Keluarga di Kampung Tidak Tahu Kalau Anaknya Mut'ah di Kota

·         Kebanyakan laki-laki dalam nikah mut’ah bertujuan untuk mencari kesenangan seksual dari perempuan. Bukan untuk melahirkan keturunan
·         Nikah Mut’ah semakin marak di Makassar, kebanyakan pelakunya dari kalangan mahasiswa dan mahasiswi
·         Praktik Mut’ah dilaksanakan oleh lembaga dakwah Syiah secara sembunyi-sembunyi. Mustahil dicatat oleh KUA
·         Lulus kuliah mut’ah pun selesai
·         Masa kontrak mut’ah ada yang hanya seminggu
·         Bersetubuh dalam nikah mut’ah tergantung kesepakatan pasangan muda-mudi
·         Virus HIV menyebar di Irak melalui hubungan dengan lawan jenis secara intensif lewat mut’ah, melebihi apa yang biasa dilakukan seorang pelacur
·         Pengaruh hubungan cinta wanita pelaku mut’ah; harus banyak minum pil pahit kecemburuan
·         Dan masih banyak lagi poin penting yang Anda akan dapatkan dalam kata pengantar penulis skripsi “Perempuan Dalam Nikah Mut’ah” berikut ini:
Pernikahan adalah bersatunya seorang perempuan dan laki-laki dalam sebuah ikatan yang diridhai Allah SWT dan di antara keduanya muncul sebuah komitmen untuk menjalani kehidupan yang baru. Pernikahan akan membentuk sebuah keluarga yang akan memberikan perlindungan dan kasih sayang bagi keturunannya, sehingga menghasilkan keturunan yang mengalirkan darah-darah baru di masyarakat, dengan demikian pernikahan bukanlah sekedar pemilihan yang bersifat individu saja, akan tetapi juga merupakan tangung jawab masyarakat (Shalih, 2007).
Adanya fenomena nikah mut’ah yaitu pernikahan yang memiliki jangka waktu tertentu, kini mulai ramai dibicarakan oleh lapisan masyarakat. Hasil penelitian yang dilakukan Wahyuni (Tanpa Tahun) mengungkapkan bahwa permasalahan tentang nikah mut’ah kini dibahas hingga tingkat Departemen Agama RI, sehingga memunculkan Draf Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang disusun oleh Tim Pengarusutamaan Gender bentukan Departemen Agama RI.

Jalaluddin Rakhmat dan 3 Mahasiswi Makassar Korban Mut’ah

Makassar merupakan salah satu pusat penyebaran aliran sesat Syiah yang begitu pesat. Banyak hal yang melatarinya, diantaranya kader-kader mereka yang siang-malam bekerja untuk kesesatan dan juga para tokoh Muslim di daerah ini yang seakan tidur. Membiarkan dan bahkan meridhai. Dan parahnya di antara mereka ada yang “mengamuk” di media massa jika muncul gerakan untuk mewaspadai gerakan Syiah di kota daeng ini.
Selain itu, juga karena Syiah memilik jualan pelaris. Namanya nikah mut’ah. Banyak mahasiswi yang datang dari kampung kuliah di kota Makassar merasa kesepian. Butuh pelindung dan pendamping dengan cara yang “halal” karena pacaran haram. Dan ini mereka dapatkan pada nikah mut’ah.
Melihat fenomena ini, seorang mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) jurusan psikologi tertarik untuk mengadakan penelitian lapangan mengenai perkembangan kawin kontrak di kalangan mahasiswi di kampus-kampus di kota metropolitan ini.
Setelah mendapat data dari berbagai sumber -termasuk informan- ia tuangkan hasil penelitian tersebut dalam bentuk skripsi yang berjudul, “Perempuan Dalam Nikah Mut’ah.”
Penelitian ini berhasil mewawancarai 3 mahasiswa yang sudah atau sedang menjalani nikah mut’ah. Masing-masing dengan kode AB untuk wanita pertama, BC untuk wanita kedua, dan CD untuk wanita ketiga. Namun berikut ini kami sajikan hasil penelitian dari wanita pertama saja (AB). Yang lain kami tuangkan dalam bentuk scan bagan yang terdapat dalam skripsi.
