Ulama Pewaris Para Nabi AS


(catatan atas dialog sunni-syiah)
Tidak (boleh) ada suatu keberatan apapun atas Nabi menyampaikan apa yang telah ditetapkan Allah baginya (sebagai sunnah Allah))pada nabi-nabi yang telah terdahulu. Dan ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku. (yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah Allah, mereka takut kepada Allah, dan tidak takut terhadap sseorangpun selain Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat perhitungan (QS. Al-Ahzab; 38-39.)
Kami atas nama LPPI (lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) perwakilan. Indtim, pengurus dan simpatisannya berterima kasih kepada semua pihak atas terlaksananya diskusi panel mengkaji pemikiran Spekulatif Syi’ah dan Pengaruhnya Terhadap Ukhuwah Islamiyah di Indonesia (5 feb 2011) dan kajian terbatas membedah pemikiran Prof. DR. KH. Jalaluddin Rakhmat, M.Si, (24 Feb 2011.) Hasil dari kedua kegiatan ini cukup memuaskan karena telah dibuktikan secara ilmiah berdasarkan Al Qur’an dan Hadits penyimpangan ajaran syi’ah dan bahayanya terhadap ukhuwah islamiyah di Indonesia khususnya dan di dunia islam pada umumnya. Prof. Dr. H. Minhajuddin, ketua komisi fatwa MUI sul-sel dalam makalah beliau pada diskusi pertama menyebut 10 kriteria ajaran sesat yang telah ditetapkan MUI (2007/yang menyebabkan beberapa kelompok dianggap sesat [sempalan] dalam islam seperti Faham Syi’ah, Islam Jamaah, Daarul Arqam, Ahmadiyah, Pluralise, Liberalisme, Sekularisme Agama, Jaringan Islam Liberal dan lain-lainnya.

