R.A. Kartini Versus Aisyah We Tenriollle

Ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, saya pernah mengajukan pertanyaan kepada guru sejarah tentang kedudukan Kartini sebagai pahlawan nasional. Sang guru menerangkan dengan sempurna bahwa R.A. Kartini adalah pelopor pejuang emansipasi wanita, seandainya beliau tidak memperjuangkan wanita supaya memiliki hak yang sama dengan kaum pria dalam berbagai hal, niscaya wanita Indonesia tidak akan bisa maju dan bersaing.
Karena masih tidak puas dengan jawaban pak guru, maka saya kembali mengajukan pertanyaan pada ibu di rumah yang juga terbiasa membaca buku-buku sejarah. Namun jawaban orang tua saya tidak jauh beda dengan sang guru. Intinya, ‘Ibu Kita Kartini –sebagaimana yang tertuang dalam lagu—adalah satu-satunya pelopor perjuangan wanita pribumi pada masanya.
Jawaban guru dan orang tua saya di atas telah menjadi ‘credo’ dalam benak saya dan mungkin masyarakat Indonesia secara umum karena memang demikianlah yang termaktub dalam buku-buku sejarah kita. Dalam “https://id.wikipedia.org/wiki/Kartini” misalnya menulis pikiran-pikiran Kartini yang di pada surat-suratnya tentang kondisi sosial pada masanya, terutama kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar sebagaimana kaum pria. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis, Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).
Raden Adjeng Kartini, biasa juga disebut Raden Ayu Kartini,  lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879, meninggal di Rembang, 17 September 1904 pada umur 25 tahun,  bersuku Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Pergulatan intelektualnya bermula ketika berkenalan dengan Estella Zeehandelaar, aktivis gerakan ‘Sociaal Democratische Arbeiderspartij (SDAP)’. Wanita Berbangsa Belanda ini kemudian mengenalkan Kartini dengan berbagai ide modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme. Tokoh sosialisme  seperti H.H. van Kol dan penganjur “Haluan Etika” C.Th. van Deventer adalah orang-orang yang menampilkan Kartini sebagai ‘Pendekar Wanita Indonesia’.
Pada tahun 1911, enam tahun lebih pasca kematian Kartini yang hanya berusia 25 tahun, sebuah usia yang relatif singkat, Abendanon menerbitkan kumpulan surat-surat Kartini dengan judul ‘Door Duisternis tot Lich’. Lalu terbit juga edisi bahasa Inggrisnya dengan tema ‘Letters of a Navaness Princess’. Beberapa tahun kemudian, terbit terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan judul ‘Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran, 1922’.
Sekitar dua tahun setelah penerbitan buku di atas, Hilda de Booy-Boissevain mengadakan prakarsa pengumpulan dana yang memungkinkan pembiayaan sejumlah sekolah di Jawa Tengah. Tanggal 27 Juni 1913, didirikan Komite Kartini Fonds, yang diketuai oleh C.Th. van Deventer. Usaha pengumpulan dana ini lebih memperkenalkan Kartini, serta ide-idenya pada orang-orang di Belanda. Saat itu, orang-orang Indonesia di luar lingkungan terbatas Kartini Sendiri, dalam masa kehidupan Kartini hampir tidak ada yang mengenalnya dan mungkin tidak akan mengenal Kartini bilamana orang-orang Belanda ini tidak menampilkan Kartini ke depan dalam tulisan-tulisan, percakapan-percakapan maupun tindakan-tindakan mereka, (Dr. Adian Husaini, Pendidikan Islam, Membentuk Manusia Berkarakter dan Beradab, 2012).
Kartini digugat
Pada tahun 1970-an, di saat kuku Orde Baru mencengkram dengan kuatnya, seorang guru besar dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. Hasja W. Bachtiar menggugaat penokohan Kartini, bahkan ia lebih jauh mengkritik ‘pengkultusan’ Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia, sebuah pemikiran yang langka dan dianggap aneh saat itu.