Kenal Nikah Mut’ah
Wawancara (wwc) No. 104-133
Peneliti: Jadi, kalau pandangan kita’ (anda), MT (Mut’ah) itu tidak bersetubuh ya?
Mahasiswi: Tidaaak, tidak juga. Maksud saya MT itu bukan, tergantung dari kesepakatan kedua pihak juga sih.
Peneliti: Iya, tergantung kesepakatan.
Mahasiswi: Iya, tergantung kesepakatan, tapi untuk, untuk menjaga diri sendiri, lebih bagusnya, eee, jangan dulu lah menuju kesana. Maksudnya, MT itu hanya sebatas, eee, misalnya kita mau diskusi, maksudnya selalu mau, eee, rutin diskusi, diantar jemput, hal-hal yang seperti itu. Tapi bukan maksudnya sampai hal-hal, eee, memiliki efek jangka panjang secara psychology.
Peneliti: Eeee, siapa yang awalnya mengenalkan, eee, MT ini kepada kita’ (anda)?
Mahasiswi: Ustadz XX (sambil tertawa memandangi peneliti dan informan)
Peneliti: Eee, bagaimana bisa awalnya berkenalan dengan ustadz XX?
Mahasiswi: Eee, awalnya itu, melalui perpanjangan tangannya (sambil tertawa) ada muridnya, langsung muridnya di AAA (salah satu universitas di makasar) namanya JP,.... ehm (batuk)... ee dan dia, eee, anak JH (salah satu lembaga intra kampus) juga...
Peneliti: Iya..
Mahasiswi: Terus karena, eee, saya bicara tentang JP dulu nah, cerita awalnya dulu
Peneliti: Iye (iya), mungkin bisa disingkat saja prosesnya.
Mahasiswi: Oh iye, intinya saya diperkenalkan melalui itu, saya ikut TOT (Training Of Trainer), terus, eee, ikut juuga materi-materi yang seperti itu, falsafah nikah.
***
Motivasi Mut’ah
“Hal tersebut juga dilakukan oleh AB (inisial mahasiswi) yang memandang nikah mut’ah sebagai salah satu sunnah Rasulullah SAW.” (Skripsi “Perempuan Dalam Nikah Mut’ah” hal 57)
“Ada empat hal yang mendasai AB ingin melakukan mut’ah, yang pertama adalah alasan keyakinan bahwa nikah mut’ah adalah Sunnah Rasulullah SAW yang sangat dianjurkan untuk dijalankan dan hal demikian lebih dipertegas dalam hadis-hadis Syiah yang mengatakan bahwa apabila tidak menjalankannya, maka AB bisa termasuk golongan kafir (wwc. 1. AB, 149-165).” (Skripsi “Perempuan Dalam Nikah Mut’ah” hal. 59)
Keluarga Tidak Tahu
Wawancara No. 175-188
Peneliti: Apakah, eee, keluarga ta’ tau’, kalau kita’ MT?
Mahasiswi: Keluarga sayaaaa (menggerak-gerakkan badan), bapak saya tau,..
Peneliti: Heem,.. dan?
Mahasiswi: Tapi Bapak saya tidak tau kalau MT namanya (sambil tertawa)
Peneliti: Ooooo, Bapak tau kalau,....
Mahasiswi: Saya punya hubungan dengan cowo’, tapi dia tidak tau kalau itu MT.
Peneliti: kalau kita’ (anda) punya hubungan?
Mahasiswi: He em..
Peneliti: Tapi dia tidak tau bilang MT ya?
Mahasiswi: iya, ndak tau. MT kesalahan prosedur sebenarnya (tertawa), terlanjur mi jadi mau mi di apa, (sudah terlanjur, jadi mau diapakan lagi)
Wawancara No. 929-934
Mahasiswi: Kalau perasaan saya sekarang sih, masiiiih, ya kali saya pake’, apa namanya, aduh ada kakakku.....
“Tiba-tiba saja, kakak subjek datang dan pembicaraan dihentikan sejenak.”
Peneliti: Ooo, tidak na tau kace kah? (Ooo, kakak tidak tau ya?)
