Abu Bakar dan Umar Diinjak-injak Syiah Pada Arbain Imam Husein di Padang Karbala


Fatwa Rahbar Syiah untuk tidak mencaci simbol-simbol Islam (ahlus sunnah) ternyata hanya sebagai pemanis bibir belaka.

Agar banyak yang tertipu dan mengambil kesimpulan sendiri bahwa Syiah sekarang tak lagi mencaci-maki sahabat-sahabat Nabi yang mulia.

Fakta yang terjadi justru sebaliknya, bahkan bertambah parah. Sudah sering kita dengar nama-nama mulia itu dilaknat dan dicaci oleh mulut busuk syiah. Dan mereka yakini sebagai ibadah. Na'udzubillah.

Bahkan sering kita lihat nama-nama yang telah dijamin surga itu ditulis di kloset, wc, lantai kamar mandi, bahkan di kaki mereka. Semoga Allah membalas perbuatan dengan azab yang pedih.

Said Aqil Siradj Ternyata Penganut Syiah, Ini Buktinya



Dalam salah satu ceramah tertutup, Said Aqil Siradj, menampakkan dengan jelas keyakinannya tentang Syiah. Hal ini berbeda dengan sikapnya di hadapan publik yang selalu membantah dirinya Syiah.

Di hadapan jamaah pengajian, Ketua Umum PBNU ini, mengajak agar jangan sampai peringatan Asyura dan Arba'in Imam Husein ditinggalkan, karena menurutnya hal itu adalah al-baqiyaat al-shalihaat, perkara shalih yang tersisa.

Selain itu dia juga mengajak untuk selalu mengenang Syuhada Karbala'. Bahkan mengatakannya sebagai shoutul haq, suara kebenaran. Dimana semua ini merupakan Syi'ar aliran sesat Syiah.

Membongar Kerapuhan Pondasi Agama Syiah

Syiah, sebagai sempalan dalam Islam yang kini terus melahirkan masalah yang tidak berkesudahan. Karena itu, para ulama, intelektual, hingga cedekiawan Islam, khususnya Ahlussunnah terus-menerus melakukan berbagai macam upaya dalam menangkal penyesatan yang dilakukan penganut Syiah secara terorganisir, simultan, dan sporadis.
Berbeda dengan sempalan lainnya dalam Islam. Syiah adalah satu-satunya aliran sesat yang kesesatannya dapat eksis, awet, bahkan tumbuh dan terus berkembang. Aliran Mu'tazilah misalnya, hanya bertahan beberapa abad saja, dan setelah itu terkubur dalam kubang sejarah. Sedang Ahmadiyah, secara resmi di beberapa negara, seperti Pakistan telah menjadi agama mandiri dengan "Tazkirah" sebagai kitab sucinya, dan "Mirza Ghulan Ahamd" sebagai nabinya.
Ada pun kasus Syiah, mereka sungguh rumit. Namun secara umum, dapat dipetakan masalah utamanya, kenapa mereka bisa eksis dari masa ke masa.
Pertama. Syiah memiliki sejarah panjang, dengan pengalamannya menguasai suatu negara, atau daulah selama berabad-abad, termasuk saat ini, Iran sebagai pos kekuatan dan kekuasaan mereka.
Kedua. Kedudukan Iran sebagai negara yang memegang peranan penting di dunia Islam khususnya Timur Tengah, bermula pasca lahirnya revolusi Iran di akhir tahun 1979 yang berhasil melahirkan tokoh utama bernama Ayatollah Khomeini. Sejak saat itu, Khomeini terus menerus melakukan ekspansi pada negara-negara Ahlussunnah, memperkenalkan Syiah dengan berbagai tipu daya dan kebohongan. Banyak yang terkecoh, termasuk pemerintah dan masyarakat Indonesia yang terus menerus melakukan kerjasama dengan cara mengirim para pelajar ke Iran, dan pada saat yang sama, Ayatollah bertebaran di Indonesia melakukan penyesatan.