Dalam buku, “Satu Abad Kartini, 1879-1979”, Hasja W. Bachtiar menulis sebuah artikel bertajuk, “Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita”. Guru besar yang menamatkan doktor sosiologinya di Harvard University Amerika itu menulis, “Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut.”
Tak hanya menggugat dan mempertanyakan penokohan dan pengkultusan Kartini, Prof. Hasja juga memberikan contoh lain wanita Indonesia yang lebih layak ditokohkan dan diangkat menjadi pahlawan ketimbang Kartini yang sumbangsihnya terhadap perjuangan kaum perempuan masih sebatas ide. Wanita yang sangat ideal dijadikan ikon perjuangan kaum perempauan di Indonesia adalah Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh dan Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan.
Sultanah Safiatuddin dikenal pada masanya sebagai sosok wanita yang sangat pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, dia juga menguasai dengan baik bahasa Arab, Persia, Spanyol dan Urdu. Di masa pemerintahannya, ilmu kesusastraan berkembang pesat di Aceh. Ketika itu lahir karya-karya besar Nuruddin ar-Raniry, Hamzah Fansuri, dan Abdur Rauf Singkel. Ia juga berhasil menampik usaha-usaha Belanda untuk menempatkan diri di tanah rencong. VOC harus gigit jari dan tak berhasil mendapat monopoli atas perdagangan timah dan komoditi lainnya saat Sultanah memerintah. Ia dikenal sangat memajukan pendidikan, baik pria mau pun wanita. Sultanah memerintah Aceh cukup lama, 1644-1675.
Aisyah We Tenriollle
Hingga saat ini, La Galigo masih menjadi satu-satunya epik terpanjang yang pernah dilahikran oleh peradaban manusia, kendati isinya penuh dengan mitos dan peristiwa-peristiwa luar biasa masa lampau. Namun demikian, epik ini tetap memberikan gambaran kepada sejarawan mengenai kebudayaan Bugis sebelum abad ke-14. Versi bahasa Bugis asli La Galigo hanya dipahami oleh segelintir orang, sebelum disunting dan ditulis ulang. Hanya sebagian saja dari La Galigo yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda dan  Indonesia, dan tidak ada versi lengkapnya dalam bahasa Inggris. Sebagian manuskrip La Galigo dapat ditemui di perpustakaan-perpustakaan Eropa, terutama di Perpustakaan Koninklijk Instituut voor Taal, Land  en Volkenkunde Leiden di Belanda. Hikayat La Galigo telah menjadi dikenal di khalayak internasional secara luas setelah diadaptasi dalam pertunjukan teater I La Galigo oleh Robert Wilson, sutradara asal Amerika Serikat, yang mulai dipertunjukkan secara internasional sejak tahun 2004.
Sampai sekarang belum diketahui dengan pasti, siapa yang menulis  La Galigo, dan hampir saja punah dari peradaban andai tidak dikumpulakan oleh seorang wanita jenius, dialah Siti Aisyah We Tenriolle  yang berinisiatif menulis ulang epos tersebut dalam Bahasa Bugis umum yang bisa dipahami oleh semua kalangan.
Siti Aisyah We Tenriolle adalah Datu (Ratu) dari Tanette (kini Bone) Sulawesi Selatan. Memerintah di Kerajaan Tanette tahun 1855-1910. Dia menjabat sebagai Ratu selama limapuluh lima tahun, masa jabatan yang cukup lama. Ayahnya bernama La Tunampareq alias To Apatorang dengan gelar Arung Ujung. Sedangkan ibunya bernama Colliq Poedjie yang bergelar Arung Pancana. Bersama ibundanya yang intelek dan mengurusi pengarsipan dokumen-dokumen kerajaan, Aisyah menyelami sastra-sastra Bugis kuno, terutama  La Galigo.