Mahasiswi: Tidak (menundukkan kepala)
***
Ustadz dan Lembaga Dakwah Syiah berubah jadi KUA
Wawancara No. 768-772
Peneliti: Trus, eee, proses untuk MTnya itu yang menjadi wali dan segala macam, siapa?
Mahasiswi: Ustad saya ji yang... (hanya Ustadz saya yang...)
Peneliti: Ustadnya jadi yang...
Mahasiswi: Iya
***
Mahar, Ijab Qabul dan Jenis Perjanjian
“Ketika AB melakukan pernikahan secara mut’ah tidak dihadiri oleh saksi maupun wali. (wwc 2. AB, 262-264; 557-569). Adapun maharnya yaitu berupa cincin dan HP, dimana jenis maharnya ada proses tawar menawar dengan pasangannya (Wwc 2. AB, 281-282; 309-312). Selain itu, ada beberapa jenis perjanjian yang diikrarkan oleh AB dan pasangannya, yaitu terbuka, tidak boleh selingkuh, tidak boleh bohong dan hanya diucapkan secara lisan saja tidak dalam bentuk tertulis (wwc 1. AB, 380-383; 759-765 & wwc 2. AB, 637-639).” (Skripsi “Perempuan Dalam Nikah Mut’ah” Hal. 61-62 )
Nikah Mut’ah Berkali-kali
Wawancara No. 761-765
Mahasiswi: Emmm, apa lagi ya, perjanjian saya itu, karena beberapa kali ma (saya sudah nikah mut’ah untuk kesekian kalinya)
Peneliti: itu, eh, itu perjanjiannya itu ditulis dalam secarik kertas atau hanya lisan?
Mahasiswi: Hanya lisan saja
***
Dalam Nikah Mut’ah Halal Bersetubuh dan Berdosa Jika Tidak Melakukannya
Wawancara No. 881-883
Peneliti: Sempat berhubungan?
Mahasiswi: Iya (mengangguk dan memandang ke peniliti)
Peneliti: Ehm,..
***
“Alasan bersetubuh: Sudah budaya di tempat kajiannya, berdosa jika menolak, pasangan halal dan seringnya mereka berdua-duan dan bermesra-mesraan.” (Skripsi “Perempuan Dalam Nikah Mut’ah” Hal. 109)
Andil Jalaluddin Rakhmat dalam Penyebaran Nikah Mut’ah
Wawancara No. 988-1015
Mahasiswi: Dan itu, dan itu, itu yang yang menurut saya penting.
Peneliti: He eh
Mahasiswi: Penting, lelaki, lelaki, Eee, kalau boleh dibilang ya harus, eee, baca dulu bukunya Mustafah Chamran, atau kalau Mustafah Chamran yang sangat mencintai perempuan, eee, dan meneladani Ayatullah, Ayatullah, apalagi kalau dia Syiah. Harus dia meneladani Ayatullah, Ayatullah, bukan hanya sekedar di konsep semata, tapi dia memang harus merealisasikan kecintaannya kepada perempuan itu, kata Kang Jalal, bukan karena tapi, walaupun,.. jadi, bagaimana pun perempuan itu, seperti apapun dia, harus kita menerima pasangan kita. Begitu pun saya, kalau misalnya dibilang kekurangan dia, ya mungkin karea kekurangan itu yang mempertemukan kita. Apa saya bilang, kalo misalnya cowok selalu mencari kecocokan, selalu mencari yang lebih baik, eee, wajarlah dalam satu sisi, tapi di sisi lain, ketika kita sudah, ee, misalanya sudah, sudah sama dan kita selalu mencari, apa, apa namanya, kecocokan itu selalu dijadikan alasan kita akan pisah, ketika tidak cocok, itu saya pikir, dia sangat materialis sekali, maksudnya dia sangat ego dan hanya mementingkan dirinya sendiri. Ya begitu. Jadi maunya, ya harus balance, balance, balan, ce.
Peneliti: Hehehe..
***
Selain itu Harian Fajar Makassar pernah memuat wawancara khusus dengan Jalaluddin Rakhmat pada, 25 Januari 2009. Tentang Nikah Mut’ah Ketua Dewan Syuro IJABI ini mengatakan, “Nikah Mut’ah memang boleh saja dalam pandangan agama karena masih dihalalkan oleh Nabi saw. Dan apa yang dihalalkan oleh Nabi saw, maka itu berlaku sampai kiamat.”
