Beginilah Sunni Irak Disiksa Oleh Pemerintah Syiah (Full Pic)


Berikut ini kami tampilkan beberapa foto yang berbicara tentang faktanya sendiri di negeri seribu satu malam, Irak. Cukuplah gambar-gambar ini yang membuat kita pilu. Sangat Mengenaskan, saudara-saudara kita, kaum Muslimin disiksa dengan cara yang sangat tidak manusiawi.


 
 

Asyura dan Ritual Sesat Syiah

Muharram dalam segi bahasa bermakna waktu yang diharamkan. Sedang ditilik dari sudut istilah berarti, Nama bulan dalam kalender Hijriyah, yaitu bulan pertama dalam hitungan dua belas bulan.
Ada tiga sepuluh yang sangat dicintai Allah. Sepuluh terakhir bulan Ramadhan, sepuluh pertama bulan Dzulhijjah, dan sepuluh pertama Muharram. Yang pertama karena di sana terdapat malam diturunkankkanya Al-Qur'an, atau nuzulul-qur'an--bukan malam ke-17 sebagaimana diyakini sebagian orang--yang kedua, karena di sana ada hari raya besar umat Islam, yaitu Idul Adha, atau Hari Raya Qurban, dan yang ketiga, ada hari Asyura, atau hitungan hari kesepuluh pada bulan Muharram. Karena itu, kemuliaan Muharram tidak ada yang memperselisihkan kecuali mereka yang terinfeksi virus sufaha dan juhala. 
Keistimewaan Muharram diawali dengan masuknya bulan ini di antara empat jenis bulan yang di dalamnya diharamkan berperang. Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antara empat bulan haram, itulah ketetapan agama yang lurus, (QS. At-Taubah: 36).
Kata 'empat bulan haram' dalam ayat di atas adalah Bulan Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Kemuliaan bulan haram ditandai dengan adanya larangan perang di dalamnya. Sebagian ulama mengatakan bahwa, larangan berperang pada bulan-bulan haram terus berlaku dan tidak dihapus sampai sekarang, sebagian lainnya berpendapat bahwa tidak boleh memulai peperangan pada bulan haram, namun jika perang telah berlangsung sebelum bulan haram, maka tidak mengapa peperangan dilanjutkan pada bulan-bulan mulia tersebut.
Pendapat paling otentik adalah, milik mayoritas ulama (jumhur ulama), yaitu Rasulullah SAW pernah memerangi penduduk Thaif pada bulan Dzulqa'dah pada peperangan Hunain, karena itu larangan perang pada bulan haram telah gugur.
Muharram juga mendapat predikat sebagai Syahrullah, atau bulan Allah. Sebagaimana sabda Nabi yang bersumber dari Abu Hurairah lalu dirawikan oleh Imam Muslim, Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.
Imam Nawawi ketika mengomentari hadis di atas mengatakan, Hadis ini menunjukkan bahwa Muharram adalah bulan paling mulia untuk melaksanakan puasa sunnah, (Syarah Shahih Muslim, 8:55). Sedangkan As-Suyuthi menyatakan, Dinamakan syahrullah, sementara bulan lain tidak mendapat julukan ini, karena pada bulan Muharram, namanya lebih islami, berbeda dengan nama bulan lainnya yang sudah ada pada zaman jahiliyah. Sementara dulu orang Jahiliyah menyebut bulan ini dengan nama 'Shafar Awwal'. Ketika Islam datang, Allah mengganti bulan ini dengan nama Muharram sehingga namanya disandarkan pada Allah, yaitu "Syahrullah", (Syarah Sututhi 'ala Sahih Muslim, 3:252). Selain itu, bulan Muharram juga sering dinamai "Syahrullah al-Ashom" alias "Bulan yang Sunyi", demikian adanya, sebagai lambang kehormatan bulan ini.
