Misykat yang Memikat, Menjadi Muslim Tanpa Liberal

 
Judul Buku : Misykat (Refleksi tentang Islam, Westernisasi &Liberalisasi)
Penulis       : Hamid Fahmy Zarkasyi
Penerbit    : INSIST, 2012
Tebal         : 320 halaman
Harga        : *Belum dikonfirmasi
***
Westernisasi dengan program utamanya sekularisasi dan liberalisasi telah memecah belah umat Islam. Sikap umat Islam terhadap Barat terbagi tiga kubu: Pertama, mereka yang kembali ke masa lalu. Kedua, merek yang menghadapinya dengan berani, tapi penuh resiko. Ketigam mereka yang menolak mentah-mentah segala sesuatu yang datang dari Barat.

Perbedaan sikap itu dipicu oleh ketiadaan kajian filosofis. Akibatnya adalah sikap yang memuji Barat secara berlebihan, yang oleh Fazlur Rahman dianggap telah terbaratkan (westernized), atau sikap yang terlalu anti terhadap segala yang datang dari Barat.

Buku ini mengupas tuntas tentang berbagai aspek westernisasi dan liberalisasi. Di satu sisi, Gus Hamid – begitu sang penulis biasa disapa – mencoba menjelaskan bagaimana umat Islam memahami Barat, namun di sisi lain juga membeberkan bagaimana menghadapi kebobrokan Barat, berawal dari filsafat agama, mendudukan orientalis, mengupas humanisme hingga memaparkan toleransi tanpa pluralism.

Melalui buku ini, pembaca diajak “terbang melayang” untuk menyusuri peradaban timur dan barat dan mencermatinya secara objektif, dengan tetap mempertahankan identitas dan cara pandang yang khas, yaitu Islam. Buku disaji dengan gaya tulisan jurnalistik popular yang ringan, namun dengan referensi yang cukup berbobot. Selain enak dibaca, juga dapat dinikmati oleh siapapun yang ingin menemukan identitas dirinya sebagai Muslim.


Menurut Hamid, para cendekiawan Muslim seperti berbondong-bondong merespon isu kebebasan, persamaan, hak asasi, demokratisasi segala bidang dengan dalil-dalil Qur’an dan hadits. Tentu dengan konsekuensi merubah framework, metodelogi dan mindset sesuai dengan ilmu-ilmu humaniora Barat. Akhirnya, tanpa terasa cendekiawan Muslim itu berfikir dengan pendekatan humanistis, liberalistis, dekonstruksionis dan bahkan relativistis. Meskipun mereka itu penampilannya religius dan mengutip ayat-ayat al-Qur’an dan hadits dengan fasih.

Parahnya lagi, kekritisan itu justru mendekonstruksi ilmu-ilmu tradisional dalam Islam, seperti ilmu Tafsir, ilmu hadits, ilmu Fiqih, ilmu Kalam, ilmu Syariah, bahkan Al Qur’an. Bersamaan dengan itu, dibuatlah keraguan, sikap tendensius, bahkan menjadi sangat phobi terhadap ajaran Islam itu sendiri dengan dalih tidak humanis.
Pada aspek ideologis Westernisasi telah memprovokasi anak muda Muslim melawan institusi keagamaan. Dari wacana pluralisme tiba-tiba muncul kelompok anak muda yang protes pada syariat pernikahan dalam Islam. Karena wacana kesetaraan gender dan feminism sekelompok mahasiswa Muslim memprotes undang-undang pernikahan dan membela nikah sesama jenis. Dari wacana liberalisme pula muncul cendekiawan Muslim yang anti fatwa ulama.

Sudut pandang Barat (west worldview) menyebabkan anak muda dan cendekiawan muslim menjadi tersesat jalan dalam memahami Islam. Wacana liberalisasi dan pluralisasi menghantarkan mereka ke lorong gelap. Sehingga tidak sedikit “cendekiawan muslim” yang menyatakan “ilmu itu bebas nilai”, “Negara tidak boleh mengurusi agama”, “nilai-nilai agama tidak boleh menjadi peraturan atau undang-undang”, dan sebagainya. Bahkan lontaran-lontaran ekstrim seperti “bubarkan kementerian agama dan Majelis Ulama Indonesia” sempat keluar dari mulut kelompok ini.

Respon terhadap wacana-wacana itu dalam bentuk yang tidak sepenuhnya akademis, tapi populis, jurnalistik sangat diperlukan. Respon dalam bentuk opini dalam kolom-kolom media massa ternyata juga efektif berperan. Buku ini merupakan kumpulan beberapa kolom yang pernah dipublish media masa, seperti: Majalah Gatra, Suara Hidayatullah,  Sabili, Islamia, Azzikra, Gontor, Harian Republika, Duta Masyarakat, Jawa Pos dan media lainnya.

Peneliti INSIST Adian Husaini menilai buku ini sungguh spektakuler. Kolom Misykat Gus Hamid di Jurnal Islamia Republika selama tiga tahun (2009-2012) menjadi kolom yang paling banyak dibaca orang.Buku ini sangat lugas, cerdas dan bernas. Kumpulan tulisan yang kemudian dibukukan tersebut membuktikan, bahwa Gus Hamid adalah salah satu sederet kolumnis terbaik di Indonsia.

Selamat membaca. Jika ada yang ingin membeli buku, silahkan hubungi Voa-Islam atau langsung dengan penerbit INSIST langsung. Desastian/voa-islam.com

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More