Begitu juga dalam buku Pedoman Dakwah IJABI, “40 Masalah Syiah” yang dieditori oleh Jalaluddin Rakhmat, dikatakan bahwa Nikah Mut’ah halal. Kesimpulan penghalalan Nikah Mut’ah ini ternyata hanya dengan logika konyol. Bahwa Mut’ah pernah dihalalkan di zaman Nabi dan para ulama (?) berselisih tentang pengharamannya setelah itu. Maka Syiah mengambil pendapat yang sudah disepakati (pernah halal) dan meninggalkan yang diperselisihkan (apakah masih halal atau sudah diharamkan).
Padahal dengan tegas, Nabi telah menghapus kehalalan hukum Nikah Mut’ah. Bahkan hadis itu sendiri diriwayatkan oleh Imam Ali radhiyallahu anhu. Karena itu, Imam Muslim dalam Shahihnya membuat satu bab khusus dalam kitab Nikah dengan judul,
بَابُ نِكَاحِ الْمُتْعَةِ، وَبَيَانِ أَنَّهُ أُبِيحَ، ثُمَّ نُسِخَ، ثُمَّ أُبِيحَ، ثُمَّ نُسِخَ، وَاسْتَقَرَّ تَحْرِيمُهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Bab Nikah Mut’ah dan penjelasannya bahwa hal itu pernah dihalalkan, kemudian dihapus (kehalalannya). Kemudian dihalalkan lalu diharamkan lagi. Dan hukumnya tetap haram sampai hari kiamat.”

*Untuk gambar lebih besar klik kanan pada gambar, klik "open picture/ image in new tab"

(Muh. Istiqamah/lppimakassar.com)

Perbandingan Obama dengan Presiden Negara Syiah


Ket Gambar:

21 Kebohongan Jalaluddin Rakhmat Saat Membela “Keislaman” Abu Thalib

Al-Mushthafa; Manusia Pilihan yang Disucikan adalah salah satu buku pegangan Syiah di Indonesia yang ditulis Jalaluddin Rakhmat (JR) untuk melegalkan praktik caci-maki mereka kepada para sahabat Nabi saw.
Selain itu, di antara propaganda buku ini adalah usaha untuk menjatuhkan kitab-kitab hadis Kaum Muslimin. Membuat kaum Muslimin hilang kepercayaan terhadap sabda-sabda Nabi yang dikumpulkan oleh para ulama terutama Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Contoh kasus yang dia gunakan mengenai “keislaman” Abu Thalib, paman Nabi saw. Beberapa hadis dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim memuat keterangan dari Nabi Muhammad Saw, bahwa Abu Thalib meskipun banyak membela keponakannya dalam dakwah tetap saja ia termasuk penghuni Neraka karena sampai akhirnya hayatnya tidak mau mengucapkan kalimat Lailaha Illallah.
Untuk memahami masalah ini lebih dalam kita langsung masuk ke inti masalah. Dimulai dengan hadis yang terdapat dalam Shahih Muslim:
حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْحَارِثِ، قَالَ: سَمِعْتُ الْعَبَّاسَ، يَقُولُ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ أَبَا طَالِبٍ كَانَ يَحُوطُكَ وَيَنْصُرُكَ فَهَلْ نَفَعَهُ ذَلِكَ؟ قَالَ: «نَعَمْ، وَجَدْتُهُ فِي غَمَرَاتٍ مِنَ النَّارِ، فَأَخْرَجْتُهُ إِلَى ضَحْضَاحٍ».