Ada pula satu hari yang sangat dimuliakan pada bulan Muharram, baik umat Islam, maupun umat Yahudi, yaitu hari Asyura. Dinamakan demikian, karena hari Asyura adalah hari kemenangan Nabi Musa bersama Bani Israil dari penjajahan Fir'aun dan bala tentaranya, Hadis bersumber dari Ibnu Abbas dan diriwayatkan oleh Imam Bukhari, berkisah, Ketika Nabi Muhammad tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa Asyura, maka Rasul pun bertanya, Hari apa ini? Mereka menjawab, Hari yang baik, di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, sehingga Musa pun berpuasa sebagai bentuk syukur kepada Allah. Akhirnya Nabi SAW bersabda, Kami, lebih layak menghormati Musa daripada kalian! Kemudian Nabi berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk ikut berpuasa.
Selain berpuasa pada hari Asyura, ada pula anjuran untuk berpuasa sehari sebelumnya atau hari ke-9, berdasarkan dalil yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas, bahwa Rasulullah SAW ketika berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan manusia untuk berpuasa, para sahabat pun berkata, Ya Rasulallah, sesungguhnya hari ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Nasrani dan Yahudi. Rasulullah pun bersabda, Apabila tahun depan--insya Allah--kita akan berpuasa dengan tanggal 9 Muharram. Belum sempat tahun depan tiba, ternyata Rasulullah meninggal.
Pendapat ulama lainnya, disunnahkan pula berpuasa pada hari ke-11, dalil dari Ibnu Abbas menguatkan, Berpuasalah kalian pada hari Asyura dan selisihilah orang-orang Yahudi. Berpuasalah sebelumnya atau berpuasalah setelahnya satu hari.
Karena itu, para fuqaha (ahli fikih) membagi tingkatan berpuasa Asyura menjadi tiga, yaitu: puasa pada hari ke-9, 10, dan 11 Muharram; puasa pada hari ke-9 dan 10; dan cukup berpuasa pada hari ke-10 Muharram.
Kedudukan Muharram sebagai bulan termulia setelah Ramadhan dipertegas oleh Imam Hasan Al-Bashri, katanya, Allah membuka awal tahun dengan bulan haram dan menjadikan akhir tahun dengan bulan haram (Dzulhijjah). Tidak ada bulan dalam setahun, setelah bulan Ramadhan yang lebih mulia di sisi Allah daripada bulan Muharram, dulu bulan ini dinaman Syahrullah al-Asham karena kemuliaannya.
***
Bulan mulia sebagai momen untuk bangkit dari keterpurukan spritual dengan menggunakan setiap waktu untuk bermunajat dan beribadah. Tidak mesti harus bertapa di masjid, terus-menerus berpuasa, sehingga melupakan dunia. Akan tetapi hendaknya disikapi secara adil. Ibadah, bisa saja bersumber dari kerja-kerja dunia, seperti bekerja demi untuk mencari penghidupan, termasuk memenuhi kebutuhan perut sendiri dan perut keluarga. Dan semua itu dapat bernilai ibadah dengan syarat, niat bekerja demi untuk ibadah.
Begitu pula, secara nampak, sebuah ibadah inti seperti salat, Haji, baca Al-Qur'an, hingga Zikir, bisa saja tak berpahala jika diniatkan bukan karena Allah, tapi agar dilihat orang-orang yang ada di sekelilingnya. Niatlah yang menentukan segalanya.