Kerajaan Tanette merupakan kerajaan Islam. Pengaruh Islam melekat sangat kuat sebagaimana di kerajaan lainnya seperti kerajaan Goa,Tallo dan Bone. Meski demikian, semasa La Rumpang menjabat menjadi Raja, beliau tidak menutup diri dari kebudayaan lain yang masuk. Dimasa pemerintahannya, La Rumpang menjalin persahabatan yang cukup baik dengan B.F. Matthes dan Ida Pfeiffer. B.F.Matthes adalah peneliti dari Belanda yang dikirim ke Hindia Belanda dari perwakilan Nederlandsch Bijbelgenootschaap (Lembaga dari Belanda yang mengurusi masalah kitab-kitab). Lewat kedatangan Matthes pada tahun 1853 inilah  La Galigo berhasil digali kembali dan diterjemahkan. Sedangkan Ida Pfeiffer adalah orang Austria yang melakukan perjalanan keliling dunia dan menyempatkan diri singgah di Tanete.
Kecerdasan dan kecakapan Aisyah terlihat semasa ia menjadi Ratu. Tidak hanya cerdas di bidang kesusateraan tapi juga bidang pemerintahan dan bidang pendidikan. Aisyah berhasil mendirikan sekolah bagi rakyatnya. Sekolah tersebut tidak hanya diperuntukan bagi laki-laki, tetapi juga perempuan. Meski kurikulumnya masih sangat sederhana, hanya membaca, menulis dan berhitung tapi pada masa itu tergolong sudah sangat hebat. Karena pada masa itu anak perempuan tidak bersekolah. Aisyah adalah tokoh yang pertama kali mendirikan sekolah yang menerima murid putra dan putri dalam satu kelas. Dia berhasil mewujudkan kesetaraan hak pendidikan bagi laki-laki dan perempuan jauh sebelum Kartini dilahirkan. Aisyah menginginkan rakyatnya melek pendidikan, tidak terkecuali perempuan.
Di bidang pemerintahan Aisyah menerapkan konsep Pau-Pauna Sehek Maradang (lima tuntunan Hikayat Syekh Maradang). Hikayat tersebut menyebutkan bahwa kewajiban pemimpin itu ada lima yaitu,  (1) Orang yang pintar adalah orang yang memikirkan bagaimana menciptakan kesejahteraan suatu negeri; (2) Orang yang kaya adalah orang yang memiliki harta benda dan mendermakan kekayaannya untuk membangun negerinya; (3) Orang pemberani adalah orang yang dapat melindungi rakyatnya; (4) Wali adalah orang yang dimuliakan Allah; dan (5) Fakir adalah orang yang diterima doanya oleh Allah.
Aisyah sangat mencintai dunia sastra. Melalui kekuasaannya, dia berhasil mengumpulkan naskah-naskah tua  La Galigo yang terserak di beberapa kerajaan yaitu Goa,Tallo, dan Bone. Dia dan ibunya mengumpulkan naskah tersebut selama duapuluh tahun. Bersama BF.Matthess, peneliti asal Belanda, mereka tekun menyelamatkan naskah tersebut. Akan tetapi diperkirakan baru sepertiga dari naskah keseluruhan yang berhasil diselamatkan. Aisyah menerjemahkan ke dalam bahasa Bugis, lalu Mathess menerjemahkan ke bahasa Belanda dari hasil suntingan Aisyah. Oleh Matthes terjemahan ke dalam Bahasa Belanda ini kemudian diserahkan kepada Pemerintah Kerajaan Belanda lewat Nederlandsch Bijbelgenootschaap dan diabadikan di Perpustakaan Universitas Leiden.
Karya La Galigo bisa mencuat ke dunia internasional berkat jasa Siti Aisyah we Tenriolle, Colliq Poedjie, dan BF Matthes. Aisyah memiliki peran yang paling dominan. Karena dialah yang menguasai sastra bugis kuno sekaligus kekuasaanya yang sangat kuat sebagai ratu. Aisyah adalah wanita yang hebat, akan tetapi sangat disayangkan bangsa Indonesia kurang menghargainya lebih khusus orang Sulawesi.
Ironisnya, dalam buku “Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia, 1978”, terbitan resmi Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Sultanah dan Aisyah sama sekali tidak pernah tersentuh namanya oleh pena sejarah. Jika kartini hanya menuangkan idenya dalam surat-surat, maka Aisyah We Tenriolle telah berbuat banyak untuk memajukan kaum wanita dan pria sekaligus, dan meninggalkan jejak yang tak terhingga oleh dunia.