Berikut ini komentar Jalaluddin Rakhmat:
Lalu mengapa ada hadis dhahdhah di atas? Mari kita telaah hadis-hadis tadi, secara kritis:
Jika kita perhatikan orang-orang yang meriwayatkan hadis (rijal), hampir semuanya termasuk rangkaian pendusta atau mudallis, atau tidak dikenal. Muslim menerima hadis ini dari Ibnu Abi Umar yang dinilai para ahli hadis sebagai majhul. Ibnu Abi Umar menerimanya dari Sufyan al-tsauri. Sufyan disebutkan oleh al-Dzahabi dalam Mizan al-‘Itidal sebagai “innahu yudallisu wa yaktubu min al-kadzdzabin”, ia melakukan tadlis dan meriwayatkan hadis dari para pendusta. Sufyan al-tsauri menerimanya dari Abdul Malik bin ‘Umayr, yang panjang usianya dan buruk hapalannya. Kata Abu Hatim: Tidak bisa dipercaya hapalannya. Sudah berubah daya hapalnya. Kata Imam Ahmad: lemah dan salah. Kata Ibnu Mu’in: Membingungkan. Syu’bah tidak senang  kepadanya. Menurut al-Kawsaj dari Ahmad: dha’if jiddan, sangat lemah. Kata Ibnu Hibban: mudallis (Lihat Mizan al-I’tidal 22: 690).
(al-Mushthafa, hal 138)
Selain hadis dalam Shahih Muslim, ia juga mengkritik hadis yang berada dalam Shahih Bukhari:
حَدَّثَنَا أَبُو اليَمَانِ، أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ: أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ المُسَيِّبِ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الوَفَاةُ، جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلٍ، وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي أُمَيَّةَ بْنِ المُغِيرَةِ، فَقَالَ: " أَيْ عَمِّ قُلْ: لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ " فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ: أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ المُطَّلِبِ؟ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ [ص:113]، وَيُعِيدَانِهِ بِتِلْكَ المَقَالَةِ، حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ: عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ المُطَّلِبِ، وَأَبَى أَنْ يَقُولَ: لا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ.
Berikut ini komentarnya terhadap hadis dalam Shahih Bukhari di atas:
Al-Hawzani, Kata al-Dzahabi ia dilemahkan oleh Ibnu Qathan karena hadisnya mursal (Mizan al-I’tidal 4: 589); Syu’aib, tidak dikenal dan al-Dzahabi banyak menyebut orang yang namanya Syu’aib. Kebanyak daif, pembohong, bodoh, dan hadisnya tidak diragukan (Mizan al-I’tidal 2: 275-8); Al-Zuhri, termasuk yang sangat membenci Imam Ali. Ibnu Abil Hadid memasukkannya dalam kelompok pencipta hadis maudhu’ (bikinan); Sa’id bin Musayyab, kata Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah, pernah meriwayatkan hadis ini, “Barangsiapa yang mati mencintai Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan menyayangi Muawiyah wajib bagi Allah untuk tidak memeriksanya pada hari kiamat.”
(al-Mushthafa, hal 145)
Belum puas dengan ini, manuvernya ia lanjutkan. Kritikan berikutnya kembali kepada Shahih Muslim:
وحَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى التُّجِيبِيُّ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ وَهْبٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ: أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيِّبِ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الْوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلٍ، وَعَبْدَ اللهِ بْنَ أَبِي أُمَيَّةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " يَا عَمِّ، قُلْ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللهِ "، فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ، وَعَبْدُ اللهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ: يَا أَبَا طَالِبٍ، أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ؟ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ، وَيُعِيدُ لَهُ تِلْكَ الْمَقَالَةَ حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ: هُوَ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، وَأَبَى أَنْ يَقُولَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَمَا وَاللهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ»، فَأَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: {مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ} [التوبة: 113]، وَأَنْزَلَ اللهُ تَعَالَى فِي أَبِي طَالِبٍ، فَقَالَ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: {إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ}
Berikut ini kritikannya:
Dalam hadis Muslim, kita menemukan rangkaian periwayat yang juga daif; Harmalah bin Abdullah al-Farhadani: daif (Mizan al-I’tidal 1:472); Abdullah bin Wahab, Imam Ahmad ditanya tentang dia, “Apakah ia suka salah mengambil hadis.” Ia menjawab, “Benar” (Mizan al-I’tidal: 2: 521-2); Yunus, ada banyak nama Yunus, di antaranya ada yang pendusta, hapalannya jelek, majhul, munkar al-hadits (Mizan al-I’tidal: 4: 477-485); Ibnu Syihab, tidak terdapat dalam kitab-kitab rijal; Muhammad bin hatim al-Samin, kata al-Fallas: tidak diperhitungkan, kata Ibnu Madini: Pendusta (Mizan al-I’tidal 3: 503); Yahya bin Sa’id, banyak orang dengan nama ini dan semuanya dikecam al-Dzahabi sebagai orang-orang mungkar dan daif. Kata al-Nasa’i: Ia meriwayatkan banyak hadis mawdhu’ dari al-Zuhri (Mizan al-I’tidal 4: 377-380).
