut diisi oleh sejumlah ulama pro paham sesat Syi’ah seperti Umar Shahab, Khalid Al Walid, Muhsin Labib, Husein Shahab, Hasan Daliel, Lc.

Salah satu sumber utama masuknya paham sesat Syi’ah ke Indonesia adalah dari Iran. Sudah lebih dari dua dasawarsa lalu paham sesat Syi’ah diselundupkan ke Indonesia. Hingga kini, paham sesat tersebut tetap eksis dan bahkan seperti tidak dipedulikan lagi keberadaan dan bahayanya oleh para pegiat dakwah, termasuk pula pegiat dakwah yang selama ini dikenal sebagai ulama anti Syi’ah.
Sementara itu, jaringan narkoba asal Iran sudah pula mulai meramaikan pasar Indonesia. Kemungkinan, kurir narkoba asal Iran ini dimainkan jaringan narkoba internasional, karena kurir asal Afrika kian mudah dikenali aparat. Menurut catatan media massa, sepanjang tahun 2009, jaringan narkoba asal Iran sudah beberapa kali ditangkap.
Setidaknya, sejak pertengahan Juli 2009 kurir narkoba asal Iran sudah mulai terlacak aparat keamanan. Pada tanggal 16 Juli 2009, aparat keamanan pernah menangkap sepasang suami-isteri asal Iran pelaku penyelundupan 3,1 kilogram sabu-sabu dari Thailand yang dikemas dalam tiga kaleng susu, masing-masing berkapasitas satu kilogram dan kemasan susu bubuk bungkus. Sang suami bernama Chaechi Javad (27 tahun) dan istrirnya bernama Sonia Ratga (25 tahun).
Pemberitaan tentang tertangkapnya kurir narkoba asal Iran kembali meramaikan media massa pada bulan Oktober 2009. Antara lain diberitakan, Bea Cukai Bandara Soekarno Hatta pernah menggagalkan penyelundupan 40 kg sabu-sabu senilai Rp100 miliar, yang diselundupkan oleh sepuluh warga negara Iran, delapan diantaranya wanita.
Para penyelundup tersebut diringkus saat tiba di Indonesia pada Senin dan Selasa, 19-20 Oktober 2009. Diperkirakan, para penyelundup narkoba asal Iran ini masih punya hubungan keluarga satu sama lain. Tiga di antara mereka (Mohammad Reza Nezafat, Kaheh Mahnaz Sadat, dan Moradiojagh Shazdeh) menumpang pesawat Malaysia Air Service dengan penerbangan MH-721, mendarat pada hari Senin tanggal 19 Oktober 2009, sekitar pukul 15.05. Ketiganya membawa 9,872 gram kristal sabu-sabu dalam 15 kemasan makanan-jadi yang diperkirakan bernilai hampir Rp 22 miliar.
Selang lima menit kemudian aparat Bea Cukai menangkap empat penyelundup lainnya (Khosravian Zohdeh, Rani, Joudi, dan Karimpov). Mereka penumpang Emirates Air Lines dengan nomor penerbangan EK-356 tujuan Damaskus, Dubai, dan Jakarta. Dari keempat tersangka tersebut ditemukan 16.980 gram sabu berbentuk kristal dengan perkiraan nilai Rp 37, 356 miliar. Barang haram itu disembunyikan ke dalam kemasan makanan-jadi.
Sekitar satu jam kemudian dua wanita Iran lainnya yakni Maryam dan Fatemeh dibekuk. Kedua penumpang Qatar Airlines QR 638 ini membawa sabu cair seberat 17.500 mililiter dengan nilai Rp 33 miliar disembunyikan dalam kemasan sampo.
Selang sehari kemudian, Selasa 20 Oktober 2009, sekitar pukul 16.39 wib, seorang warga negara Iran berinisal JV (pria) dibekuk aparat Bea Cukai berikut barang bukti berupa 26.852 gram sabu berbentuk kristal dan 17.500 mililiter sabu cair, dengan perkiraan nilai jual Rp 92,47 miliar. Pada saat ditangkap, JV mencoba bunuh diri dengan menyilet urat nadinya, namun berhasil digagalkan.
Pada saat yang hampir bersamaan, 19 Oktober 2009, Bareskrim Polri menangkap bandar narkoba jaringan Internasional, asal Iran. Bandar narkoba asal Iran ini mempekerjakan seorang kurir bernama Frank Amado (45 tahun), pemegang paspor Amerika Serikat bernomor 432-488801. Frank ditangkap di Apartemen Park Royale, Tower I Lantai III Kamar No 0331, Jalan Gatot Soebrto, Jakarta Pusat, sekitar pukul 15.30 wib (Senin, 19 Oktober 2009). Polisi menemukan sabu seberat 5,668 kilogram senilai Rp 9,5 miliar.
Berasarkan informasi Frank, aparat berhasil menangkap Peyman bin Azizallah alias Sorena (40 tahun) warga Iran. Sorena ditangkap polisi hari itu juga di Apartemen Somerset, Lantai 17, Kamar 1727, Kuningan, Jakarta Selatan. Sabu seberat 5,668 kilogram di apartemen Frank, diakui Sorena sebagai miliknya.
