Fatwa MUI, Urgensi dan Sosialisasinya




 

           Salah satu amanah Munas MUI tahun 2010 ialah sosialisasi hasil-hasil fatwa MUI agar dapat diketahui oleh masyarakat banyak dan dijadikan pedoman dalam kehidupan keagamaan dan kemasyarakatan. (Buku Himpuan Fatwa MUI. Edisi Terbaru, 2015, hal: IX).
            Disaat munculnya masalah Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara) yang akhir-akhir ini menimbulkan keresahan dalam masyarakat, maka Kejaksaan Agung telah menyurat kepada MUI, pada tanggal 29 Januari 2016, perihal Permohonan Fatwa MUI tentang Gafatar tersebut.

Ketika Rasulullah Saw Dikepung Musuh


Aksi militer Rusia ke Suriah, serta blok yang bersamanya dari Iran hingga vietnam mengingatkan kita akan peristiwa Perang Khandaq (parit) atau al-Qur'an menyebutnya sebagai perang ahzab (berbagai golongan).

Di saat cahaya Islam itu baru bersinar di Madinah, semua musuh bersatu ingin memadamkannya. Berawal dari makar Yahudi Bani Nadhir di madinah merayu Quraisy agar memulai misi penghapusan Islam sampai ke akar-akarnya. Setelah itu, Bani Ghathafan dgn seluruh kabilahnya, Bani Fazarah, Bani Murrah, Bani Asyja', Bani Asad dan seluruh kabilah lainnya.

Dari selatan, Quraisy dibantu Bani Kinanah dan penduduk Tihamah.

Semuanya mencapai 10.000 pasukan. Jumlah tentara yang mengalahkan jumlah semua penduduk madinah saat itu, termasuk anak-anak, wanita, anak muda dan orang tua.

Kapan MUI Menolak Paham Syiah?, ini penjelasan MUI

Ustadz Irfan Helmi ‎(komisi fatwa MUI Pusat)

Sehubungan banyaknya pertanyaan terkait berita bahwa "Hari ini MUI Resmi Tolak Syiah Masuk ke Indonesia", -wa billahit taufiq- ana sampaikan hal2 sbb: 

1. Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah lama menolak paham Syiah. Hal ini ditegaskan misalnya dlm fatwa MUI Th 1997 ttg Nikah Mut'ah yg berbunyi : ‎
"Bahwa mayoritas umat Islam Indonesia adalah penganut paham Sunni (Ahlus Sunnah wal Jama'ah) yang tidak mengakui dan menolak paham Syiah secara umum." [Baca: Himpunan Fatwa MUI sejak 1975: 376]

2. Penolakan MUI thd paham/aqidah Syiah juga ditegaskan oleh Ketua Umum MUI periode 1985-1998. Ketika ditanya kenapa menolak atau tidak menyetujui Syiah? Beliau menjawab : "Kami (ingin) menyelamatkan aqidah kami, menyelamatkan umat kami." [Lihat: Mengapa Kita Menolak Syiah hal xxxiii, tgl 21 Sep 1997]
3. Bahkan penolakan scr halus juga dismpkan oleh Prof. Dr. Buya Hamka (Ketua Umum MUI periode 1975-1980) tatkala menerima kedatangan 4 pemuda Iran yg ingin datang ke Indonesia guna mengajarkan revolusi Islam Syiah di Indonesia. Beliau berkata, "Boleh (anda) datang sbg tamu tetapi ingat, kami adalah bangsa yg merdeka dan tidak menganut Syi'ah". [Baca: buku panduan MUI ttg Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi'ah di Indonesia hlm 139]
Kesimpulan : MUI sdh sejak lama secara resmi menolak paham Syiah, bukan sejak tahun ini (2015) sbgmn diberitakan di media. 

Hakikat Ajaran Syiah (4)





Perkataan ulama Islam mengenai Syiah, bagaimana pandangan mereka tentang kelompok Syiah Raafidhah.

1. ‘Alqamah bin Qais An-Nakha’i rahimahullah (Tokoh Tabi’in, w.62 H)

“عَنْ عَلْقَمَةَ، قَالَ: ” لَقَدْ غَلَتْ هَذِهِ الشِّيعَةُ فِي عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كَمَا غَلَتِ النَّصَارَى فِي عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ

Dari Alqamah, ia berkata, “Sungguh Syiah ini telah berlebih-lebihan terhadap Aliradhiallahu ‘anhu sebagaimana berlebih-lebihannya Nashara terhadap ‘Isa bin Maryam.” (Diriwayatkan Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dalam As-Sunnah no. 1115 dan Al-Harbiy dalam Ghariibul-Hadiits, 2:581, shahih).