(al-Mushthafa, hal 145)

Kebohongan yang Rapuh pun Terbongkar
Membaca kritikan Jalaluddin Rakhmat terhadap para perawi di atas membuat kita terperanjat. Sebegitu rendahkah kualitas para perawi Shahih Bukhari dan Shahih Muslim?
Mari kita coba kembali melihat kitab-kitab rujukan yang dia gunakan dalam mengkritik para perawi tersebut.
*Penomoran di bawah untuk mengurutkan jumlah kebohongannya. Baik itu berbohong atas nama perawi maupun berbohong atas nama Ulama ahl Jarh wa at-ta’dil.
Hadits pertama
1. Hadis tentang  dhahdhah, kita lihat satu persatu (sanadnya), dia (JR) katakan bahwa “Jika kita perhatikan orang-orang yang meriwayatkan hadis atau rijalnya hampir semua termasuk rangkaian para pendusta atau mudallis atau tidak dikenal” , Mari kita liat satu persatu (untuk membuktikan kebenaran pernyataannya).
2. dan 3. Perawi Pertama : Ibn Abi Umar, kata JR orang ini menurut “Para ahli hadis sebagai majhul”, ada dua pertanyaan untuk JR disini, Siapa para ahli hadis yang dimaksudkan? dan (kedua) majhulnya ini, majhul hal atau majhul ‘ain? Majhul hal artinya seorang perawi yang tidak diriwayatkan kecuali dua orang saja, dan majhul ‘ain seorang perawi yang cuma satu yang meriwayatkannya. Padahal siapa itu Ibn Abi Umar ? Buku-buku rijal hadis semuanya menyebutkan bahwa dialah Muhammad bin Yahya bin Abi Umar al Adani dan dia diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, Ibn majah, Baqi’ bin Makhlad, Abu Zur’ah ad Dimasyqi, Abu Zur’ah ar Razi, Abu Hatim ar Razi dan banyak sekali ulama, (kalo begitu) dari mana dikatakan bahwa dia seorang majhul? padahal begitu banyak sekali perawi hadis yang meriwayatkan dari dia. (Dua nomor karena berdusta atas Ibnu Abi Umar dan juga kepada para ahli hadis. Dan seterusnya seperti ini)
4., dan 5. Kemudian perowi yang kedua: Sufyan ats Tsauri. JR mengatakan, “Sufyan disebutkan oleh al-Dzahabi dalam Mizan al-‘Itidal sebagai “innahu yudallisu wa yaktubu min al-kadzdzabin”, ia melakukan tadlis dan meriwayatkan hadis dari para pendusta.” Padahal dalam Mizan al-I’tidal, Imam Al-Dzahabi menyebutkan seperti ini, “Wa la ‘ibrata liqauli man qala innahu yadallisu wa yaktubu min al-kadzdzabin” jangan percaya pada orang yang mengatakan bahwa ia melakukan tadlis dan meriwayatkan hadis dari para pendusta. Ucapan Imam Al-Dzahabi dipotong, sehingga maknanya berubah drastis. (Berbohong atas Sufyan ats Tsauri dan juga kepada Imam Al-Dzahabi, karena menyimpangkan perkataannya)
6., 7., dan 8. Perawi Ketiga adalah : Abdul Malik bin ‘Umair; di sini disebutkan beberapa perkataan rijal hadis atau ulama hadis yang melemahkannya karena usianya sudah tua dan akhirnya buruk hafalannya dan seakan-akan semuanya sepakat mengatakan seperti itu, di sini juga dikatakan bahwa imam dzahabi menukil perkataaan ibnu Mu’in, ini juga diantara kesalahan yang fatal dalam buku ini, yaitu salah dalam menyebutkan nama-nama perawi hadis menunjukkan bahwa tidak ditelaah dengan baik padahal seharusnya Ibnu Ma’in dan juga di sini dikatakan bahwa Ibn Hibban mengatakan bahwa Abdul Malik bin ‘Umair mudallis padahal dalam mizanul I’tidal yang disebutkan disini tidak ada sama sekali perkataan ibnu hibban bahkan imam dzahabi meyimpulkan dalam bukunya Mizanul I’tidal (yang katanya dikutip oleh Jalal) bahwa perawi ini Abdul Malik bin Umair ialah sama dengan Abu Ishak as Sabi’i dan Said al Maqbury yang mana setelah terjadi ikhtilath padanya dalam artian setelah tua dan hafalannya sudah buruk maka dia berhenti untuk meriwayatkan hadis. Artinya hadis-hadis yang telah disampaikan adalah hadis-hadis yang beliau riwayatkan ketika hapalannya masih kuat, jadi tidak ada persoalan. (Berbohong atas Abdul Malik bin Umair, Ibnu Hibban, dan Imam Adz-Dzahabi)
9. Dan sungguh sangat disayangkan dalam buku ini (al-Mustafa) Jalal mengatakan, “Lihat mizanul I’tidal jilid 22 hal 690”, buku mizanul I’tidal cetakan apa ini? Padahal Mizanul I’tidal cuma 5 jilid dalam semua cetakannya, lalu jilid 22 ini dari mana?