Ketiga. Ulama su' yang terus-menerus diproduksi Iran. Banyaknya ulama su' yang menjadi gudang ilmu sesat akan terus menerus mengalirkan bah kesesatan di  penjuru dunia yang kini sudah tak mengenal seting ruang dan waktu. Kita saksikan, beberapa waktu lalu, Ayatollah Iran sudah berani masuk di Masjid Istiqlal memberikan ceramah, mengajak pada persatuan dan kesatuan umat. Padahal, kita sama-sama ketahui, justru Syiah yang selama ini menjadi tumor ganas dalam tubuh umat Islam. Saksikanlan, dimana ada Syiah, di sana gejolak horizontal terus berkembang seperti Iraq, Syiria, Lebanon, Mesir, Pakistan, bahkan kantong-kantong penganut Syiah di Indonesia memiliki potensi besar terjadi perpecahan dan kerusuhan, sebagaimana kasus Sampang beberapa waktu lalu.
Keempat. Doktrin taqiyah, atau mengatakan dan bertindak di depan orang lain yang bertentangan dengan pendirian dan isi hatinya, yaquluna wa ya'maluna ma laisa fi qulubihim, yang sebetulnya tidak ada bedanya dengan kebohongan. Karena kepura-puraan inilah sehingga ajaran Syiah mudah diterimah kalangan Ahlussunnah, sebab ketika mereka berada di tengah-tengah Ahlussunnah, seakan menjadi bagian dari mereka. Namun ketika kembali ke komuntas asalnya, para orang Syiah itu mengamalkan ajaran mereka sambil mengolok-olok Ahlussunnah, tida ada bedanya dengan orang Yahudi, khususnya di zaman Rasulullah. Ketika bertemu umat Islam, mereka mengatakan keimanan, namun setelah kembali ke komunitasnya, mereka mengolok-olok, padahal sejatinya, diri mereka sendirilah yang diolok-olok. Dan, Syiah pun demikian, selalu manampakkan suasana damai dan tenang di hadapan kita, namun sebaliknya hatinya penuh dengan dendam dan dengki.
Karena itu, harus ada kesadaran dari kalangan ulama, para dai, intelektual, masyarakat umum, hingga pemerintahn untuk membendung aliran sesat Syiah.
Salah satunya, dengan berusaha memaparkan dasar-dasar pijakan agama Syiah yang juga mereka klaim sebagai nash wahyu, Al-Qur'an dan hadis. Telaah kali ini, membongkar kesesatan Syiah berdasarkan hadits tsaqalain yang mereka jadikan pijakan untuk beragama.
***
Buku karya KH. Agus Hasan Bashori, Lc., M.Ag, "Al-Qur'an dan Ahlul Bait; Syarah Hadits Tsaqalain, Mendudukkan Posisi Ahlussunnah dan Syiah, Cet.I; Malang: Yayasan Bina Mujtama', 2014"
Tsqalain secara bahasa diambil darsi tsaqil, berarti berat, adanya perubahan kata menjadi "tsaqalain" menandakan bilangan, yang bermakna "dua hal yang berat". Secara istilah, tsaqalain adalah makna lain dari Al-Qur'an dan Ahlul Bait, atau keluarga Nabi, kadang juga dimaknai 'dua pusaka'.
Dalam pandangan Syiah, hadits tsaqalain adalah dasar dan asas dalam agama, di sinilah mereka berpijak dan membangun pondasi agama. Bukan dari Al-Qur'an dan hadis shahih lainnya.
Bahkan, mereka sangat mengagung-agungkan kedudukan hadis ini, dalam "Buku Putih Mazhab Syiah, 2012" dipaparkan bahwa hadits tsaqalain termasuk paling indah, paling shahih, dan paling tersebar luas di kalangan muslimin. Hadis ini telah diabadikan oleh enam kitab shahih (al-kutub assittah) dan para ulama juga menerimanya.
