Sikap Berhati-hati Dalam Hal Aqidah


“Wahai itri-istri Nabi ! Barang siapa diantara kamu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya azabnya akan dilipat gandakan baginya dua kali lipat. Dan yang demikian itu mudah bagi Allah, dan barang siapa diantara kamu tetap taat kepada Allah dan Rasul Nya dan mengerjakan kebajikan, niscaya Kami  akan berikan pahala kepadanya dua kali lipat dan kami sediakan baginya rezki yang mulia“(QS. Al Ahzab : 30-31)
Di dalam ayat ini Allah Ta’ala menyebutkan  para istri Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam , karena  posisi mereka yang tinggi dan mulia, sehingga  penampilan dan sikapnya  harus sesuai dengan ketinggian dan kemuliannya dan berhati hati dalam bertindak lebih dari muslimah biasa. Dengan  demikian kebaikannya dilipatgandakan pahalanya dan keburukannyapun dilipatgandakan dosanya. Yang demikian itu karena mereka adalah panutan dalam masyarakat. Diharian Tribun timur (27 Desember  2009) hal 12. Disebutkan  : “ Uskup agung di datangi Tokoh lintas agama berkaitan open house usai menggelar natal, Sabtu  (26/12) di Gereja Katedral Jl. Kajoa Lalido Makassar. Uskup Agung Makassar Mgr DR John Liku Ada’ menyambut langsung para tamunya, termasuk tamu lintas agama berdatangan memberikan ucapan kepada john Liku Ada’. Cendikiawan MuslimProf. DR. Qasim Mathar diantara yang  hadir menyatakan, bahwa seorang muslim  yang mengucapkan selamat Natal kepada temannya , boleh boleh saja. Hal itu karena tidak ada larangannya di Qur’an” .
Memang secara tersurat atau nash,  kita tidak menemukan larangan  secara langsung hal tersebut, namun secara tersirat akan banyak kita dapatkan akan larangan tersebut diantaranya dalam surat al Baqarah : 116 Allah berfirman :
Mereka (orang-orang kafir)  berkata: ‘Allah mempunyai anak’ maha suci Allah, bahkan apa yang ada dilangit dan di bumi adalah kepunyaanya, semua tunduk kepadanya”
Mengucapkan selamat natal, tersirat makna kita membenarkan apa yang terkandung dari ucapan tersebut, pada hal Allah menegaskan akan keMahaSucianNya dari perkataan tersebut. Dan banyak lagi ayat yang lain yang maknanya sama dengan ayat di atas. Bagi kita sebagai seorang Muslim yang mestinya menjadikan Rasulullah sebagai panutan, begitupun sahabat-sahabatnya dan para ulama-ulama  yang  mengikuti  dengan baik, termasuk dalam hal ini para ulama 4 madzhab, tidak di dapat dari mereka teladan dalam kebolehan megucapkan selamat hari raya agama lain, dan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah akan lebih  menentramkan hati kita dari pada yang lainnya. Sekedar mengingatkan bahwa menetapkan boleh atau tidak, halal atau haram dalam perkara agama harus berhati-hati karena bisa berakibat membuat kedustaan atas nama Allah penguasa langit dan bumi. Ucapan selamat natal yang dilakukan oleh tokoh-tokoh Islam akan dipahami akan kebolehan hal tersebut.
 Di dalam  Al Qur’an Allah azza wajalla mengingat kita untuk berhati hati dalam menyatakan ini halal ini haram, dalam surat An Nahl : 116, Allah berfirman:
 “Dan jangan kamu mengatakan terhadap apa yang  disebut sebut  oleh lidah kamu  secara dusta,’ ini halal ini haram’ Untuk mengada- adakan kebohongan terhadap Allah, sesungguhnya orang yang mengada adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntun” ( Q.S An-Nahl,16:116) di dalam hadits disebutkan: Orang yang paling berani diantara kamu member fatwa adalah yang paling berani  masuk neraka (H.R Darimi)
Fatwa MUI tentang Natal bersama
MUI sebagai wadah dari para ulama dan zuama islam yang dibentuk bersama oleh pemerintah dan masyarakat islam yang bertugas memberi tuntunan dan fatwa kepada umat islam, telah menetapkan keputusan tentang masalah yangberkaitan dengan acara natal.Dalam pendahuluan fatwa tersebut disebutkan antara lain:
1.      Perayaan natal bagi orang-orang Kristen merupakan ibadah
2.      Agar umat islam tidak mencampuradukkan aqidah dan ibadahnya dengan aqidah dan ibadah agama lain
3.      Bahwa ummat islam diperbolehkan bekerja sama dan bergaul dengan ummat agama lain dalam masalah yang berhubungan dengan masalah keduniaan
4.      Bahwa ummat islam harus mengakui kenabian dan kerasulan Isa Al-Masih bin Maryam
5.      Bahwa barang siapa yang berkeyakinan bahwa Tuhan itu lebih dari satu, Tuhan itu mempunyai anak,Isa Al-Masih itu anakNya, maka orang itu telah kafir dan musyrik
6.      Islam mengajarkan bahwa Allah subhanahu wata’ala itu hanya satu
7.      Islam mengajarkan kepada ummatnya  untuk menjauhkan diri dari hal-hal syubhat (samar-samar) dan dari larangan Allah subhanahu wata’ala eserta untuk mendahulkan menolak kerusajkan daripada menarik mkemaslahatan (mulai dari point 3sampai 7 dilengkapi dengan dalil Al-Quran, hadis dan kaidah ushul  fiqh), berdasarkan hal diatas maka MUI memfatwakan:

