MEMULIAKAN AHLUL BAIT NABI SAW


Perlu ada usaha yang luas dalam memperkenalkan ahlulbait atau keluarga Nabi Muhammad SAW kepada masyarakat (Ayatullah Jawad Marvi, Fajar, Ahad 6 Juni 2010). Itulah diantara anjuran salah seorang ulama besar Iran dalam ceramahnya digedung Panritta, sabtu 5 Juni 2010 yang lalu. Anjuran seperti ini sangat mulia dan patut mendapat respon dari seluruh kalangan kaum muslimin dimana saja dan apapun golongannya. Bukankah didalam tahiyat kita selalu mendoakan rahmat dan berkat untuk keluarga Nabi SAW “Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad” Ya Allah curahkanlah  rahmat kepada Nabi Muhammad SAW dan keluarga Nabi Muhammad SAW dan ”wa baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad” Ya Allah, berkatilah Nabi Muhammad SAW dan keluarga Nabi Muhammad SAW.
Juga dalam Al-Quran, Allah berfirman: “Katakanlah (hai Muhammad; aku tidak meminta kepada kamu suatu upah atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekerabatan’ (S.Asy-Syura,42:23) maksudnya, (menurut sebahagian ahli tafsir) Nabi SAW hanya meminta mencintai dan berbuat baik kepada kerabatnya. Dalam ayat yang lain disebutkan tentang keutamaan dan kemuliaan ahlulbait sesuai Firman Allah: ”Sesungguhnya Allah menghendaki untuk menghilangkan kotoran dari kamu wahai ahlulbait dan membersihkan kamu dengan sebersih bersihnya” (S.Al-Ahzab,33:33). Dalam perjalanan Nabi SAW dari haji wada’ di Arafah (Mekkah) menuju Medinah, Nabi SAW singgah di suatu tempat yang bernama Ghadir Khum dan berkhotbah mengingatkan para sahabat RA agar berpegang teguh kepada Al-Quran dan menjaga serta menunaikan hak-hak ahlulbait dengan sebaik-baiknya. Berkata Zaid bin Arqam RA: ”Nabi SAW pada suatu hari berdiri berkhotbah dihadapan kami di suatu tempat air (ghadir) yang disebut Khum, antara Makkah dan Medinah, Beliau memuji Allah dan menyanjungNya, menasehati dan memperingatkan lalu bersabda; Amma ba’du, ketahuilah wahai manusia, sesungguhnya aku ini hanya manusia biasa, dimana utusan Tuhanku (malaikat) sudah hampir datang kepadaku lalu aku memenuhi (panggilan Tuhanku). Maka saya meninggalkan kepada kamu tsaqalain (dua pusaka, dua yang berbobot); yang pertama kitab Allah didalamnya ada petunjuk dan cahaya, Maka ambillah kitab ini dan berpegang teguhlah dengannya. Lalu beliau mendorong kepada Kitab Allah dan menggembirakan dengannya. Kemudian beliau bersabda: ’dan ahlulbaitku, aku ingatkan kamu akan Allah terhadap ahlulbaitku , aku ingatkan kamu akan Allah terhadap ahlulbaitku , aku ingatkan kamu akan Allah terhadap ahlulbaitku”(Shahih Muslim). Para ulama menambahkan akan kekhususan dan keutamaan para ahlulbait dan kerabat Nabi SAW antara lain:

1.      Tidak dihalalkan memakan zakat karena zakat itu kotoran harta (H.R. Muslim)

2.      Mereka turut mendapat bahagian dari harta rampasan perang (S. Al-Anfal,8;41) dan dari harta fai’ (rampasan dari musuh yang didapat tanpa perang) (S. Al-Hasyr, 59:7).

3.      Mereka mempunyai nasab (garis keturunan yang utama). Sabda Nabi SAW: Sesungguhnya Allah memiliki Kinanah dari anak Nabi Ismail as, dan memiliki Quraisy dari Kinanah, lalu memilih Bani Hasyim dari Quraisy, serta memilihku dari Bani Hasyim (H.R. Muslim).

Berdasarkan keterangan diatas maka kaum muslimin sejak awal Islam, yaitu para sahabat, para tabi’in dan tabiit-tabi’in sampai sekarang ini sangat menghormati dan mencintai para keturunan ahlulbait dan kerabat Rasul SAW, yang dalam masyarakat Bugis dan sekitarnya, keturunan ahlulbait Rasul SAW itu dipanggil Puang Sayye’ untuk laki-laki dan Puang Syarifah untuk perempuan.

Siapakah Ahlul Bait Nabi SAW?