Maka, di bulan mulia ini, memperbanyak ibadah dengan landasan niat baik dan ikhlas sebuah keharusan, terlebih khusus lagi di hari Jumat yang di dalamnya terdapat ragam keutamaan.
Karen bulan Muharram ini bulan mulia, dan hari ini hari Jumat sebagai hari mulia dalam hitungan seminggu, maka melaksanakan ibadah di dalamnya akan melahirkan pahala yang besar dan berlipat-lipat ganda. Sebagaimana orang yang melakukan dosa pada bulan dan hari yang mulia akan berlipat-lipat ganda dosanya. Salah satu sumber dosa adalah menzalimi diri sendiri, sebagaimana firman Allah, Fala tudzlimu fihinna anfusakum, Janganlah kalian menzalimi diri kalian sendiri, (QS. At-Taubah: 36).
Qatadah mengomentari ayat di atas sambil mengingatkan, Sesungguhnya berbuat kezaliman pada bulan-bulan haram lebih besar dosanya daripada berbuat kezaliman selain bulan tersebut. Meskipun berbuat zalim setiap keadaan bernilai besar, tetapi Allah membesarkan segala urusan-Nya sesuai apa yang dikehendaki-Nya.
Demikian pula Ibnu Abbas, katanya, Kemudian Allah menjadikannya bulan-bulan haram, membesarkan hal-hal yang diharamkan di dalamnya, dan menjadikan perbuatan dosa di dalamnya lebih besar dan menjadikan amalan saleh dan pahala lebih besar pula, (Tafsir, Ibnu Abi Hatim VI/1791).
Peringatan Ibnu Abbas di atas mendorong kita untuk menelisik ritual sesat agama Syiah yang mengisi hari-hari mulia bulan Muharram, terutama hari Asyura dengan kegiatan-kegiatan yang berlawanan dengan sunnah Rasul bahkan berani menentang peringatan Allah agar tidak menzalimi diri sendiri.
Syiah pada hari Asyura memeringati hari wafatnya Husain bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad SAW. Husein radhiallahu 'anhu terbunuh di Karbala oleh orang-orang yang mengaku mendukungnya tepat pada hari Asyura, lalu, penganut Syiah menjadikannya sebagai hari ratapan dan kesedihan.
Di Iran, negara yang menjadi penganut dan penyebar agama Syiah, saat ini, merupakan suatu pemandangan lazim dan wajar jika hari Asyura tiba, kaum lelaki melukai kepala mereka dengan pedang, pisau, atau cemeti, hingga darah segar mengucur keluar membasahi sekujur tubuh mereka. Begitu pula dengan para wanita durjana, mereka melukai punggung-punggung mereka dengan benda-benda tajam sebagaimana para lelaki. Dalam keadaan berlumuran darah, mereka pun berteriak-teriak, meratap, sambil mengucap, Ya Husain... Ya Husain, Ya Husain...!
Jelas, demikian itu adalah ritual sesat ala Syiah, yang kini di Indonesia sudah mulai dibudayakan dengan modus operandi yang berbeda, bahkan dikemas dengan akademis, termasuk mengadakan seminar, ceramah, dan sejenisnya. Padahal intinya sama, memasarkan budaya ratapan. 
Menangis dan memukuk-mukul wajah karena memeringati orang yang telah meninggal adalah bagian daripada dosa besar, Nabi bersabda, Bukan termasuk golonganku orang menampar-nampar pipinya, merobek-robek baju, dan berteriak seperti teriakan orang masa jahiliyah.
Nampaknya, Syiah benar-benar tidak termasuk dalam golongan umat Rasulullah, itu artinya, bukan agama Islam, sebab tidak hanya menampar pipinya, malah telah menggunakan sejata tajam untuk menyiksa dirirnya sendiri, sebuah kesesatan yang sangat sempurna. Wallahu A'lam!

