SIKAP KRITIS SEBAGIAN DARI KEPRIBADIAN MUSLIM-1


Dalam menghadapi perbedaan dibutuhkan sikap kritis agar diperoleh perubahan kearah perbaikan.
Didalam Al-Quran sendiri banyak kisah teladan tentang sikap kritis nabi dan Rasul Alaihimussalam, terhadap ketimpangan yang ada disekelilingnya.mereka tidak tinggal diam dan bersikap apatis atau membiarkan kezaliman tersebut. kisah nabi Ibrahim alaihissalam yang menggugat penyelewengan bapak dan kaumnya (QS.Al-An’am:74), para pemuda Ashabul kahfi yang kritis, begitu pula kisah burung hud-hud serta nasehat Luqmanul Hakim kepada anaknya untuk bersikap kritis dan mencegah kemungkaran serta menyeru kepada yang ma’ruf.
Akhir akhir ini kita mendapatkan segolongan orang yang mencela para sahabat nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wasallam.kita tentu merasa sangat terusik dengan hal tersebut terlebih mereka menda’wah pendapat dan pandangan mereka yang sebenarnya sangat perlu untuk dikritisi.kita tentu tidak langsung menerima pendapat mereka itu karena didalam sejarah kita mengetahui bahwa para sahabat adalah orang yang pertama-tama beriman dan berjuang bersama rasulullah untuk membela dan menyebarkan islam dengan mengorbankan seluruh apa yang mereka miliki.Mereka adalah murid-murid langsung dari rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang memiliki sifat yang mulia hingga Allah subhanallahu wata’ala memuji mereka dalam surah Al-fath:29:

”Muhammad adalah utusan Allah DAN ORANG-ORANG yang bersamanya keras terhadap orang –orang kafir,tetapi berkasih saying terhadap sesame mereka. Kamu melihat mereka rukuk’ dan sujud mencaari karunia Allah dan keridhoanNya. Tanda tanda mereka tampak pada mukanya dari bekas sujud. Demikin sifat merekadalam taurat dan sifat-sifat meraka dalaminjil,yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya,maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat,lalu menjadi besarlah ia dan tegak lurus diatas batangnya.Tanaman itu mennyenagkan hati orang yang menanamnya,agar Allah menjengkelkan hati orang orang kafir (dengan kekuatan oaring –oarang beriman). Allah menjanjikan kepada orang –orang yang beriman dan beramal shaleh diantara mereka dengan ampunan dan pahala yang besar.(Q.S Al-Fath)
 
Makalah yang berjudul ”Sahabat dalam timbangan Al-Quran, sunnah dan ilmu” oleh Prof.Dr.Jalaluddin Rakhmat yang disampaikan di UIN 6 Pebruari yang lalu,memaparkan bahwa sebenarnya para sahabat nabi shallallahu alaihi wasallam, terutama umar radiyallahu ‘anhu, ahli badr dan uhud, tidak taat terhadap nabi bahkan mengindikasikan mereka adalah orang kafir,kecuali segelintir dari sahabat yang tetap beriman,sehingga mereka tidak mengakui tiga khalifah yang utama (Abu bakar,umar dan Utsman radiyallahu anhum).Kang jalal juga mempertegas bahwa”Ahlul bait dijamin suci dengan firman Allah (QS.Al-Ahzab:33),maka sebagai seorang syiah,mereka tidak menemukan imam yang patut dipatuhi,selain ahlulbait.

Pendapat yang meragukan sahabat-sahabat rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang utama akan berdampak adanya keraguan terhadap Al-Quran,hadits –hadits shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan islam itu sendiri, karena yang mengumpulkan Al-Quran,menyebarkan dan menda’wakan islam adalah para sahabat Rasulullah shallallahu.
Sebagai orang yang benar benar beriman, jika kita memiliki perbedaan pendapat maka kita kembalikan ia kepada Allah(Al-Quran) dan RAsulNya (Sunnah).(QS.An-Nisa:59, lihat juga QS.At-Tawbah:100) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengingatkan:”Sesungguhnya siapa diantara kalian yang hidup (berumur panjang),maka ia akan menemuai perselisihan yang banyak.Maka ikutilah sunnahku dan sunnah khulafaurrasyidin yang mendapat petunjuk.(HR.Ahmad,Abu Daud,Tirmidzi). Pemakalah: Ust.H.M.Sa’id Abdul Shamad,Lc