Masalahnya tidak sampai di situ saja, para pemeluk agama Syiah ini merasa hanya merekalah yang mengamalkan hadis tsaqalain, selain itu, terutama Ahlussunnah wal-Jama'ah tidak mengamalkannya,(h. 2).
Benarkah demikian? Di sinilah urgensinya mendudukkan hadits tsaqalain pada tempatnya, agar tidak berlaku zalim dan semana-mena, serta 'memperkosa' sebuah nash. Untuk mengetahui shahih tidaknya sebuah hadits menurut Syiah, maka harus pula diketahui syarat-syarat hadits yang shahih menurut Syiah.
Al-Syahid al-Awwal atau Muhammad bin Jamaluddin Makki al-Amili (734-786 H) berkata, Hadits Shahih adalah apa yang bersambung periwayatannya kepada imam yang ma'shum, diriwayatkan oleh rawi adil yang imami, (h. 16). Juga perkataan, Al-Syahid al-Tsani atau Zaenuddin bin Nuruddin bin Ahmad bin Jamaluddin al-Amili (911-966H), Hadits shahih ialah yang bersambung sanadnya kepada imam yang ma'shum, diriwayatkan oleh rawi adil yang imami, dari yang semisalnya dalam semua tingkatan, dimana riwayat itu banyak meskipun terkena keganjilan ( syudzudzuz), (h. 16). Pun demikian, buku karya, Mohammed Reza Modarresee, "Syiah dalam Sunnah Mencari Titik Temu yang Terabaikan, terbitan Citra yang beralamatkan di Jln. Buncit Raya Kev. 35 Pejaten Jakarta (ICC), disebutkan, Hadits yang shahih harus memiliki karasteristik-karasteristik, misalnya keyakinan perawi para imam dan sebagainya. Inilah yang disebut rawi imami yang meyakini konsep imamah Syiah. Dengan kata lain, hadits shahih adalah yang diriwayatkan oleh perawi Syiah Imamiyah, jika tidak maka haditsnya tidak shahih, (h. 16).
Setelah diteliti dan dipreteli oleh KH. Agus Hasan Bahori, Hadits Tsaqalain, maka tanpak jelas jika hadis ini adalah milik Ahlussunnah wal-Jamaah, dan tidak pernah dirawikan oleh perawi Syiah. Karena itu, jika berpedoman pada syarat-syarat diterimanya sebuah hadis Syiah di atas sudah selayaknya hadits tsaqalain dibatilkan mereka.
Namun sebaliknya, justru penganut Syiah dengan berbagai alibinya berusaha menampakkan bahwa hadits tsaqalain adalah milik bersama baik Syiah maupun Ahlussunnah. Bahkan hadis ini dijadikan propaganda dalam menyeret Ahlussunnah masuk ke dalam kubang kesesatan Syiah.
Tidak hanya itu, sang penulis buku juga memaparkan jalur-jalur periwayatan hadits tsaqalain, melalui jalur Ahlussunah, dengan melakukan tarjih secara cermat dan sistematis.
Misalnya, hadits tsaqalain yang menekankan untuk berpegang teguh pada Kitabullah [Al-Qur'an] dan Ahlul Bait, atau semisalnya. Dalam paparan ini, setidaknya ada lima hadits yang mirip dengan jalur periwayatan yang tidak sama. Ada pula hadits yang mewajibkan berpegang teguh pada Kitabullah dan Sunnah Rasulillah [hadits] minus Ahlul Bait. Setidaknya dipaparkan dua belas hadis yang bermaksud sama dengan jalur dan perawi yang berbeda.
Diterangkan pula, perbedaan hadits-hadits di atas, termasuk kedudukannya, sehingga para pembaca diarahkan untuk memahami antarsatu hadits dengan lainnya, kendati memiliki maksud atau subtansi yang sama. Namun redaksi dan perawinya berbeda, maka pembaca secara otomatis akan mendapatkan pengetahuan yang memadai tentang perbedaan redaksi dan rawi hadits-hadits tsaqalain.