Khusus yang berkaitan dengan syi’ah, maka ada beberapa poin dari kreteria tersebut yang didapati dikalngan syi’ah. Poin pertama, mengingkari salah satu rukun Iman dan Islam. Umat Islam 6 (enam), sedang syi’ah hanya 5 (Lima), yaitu, a. Tauhid. B. adalah . c. nubuah. D. Imamah e. Al Maad. (40 masalh,Emilia Renita hal. 122).
Poin kedua, meyakini atau mengikuti aqidah yang tidak sesuai dengan dalil syar’I (Al Qur’an dan Sunnah. Shabat nabi SAW adalah orang-orang yang sudah diridwi Allah, di jajikan surge dan keberuntungan (QS.Attaubah; 100). Mereka sama sekali merubah keyakinan dan agamnya QS. Al Ahzab; 23. Orang syi’ah menggap sahabt merubah-rubah agama dan murtad (bulletin At tanwir, Jalalidin Rahmad,hal. 3-4, Umar meragukan kenabian Rasullah SAW dan para sahabat membantah perintah Rasulullah SAW (Makalah ‘adalah sahabat, Jalaluddin Rahmad di UIN Alaiddin hal. 6-7).
Poin kelima , mafsirkan Al qur’an tidak berdasrkan kaidah-kaidah tafsir. Prof. Jalaluddin, Emiliya dan Dr. Tijani (dalam bukunya akhirnya kutemukan kebenaran, hal. 118-119, 124-125) meyatakan sahabat murtad dan merubah-rubah agama sepeninggal Nabi SAW berdasarkan Al-Qur’an. Allah berfirman: 
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa Rasul. Apakah jika ia wafat atau terbunuh, kamu berbalik kebelakang (murtad?) Barang siapa yang berbalik kebelakang (murtad,) maka ia tidak dapat membahayakan Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan bagi orang-orang yang bersyukur,” (QS Ali Imran; 144).
Rasullah SAW bersabda: “Bahwa di Akhirat kelak akan ada orang-orang yang diusir dari telaga Nabi SAW, lalu Nabi SAW mengatakan; “Ashabiy, ashabiy (sahabatku, sahabatku).” Maka dijawab kepada nabi SAW, mereka murtad, dan mereka meruah-rubah Agama sepeninggalmu, (HR. Bukhari, Muslim.)
Para Ulama menafsirkan ayat dan hadits ini sesuai kaidah tafsir dan hadits sama sekali tidak ada yang berkesimpulan seperti itu, mereka sepakat bahwa yang merubah-rubah agama dan murtad sepeninggal Nabi SAW adalah orang munafik orang yang lemah imannya. Justru para sahabatlah yang memerangi orang-orang yang murtad itu. Point kesepuluh,  mengkafirkan sesama muslim hanya karena bukan kelompoknya. Dalam kitab “40 masalah syi’ah” Emilia Renita-istri Jalaluddin Rakhmat-diebutkan bahwa Nabi SAW bersabda (dengan redaksi sedikit berbeda,) “Barang siapa mati dan tidak ada imam baginya, atau tidak mengenal imam zamannya, ia mati jahiliyah.”
 Mati jahiliyah berarti mati tidak dalam keadaan Islam, menurut orang syi’ah, yang bukan syi’ah, mati jahiliyah, yang identik dengan mati kafir, karena tidak dalam keadaan islam dan tidak mengenal atau tidak mengikuti imam orang syi’ah yang 12 (dua belas.) Dengan keterangan ini pernyataan Jalaluddin Rakhmat yang menyatakan bahwa IJABI tidak pernah menyatakan sahabat murtad adalah tidak benar. Jalaluddin Rakhmat telah menyatakan sahabat murtad, sedanga ketiga-tiganya sahabat, berarti ketiganya murtad, Umar RA, Utsman RA, dan Abu Bakar RA tidak mengenal dan tidak mengikuti imam di zamannya (yaitu Ali RA, menurut orang syi’ah.) Berarti ketiganyamati jahiliyah.
Dalam rekomendasi MUI tentang Syi’ah disebutkan; Faham syi’ah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan madzhab sunni (Ahlu Sunnah wal Jamaah) yang dianut oleh umat Islam Indonesia. Perbedaan itu diantaranya; Point 5, Syiah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman sedang Ahlu Sunnah wal Jamaah mengakui keempat khulafa’ rasyidin (Abu Bakar, Umar, utsman dan Ali Radhiyallahu ‘anhum ajma’in.) Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah dan Ahlu sunnah wal Jama’ah seperti tersebut di atas, terutama mengenai perbedaan tentang Imamah (pemerintahan,) MUI menghimbau kepada umat lsam Indonesia yang berfaham Ahlu Sunnah wal Jamaah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah, Jakarta, 4 jumadil akhir 1404/7 maret 1984. Komisi fatwa MUI , ketua; Prof. KH. Ibrahim Hosen LML, sekretaris; H. Musytari Yusuf L.A, Fatwa MUI ini sesuai dengan mudzakarah Jawatan Kuasa Fatwa Majlis kebangsaan dalam keputusannya yang bertarikh 5 mei 1996 telah menggakui kesesatan syi’ah dan mengharamkan pengamalannya di Malaysia (www. Islam.gov.my/e-rujukan/syiah.html/.) juga para Ulama dahulu, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I, Imam Ahmad dan selain mereka semuanya mewajibkan memuliakan para sahabat dan marah serta melaknat orang yang mencela-cela sahabat (Al Intishar lil Aal was shahb, hal 124-136,)
Sedangkan dalam Diskusi kedua,sebagian besar peserta tidak menyangka kalau Jalaluddin Rakhmat tidak mampu menjawab sanggahan-sanggahan terhadap tulisannya sendiri, sanggahan tersebut antara lain; Jalaluddin Rakhmat sengaja memotong-motong ucapan Adz-Dzahabi yang berkata: “jangan perhatikan jika ada orang yang berkata Sufyan Ats Tsauri menulis dan meriwayatkan dari para pendusta.” Jalaluddin menulis bahwa perawi hadits “Abu Thalib masuk neraka” adalah majhul, mudallis, setelah ditanya dan dikonfirmasi dengan keterangan ulama bahwa perawi itu kuat, maka ia juga tidak menjawabnya. Yang paling menyedihkan tatkala ditanya, kenapa menulis bahwa Ibnu Syihab tidak terdapat dalam kitab-kitab rijal (perawi hadits.) padahal Ibnu Syihab itu Az Zuhri, yang sudah dijelaskannya sendiri sebelumnya, maka pertanyaan ini juga tidak bisa dijawab.
Dari kenyataan ini maka salah seorang peserta menyatakan bahwa; rencana pemberian gelar doktor agama kepada Prof. Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat oleh Pasca Sarjana UIN Alauddin Makassar perlu dipertimbangkan kembali karena ternyata dalam diskusi ini terbukti secara ilmiah kelemahan argumentasinya dan bahaya pemikirannya yang bertentangan dengan fatwa para Ulama termasuk MUI.
 Semuanya ini perlu dikemukakan karena rasa tanggung jawab sebagai pengikut Ulama Pewaris Nabi SAW yang harus menyatakan yang benar serta menyalahkan yang salah meskipun banyak manusia yang tidak senang!

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More