Menurut catatan polisi, Sorena merupakan pemain lama dan pernah dipidana dalam perkara narkoba pada tahun 2002. Sorena bebas dari Lembaga Permasyarakatan Cirebon pada tahun 2004. Sorena lalu kembali ke Indonesia pada 7 Agustus 2009 dan tinggal di Hotel Imperium. Sejak 14 Agustus 2009 Sorena menetap di Apartemen Somerset.
Akhir Oktober, tepatnya tangal 30 Oktober 2009, aparat Bea Cukai berhasil mengamankan cairan bening yang diduga sabu atau metamphetamine dalam bentuk cair dengan jumlah bruto total 9.000 ml atau 5.130 gram, yang dikirim dari Iran. Cairan bening atau sabu cair ini dikemas dalam 6 botol minuman bertuliskan bahasa Iran (Persia). Estimasi nilai barang sekitar Rp 11,3 miliar.
Sedangkan pada tanggal 1 November 2009, aparat Bea Cukai berhasil mengamankan kristal bening yang diduga sabu atau metamphetamine dengan jumlah bruto total 1.000 gram, yang dibawa penumpang warganegara Iran berinisial HMA dengan menggunakan pesawat MH 711. Kristal bening tersebut dikemas dalam 4 paket yang diletakkan pada bagian dalam pengunci dua koper tersebut. Estimasi nilai barang sekitar Rp 2,2 miliar.
Kimono, Kaki Palsu dan Nenek-nenek
Selama ini, upaya penyelundupan sabu-sabu yang pernah dilakukan warga Iran adalah membungkusnya dalam kemasan makanan, menempatkan sabu-sabu pada dinding palsu di tas dan koper, disembunyikan di sol sepatu, dililitkan ke badan (body stripping), disembunyikan melalui pakaian dalam, dan memasukkan methamphetamine cair ke dalam botol sampo, detergen, atau air mineral.
Kini, ada cara baru menyelundupkan sabu-sabu yang berhasil diungkap aparat gabungan, yaitu menyembunyikan sabu-sabu di balik kimono dan kaki palsu. Hal ini sebagaimana terjadi pada hari Selasa dan Rabu (3-4 November 2009), ketika Tim gabungan Bea Cukai, Polisi Militer TNI-AL (Pomal), dan Ditnarkoba Polda Jatim membongkar sindikat narkoba internasional dengan modus baru: sabu-sabu dilekatkan di baju mandi (kimono) berbahan handuk.
Saat itu tim gabungan berhasil menangkap empat warga Iran, salah seorang diantaranya adalah wanita bernama Mozhran (39 tahun). Tiga lainnya yang semua pria bernama Mohammad (21 tahun), Sayyed Maghdi (27 tahun), dan Mohammad Reza (35 tahun). Tim juga berhasil menyita kimono seberat 9,7 kilogram. Pada kimono itulah terdapat 4,7 kilogram sabu-sabu senilai Rp 6,5 miliar.
Sedangkan modus menyembunyikan sabu-sabu di dalam kaki palsu terkuak pada hari Rabu tanggal 11 November 2009, di Bandara Soekarno-Hatta. Saat itu, aparat Bea Cukai bandara Soekarno-Hatta menangkap MV (32 tahun), asal Iran. Pria cacat ini menyembunyikan sabu-sabu seberat 1,6 kg di kaki palsu sebelah kirinya. Tertangkapnya kurir narkoba itu karena petugas curiga melihat MV berjalan menyeret kaki palsunya ketika melintas sinar x-ray. Petugas kemudian memeriksa pelaku. Dan ternyata di dalam kaki palsu tersebut ditemukan 1,6 kg sabu-sabu yang siap diedarkan di Jakarta.
Kurir sabu-sabu asal Iran tidak terbatas pada sosok dewasa yang belum begitu tua, tetapi juga dilakoni oleh perempuan separuh baya (51 tahun), yang mulai pantas dipangil nenek-nenek.
Pada hari Ahad tanggal 6 Desember 2009, aparat Bea Cukai Soekarno-Hatta menggagalkan operasi penyelundupan sabu-sabu seberat 1.681 gram yang dibawa seorang perempuan berkewarganegaraan Iran berinisial KM, berusia 51 tahun. Sabu-sabu yang diselundupkan KM bernilai Rp 3,7 miliar, dimasukkan ke dalam botol parfum. KM datang ke Indonesia dengan menumpang pesawat Qatar Airlines QR 638.
Disembunyikan di Dalam Perut
Sejumlah tujuh warga negara Iran ditangkap di Bandara Internasional Ngurah Rai Bali karena diketahui membawa ratusan kapsul berisi sabu-sabu yang dimasukkan ke dalam perut. Dari dalam perut warga Iran itu berhasil dikeluarkan ratusan kapsul berisi narkoba jenis sabu-sabu.