***
Secara pribadi, sang penulis, KH. Agus Hasan Bashori, saya kenal baik, karena saat ini kami sama-sama melanjutkan pendidikan pada jenjang doktoral di UIKA Bogor. Selama kami sekelas, terlihat jelas kepakaran beliau dari berbagai disiplin ilmu. Penguasaannya terhadap kitab-kitab turats tidak perlu diragukan lagi.
Alumni LIPIA Jakarta, tahun 1994 ini adalah penulis produktif, hasil terjemahan saja hingga sementara ini telah menghasilkan sedikitnya 27 buku, dan karya tulis asli sekitar 21 buku, ada pun "Al-Qur'an dan Ahlul Bait" ini adalah bukunya yang paling anyar. Juga telah melakukan muraja'ah dan komentar sedikitnya 11 buku, dan kini masi menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Pendidikan Keluarga "Al-Umm" sejak 2012.
***

Buku "Al-Qur'an dan Ahlul-Bait" ini banyak mendapat apresiasi berupa testimoni dari berbagai tokoh, pakar, ulama, dan intelektual. Sebut saja, Prof. Dr. HM. Baharun, Ketua Komisi Hukum MUI Pusat, menulis pengantar, ...Tradisi caci maki dan laknat-melaknat selama itu agaknya terus dilanggengkan di balik isu mahabbah Ahlul Bait, yang tentu saja hal ini antagonistik. Sehingga harapan untuk hidup rukun dan damai dengan mereka ibarat kata pepatah "jauh panggang dari api". Bagaimana mungkin paham yang mendikotomi kelompok sahabat dengan Ahlul Bait bisa bersama dengan mayoritas paham yang mengompromi kedua pihak. Bagaimana mungkin satu pihak memiliki kebiasaan yang tak berubah untuk mencaci maki para pemuka sahabat Nabi dan istri beliau, bisa bersatu dengan mayoritas umat (Kaum Muslimin) yang menghormati semuanya, la yufarriqu baina ahadin minhum? (h.xvi). Salah satu sanggahan terhadap agresivitas 'dakwah' Syiah Rafidhah ini adalah buku di tangan Anda ini. Ditulis seorang dai yang cukup berpangalaman dalam bidangnya, dengan mengambil tema "Al-Qur'an dan Ahlul Bait," Syarah hadits Tsaqalain yang membuktikan bahwa Syiah tidak mengikuti Ahlul Bait dan tidak mengikuti Al-Qur'an, (h. Xvii).
Ada pun testimoni Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, sebagaimana tertuang dalam kata pengantar yang dalam hal ini sebagai Ketua Umum MIUMI, tulisnya, Saat ini di Indonesia sedang marak penyebaran ajaran Syiah. Di antara cara penyebaran ajaran Syiah di Indonesia adalah dengan menggunakan strategi seperti penyebaran paham pluralisme. Artinya, dalam menyebarkan paham Syiah kepada umat Islam Indonesia yang mayoritas Ahlussunnah, kelompok Syiah hanya menjelaskan kesamaan-kesamaannya dan sedikit mengungkap perbedaannya. Dengan cara ini maka kelompok Syiah berharap agar dianggap dan dipahami sama dengan Ahlussunnah wal-Jamaah serta dapat diterima keberadaan mereka di Indonesia. Bahkan kelompok Syiah dapat misalnya memanfaatkan nalar peluralisme yaitu, 'jika dalam paham pluralisme semua agama dianggap sama benar dan selamatnya, apalagi Syiah yang jelas-jelas memiliki banyak kesamaan dengan Islam. Padahal perbedaan antara keduanya sangat tajam dan meliputi seluruh aspek, (h.xx).

