Sikap Adil Cendekiawan Muslim


Sekelompok kambing telah merusak tanaman di waktu malam, maka yang punya tanaman mengadukan hal ini kepada Nabi Dawud AS. Nabi Dawud AS memutuskan bahwa kambing-kambing itu harus diserahkan kepada yang punya tanaman sebagai ganti rugi tanaman-tanaman yang rusak dan sebagai hukuman kepada pemilik kambing atas kelalaiannya. Tapi Nabi Sulaiman AS memutuskan supaya kambing-kambing itu diserahkan sementara kepada pemilik tanaman untuk diambil susu dan bulunya, sedang pemilik kambing diperintahkan memperbaiki tanaman itu agar kembali seperti sedia kala. Maka setelah tanaman itu sudah baik kembali seperti sedia kala, maka tanaman diserahkan kepada pemiliknya dan kambing dikembalikan kepada pemiliknya. Dari dua putusan di atas, ternyata putusan yang kedua lebih adil karena kedua pihak mendapatkan kembali haknya.
Tuntutan pembubaran Ahmadiyah di Sulsel semakin menguat ditandai dengan aksi damai berbagai ormas Islam di bawah koordinasi FUI Sulsel. Mereka menyampaikan aspirasinya di DPRD Sulsel dan kantor Gubernur pada 1 maret 2011. Mereka menuntut kiranya DPRD Sul Sel dan Gubernur mengeluarkan perda atau pergub tentang larangan Ahmadiyah di Sul Sel. Alasannya antara lain karena; MUI telah memfatwakan kesesatan Ahmadiyah pada Munas MUI ke II, juni 1980 dan Munas MUI ke VII, 28 juli 2005. Juga Gubernur Sumsel, 1 september 2008, telah melarang Ahmadiyah di Sumsel dengan alasan antara lain SKB tiga menteri no. 3 thn 2008 dan UU RI No. 1/ PnPs/ 1965 tentang pencegahan, penyalahgunaan dan/ atau penodaan agama. Dan menyusul perda Jatim dan Pergub Jabar yang melarang Ahmadiyah di Jatim dan Jabar. Kemudian ternyata Ahmadiyah Indonesia di Sulsel belum tercatat di Kesbang Sospol kantor Gubernur. Meskipun alasan pembubaran Ahmadiyah sangat kuat dan mendasar, tetap ada juga cendikiawan muslim yang menganggap bahwa Sunni , Syi’ah dan Ahmadiyah adalah produk sejarah Islam, yang timbul hanya karena perbedaan tafsir terhadap Al quran dan Sunnah, sehingga sebenarnya dia adalah milik dan kekayaan kaum muslimin. Yang paling menentukan sebenarnya, katanya, adalah akhlaknya. Dengan demikian , menurutnya, tindakan pembubaran Ahmadiyah  oleh pemerintah adalah berlebih-lebihan dan tidak tepat

