Tauhid Inti Ajaran Para Rasul

 
Para Rasul diutus oleh Allah suhanahu wata’ala untuk mengajak kepada manusia menyembah kepada Allah secara utuh, baik berupa keyakinan (aqidah), ibadah dan muamalah yang disesuaikan dengan petunjuk Nya. Apa inti ajaran para Rasul tersebut dan apa rahasia keberhasilan para Rasul membina ummatnya ? Dan kalau kita melihat keadaan ummat sekarang yang mengalami banyak krisis dan penyimpangan, segi apa yang perlu diperbaiki sebagai langka awal perbaikan ?

Tulisan ini bertujuan menjelaskan bahwa tauhid merupakan inti ajaran para Rasul, makna tauhid, pembagian tauhid, rukun dan syarat tauhid, pengaruh tauhid serta penjelasan bahwasanya untuk memperbaiki masyarakat harus dimulai dengan perbaikan tauhidnya.

         Dasar Normatif

1.       Al Qur’an, S. Al Anbiya (21) : 25
25. dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku".
2.      Al Qur’an,  S. An Nahl (16) : 36
36. dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).

    Pengertian Tauhid dan Pembahagiannya 

Ma’na tauhid  secara bahasa ialah menyatukan dan meng-esa-kan. Adapun menurut istilah ialah memurnikan ibadah semata-mata kepada Allah (IfraduLLAHI bil ibadah). Maksudnya ialah bahwa segala bentuk ibadah yang kita lakukan seperti sholat, doa, nadzar, penyembelihan, semuanya kita tujukan semata mata kepada Allah, tidak boleh kepada selainNya, karena Dialah satu-satunyaPencipta dan Pengatur segala sesuatu dan hanya Dialah yang memiliki nama-nama yang agung dan sifat-sifat yang mulia dan sempurna, yang tidak memiliki kekurangan dan cacat sedikitpun.

Tauhid terbagi tiga, yaitu:

a)      Tauhid rububiyah, yakni keyakinan bahwa hanya Allah yang menciptakan dan mengatur segala sesuatu. Dia menghidupkan dan mematikan, Dia meluaskan rezki dan menyempitkannya, memberi kekuasaan dan mencabutnya dari seseorang. Dengan kata lain, keyakinan kita bahwa segala sesuatu yang ada dan terjadi semuanya itu karena perbuatan Allah. Tauhid semacam ini juga diyakini oleh orang-orang musyrik, namun ini belum cukup untuk memasukkan mereka kedalam islam Firman Allah dalam Surah Az-Zukhruf, 43:87
87. dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: "Allah", Maka Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah )?,


b)       Tauhid asma’ wash-shifat, yaitu kita menamai dan memberi sifat kepada Allah sesuai dengan nama dan sifat yang diterangkan sendiri oleh Allah dan RasulNya dalam Al-Quran dan Sunnah, yakni nama dan sifat yang sesuai dengan keagungan dan kemuliaanNya. Diantara ayat-ayat tentang nama dan sifat Allah ialah Q.S. Al-Hasyr, 59:22-24.
 22. Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
23. Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, yang Maha Suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala Keagungan, Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
24. Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk Rupa, yang mempunyai asmaaul Husna. bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.


c)      Tauhid uluhiyah, yaitu menunaikan segala bentuk peribadatan dan penyembahan kita kepada Allah saja, tidak kepada selainNya, seperti sholat, doa, kecintaan, ketakutan, harapan, tawakkal, nadzar, dan penyembelihan. Tauhid semacam ini disebut juga tauhid perbuatan para hamba atau tauhid ibadah. Allah berfirman dalam surah Al-Fatihah,1:1-5
5. hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan.


d)       dan juga dalam surah Az-Zumar, 39:11

11. Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.

            Kalimat Tauhid rukun dan syaratnya.