Ulama Syiah: Abu Bakar, Umar, Aisyah dan Muawiyah adalah Nama-nama Pintu Neraka Jahannam!

Semakin lama membuka lembaran-lembaran ajaran Syiah dari kitab-kitab induk penyesat umat semakin nampaklah kesesatan ajarannya yang sangat provokator menghina dan melecehkan tokoh-tokoh utama dalam Islam seperti sahabat Nabi yang paling mulia, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu dan Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu. Bahkan seorang ummahatul mukminin, istri yang paling dicintai oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, Aisyah radhiyallahu anha.

Nama-nama mulia itu disebut sebagai nama-nama pintu neraka jahannam!

Semoga Allah yang mahaperkasa membalas mereka dengan azab pedih di alam kubur dan neraka.

Pendeta terkemuka Syiah, Al-Majlisi menuliskan kata-kata keji itu dalam kitabnya Biharul Anwar, jilid 3, hal 577 berikut ini:

عن أبي بصير قال: يؤتي بجهنم لها سبعة أبواب: بابها الأول للظالم وهو زريق، وبابها الثاني لحبتر، والباب الثالث للثالث، والرابع لمعاوية، والباب الخامس لعبد الملك، والباب السادس لعسكر بن هو سر، والباب السابع لأبي سلامة، فهم (فهي خ ل) أبواب لمن اتبعهم

بيان: الرزيق كناية عن أبي بكر لان العرب يتشأم بزرقة العين. والحبتر هو عمر، والحبتر هو الثعلب، ولعله إنما كني عنه لحيلته ومكره، وفي غيره من الاخبار
وقع بالعكس وهو أظهر إذا الحبتر بالأول أنسب، ويمكن أن يكون هنا أيضا المراد ذلك، وإنما قدم الثاني لأنه أشقى وأفظ وأغلظ. وعسكر بن هو سر كناية عن بعض خلفاء بني أمية أو بني العباس، وكذا أبي سلامة، ولا يبعد أن يكون أبو سلامة كناية عن أبي جعفر الدوانيقي، ويحتمل أن يكون عسكر كناية عن عائشة وسائر أهل الجمل إذ كان اسم جمل عائشة عسكرا، وروي أنه كان شيطانا

Dari Abu Bashir, ia berkata, Neraka Jahannam didatangkan dan memiliki tujuh pintu. Pintu pertama untuk si zalim yaitu zariq. Pintu kedua untuk si Habtar. Pintu ketiga untuk yang ketiga. Pintu keempat untuk Muawiyah. Pintu kelima untuk Abdul Malik. Pintu keenam untuk Askar bin Husir. Pintu ketujuh untuk Abu Salamah. Pintu-pintu itu juga diperuntukkan untuk pengikut-pengikut mereka. 

Penjelasan: Zariq adalah sebutan untuk Abu Bakar. Habtar sebutan untuk Umar. Habtar adalah serigala, mungkin disebut begitu karena kelicikan dan makarnya. Dalam riwayat lain disebutkan sebaliknya dan itulah yang lebih benar, yaitu Habtar untuk yang pertama lebih sesuai. Mungkin juga berada disini dengan maksud seperti itu. Sedangkan yang kedua didahulukan karena ia lebih keras dan lebih keji. Askar bin Husir adalah sebutan untuk beberapa Khalifah Bani Umayyah atau Bani Abbasiyah. Begitu juga dengan Abu Salamah. Tidak salah juga jika Abu Salamah merupakan sebutan untuk Abu Ja'far Ad-Dawaniqi. Kemungkinan lainnya bahwa Askar adalah sebutan untuk Aisyah dan seluruh pasukan Jamal dimana unta Aisyah bernama Askar. Dalam riwayat lain disebut bahwa unta tersebut adalah setan.