Berdasarkan rumusan hukum--lanjut Dr. Fahmy Zarkasyi--hukum perbedaan umat Islam dapat bersikap dengan mudah ketika berhadapan dengan berbagai perbedaan di kalangan umat Islam. Dalam Syiah, terdapat beberapa sekte yang berbeda antara satu dengan lainnya. Sekte-sekte itu ada yang berbeda dari Ahlussunnah pada tingkat 'khata'' dan 'shawab'; ada pula yang berbeda pada tingkat 'haqq' dan 'bathil"; bahkan ada kelompok Syiah yang berbeda dari Ahlussunnah pada tingkat mukmin dan kafir. Untuk perbedaan antara Ahlussunnah dan Syiah dalam furu'iyyah tidak perlu dibahas sebab Islam membuka pintu lebar-lebar untuk berijtihad. Namun dalam tingkat kedua dan ketiga perbedaan ini perlu dijelaskan dari akar-akarnya secara ilmiyah dengan menggunakan dalil-dalil yang terpercaya.
Buku di hadapan pembaca ini membahas dalam tingkat kedua dan bahkan mungkin termaasuk dalam tingkat ketiga. Masalahnya berakar dari kontroversi Hadits Tsaqalain. Bagi penganut Syiah, Tsaqalain astinya Al-Qur'an dan Ahlul-Bait. Penganut Syiah mengklaim bahwa mereka mengikuti tsaqalain seperti diwariskan Nabi, sedangkan Ahlussunnah--menurut mereka--tidak mengikutinya. Bahkan menurut mereka Ahlussunnah itu mengikuti musuh-musuh Ahlul Bait, yaitu Abu Bakar, Umar, Usman, dan Seluruh sahabat yang berbaiat kepada para khalifah, sebelum khalifah Ali.
Lalu, apa sesungguhnya arti tsaqalain dalam Al-Qur'an dan as-Sunnah, bukan Ahlul-Bait, meskipun dalam pengertian ini Ahlul Bait tetap dihormati. Namun, dengan klaim mengikuti dan menghormati Ahlul Bait penganut Syiah justru banyak menantang dan bertentangan dengan sunnah. Bahkan klaim menghormati Ahlul Bait dan menciptakan doktrin imamah justru penganut Syiah telah membuat garis demarkasi dengan Ahlussunnah untuk tingkatan yang ketiga. Artinya dalam padangan Syiah pengikut Ahlussunnah itu berbeda dari Syiah pada tingkat ushul atau tingkat ketiga yang hukumnya adalah kafir, (h.xxii).
Maka upaya-upaya kaum Syiah untuk menyama-nyamakan dengan Ahlussunnah, sejatinya lebih bersifat politis daripada teologis. Sebab jika memang Ahlussunnnah dan Syiah adalah sama, maka mestinya penganut Syiah tidak melakukan penyebaran doktrin Syiah di tengah-tengah pengikut Ahlussunnah wal-Jamaah. Jika Ahlussunnah dan Syiah dianggap sama dan berbeda hanya dalam masalah-masalah furu'iyyah, seharusnya tidak ada orang Ahlussunnah yang 'pindah' menjadi Syiah. Sebab selama initidak ada ceritanya pengikut mazhab Hanafi menyebarkan mazhab Hanafiyah ke tengah kalangan pengikut mazhab Syafi'i. Tidak ada pula pengikut mazhab Syafi'i pindah menjadi pengikut mazhab Maliki, (h.xxii).
Buku "Al-Qur'an dan Ahlul-Bait" ini, karya sahabat karib saya, sangat layak dijadikan tameng untuk menangkal pengaruh dan ajaran Syiah, sekaligus menjadi pil penguat resistensi dan metabolisme alias daya tahan tubuh  dari racun Syiah. Sangat cocok menjadi bacaan wajib bagi para aktivis dakwah, akademisi, hingga para pelajar dan masyarakat umum. Wallahu A'lam.