Berkumpulnya Kaum Anshar di Saqifah Bani Sa'idah, Murni Karena Kekuasaan?

Oleh: Ust. Rapung Samuddin, Lc., MA,
Diakui, Rasulullah SAW tidak meninggalkan sebarang wasiat tentang siapa yang bakal menggantikan beliau sebagai khalifah. Karenanya, pasca wafatnya Nabi SAW, para sahabat segera menggelar musyawarah akbar di Saqifah Bani Sa’idah guna mengangkat pengganti Rasulullah, dalam hal ini Khalifah yang akan memimpin kaum muslim.
Musyawarah akbar itu pada hakikatnya secara spontanitas diprakarsai oleh kaum Anshar. Sikap mereka itu menunjukkan, bahwa kaum Anshar lebih memiliki kesadaran politik dari pada yang lain, dalam hal memikirkan siapa pengganti Rasulullah memimpin umat Islam.  Sungguh, pertemuan kaum Anshar di Saqifqh Bani Sa’idah sempat membuat “kaget” sahabat-sahabat senior dari kalangan Muhajirin. Mereka sudah menduga, bahwa ada sesuatu luar biasa hingga memaksa berkumpul pada saat genting tersebut. Sementara, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam belum juga dikebumikan, dan kota Madinah dalam keadaan kosong kepemimpinan.
Dalam pertemuan akbar itu kaum Anshar mengajukan calon pemimpin dari golongan mereka, yakni Sa’ad bin Ubaidah ra. Alasannya, merekalah “tuan rumah” yang menolong Nabi SAW dan kaum Muhajirin ketika keadaan di Makkah genting. Adapun Kaum Muhajirin melalui juru bicaranya, Abu Bakar al-Shiddiq mengharapkan agar pengganti Nabi SAW dipilih dari kaum Qurays. Sebab demikianlah yang beliau ketahui dari sabda Nabi SAW, bahwa kekhilafaan harus tetap berada di tangan kaum Qurays. (1)
Memang sempat terjadi insiden perdebatan. Bahkan sahabat Sa’ad bin Ubadah Nampak sedikit kecewa terhadap keputusan tersebut, hingga menunda pemberian bai’atnya kepada khalifah Abu Bakar al-Shiddiq. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Sebab, setelah itu beliau menarik kembali sikapnya dan dengan besar hati menyerahkan ketaatan dan bai’atnya kepada khalifah yang baru tersebut.
Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad al-Shiddiq dari Utsman dari Abu Mu’awiyah dari Daud bin Abdullah al-Adawi dari Humayyid bin Abdur Rahman, -disebutkan peristiwa Saqifah Bani Sa’idah, diantaranya: ...Sesungguhnya Abu Bakar al-Shiddiq berkata: “Kaum Qurays adalah pemimpin urusan ini, manusia yang baik mengikuti kebaikan mereka dan yang pendosa mereka (manusia) juga mengikuti pendosa mereka”. Sa’ad menimpali: “Engkau benar, kami adalah wuzara’ (para pembantu) dan kalian adalah para pemimpin”. (2)
Ibnu Taimiyah rahimahullah (w. 728 H) berkata: “Hadits ini Mursal Hasan, mungkin saja Humayyid meriwayatkannya dari sebagian sahabat yang menyaksikan hal tersebut ...”. Beliau melanjutkan: “Padanya terdapat sebuah faidah yang bermanfaat, bahwasanya Sa’ad bin Ubadah menarik kembali sikapnya semula tentang hak kepemimpinan dan menyerahkan pada Abu Bakar al-Shiddiq; semoga Allah meridai mereka semua”. (3)
Ibnu al-Mundzir berkata: “Hadits ini Hasan, kendati sanadnya terputus, sebab Humayyid bin Abdur Rahman bin ‘Auf tidak mendapati zaman Abu Bakar al-Shiddiq. Mungkin saja beliau riwayatkan dari bapaknya atau dari sahabat yang lain, dan inilah yang masyhur dikalangan mereka”.(4)
Imam al-Haitsami berkata: “Perawi-perawi hadits ini terpercaya, kecuali Humayyid bin Abdur Rahman, beliau tidak bertemu dengan Abu Bakar”. (5)