*nomor 2 sampai 8 membuktikan kebohongan ucapan Jalal di nomor 1.
Hadis yang kedua
10. Hadis yang diriwayatkan oleh imam bukhari, dia (JR) menyebutkan (hadits ini) sebagai contoh rangkaian rijal yang lemah untuk membantah hadits yang menyatakan Abu Thalib masuk neraka. Dia (JR) mengatakan dalam buku ini (almustafa, hal 144) dalam shahih bukhari perawinya orang-orang yang tidak bisa diambil hadisnya.
11. Perowi pertama: JR menyebut Abu Yaman adalah al Hawzani; padahal Abu Yaman al Hawzani tidak meriwayatkan sama sekali dalam Shahih bukhari, kalau kita lihat tahdzibut tahdzib saja; salah satu buku yang paling kecil dalam rijal hadis, Abu Yaman al Hawzani disebutkan ibn hajar dengan simbol: mim dal artinya dia ini cuma diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Marasil dan tidak disebutkan periwayatannya dalam shahih bukhari. Maka  dia bukan sebagai Abu Yaman yang dimaksudkan shahih bukhari, tapi abu yaman di sini adalah al Hakam bin Nafi’ yang dikenal sebagai tsiqah tsabt (terpecaya dan sangat kuat) dan tidak ada khilaf didalamnya. Dan dia ini Hakam bin Nafi’ al Bahroni bukan al Hawzaini.
12. Perawi kedua: Kemudian dia (JR) katakan bahwa, “Syuaib tidak dikenal”, subhanallah. Padahal Syuaib ini dalam riwayat ini meriwayatkan dari az Zuhri dan Syuaib sebagiamana kata ulama adalah Syuaib bin Abi Hamzah dan dia adalah  autsaqun nas fi az zuhri (dia adalah murid azzuhri yang paling kuat yang meriwayatkan hadis-hadis dari azzuhri) dan jalal mengatakan “tidak dikenal”, bagaimana mungkin dikatakan tidak dikenal?  padahal dalam buku-buku hadis sangat-sangat banyak meyebutkan dan memuji Syuaib bin Abi Hamzah ini.
13. Perawi ketiga: Kemudian dikatakan (oleh JR) bahwa “al Zuhri termasuk orang yang sangat membenci imam Ali”, dari mana landasannya ini?. Kita lihat landasannya dari Ibnu Abil Hadid dan buku-buku syiah, sayang, dia (JR) tidak menyebutkan buku ahlussunnah dan ibn habi hadid sendiri sudah dijelaskan oleh uama kita bahwa buku-bukunya tidak ada yang bersanad, padahal sanad adalah sandaran dalam menilai benar tidaknya suatu perkataan. (JR telah menuduh al Zuhri) padahal ibnu hajar mengatakan siapa itu zuhri? dia adalah al hujjah ats tsabat muttafun ‘ala jalalatihi wa itqonihi (hujjah, sangat kuat hafalannya dan para ulama telah sepakat akan kemuliaan dan kekuatan hafalannya)
*Nomor 11 sampai 13 membuktikan kobohongan perkataan Jalaluddin Rakhmat pada nomor 10
Hadits Ketiga
Kemudian yang terakhir, dari sekian banyak contoh yang bisa disebutkan  setelah itu alinea terakhir dalam hal. 145. Riwayat muslim yang dia (JR) juga lemahkan tentang kisah kematian abu thalib dalam keadaan musyrik.
