Menghargai Fatwa MUI


Bagi MUI akal adalah ciptaan Tuhan yang dianugrahkan kepada manusia. Sebagai ciptaan Tuhan maka kedudukan akal adalah makhluk. Sedangkan wahyu adalah firman Allah (perkataan Allah) yang qadim. Oleh karena itu andaikata terjadi pertentangan antara wahyu dan akal, maka wahyu harus didahulukan dan diutamakan. Mendahulukan akal daripada wahyu dalam pandangan MUI sama dengan pengingkaran terhadap wahyu (nash qat’i). Allah telah memperingatkan hal demikian dengan firmannya:
“Al Quran ini adalah suatu peringatan (pelajaran) yang mengandung berkat, yang telah Kami turunkan. Maka mengapa kamu mengingkarinya” (Q.S Al-Anbiyaa 21;50 .) Demikian penjelasan KH Ma’ruf Amin dalam Kumpulan Fatwa MUI hal IX-X

 Tatkala Rasulullah mengutus Muadz bin Jabal ke Yaman , beliau bertanya : Dengan apa engkau memutuskan hukum? Kata Muadz dengan Kitab Allah. Jika engkau tidak mendapat dalam Kitab Allah? dengan sunnah Nabi Shallahu ‘alaihi wasallam. Jika engkau tidak dapati dalam sunnah Nabi Shallahu ‘alaihi wasallam? Kata Muadz radhiyallahu ‘anhu: Aku bersungguh sungguh (berijtihad) dengan pikiranku dan aku tidak akan lalai. Kata Nabi Shallahu ‘alaihi wasallam Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah dengan sesuatu yang menyenangkan Rasulullah.
Dari Hadis ini, nyatalah bahwa dalam memberikan fatwa (penetapan hukum) suatu masalah, harus dengan aturan tertentu.Aturan itu ialah dengan dalil Al-Quran, Hadis nabi Shallahu ‘alaihi wasallam, atau dalil hukum lainnya seperti kaidah ushul fiqhi, ijma, qiyas. Memberi fatwa bukanlah hal yang mudah, yang mampu dilakukan setiap orang. Ia merupakan pekerjaan sulit dan mengandung risiko berat yang nanti akan dipertanggung jawabkan kelak kepada Allah. Hal ini mengingat fatwa adalah penjelasan hukum Allah kepada masyarakat, untuk menjadi pedoman dan diamalkan, karena hanya Allah yang berhak menetapkan hukum, sedang kita adalah hamba Allah yang harus taat dan patuh sepenuhnya kepada ketentuan Allah itu.
Berhukum selain Hukum Allah, seperti hokum yang berdasarkan pertimbangan akal semata atau i adat istiadat masyarakat atau perasaan sendiri, maka maka digolongkan kafir, dzalim dan fasik(Q.S Al- Maidah, 5:44, 45, dan 47). Siapa yang mengaku muslim dan mukmin lalu keberatan dengan ketetapan Allah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Shallahu ‘alaihi wasallam, maka ia bukanlah orang beriman yang sebenarnya. Firman Allah ”Maka demi Tuhanmu, mereka tidaklah beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan sedikitpun dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerimanya dengan sepenuh hati” (Q.S An Nisa,4: 65). Memang perlu diketahui bahwa menerima kebenaran itu, harus melalui pengorbanan, misalnya jika perasaan tidak cocok dengan akal atau tidak sesuai perasaan. Misalnya tatkala Nabi Shallahu ‘alaihi wasallam menceritakan tentang apa yang beliau alami dan saksikan dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj, tentang surga dan neraka serta pohon zaqqum yang tumbuh didalam neraka (api). Abu Jahal dan kawan-kawannya mengejek dan mendustakan berita itu, karena menganggap tidak masuk akal. ”Bagaimana mungkin Muhammad dapat menempuhnya hanya satu malam, padahal dari Mekkah ke Palestina harus ditempuh dua bulan dengan kendaran paling cepat waktu itu”  “ Apa benar ada pohon yang tumbuh dalam kobaran api?”
Sebaliknya Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata: “Kalau memang Muhammad yang mengatakan, lebih dari itu saya percaya” Peristiwa isra’ mi’raj dan keterangan tentang pohon zaqqum malahan semakin menguatkan keyakinan kaum muslimin pada waktu itu.
Fatwa MUI.