Ketujuh warganegara Iran ini ke Indonesia menggunakan maskapai Qatar Airways dari Istambul, Turki, dan mendarat di Bandara Ngurah Rai, pada hari Rabu 9 Desember 2009 sekitar pukul 18:30 wita. Mereka membawa sekitar 3,5 kg sabu-sabu senilai Rp 7 miliar.
Rencananya, sabu-sabu itu akan dibawa ke Jakarta menggunakan jalur darat. Mereka memilih mendarat di Bali, karena pemeriksaan di Bandara Internasional Soekarno Hatta dirasa lebih ketat. Sayangnya, dugaan mereka meleset. Petugas di Bandara Ngurah Rai justru mencurigai mereka karena perutnya terlihat kembung dan keras. Setelah diperiksa di Rumah Sakit Internasional BIMC Kuta, Kabupaten Badung, ternyata di dalam perutnya terdapat kapsul yang berisi sabu-sabu.
Kita bersyukur dengan kejelian aparat Bea Cukai di Bandara Soekarno-Hatta dan Denpasar Bali, juga kejelian aparat Reskrim Polri meringkus kurir dan bandar narkoba asal Iran ini. Namun, ada baiknya aparat tidak berhenti sampai di situ saja. Aparat juga harus jeli dan tegas terhadap diselundupkannya paham sesat Syi’ah yang berasal dari Iran melalui kurir lokal.
Menyelundupkan Syi’ah
Salah satu contoh kongkrit diselundupkannya paham sesat Syi’ah adalah sebagaimana bisa dilihat di situs aktivis Syi’ah bertajuk Islamic Cultural Center Jakarta (http://www.icc-jakarta.com/). Dalam rangka menyambut tahun baru Islam, situs Syi’ah ini antara lain mengumumkan digelarnya sebuah acara khas Syi’ah berjudul Kanvas Darah di Senja Karbala “Sketsa Kematian Teragung” yang berlangsung mulai 17 Desember 2009 hingga 26 Desember 2009 (selama sepuluh hari) dari jam 18:30 wib hingga 21:00 wib. Acara tersebut diisi oleh sejumlah ulama pro paham sesat Syi’ah seperti Umar Shahab, Khalid Al Walid, Muhsin Labib, Husein Shahab, Hasan Daliel, Lc.
Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta, berlamat di jalan Buncit Raya Kav. 35 Pejaten Barat, Jakarta Selatan 12510, PO Box 7335 JKSPM 12073, dengan nomor telepon 021-7996767 dan nomor faksimili 021-7996777, sedangkan alamat surat elektroniknya adalah info@icc-jakarta.com. Selain itu, ada nomor ponsel yang dipublikasikan untuk Contact Person yaitu 0815-9929331.
Perayaan karbala di bulan Muharam memang khas syi’ah. Redaksi nahimunkar pernah menurunkan tulisan berkenaan dengan hal ini, di bawah judul “Mas, Sampeyan Syi’ah?” (nahimunkar edisi May 28, 2008 9:19 pm). Antara lain dituliskan:
Acara pembacaan Doa Kumail adalah bagian dari peringatan peristiwa Karbala, untuk memperingati wafatnya Husein radhiyallahu ‘anhu, yang wafat dalam perjalanan menuju Kufah (Irak). Kalangan Syi’ah menganggap wafatnya Husein radhiyallahu ‘anhu sebagai syahid. Namun anehnya hanya Husein radhiyallahu ‘anhu yang dianggap syahid, padahal yang wafat bukan hanya Husein radhiyallahu ‘anhu.
Ketika itu, yang ikut wafat bersama Husein radhiyallahu ‘anhu dalam peristiwa Karbala adalah Abu Bakar, Utsman, dan Abbas (putra dari ‘Ali bin Abi Thalib juga). Ada juga putera dari Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib yang bernama Abu Bakar. Bahkan putera dari Husein bin ‘Ali bin Abi Thalib sendiri ada yang turut wafat di Karbala, bernama Ali Akbar bin Husein bin ‘Ali bin Abi Thalib. (Lihat Tarikh Khalifah bin Al-Khayyath, 234, Maqatil Ath-Thalibiyyin, 80, Tarikh Al-Mas’udi, II/71).
Pertanyaannya, mengapa peringatan Asyura oleh kalangan Syi’ah hanya untuk memperingati kematian Husein radhiyallahu ‘anhu saja? Dan mengapa yang dianggap syahid hanya Husein radhiyallahu ‘anhu saja?
Pada situs syi’ah ((http://www.icc-jakarta.com/) ini juga ditampilkan tulisan ulama-ulama pendukung paham sesat syi’ah, yang antara lain bersusah-payah menyumbangkan tulisan serial bertema Karbala. Antara lain di bawah judul Al-Husain Menjelang Asyura yang ditulis oleh Dr. Muhsin Labib, MA.
Kalau aparat kepolisian dan Bea Cukai sudah bersusah payah melawan penyelundupan narkoba yang dilakukan oleh warga Iran, sudah seharusnya para “polisi akidah” bersusah-payah mencegah masuknya penyelundupan paham sesat syi’ah ke tengah-tengah Ummat Islam Indonesia. (haji/tede)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More