14. Dia (JR) katakan “Kita menemukan rangkaian riwayat yang juga dhaif
15., dan 16. Perawi pertama: (JR mengatakan), “Harmalah bin Abdullah al Farhadani daif”(Mizan al I’tidal 1:472), siapa dia?, tidak disebutkan dalam buku-buku hadis (termasuk Mizanul I’tidal), ada yang namanya Harmalah bin Abdullah, yang ada adalah Harmalah bin Yahya at Tujibi dan inilah orang yang dimaksudkan oleh Imam Muslim dalam shahih  muslim dan dia ini seorang yang tsiqah dan tak ada kata-kata dhaif dalam mizanul I’tidal karya imam adzdzahabi. (Berbohong atas nama Imam Adz-Dzahabi dan juga Harmalah)
17., 18., dan 19. Perawi kedua: Kemudian Abdullah bin Wahhab; dia (JR) katakan, “Imam Ahmad ditanya tentang dia (Abdullah bin Wahhab), apakah ia suka salah dalam mengambil hadis? jawab imam ahmad; benar (Mizan al-Itidal 4:477-485)”, Ternyata kalau kita lihat di Mizanul I’tidal, Imam Ahmad rahimahumullahu ta’ala ketika ditanya, Alaysa kaana yusii’u al akhdz? (bukankan ia pernah salah dalam mengambil hadits), dia (imam Ahmad) mengatakan: “Bala, walakin idza nadzarta fi haditsihi wa ma rawa ‘anhu masyikhuhu wa jadtahu shahihan” (Benar, tapi jika kamu lihat hadisnya dan apa yang diriwayatkan oleh para gurunya kamu akan dapatkan shahih). Hal ini (perbuatan JR) mengingatkan kita dengan orang yang hanya mengatakan “fa wailullil mushallin” lalu ia tidak sambung, bahaya. Atau membaca “La taqrabush shalah”, lalu dia tidak sambung, ini bahaya. Dia mengutip perkataan imam ahmad dan memotong sampai kata “benar”, padahal imam ahmad melanjutkan; tetapi riwayat haditsnya shahih. (Berbohong atas kitab Mizan al-I’tidal, Abdullah bin Wahhab dan juga berbohong atas nama Imam Ahmad)
20. Perawi ketiga: Kemudian ini masih dalam rangkaian hadis. JR mengatakan, “Yunus, ada banyak nama Yunus diantaranya ada yang pendusta, hafalannya jelek, majhul, munkarul hadis”, Inilah persoalannya karena JR hanya mengambil dari kitab Mizanul I’tidal, sehingga Jalal tidak bisa menentukan ini Yunus siapa ini? padahal orang yang baru belajar hadits dan masih tingkat pemula bisa menyimpulkan bahwa dia adalah Yunus bin Yazid al Ayli, salah seorang periwayat dari shahih bukhari dan muslim, beliau ini menurut Imam Dzahabi seorang tsiqah dan hujjah.
21. Perawi keempat: Dan yang paling terkhir, walaupun sebenarnya masih banyak contoh dan inilah yang paling memilukan, ketika ia (JR) mengatakan, “Ibn Syihab, tidak terdapat dalam kitab-kitab rijal. Padahal tadi dia (JR) sudah menyebutkan az-Zuhri, padahal ibn syihab ini tidak lain dari Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Abdillah bin Syihab az Zuhri dan seandainya mahasiswa kami di stiba, masih tingkat awal ditanya tentang ibnu syihab az zuhri, dia bisa meyebutkan namanya secara lengkap. Ini sungguh sangat disayangkan kalau UIN akan menggolkan doktornya seorang seperti ini. Wallahu a’lam.
*nomor 15 sampai 21 membuktikan kebohongan ucapan Jalal pada nomor 14