Berikut ini scan kitab penyesat itu:




Sumber:
 
 
(Muh. Istiqamah/lppimakassar.com)

Bos Syiah Indonesia, Jalaluddin Rakhmat Menyusup Ke PDIP


Setelah melakukan gerakan dakwah bawah tanah untuk menyesatkan umat, Jalaluddin Rakhmat mencoba taktik baru dalam mendakwahkan Syiah yaitu dengan jalan politik. Bagaimana bisa seperti itu? Berikut ini beritanya:
Gembong Syiah Jalaluddin Rahmat Menyusup ke PDIP
Sebuah langkah strategis dijalankan oleh Jalaluddin Rahmat dengan  masuk  ke PDIP, dan menjadi bakal calon legislatif (DPR)  di daerah pemilihan Jawa Barat II.
Jalal sangat cerdik membaca situasi politik. Di mana belakangan ini suara-suara Muslim di Indonesia,  semakin kuat menolak kelompok Syiah.
Preseden yang terjadi di Sampang membuat kalangan Syiah menjadi sangat mafhum, dan harus melakukan tindakan penyelamatan. Di mana di Sampang terjadi "bumi hangus" terhadap kelompok Syiah, dan rakyat di daerah Sampang menolak keberadaan mereka.
Cara itu dilakukan dengan masuk atau menyusup ke partai politik.
Jalaluddin masuk ke PDIP dan menjadi calon legislatif, sebagai langkah strategis dengan tujuan ingin menyelamatkan komunitas Syiah di Indonesia. Dengan masuknya jalanke PDIP itu, maka komunitas Syiah akan memiliki payung politik, dan akan melindungi komunitas Syiah di Indonesia.
PDIP partai warisan dan kelanjutan dari Soekarno sekarang ini dipimpin Megawati. Sampai sekarang PDIP tetap memiliki pengaruh politik yang kuat terutama dikalangan grass root (rakyat bawah), dan masih sangat solid. Sehingga, sangat layak bila Jalaluddin Rahmat mencari perlindungan politik kepada PDIP.
PDIP yang berideologi nasionalisme, tidak pernah secara utuh memberikan tempat kepada aliran agama. Meskipun, selama ini PDIP menjadi kuda tunggangan kalangan Kristen dan Katolik, yang menunggangi PDIIP bagi kepentingan politik mereka, dan mencapai tujuan politik mereka.
Sekarang kalangan Syiah sudah berpikir mencari pelindung dan payung politik yang dapat menjadi pelindung eksistensi kaum Syiah di Indonesia. Dengan jalan masuk ke PDIP. Ini tidak main-main. Sungguh sangat mengkawatirkan.
Masuknya Jalaluddin Rahmat ke dalam PDIP,  bukan hanya menciptakan sebuah anomali politik, tetapi dapat membenturkan unsur-unsur dalam masyarakat Indonesia, dan mendorong terjadinya kekacauan politik yang lebih luas.
Di mana PDIP dimasuki unsur-unsur Syiah menjadi lawan dari mainstream di Indonesia yang mayoritas Muslim Sunni.
Di Timur Tengah terjadi kekacauan yang sangat luas antara Syiah dan Sunni, dari Lebanon, Irak, Iran, dan Negara-negara Teluk, Suriah sampai ke Yaman, dan sekarang menuju kepada perang total.
Memang, langkah Jalal masuk ke PDIP ini, sungguh sangat luar biasa, dan anehnya justeru elite PDIP, kemudian dapat menerima Jalaluddin Rahmat masuk ke dalam kandang banteng, dan pasti akan menimbulkan resiko politik yang tidak kecil di masa depan.
Tokoh-tokoh Syiah menyusup ke mana-mana, termasuk masuk Partai Demokrat, seperti Agus Abubakar, termasuk di berbagai media  dan pemerintahan.
Nampaknya, kalangan Syiah di Indonesia sudah menyusun kerangka strategis menjelang perubahan politik besar di Indonesia tahun 2014 mendatang dengan masuk ke dalam satu kekuatan politik yang penting seperti PDIP.
Dengan begitu kalangan Syiah di Indonesia yang dipimpin Jalaluddin Rahmat akan memiliki leverage (daya tawar) yang tinggi menghadapi situasi yang sangat kritis. Wallahu'alam.