Nah, terkait peristiwa berkumpulnya kaum Anshar di Saqifah Bani Sa’idah tersebut, pada hakikatnya terdapat alasan-alasan ilmiah yang banyak tidak diketahui, utamanya mereka yang memendam permusuhan terhadap para sahabat. Sebagian mereka menuduh, bahwa perkumpulan tersebut murni karena kekuasaan. Padahal tidaklah demikian. Sekurangnya ada tiga hal yang di ungkap oleh Dr. Muhammad bin Ibrahim Aba al-Khail dalam bukunya, Tarikh al-Khulafa’ al-Rasyidin terkait inisiatif kaum Anshar tersebut:   
Pertama: Kaum Anshar memandang bahwa merekalah penduduk asli kota Madinah yang padanya Nabi SAW dan kaum muslimin datang dari Mekkah sebagai kaum muhajirin; lalu mereka memberi pertolongan hingga tegak negara Islam di negeri mereka tersebut. Olehnya, beban paling besar yang dipikul dalam pembentukan dan pelestarian –negara- tersebut terletak di atas pundak mereka, dimana mereka telah mengorbankan jiwa dan harta semata mengharap karunia dan ridha dari Allah Ta’ala; disamping jumlah mereka jauh melebihi jumlah kaum muhajirin. Disamping itu, keamanan dan penjagaan kota Madinah dari serangan musuh tergantung pada mereka di posisi utama. Maka tidak mengherankan jika kemudian mereka langsung berkumpul di balai besar milik mereka untuk merundingkan persoalan khilafah (penerus) Nabi SAW. 
Kedua: Tidak menutup kemungkinan, sebagian dari kaum Anshar menyangka bahwa kaum Muhajirin bakal kembali ke negeri mereka –yakni kota Mekkah- pasca wafatnya Nabi SAW, apalagi persangkaan tersebut –kembalinya mereka ke Mekkah- telah ada dalam diri mereka terhadap Nabi SAW sendiri setelah penaklukkan kota Mekkah, sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang shahih.
Ketiga: Pemuka kaum Anshar yang masih tersisa dan terkenal setelah kematian Sa’ad bin Mu’ad ra adalah Sa’ad bin ‘Ubadah ra, dimana Nabi SAW selalu meminta pendapat dan masukan beliau, khususnya persoalan-persoalan yang terkait dengan kondisi dan keadaan kota Madinah. Atas dasar ini, tidak heran jika kemudian kaum Anshar mengarahkan pandangan untuk memilihnya sebagai pemimpin pasca wafatnya Nabi SAW. (6). Wallahu A’lam.
Foot Note:
1.  Lihat selengkapnya dalam Shohih Bukhari, Kitab al-Hudud no. 6830. Muslim, Kitab al-Hudud no. 1691.  
2.   Imam Ahmad, al-Musnad, Vol. I, hlm. 199, no. 18.  
3.  Ibnu Taimiyah, Minhaj al-Sunnah, Riyadh: Jami’ah Imam Muhammad bin Su’ud, t.thn, Vol. I, hlm. 143. 
4.   Abu Nu’aim Alauddin Ali bin Husamuddin al-Mutqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, Tahqiq: Bakri Hayani, et, al, (Cet. V, Beirut, Muassasah al-Risalah, thn. 1401 H/1981 M), Vol. V, hlm. 638, no. 14123. 
5.   Al-Haitsami, Majma’ al-Zawaid wa al-mamba’ al-Fawaid, (Beirut, Daar al-Fikr (al-Maktabah al-Syamilah), thn. 1412 H), Vol. V, hlm. 346. 
6.   Dr. Muhammad bin Ibrahim Aba al-Khail, Tarikh al-Khulafa’ al-Rasyidin, (Cet. I, Saudi Arabiyah, Daar al-Fadhilah, thn. 1430 H/2009 M), hlm. 36-37).

Pistol Mainan, "Go go go, Bunuh Aisyah!"

media//version4_Capture3359dhdfhsxfgsxdfgsfg.jpgKembali aliran sesat Syiah mengeluarkan demonstrasi permusuhan kepada Islam. Kali ini membuat pistol mainan yang mengeluarkan suara, "Go go go, bunuh Aisyah." Hinaan dan makian kepada istri Nabi Saw.

Mainan ini ditemukan dipropinsi bagian Utara, kota Ar'ar, Arab Saudi. Seorang warga menemukannya -sebagaimana dalam video- ketika anaknya memainkan pistol yang bersuara tersebut. Kali pertama ia tidak percaya. Ia pun mengulang-ulanginya sehingga ia yakin bahwa mainan itu celaan dan cacian untuk Ummul Mukminin radhiyallahu 'anha.

Mainan ini sudah tersebar di Saudi dan beberapa negara Arab lainnya sejak tiga tahun lalu.