SIKAP KRITIS SEBAGIAN DARI KEPRIBADIAN MUSLIM-2 (selesai)


Pertanyaan-pertanyaan,tanggapan usul dan saran dari peserta diskusi:
1. Sebaiknya dibentuk suatu tim pencari fakta antara kedua pihak yang berbeda pendapat, karena informasi yang ada semakin beragam dan perlu ada fakta untuk menjawab keraguan. Diharapkan keraguan yang ditimbulkan dari perbedaan ini,menemukan suatu kebenaran
2. Adakah metodologi yang dapat dijadikan suatu standar menilai keabsahan suatu pendapat dalam perbedaan penafsiran (Al-Quran dan sejarah) didalam islam?
3. Kisah fakhrurrozi,seorang yang cerdas dan dapat memberi seribu jawaban tentang kebenaran Allah subhanahu wata’ala, namun seorang nenek bersikap skeptic dan berkata ia memiliki seribu keraguan ,pendapat pemakalah tentang sikap skeptic nenek?
Jawaban dan tanggapan pemakalah


Ust. M. Said Abd.Shamad,Lc
Sebenarnya maksud LPPI mengadakan pembahasan kritis seperti ini ialah agar kita dapat mempertemukan pemahaman tentang suatu masalah yang diangkat oleh penulis dalam bukunya.Mendatangkan penulis untuk berdiskusi bersama kita, adalah hal yang baik karena akan lebih mempermudah dalam mencari titik temu yang kita inginkan,namun hal itu perlu kerjasama dari semua pihak supaya kegiatan ini bis terlaksana.Kegiatan kita saat ini memang butuh penyempurnaan, tapi kita tidak harus menunggu sempurna lalu kita laksanakan.kita berusaha untuk menjalankan kegiatan ini dengan terus menyempurnakannya.
Adapun mengenai metode yang kita gunakan didalam islam untuk mempertemukan pendapat yang berbeda ialah Al-Quran.Pnafsiran Al-Quran kita tafsirkan saling terkait ,ayat yang satu menjelaskan ayat yang lain.kemudian kita merujuk kepada Hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang shahih,dan pemahaman atau ijtihad para ulama-ulama yang memiliki kapasitas.misalnya imam yang empat, imam malik,imam abu hanifah,imam syafi’I dan imam ahmad bin hambal.
Kisah yang pernah diangkat untuk menyatakan bahwa umar bin kahattab radiyallahu anhu meragukan kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ialah ketika kaum muslimin ingin pulang ke kampung halaman meraka dari medinah ke mekah untuk berumrah.Maka meraka menempuh perjalanan yang begitu jauh dan melelahkan,dengan kendaraan seadanya.Dari mereka adayang berabgkat dengan berkuda, ada yang menunggangangi unta bahkan ada yang berjalan kaki.Maka ketika mereka hampir memasuki mekah, kaum muslimin dihadang oleh kaum musyrikin mekah.Rasulullah kemudian mengutus utsman untuk menjadi utusan kaum muslimin untuk berunding dengan kaum musyrikin mekah namun beberapa hari ditunggu ternyata utsman belum kembali.
Kabar angin, menyatakan bahwa utsman telah dibunuh oleih kaum musyrikin mekah, maka Rasulullah mengajak para sahabatnya untuk berbaiat dibawah pohon untuk menuntut kaum musyrikin mekah atas tindakannya itu.Namun ternyata utsman kembali,dan membawa perjanjian dengan kaum musyrikin mekah.Isi perjanjiannya tidak berimbang,karena jika kaum muslimin memiliki tawanan orang mekah maka harus dilepaskan,dan jika tawanan itu dari pihak kaum muslimin maka boleh tidak dikembalikan.Isi perjanjian yang lebih memberatkan lagi ialah kaum muslimin tidak boleh berumrah tahun ini,mereka harus menunggu tahun depan.Surat perjanjian itupun tidak ditulis dengan bismillah tetapi diganti dengan bismikallahumma,begitu juga nama Rasulullah ditulis dengan Muhammad bin Abdullah sesuai keinginan kaum musyrikin mekah.Melihat hal tersebut para sahabat merasa tidak rela,terutam umar radiyallahu anhu yang terkenal dengan ketegasannya.Maka umar bertanya kepada Rasulullah “apakah engkau Rasulullah (Utusan Allah)?” Rasulullah menjawab “ya, saya adalah Utusan Allah”.”apakah kita berada dalam kebenaran dan mereka kaum musyrikin berada dalam kesesatan” Rasulullah menjawab”betul” lalu mengapa kita menyetujui perjanjian yang tidak berimbang seperti itu.Umar radiyallahu Anhu pun berusaha membujuk Abu bakar untuk membujuk Rasulullah agar membatalkan perjanjian itu, namun abu bakar radiyallahu anhu lebih memilih untuk diam,menyetujui Rasullullah.
Nah, ungkapan umar radiyallahu anhu itu, dijadikan sebagai alasan untuk menuduh umar radiyallahu anhu meragukan kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.Padahal,Dari cerita ini kita memahami ungkapan umar radiyallahu anhu itu, bukan meragukan kerasulan Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam tetapi bentuk ketidaksetujuan pada perjanjian yang merugikan kaum muslimin.Betapa tidak, kaum muslimin yang telah bersusah payah menempuh perjalanan yang begitu jauh, namun ketika hampir sampai ditujuan, mereka harus menunda setahun untuk masuk kekota mekah.

Prof.Mansyur Ramli
Dari pemaparan sejarah ust.said tadi, sebenarnya maksud Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengalah (tidak berumrah tahun itu) dan menang tahun depan (memperoleh kesempatan umrah) untuk menunjukkan, inilah islam yang merupakan rahmatan lil’alamin, walaupun dengan mengalah terlebih dahulu. Hal ini sebenarnya dapat kita analogikan seperti seorang ayah yang mengajar anaknya untuk ber I’tiakaf(pada bulan ramadhan).Sang anak awalnya menolak, maka sang ayah membiarkan anaknya untuk tidak beri’tikaf ,sebagai bentuk pemahaman dan pembelajaran bagi anaknya.Sang ayah tidak bertindak memaksa karena jangan sampai efeknya malah akan lebih buruk.

Ungkapan umar radiyallahu anhu itu, jika kita tinjau dari segi psikologis bukan merupakan suatu keraguan terhadap kerasulan nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak bijak jika kita langsung mengklaim umar radiyallahu anhu itu meragukan kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Perlu ada pengkajian dan analisis lebih lanjut mengenai itu.
Mengenai penafsiran Al-Quran,kita menafsirkan Al-Quran tidak serampangan,tetapi kaidahnya seperti yang disebut ust. Said tadi ialah menafsirkan suatu suatu ayat denga ayat yang lain secara menyeluruh,karena Al-Quran adalah suatu kesatuan.tidak mudah memang seseorang menafsirkan Al-Quran,perlu ada kapasitas bahasa arab ,logika dan seterusnya,maka alangkah bauknya jika penafsiran Al-quran dilakukan secara bersama oleh orang yang memang ahli pada bidangnya.contoh ust.said yang memiliki bahasa arab yang baik,ada lagi orang lain yang melihat dari sudut sejarahnya atau dari penjelasan hadistnya sehingga diperoleh penafsiran yang baik,dan berusaha menghindari perpecahan.

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More