Pembanding: Prof.Dr.H. Mansyur Ramli (Kepala Litbang Diknas Jakarta)
Dalam proses mencari kebenaran suatu pendapat, bersifat kritis menjadi hal kita perlukan .Proses kritis dimulai dari sikap skeptis, Yaitu keraguan terhadap suatu berita dan selalu diikuti upaya untuk menjawab keraguan itu.Sehingga skeptis, membutuhkan sikap analitis yakni mengurai,mengelompokkan,serta mengaitkan sehingga permasalahan dapat dipetakan secara ‘sempurna’.akhirnya kita melihat permasalahan itu dengan kritis yaitu menentukan mana yang benar, dengan melihat proses analitis .Mengekritik, berarti menempatkan sesuatu masalah secara proporsional setelah jelas data-data yang diperoleh,lalu kemudian mengambil kesimpulan terhadap pendapat tersebut.

Begitu pula ketika ada masalah maka kita perjelas dulu permasalahannya setelah itu mecari jalan keluarnya jalan keluarnya.kita sebagai umat islam jika berpikir tentang kebenaran, maka hal itu kita kembalikan kepada Al-quran dan penjelasannya yaitu sunnah nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,tidak seperti kebanyakan cara pemikiran dibarat yang bebas nilai. Seorang muslim itu berpikir bebas tetapi dengan batas yakni suati sumber mutlak,sehingga dikatakan panduan berpikir kita ialah Al-quran.
Kebenaran mutlak yang merupakan tanda kebenaran Allah subhanahu wata’ala itu ada dua, dimana keduanya adalah identik.dikatakan identik karena secara substansial ia adalah sama namun dalam wujud atau bentuknya ia berbeda. Kedua sumber itu ialah Al-quran yang jumlahnya 30 juz dengan penjelasan sunnah dan kedua ialah alam raya yang kita temui dalam kehidupan kita, termasuk didalamnya alam ghaib.

Adanya pendapat pandapat miris kepada sahabat nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, Umar radiyallahu anhu yang dinilai meragukan kebenaran kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,perlu kita sikapi dengan skeptis, kemudian kita analisis informasi tersebut,bersifat kritis dan menentukan sikap kita.
Didalam islam telah ada sumber kebenaran mutlak dan suatu pembanding dalam masalah perbedaan yakni Al-Quran yang tentu kita tidak boleh bersikap skeptic terhada Al- quran itu.Namun dalam perkembangannya,timbul penafsiran yang berbeda-beda mengenai ayat ayat tertentu dalam Al-Quran,Tiap-tiap orang memiliki pendapatnya masing – masing.Penafsiran terhadap Al-quran itulah yang menimbulkan kebenaran relative.kita perlu menelaah dari mana penafsiran itu muncul, dari mana sumber informasinya,buku apa yang menjadi rujukan dan siapa penulisnya begitu seterusnya.
Dalam menghadapi perbedaan kita sikapi dengan membuka diri, jangan sebagai pemecah belah,tetapi kita jadikan ia sebagai modal untuk menemukan kebenaran. Contoh misalnya, penafsiran alif lam mim dalam al-Quran,ahli matematika memiliki penafsiran berbeda dengan seniman, begitu pula ulama memiliki penafsiran yang berbeda.Pertanyaannya adalah pantaskah penafsiran seorang matematikawan ataupun seniman, yang menafsirkan dari sudut pandangnya kita jadikan rujukan? Atau untuk mengatakan inilah penafsiran yang paling mendekati kebenaran? Terhadap Al Quran, tentu tak ada keraguan didalamnya, namun kita patut mendudukkan ayat itu drengan cara penafsiran ayat dan hadits yang komprehensif.kita berharap perbedaan itu tidak kita latar belakangi oleh kepentingan-kepentingan kelompok sehingga kepentingan umat terabaikan.perbedaan kita jadikan sebagai alat untuk menemukan kebenaran bukan melahirkan permusuhan.
Kita sangat berharap umat islam itu bersatu sehingga tidak mudah diadu domba atau dipecah belah oleh Negara atau kelompok yang tidak senang dengan persatuan ummat islam
Kita menyikapi pendapat pendapat tersebut dengan menggunakan langkah–langkah kritis berfikir terbuka ditambah data/ fakta yang benar dan berdasar Al-Quran yang ditafsirkan dengan baik serta penjelasan hadits atau sunnah yang shahih. (berlanjut...)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More