Mardi Adi Armin,_mahasiswa PPS UIN menulis di kolom opini Fajar 12-12-09, tentang konsepsi yang tidak setara antara pihak yang  menekankan keserbamungkinan islam, kebolehjadian islam, potensi islam Qurani dan yang menekankan islam formal ala MUI. Pendapat yang  membela Ahmadiyah dan Syiah adalah bentuk sikap dari konsepsi keserbamungkinan islam, sedang yang menganggap sesatnya Ahmadiyah dan haramanya nikah mut’ah Syiah dianggap konsepsi islam formal ala MUI. Mardi beranggapan bahwa yang menentukan yang haq (benar) itu hanya Allah. Allah tidak mewakilkan hakNya kepada manusia untuk saling mengadili satu sama lain, juga tidak pada suatu lembaga sekalipun. Sementara Dr. Barsihannor menulis pada kolom opini Fajar 23-12-09, bahwa sejumlah fatwa MUI terlalu reaksioner dan tidak mencerminkan paradigma islam dialogis, terutama fatwa MUI tentang  bunga bank dan rokok. Fatwa semacam ini akan mengalami ‘pembusukan‘ seiring dengan dinamika pemikrran masyarakat yang sudah mulai cerdas. Ini berdasarkan apresiasinya sang doktorterhadap  pendapat seorang guru besar di UIN. Menurut hemat penulis, pernyataan seperti ini sungguh tidak pantas dari setiap ilmuan islam yang semestinya memiliki rasa takut kepada Allah
”Sesungguhnya yang takut kepada Allah, ialah hamba-hambaNya yang berilmu”(Q.S Fathir 35:28)
MUI merupakan lembaga bentukan pemerintah dan masyarakat karena dirasakan sebagai suatu kemestian untuk memenuhi perintah Allah: “Maka bertanyalah kepada ahli dzikr (orang yang memiliki pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (QS. An Nahl, 16 : 43)
 Cara menetapkan fatwa MUI dengan musyawarah dan dalil Al Qur’an dan  Hadits serta dalil agama lainnya, sesuai firman Allah: “Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka” (QS. Asy Syura,42 : 38) dan firman Allah: “Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”( QS. An Nisa,4 : 59).
Kumpulan fatwa MUI itu, telah dibukukan dan dicetak oleh Depag RI untuk dipahami dan diamalkan oleh masyarakat. Masyarakatpun gembira dengan fatwa ini karena merasa ada kepastian hukum. Masyarakat yang sadar segera meninggalkan bunga bank yang riba dan beralih kepada sistem yang sesuai dengan syariah. Yang tadinya ragu-ragu tentang rokok,menjadi mantap perasaannya meninggalkan rokok .Yang belum mampu, tetap berniat dalam hati disuatu masa akan meninggalkan yang tidak sesuai fatwa MUI agar selamat didunia dan diakhirat. Menurut Ketua Komisi Fatwa dan Hukum MUI, KH. Ma’ruf Amin yang berbahaya dan harus dihindari ialah sikap tahakkum yaitu keberanian menetapkan hokum (fatwa) tanpa dalil Al Qur’an, Hadits dan dalil-dalil agama yang lainnya. Menurut beliau hal ini tegas dilarang  berdasarkan firman Allah: ”Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "Ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung”. (QS. An Nahl,16 : 116),
begitupun dalam hadits :” Orang yang paling berani diantara kamu berfatwa  adalah orang yang paling berani masuk kedalam neraka” (HR Ad Darimi). Membela Ahmadiyah, Syiah, nikah mut’ah, riba, rokok juga termasuk kedalam kategori menetapkan hokum(fatwa).
Fatwa MUI tentang Natal bersama:
Agar kaum muslimin mendapatkan kejelasan hukum natal, maka MUI melalui Komisi Fatwa dan Hukumnya, yang ditandatangani oleh KH. Muh. Syukri G (ketua) dan Drs. H. Masudi (sekretaris), pada tanggal 1 Jumadil Awal 1401/7 Maret 1981, memfatwakan:
1.       Perayaan Natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa AS, akan tetapi Natal tidak bisa dipisahkan dengan soal-soal yang telah diterangkan diatas (a.l. agar umat Islam tidak mencampuradukkan aqidah dan ibadahnya dengan aqidah dan ibadah agama lain)
2.       Mengikuti upacara Natal bersama bagi Umat Islam hukumya Haram
3.       Agar Umat Islam tidak terjerumus kepada syuhbhat dan larangan Allah SWT, dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal (Himpunan Fatwa MUI, hal : 235 – 242)
Renungan penutup:
1.       Dua golongan dari umat ini, jika baik maka baiklah umat ini dan jika mereka buruk, maka buruklah umat ini yakni para umara dan ulama.
2.       Berkata Sahl bin Abdullah: Masyarakat akan baik jika memuliakan umara (pemerintah) dan ulama, dimana Allah akan memperbaiki dunia dan akhirat mereka dan jika mereka memandang enteng keduanya maka akan rusaklah dunia dan akhirat mereka.
(Muh.Said Abd.Shamad) Termuat di harian fajar
                                                                                               

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More