Strategi Politis Dakwah Syiah


Strategi politis dakwah Syi'ah



Beberapa waktu lalu diadakan seminar Nasional dengan mengangkat tema persatuan umat oleh pengkut Syiah di Universitas Muslimin Indonesia (UMI) Makassar pada 5 November 2012. Isu ukhwah, bukan isu baru yang dikampanyekan Syiah, tapi sudah gencar pasca revolusi Iran.
Sebelumnya, di IAIN Surabaya, pada 22 Oktober ormas Syiah, ABI (Ahlul Bait Indonesia) menyelenggarakan dialog Publik dengan tema “Haruskah Syiah Ditolak?”, dengan Cak Nun, sebagai salah satu nara sumbernya. Cak Nun juga mengangkat tema persamaan Sunnah-Syiah. Namun, ia mengakui bukan ulama’ yang paham dalil.
Isu ukhuwah Islamiyah dan pengaburan perbedaan Sunnah-Syiah, merupakan di antara strategi dakwah syiahisasi.
Strategi itu sejatinya telah dipelopori oleh Khomeini, pemimpin Revolusi Iran tahun 1979. ia merancang strategi-strategi politis untuk diterapkan kepada umat Sunni seluruh dunia. Ketika berdiri di dalam orang Sunni, Khomeini memberikan kesan netral.  Ia menciptakan citra diri sebagai seorang pahlawan.
Vali Nasr, intelektual muda Syiah yang moderat dalam bukunya Shiah Revival (edisi Indonesia “Kebangkitan Syiah, Islam, Konflik dan Masa Depan) membedah kondisi di dalam internal Revolusi 1979. Khomeini sesungguhnya sadar, betapa sulit untuk dapat diterima sebagai pemimpin Islam di kalangan Sunni.
Meski momentumnya cukup tepat, di saat kaum Muslimin merindukan kejayaan di saat keterpurukan di bawah bayang-bayang imperialism Barat. Namun, Sunni yang sekian lama dalam sejarah menjadi rival teologi dan politik tidak lah mudah diajak dalam satu garis pengendalian politik. Maka, dagangan politik yang ditawarkan adalah mencitrakan Iran sebagai pengawal terdepan revolusi Islam dunia.
Khomeini  kemudian mencitrakan diri sebagai ikon penentang Barat dan lebih anti-Israel daripada Barat, dan fokus pada gerakan Islam tentang perlawanan terhadap orang luar. Menurut Vali Nasr ambisi Khomeini tersebut dalam rangka agar diterima sebagai pemimpin Muslim dunia, serta menyatukan Syiah dan Sunni di bawah jubahnya. Ia membuaat strategi metode pendekatan (taqrib) Sunnah-Syiah, dan mencitrakan kesan netral dan menciptakan common enemy (yaitu AS dan Barat).
Kedok Khomeini lambat laun terkuak. ketika ada tawaran damai perang panjang Iran-Irak, Khomeini menolaknya dengan mengibaratkan seperti minum racun. Isu anti-Amerika dan Israel yang digaungkan di dunia Islam tiba-tiba menciut ketika terkuak skandal “Iran-Gate”. Kasus pembelian senjata Iran kepada Isrel secara diam-diam. Bahkan jual beli senjata selama perang dengan Irak tersebut melibatkan AS. Ada sesuatu yang tertupi dan sengaja diburamkan di sini. Ketika Khomeini ditawari damai dengan Irak, ia menjawab bahwa damai dengan Iran yang Sunni itu seperti minum racun.
Tanda tanya menjadi besar, ketika ada kabar guru Khomeini, Ayatullah Abul Qisim Kashani, disebut-sebut sebagai agen CIA dalam buku Devil’s Game Orkestra IblisIi). Revolusi Iran memang penuh dengan tanda-tanya dan inkonsistensi.
Merasa banyak kaum Muslim dunia yang mencium gelagat yang tidak baik, maka ia kemudian membuat upaya-upaya tambahan.