Menurut bahasa ahlulbait artinya penghuni rumah, tapi kadang-kadang ahlulbait itu diberi makna khusus, yaitu istri, seperti dalam Al-Quran, kata: Saara bi ahlihi, artinya ia (Nabi Musa) berjalan bersama ahlinya (istrinya) (S. Al-Qashash, 28;29) Dalam hadis Nabi SAW bersabda; khairukum khairukum li ahlihi, wa ana khairun li ahliy artinya, orang yang paling baik diantara kamu ialah orang yang paling baik kepada ahli (istri)nya dan akulah orang yang paling baik kepada ahli (istri)ku.(H.R. Tirmidzi) Dalam ayat lain; Rahmatullahi ‘alaikum wabarakatuhu ’alaikum ahlil bait artinya Rahmat Allah dan berkatnya atas kamu ahlulbait (S. Hud,11:73). Yang dimaksud ahlulbait disini ialah istri Nabi Ibrahim AS.

Dalam pengertian agama Islam maka istilah ahlulbait mencakup beberapa makna:

1.      Para istri dan keturunan Nabi SAW karena merekalah yang menjadi panghuni rumah NAbi SAW,  alasannya;

a.      Dalam S.Al-Ahzab,33:33 yang mengandung lafadz, ahlulbait, diawali dengan beberapa perintah kepada istri-istri Nabi SAW, sehingga secara otomatis merekalah yang paling berhak disebut ahlulbait. Bahkan mulai ayat 28-34, berkaitan dengan petunjuk Allah kepada istri Nabi SAW,

b.      Dalam tasyahhud kita membaca: Allahumma shalli ‘alaa Muhammd wa ‘alaa aali (keluarga) Muhammad, dalam hadis yang lain,  Allahumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa azwajihi wa dzurriyatihi- Ya Allah, rahmatilah Nabi Muhammad dan para istrinya dan keturunannya. Berarti istri dan keturunannya adalah keluarganya.

2.      Sayyidina Ali RA, Fatimah RA, Hasan RA dan Husain RA dan keturunannya. Berdasarkan hadis: Nabi SAW keluar pada suatu pagi dengan memakai kain selimut wol dari bulu hitam lalu datanglah Hasan RA, maka Nabi SAW memasukkannya, lalu datang Husain RA maka ia memasukkannya. Kemudian datang Fatimah RA maka ia pun memasukkannya, sehingga datanglah Ali RA, maka ia memasukkannya bersama-sama (kedalam selimut itu) kemudian Nabi SAW membaca: S. Al-Ahzab, 33:33

3.      Termasuk ahlulbait (keluarga) Nabi SAW ialah Bani (keturunan) Hasyim dan Bani (keturunan)  Muththalib yang masuk Islam. Hasyim adalah ayah Abd. Muththalib kakek Nabi SAW sedang Muththalib saudara Hasyim. Merekalah yang disebut dalam Al-Quran S. Al-Anfal,8:4 dan S. Al-Hasyr,59:7 sebagai dzilqurba (kerabat) Nabi SAW yang berhak mendapat bagian harta rampasan perang (ghanimah) dan harta rampasan tanpa perang (fa’i). Ada sahabat RA bertanya kepada Nabi SAW, kenapa Bani Muththalib diberikan bagian harta rampasan bersama Bani Hasyim, padahal ada juga saudara Hasyim yang lain seperti Abdusy-Syamsi, Naufal yang juga mempunyai keturunan, kenapa tidak diberi bagian? Nabi SAW menjawab: sesunguhnya Bani Muththalib dan Bani Hasyim itu satu. Mereka tidak berpisah di zaman jahiliyah dan di zaman Islam (H.R. Bukhari)

Dengan menggabungkan keterangan no.1, 2 dan 3 maka kata ahlulbait Nabi SAW maksudnya ialah para istrinya, Bani Muththalib dan Bani (keturunan) Hasyim dimana Ali ra, Fatimah ra, Hasan ra dan Husein ra dan keturunan mereka semuanya termasuk didalamnya. Membatasi pengertian ahlulbait Nabi SAW hanya kepada Ali ra, Fatimah ra, Hasan ra, dan Husein ra serta keturunan Husein ra  yang sembilan dalilnya lemah atau salah memahami dalil yang sahih. Ada pertanyaan yang menarik yaitu, kenapa imam yang sembilan sesudah Husain ra hanya diambil dari keturunan Husain ra? Bukan dari keturunan Hasan ra, padahal Hasan ra lebih tua dari Husain ra. Jawabannya ialah karena kesembilan imam tersebut adalah keturunan Husein ra dari perkawinannya dengan seorang putri bangsawan keturunan Kisra (raja) Persia. Semoga keterangan ini bermanfaat untuk mengenal siapa sebenarnya ahlulbait Nabi SAW yang perlu kita muliakan dan kita cintai berdasarkan dalil yang sahih. Juga semoga menjadi renungan dan bandingan bagi orang-orang yang membatasi pengertian ahlulbait Nabi SAW kepada orang yang tertentu saja.Ya Allah nampakkan kepada kami kebenaran itu, kami sadari sebagai kebenaran dan berilah kemampuan mengikutinya.Amiin (M.Said.Abd.Shamad)

Dimuat di harian fajar, kolom opini  bulan Juni

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More