KH. Jamaluddin Amien, Ulama Pejuang Syariat

http://4.bp.blogspot.com/-DGD68fQ0M4A/UQ9ZeNyAHtI/AAAAAAAADSk/LUqbKvPKyl0/s640/030220132232.jpgKH. Jamaluddin Amin, pertama kali saya mengenal dan berinteraksi langsung ketika ikut dalam diklat dai yang diadakan Asia Moslem Charity Foundation (AMCF). Dikoordinir oleh Ma'had Ali Al-Birr di bawah naungan Universitas Muhammadiyah Makassar.
Saat itu, Pak Kiyai, demikian sapaan akrabnya, membawakan tausiyah pelepasan para peserta diklat yang telah dibina, diajar, dan digembleng selama tiga bulan penuh, dari  November 2009 hingga Januari 2010.
Dalam tausiyahnya, ia menekankan kepada para dai agar senantiasa berjuang mengajarkan dan menegakkan agama Allah kapan pun dan di mana pun berada, dan lebih khusus mereka yang akan dikirim ke pedalaman agar bersabar menghadapi berbagai rintangan dan cobaan, karena itu semua sunnatullah. Bahkan, ia juga menceritakan pengalamannya, terutama saat-saat Orde Baru yang saat itu perjuangan dakwah jauh lebih berat dibandingkan zaman Reformasi.
Pak Kiyai selanjutnya memberikan sugesti kepada para calon dai yang segera bertugas ke daerah, dengan membacakan beberapa ayat dan hadis, ketika sedang membaca dalil, ia lupa, dan berkata. Inilah akibatnya kalau orang sudah berumur seperti saya, ingatan tidak lagi normal. Tapi saya teringat dengan sebuah syair Arab yang pas pada diri saya, Ya laeta as-syababu ya'udu yauman, fa akhbaru bima yaf'alul musyib. Andai saja masa muda itu akan kembali padaku walau hanya sehari, akan kukabarkan padamu bagaimana rasanya berada dalam masa uzur.
Tiga bulan lamanya saya mengikuti diklat yang diasramakan di kompleks kampus Unismuh. Setiap waktu shalat tiba, setiap itu pula KH. Jamaluddin Amien berada di Masjid Kampus langsung memimpin salat untuk segenap jamaah yang terdiri dari mahasiswa, dosen, dan segenap civitas akademika.
Dalam sebuah khutbah Jumat yang diisi oleh Pak Kiyai, ia menekankan dengan tegas tentang keharusan bagi para penghuni kampus, khususnya para mahasiswa, dan lebih khusus lagi para dosen untuk menghentikan perkuliahan dan bergegas ke masjid jika azan sudah berkumandang demi menegakkan salat berjamaah. Beliau malah mengukur maju dan mundurnya sebuah kampus itu tidak dilihat dari mewahnya bangunan dan fasilitas, atau ramainya mahasiswa, tapi dilihat, sejauh mana para penghuni kampus mengamalkan kewajiban agamanya, dan itu semua dimulai dari salat berjamaah, kalau salat jamaah saja tidak mampu diwujudkan, maka agenda umat lainnya akan sulit terlaksana. Ia juga menilai bahwa keruntuhan dan kehancuran umat Islam, termasuk lembaga pendidikan jika sudah meninggalkan salat berjamaah.
Karena itu, semasa hidupnya, KH. Jamaluddin Amien sangat terkenal dengan ketegasan dan keistiqamahannya dalam menjalankan salat berjamaah.
Pendirian Pak Kiyai di atas bukan tanpa alasan, karena secara umum para ulama Ahlussunnah wal-Jamaah menilai bahwa salat berjamaah hukumnya wajib, namun jika dilakukan secara sendirian salat tetap sah dan tidak usah diulangi.
Wajib di sini, bukanlah wajib yang sama dengan rukun iman dan rukun Islam, tetapi kedudukannya di bawah itu. Wajib yang dalam istilah Imam Abu Hanifah sebagai, Ma tsabata bidalil dzonniy, yang dalilnya berbentuk dzonni (interpretasi). Sedangkan yang dalilnya bersifat qath'i (pasti) maka itu disebut fardhu, seperti salat, puasa, zakat, dst.