Alasan MUI dan fatwanya
Nash Al-Quran dan Hadis secara qath’I menetapkan bahwa kenabian dan kerasulan telah berakhir (tertutup) setelah kerasulan Nabi Muhammad saw. Keyakinan ini fundamental tidak menerima takwil (interpretasi lain) dan takhshish (pengecualian) apapun sesuai kesepakatan seluruh ulama.
Karena Mirza Ghulam Ahmad mengaku Nabi sesudah  Rasulullah saw, maka ia keluar dari Islam, Dan ternyata para sahabat Nabi memerangi Musailamah al-Kazzab, Aswad dan Thulaihah yang mengaku Nabi dengan cara menakwilkan ma’na nubuwwah dan risalah.
Orang yang beriman kepada orang yang mengaku Nabi, sama hukumnya dengan orang yang diimaninya. Penjelasan MUI dalam Munas ke VII (sepanjang 18 hal) tentang Ahmadiyah sesuai dengan putusan Tarjih Muhammadiyah (1926), Lembaga Bahtsul Masaail NU di Lirboyo dan sekian banyak ormas Islam Indonesia. Sebagaimana pemerintah Pakistan (tahun 1988-1993) telah menetapkan Ahmadiyah sebagai golongan minoritas non-Muslim seperti Kristen dan Hindu, juga, pemerintah Malaysia, Brunei, Saudi Arabia, Mesir dan lainnya menetapkan Ahmadiyah kafir, keluar dari Islam. Alhamdulillah, pemerintah (Gubernur) Sul Sel telah melarang aktifitas Ahmadiyah di Sulsel (Tribun 3 maret 2011) Adapun tentang Syiah, MUI pada 7 maret 1984 menetapkan rekomendasi sebagai berikut:
Faham Syiah sebagai salah satu faham yang terdapat di dunia Islam perlu diwaspadai agar tidak masuk di Indonesia karena mempunyai  perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlussunnah wa Jamaah) yang dianut oleh umat Islam Indonesia. Perbedaan itu diantaranya:
-          Syiah menolak Hadis yang tidak diriwayatkan oleh Ahlul Bait
-          Syiah memandang Imam itu ma’shum (orang suci)
-          Syiah tidak mengakui Ijma’ tanpa imam
-          Syiah memandang menegakkan kepemimpinan/ pemerintahan (Imamah) adalah teramsuk rukun agama
-          Syiah pada umumnya tidak mengakui kekhalifaan Abu Bakar ra, Umar ra dan Utsman ra
Menurut data di LPPI Perw.IndTim, kelompok Syiah di Indonesia (IJABI) yang dipimpin oleh Prof.Dr. Jalaluddin Rakmat telah menulis beberapa tuduhan –tuduhan keji  terhadap sahabat Nabi saw antara lain: para sahabat membantah perintah Nabi saw,. Umar meragukan kenabian Rasulullah saw, para sahabat merobah-robah agama, para sahabat murtad dsb. (Data lengkapnya di LPPI Makassar). Dalam dialog Sunni-Syiah di PPs UIN Alauddin Makassar 24 Feb 2011, alhamdulillah para guru besar dan dosen  UIN telah menyaksikan betapa Prof. Jalaluddin Rakhmat, sama sekali tidak bisa menjawab sekian banyak pertanyaan berkaitan dengan tulisannya dalam buku Al-Mushthafa, makalah ‘Adalat Sahabat dan bulletin at-Tanwir. Malahan jelas sekali ketidak jujuran Prof. Jalal dalam tulisan tersebut, diantaranya, menyebut Sufyan at-Tsauriy sebagai mudallis dan meriwayatkan dari para pendusta. Katanya dikutip dari Mizanul I’tidal karya imam az-Zahabiy. Ternyata yang benar az-Zahabi mengatakan “Jangan dipercaya perkataan orang yang mengatakan Sufyan Ats-Tsauriy mudallis dan meriwayatkan dari para pendusta” Jadi kalimat, “Jangan dipercaya perkataaan orang yang mengatakan” sengaja dibuang  oleh Prof. Jalal sehingga maknanya berubah 180 derajat. Banyak ketidak jujuran dan kesalahan fatal Prof. Jalal dalam tulisannya terungkap dalam diskusi Sunni-Syiah di pasca Sarjana UIN tersebut. Sehingga terlontarlah dari mulut Prof. Jalal, “Yah mungkin saya yang salah, nanti diperbaiki, pertanyaan-pertanyaan ini saya akan jawab pada disertasi doktor saya di PPs UIN Alauddin di makassar. Berdasarkan kenyataan bahwa ajaran Syiah yang disebarkan oleh Prof. Jalal sangat bertentangan dengan faham Ahlussunnah  yang dianut oleh mayoritas kaum muslimin di Indonesia dan Prof. Jalal sudah jelas ketidakjujuran ilmiahnya, salah seorang peserta diskusi, dan diaminkan oleh banyak peserta diskusi, menyarankan agar pihak  pasca sarjana UIN mempertimbangkan  kembali rencana pemberian gelar doktor ilmu agama kepadanya.
 Sikap Yang Lebih Adil
Nabi saw bersabda: “ Tolonglah saudaramu, apakah ia berbuat zalim atau dizalimi. Para sahabat bertanya kalau dizalimi (ya kami tolong),tapi bagaimana menolong orang yang zalim. Nabi saw bersabda: “Kamu mencegah dia dari perbuatan zalim. Jadi, dalam suatu masalah ada yang benar dan ada yang salah yang benar kita dukung dan yang salah kita ingatkan dan luruskan.
Maka seorang cendekiawan muslim yang menjunjung tinggi keadilan dan sikap ilmiyah serta ikhlas mencari kebenaran,  seharusnya mendorong pemerintah untuk membubarkan Ahmadiyah, karena itu sudah putusan dan rekomendasi MUI, yang merupakan wadah musyawarah para ulama, zuama dan cendekiawan muslim dalam membicarakan soal ibadah dan kemasyarakatan. MUI juga berkewajiban menyampaikan nasehat kepada  pemerintah dan umat Islam. Apalagi didukung oleh ormas Islam di Indonesia bahkan ulama di seluruh dunia Islam. Dan sikap adil selanjutnya ialah menasehati pengikut Ahmadiyah dan Syi’ah agar meninggalkan keyakinannya yang menyimpang  untuk masuk kedalam ajaran Islam yang benar. Sekedar untuk diketahui Republika online tgl 6 maret 2011 memberitakan : ribuan pemuda belajar di Iran, polri diminta waspadai Syiah. Demikian pernyataan Ali Maschan  Musa, anggota komisi VII DPR RI. Katanya,ia pernah ketemu mahasiswa Indonesia yang belajar di Iran dan mereka minta suatu saat di Indonesia akan dibangun masjid sendiri. Semoga hal ini menjadi kewaspadaan kita semua sesuai rekomendasi MUI.  Wallahu a’lam_termuat di harian Fajar Senin, 07/03/11
KH. M. Said Abd. Shamad, Lc

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More