Salah satu strategi Iran untuk memperluas jaringan Syiah adalah melalui jalur pemberian beasiswa pendidikan. KH. Ali Maschan Musa, mantan ketua PWNU Jawa Timur, ketika berkunjung ke Iran pada tahun 2007 silam menginformasikan bahwa ada ribuan pelajar Indonesia yang belajar di Iran. Menurut anggota DPR RI ini keberadaan mereka patut diwaspadai. Ia juga menghimbau kepada kepolisian, bahwa Polri juga harus ikut memerhatikan aliran Syiah selain mewaspadai penyebaran Ahmadiyah di Indonesia.
Diperkirakan, dalam hitungan 4-5 tahun ke depan, tentu mereka akan kembali ke Indonesia dengan membawa paham yang secara tegak lurus bertentangan dengan paham umat Islam di Indonesia.
Selain pemberian beasiswa, ada beberapa strategi yang dijalankan dalam dakwah Syiah di Indonesia. Pertama, mengedepankan tema persatuan/ukhuwah Islamiyah. Dalam kajian-kajian, taklim, buku-buku dan orasi ilmiah selalu Syiah tidak meninggalkan tema ini.
Kedua, menampilkan pustaka atau tokoh Syiah berwajah Sunni (Syi’i biwajhin Sunniyin). Prof. Dr. Mohammad Baharun menulis bahwa kitab kitab Muruj al-Dzahabi oleh Ali bin Husein al-Masoudi, Kifayat al-Thalib fi Manaqib Ali bin Abi Thalib dan al-Bayan fi al-Akhbar Shahib al-Zaman Oleh Abu Abdillah Fakhruddin Muhammad bin Yusuf al-Kanji, Syarh Nahj al-Balaghah oleh Ibnu Abi al-Hadid, Syawahid al-Tanzil oleh al-Hakim al-Kaskani, dan Yanabi’ al-Mawaddah oleh Sulaiman bin Ibrahim al-Qanduzi, adalah buku-buku Syiah. Pengarangnya mengaku Sunni agar diapat diakses oleh pengikut Ahlussunnah wal Jama’ah.
Kerap kali dijumpai juga pengikut Syiah menolak sebagai Syi’i. Tapi terkadang mereka lebih suka disebut pengikut madzhab Ahlul Bayt ketimbang pengikut Syiah. Mereka juga menghindari debat terbuka vis a vis. Dalam beberapa acara publik kadang menampilkan tokoh yang tidak memiliki kapasitas. Namun diminta untuk bicara ukhuwah Sunnah-Syiah. Hal ini merupakan taktik pengelabuan untuk menutupi wajah Syiah yang sesungguhnya.
Ketiga, memberikan image netral. Namun di lain kesempatan mengkritik Sunni. Yaitu mengkritik pustaka-pustaka Sunni, dan para ulama’. Yang menjadi sasaran biasanya hadis-hadis riwayat Abu Hurairah dan Bukhari-Muslim. Selain itu juga pendekatan  melalui pendekatan akhlak, memberi jasa bantuan dana serta janji-janji kerja sama jika umat bersedia bergabung ke dalam insitutusi tertentu. Kini, Syiah menggerakkan dunia pendidikan. Mendirikan sekolah-sekolah unggulan mulai TK hingga SMA. Menyelenggarakan training-training metode pendidikan.
Dengan dukungan aktivis Liberal, digulirkan wacana Syiah dan Ahlussunnah sama-sama. Tidak boleh menyalahkan Syiah. Wacana yang dikedepankan adalah Syiah adalah Muslim. Perbedaan antara Syiah dan Ahlussunnah sebatas perbedaan ijtihad politik. Syiah juga dicitrakan sebagai pembela dan pecinta Ahlul Bayt Nabi saw.
Strategi dan metode tersebut di atas, hanyalah media untuk mendukung revolusi Syiah di dunia Islam. Di Indonesia, meski Syiah membuat kemasan menarik di dalam dakwah, namun tidak bisa dipungkiri fakta-fakta syiahisasi terhadap warga Sunni tetap dijalankan, seperti di Sampang dan Jember. Jika ini faktanya, selamanya sulit menemukan jalan damai.