1.      Perayaan natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati nabi Isa alaihissalam akan tetapi natai itu tidak dapt dipisahkan dari soal soal yang terdapat diatas
2.      Mengikuti upacara natal bersama bagi ummat islam hukmnya haram
3.      Agar ummat islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah subhanahu wata’ala, dianjurka untuk tidak mengikuti kegiatan kegiatan natal,.Fatwa ini dikeluarkan di Jakarta 1 jumadil awal 1401  H/ 7 maret 1981 oleh komisi fatwa MUI, ketua K.H.M.Syukri G dan sekertaris Drs.H.Mas’udi  (Kumpulan fatwa MUI, depag, 2003, hal 235-242).
Menurun syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Majelis Ulama Saudi Arabiah mengucapkan selamat natal kepada pemeluk agama lain, itu hukumnya haram karena itu perbuatan kekafiran dan Allah tidak ridha kepada kekafiran.Firman Allah: jka kamu kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman )kamu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hambaNya, dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu (Q.S Az-Zumar, 39:7), (Fatwa-fatwa terkini , Darul Haq 2 :354-355)
Mencintai apa yang dicintai Allah dan membenci apayang di benci Allah. Termasuk kesempurnaan iman: barangsiapa yang mencintai karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan memberi karena Allah, maka sesungguhnya ia telah menyempurnakan iman .


Ujian keimanan
Fatwa semacam ini oleh seagian kaum muslimin dirasa sangat berat, karena sudah lama terkondisikan ,merasa berat jika tidak menyucapakn selamat natal, karena alasan toleransi, tidak menghargai dst.Padahal hal tersebut tidak benar sama sekali. Kita tetap toleransi tidak memaksa dalam hal agama, boleh saling membantu, bekerjasama,salingmenerima hadiah, berinteraksi social dan ekonomi termasuk hak-hak bertetangga sekalipun berbeda agama.Namun Natal adalah ibadah, maka berlaku firman Allah “bagi kamu agamamu bagiku agamaku”(Q.S.Kafirun, 109:6), hal ini dalam rangka mencari keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat bagi ummat islam. Bagi ummat kristiani, tidak perlu kecewa karena hal ini sama sekali bukan sikap bermusuhan dan tidak toleransi tetapi semata-mata upaya untuk menjaga aqidah dan ibadah. Sebagai ummat kristiani yang baik tentunya dapat menerima kalau ummat islam tidak melaksanakan sesuatu yang bertentangan dengan aqidah dan ibadahnya. Islam telah mengajarkan sejak Al-Quran diturunkan
”Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi kamu dalam urusan agama kamu dan tidak mengusir kamu dari kampong halamanmu.Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil”(Q.S. Al-Mumtahanah, 60:8)
Mungkin masih ada yang meragukan hal ini, maka periksalah dalam literature agama, Pernahkah Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam, para sahabat dan ulama-ulama sesudahnya termasuk imam mazhab yang empat, adakah dari mereka yang mengucapkan selamat natal ? padahal meraka hidup memasyarakat dengan non-muslim.”tinggalkan Yang meragukan kepada yang tidak meragukan” (hadits).”ikutilah sunnahku dan sunnah khulafaur Rasyidin (hadist)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More