1)      Kalimat Tauhid ialah lafadz  la ilaha illaLLAH  yang berarti, Tiada Tuhan yang sebenarnya kecuali Allah.
Lafadz ini seyogyanya tidak diartikan , tiada Tuhan selain Allah saja, karena pada kenyataannya ada sekian banyak Tuhan yang disembah manusia, selain Allah. Dan bisa dipahami salah dengan terjemahan tadi, bahwa setiap yang disembah itu adalah Allah.
2)      Rukun Kalimat Tauhid
Menurut para ulama kalimat tauhid la ilaha illaLLAH  mempunyai dua rukun yaitu:
a)      Nafi, yakni menafikan da meniadakan segala sesembahan selain Allah
b)      Itsbat, yakni menetapkan dan menegaskan bahwa hanya Allah-lah satu-satunya yang berhak disembah.
Kedua rukun tauhid menunjukkan bahwa tauhid yang benar ialah apabila kita mnegkhususkan keyakinan kita semata-mata kepada Allah disertai dengan mengkafiri dan menolak segala bentuk penyembahan kepada selain Allah. Firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah, 2:256
256. tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

 juga firmanNya dalam Q.S. Al-Mumtahanah, 60:4
4. Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. kecuali Perkataan Ibrahim kepada bapaknya[1470]: "Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah". (Ibrahim berkata): "Ya Tuhan Kami hanya kepada Engkaulah Kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah Kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah Kami kembali."

[1470] Nabi Ibrahim pernah memintakan ampunan bagi bapaknya yang musyrik kepada Allah : ini tidak boleh ditiru, karena Allah tidak membenarkan orang mukmin memintakan ampunan untuk orang-orang kafir (Lihat surat An Nisa ayat 48). 
    3. Syarat-Syarat Kalimat Tauhid.
Kalimat tauhid laaa ilaha illaLLah, bukan sekedar diucapakn saja, tetapi harus dipenuhi dan disempurnaka syarat-syaratnya yaitu:
a)       Ilmu, mengetahui maksudnya/kandungannya sehingga kita tidak boleh jahil, bodoh, atau tidak mengetahui kandungannya. Firman Allah dalam Q.S. Muhammad,47:19
19. Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.

 juga dalam Q.S. Az-Zuhruf, 43:86
86. dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa'at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa'at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya)

b)      Yaqin, maksudnya ilmu kita kepada kalimat tauhid itu, harus ditingkatkan kepada tingkat keyakinan yang kuat, dan tidak boleh disertai dengan keraguan sedikitpun. Firman Allah dalm Q.S. Al-Hujurat, 49:15 
15. Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar.

c)      Qobul, maksudnya menerima konsekuensi kalimat tauhid ini yaitu, memperhambakan diri semata-mata hanya kepada Allah, tidak kepada selainNya, dan sama sekali tidak boleh menolaknya. Firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah, 2:136
136. Katakanlah (hai orang-orang mukmin): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada Kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya".


d)      Inqiyad, maksudnya, tunduk, patuh dan melaksanakan kansekuensi kalimat tauhid, serta sama sekali tidak boleh melalaikan atau meninggalkannya. Firman Allah dalam Q.S. An-Nisa, 4:125
125. dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.


e)      Sidq, artinya benar yaitu bersikap benar dan membenarkan dengan hati, lidah dan perbuatan sebagai konsekuensi kalimat tauhid serta sama sekali tidak boleh dusta. Firman Allah dalam Q.S. At-Taubah, 9:119
119. Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.


f)       Ikhlas, artinya murni, maksudnya memurnukan segala niat, perkataaan serta perbuatan semata-mata karena Allah dan mencari ridhaNya, tidak boleh syirik yaitu beramal dan beribadah kepada selain Allah atau karena dunia, pujian, dan sum’ah (memperdengar-dengarkan amal) Firman Allah dalam Q.S. Al-Bayyinah, 98:5
5. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.
[1595] Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan.
g)       Mahabbah, artinya cinta, yaitu mencintai kalimat tauhid dan segala kaitannya seperti mencintai Allah dan RasulNya, mendahulukan kecintaan kepada keduanya dari pada kecintaan kepada selain keduanya. Firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah, 2:165
165. dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu[106] mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).

[106] Yang dimaksud dengan orang yang zalim di sini ialah orang-orang yang menyembah selain Allah.
Tauhid sebagai langkah awal segala perbaikan islam dan kaum muslimin. Tauhid ini ibarat pondasi dari suatu bangunan, atau akar bagi pohon. Jika keduanya kuat maka kuatlah bangunan dan pohon itu, kalu lemah maka keduanyapun lemah. Oleh karena itu tauhid harus didahulukan pembinaannya agar bagian agama yang lain yaitu ibadah dan muamalah dapat tegak dengan baik. lihat Firman Allah dalam Q.S. Ibrahim, 14:24-26.

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More