Karena itu, salat jamaah dalam pandangan sebagian ulama, terutama bermazhab syafi'i adalah sunnah muakkadah, atau sunnah yang sangat ditekankan. Berdasarkan hadis Nabi, Shalatul jama'ah khaerun min shalatil fazzi bisab'in wa 'isyrina darajah. Salat berjamaah itu lebih utama 27 derajat dari salat sendirian.
Artinya, jika setahun kita melaksanakan salat berjamaah berturut-turut, sama dengan 27 tahun melaksanakan salat dengan sendirian. Dan, ini merupakan bagian dari keistimewaan umat Nabi Muhammad, sekali melaksanakan ibadah, dapat ganjaran sebanyak 27 kali lipat.
KH. Jamaluddin Amien selaku ulama senior sangat memahami itu, maka ia pun berusaha mengamalkannya dengan menekankan dan mewajibkan para mahasiswa dan dosen yang bergabung di Unismuh untuk menjalankan salat fardhu secara berjamaah yang pahalanya sangat agung.
Deklarator KPPSI
Interaksi saya dengan KH. Jamaluddin Amien berlangsung ketika masuk menjadi pengurus Komite Perjuangan Penegakan Syariat Islam (KPPSI) Sulsel. Sebagaimana diketahui, beliau adalah salah seorang dari tiga deklarator berdirinya paguyuban yang menginginkan tegaknya syariat Islam di bumi serambi Madinah secara kaffah.
Pada 7-9 Maret tahun ini, adalah kongres kelima KPPSI yang dilaksanakan di Asrama Haji Sudiang.
Namun, sebelum kongres dihelat, para panitia, melakukan audiensi ke berbagai tokoh dan ormas, tak terkecuali kepada KH. Jamaluddin Amien selaku deklarator KPPSI.
Ketika kami berkujung, Pak Kiyai banyak memberi wejangan kepada panitia. Mungkin karena melihat situasi yang berbeda pada zaman deklarasi KPPSI pada 19-21 Oktober 2001 yang saat ini, timbul-tenggelam, timbul saat pilgub karena amirnya menjadi salah satu kandidat cagub atau cawagub, dan setelah itu kembali tenggelam.
Kondisi yang lain adalah, belum adanya program-program KPPSI yang kontinyu dan terukur secara sistematis, semuanya bersipat dadakan dan lebih banyak seremonialnya. Padahal para kepala daerah di Sulsel, bahkan gubernur sendiri, Dr. Syahrul Yasin Limpo sangat mendukung program-program KPPSI, termasuk perda-perda yang mewajibkan baca tulis Al-Qur'an bagi para siswa tingkat dasar, menengah, hingga calon PNS. Dan, tentu saja, kaum liberal yang anti syariat dan Perda Sayariat sangat tidak mendukung KPPSI.
Membaca situasi demikian, KH. Jamaluddin Amien mengeluarkan pernyataan yang luar biasa kepada para pengurus terutama panitia kongres, katanya, KPPSI harus tetap eksis dalam perjuangannya untuk menegakkan syariat Islam. Para pengurusnya harus tetap istiqamah, kalau ada hambatan itu bagian dari tantangan perjuangan. Saya bersyukur karena KPPSI yang telah kami deklarasikan masih tetap eksis dalam perjuangannya di Sulsel.
Dalam pertemuan itu, ada poin penting, bahwa  KPPSI yang ia deklarasikan  atas nama sebagai Ketua Muhammadiyah Wilayah Sulsel, bukan atas nama pribadi, begitu juga AGH.Dr.Sanusi Baco sebagai Ketua Nahdatul Ulama (NU) Wilayah Sulsel, dan  Prof. Abd Rahman Basalamah bertindak sabagai Ketua Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) Pusat.
Perjuangan KH. Jamaluddin Amien dalam membumikan syariat Islam lewat wadah KPPSI tidak ada yang mengingkari, bahkan ketika KPPSI terpuruk karena kasus bom,  beliau termasuk tokoh yang konsisten dan tetap mendukung perjuangan KPPSI dengan cara memotivasi pnegurus untuk tetap berjuang. Waktu kondisi badannya masih sehat, terutama awal-awal berdirinya KPPSI, Pak Kiyai sering melakukan kunjungan ke daerah, berdakwah dan melakukan penyadaran kepada masyarakat akan pentingnya menegakkan syariat Islam, dan itu dimulai dengan hal-hal yang ringan seperti meramaikan masjid dengan salat berjamaah.
Pembina LPPI
Pertemuan terakhir saya dengan KH. Jamaluddin Amien adalah ketika Rapat Kerja Tahunan LPPI Makassar tahun 2013. Karena Pak Kiyai adalah Ketua Dewan Pembina LPPI Makassar, maka beliau diundang dan turut hadir, bahkan memberi sambutan yang cukup panjang sekitar 30 menit. Saya selaku panitia Raker, mengabadikan tausiyah beliau baik dalam betuk rekaman suara maupun tulisan.
Dalam tausiyahnya, beliau mengupas tuntas sejarah berdirinya aliran Syiah dan siapa saja tokohnya, Pendiri Syiah adalah Abdullah bin Saba' seorang Yahudi, ia datang untuk memecah belah umat Islam, mengampanyekan bahwa setiap Nabi itu punya pelanjut yang disebut 'washiyun', seperti Nabi Musa pelanjutnya adalah Nabi Harun, juga Nabi Muhammad, punya pelanjut, yaitu Ali bin Abi Thalib bukan yang lainnya, maka banyak yang percaya, dan mengikuti pendapat Abdullah bin Saba', dan di sinilah Syiah berawal, terang Pak Kiyai.
KH. Jamaluddin Amien juga menutup tausiyahnya dengan memberi motivasi kepada LPPI Makassar agar tetap berjuang membela kebenaran, dan jangan pernah merasa sepi dalam berjuang, selama memperjuangkan kebenaran, insya Allah pertolongan Allah akan datang.
Begitulah semangat dan ketegasan KH. Jamaluddin Amien dalam menjaga kemurnian Ahlussunnah wal-Jamaah. Ketegasan beliau dalam pendirian menjadi contoh ideal bagi umat Islam generasi sosmed yang penuh dengan rintangan.
Ulama besar, dan kharismatik yang saya ceritakan di atas walau berada dalam organisasi Muhammadiyah, tapi perjuangannya tak mengenal ormas atau komunitas tertentu, melaikan demi kejayaan umat Islam.
KH. Jamaluddin Amien rahimahullah wafat pada tanggal 16 Nopember di Makassar dalam usianya yang ke-84 tahun, dan dikebumikan di Bantaeng. Ulama kharismatik ini adalah contoh ulama yang berjuang demi menegakkan syariat dan mereduksi kemungkaran termasuk berbagai macam aliras sesat tak terkecuali Ahmadiyah dan Syiah.
Sebuah syair dari Ali bin Abi Thalib saya goreskan akan keabadian ilmu dan perjuangan sang kiyai.
Tidak ada kebanggaan kecuali bagi ahli ilmu, sesungguhnya mereka di atas petunjuk, dan mereka penunjuk orang yang minta petunjuk.
Nilai setiap orang adalah sesuatu yang menjadikannya baik, sedang orang-orang bodoh itu musuh ilmu.
Maka, gapailah kemenangan dengan ilmu, bersamanya engkau hidup selamanya, semua manusia pasti mati, sedangkan ahli ilmu akan terus hidup.
Selamat Jalan Pak Kiyai, bakti dan perjuanganmu akan terus tersemat dalam sanubari kami. Wallahu A'lam!