Oleh: Kholili Hasib
Anggota Majelis Intelektual Dan Ulama Muda Indonesia Daerah Jawa Timur


sumber: http://www.arrahmah.com/kajian-islam/strategi-politis-dakwah-syiah.html

Fenomena Eyang Subur

http://hanifatunnisaa.files.wordpress.com/2013/01/dukunsantet.jpg
Akhir-akhir ini bangsa Indonesia digemparkan dengan sebuah fenomena yang menggelitik sekaligus miris, namun menarik untuk dikonsumsi, bahkan diteliti dan dikaji lebih dalam. Fenomena Eyang Subur dari dunia mistik.

Kisahnya bermula ketika Adi Bing Slamet, yang selama ini kita kenal di dunia empiris sebagai sebagai bintang yang memiliki ‘bintang terang’ dalam dunia entertaint, mulai dari pop hingga film. Ternyata di balik semua itu, Adi juga terseret dalam ‘duni gelap’ yang penuh mistik. Ia mengakui bahwa selama bertahun-tahun dirinya terjebak oleh dunia hitam di bawah mentor seorang dukun-paranormal bernama Eyang Subur.  

Muhammad Al-Fatih dan Pendidikan Karakter


 http://harisparadise.files.wordpress.com/2012/10/muhammad-al-fatih-sosok-pemuda-tangguh1.jpg

Pendidikan  karakter adalah sebuah program sekolah untuk membentuk anak-anak muda secara sistematis dengan nilai-nilai yang diyakini dapat merubah prilaku mereka. Atau dapat pula diartikan sebagai penanaman sifat sopan, sehat, kritis, dan sikap-sikap sosial seperti kewarganegaraan yang dapat diterima masyarakat. (Lockwoot  A.T. Charakter Education: Controversy and Consensus, 1988).
 
Dalam Islam, karakter identik dengan adab yang biasa disebut akhlak, orang bugis menamainya ampe-ampe atau tingkah laku, berupa kecenderungan jiwa untuk bersikap dan bertindak secara otomatis. Adab yang sesuai dengan ajaran Islam disebut akhlaqul karimah atau ampe-ampe madeceng yang hanya dapat diperoleh melalui dua jalan. Pertama, bawaan lahir sebagai karunia Allah the gift sebagaimana akhlak para nabi dan rasul. Dan kedua, sebagai hasil usaha pendidikan dan penempahan exercise terhadap jiwa soul. Dengan itu program pendidikan karakter yang kini sedang ditekankan oleh pemerintah pada dasarnya sejalan dengan Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai akhlaqul karimah, dan sangat sejalan dengan falsafah orang Bugis, local wisdom.

Selain sifat terpuji, pendidikan karekter pada hakikatnya menanamkan jati diri yang tangguh kepada peserta didik, sehingga ketika baranjak dewasa mereka mampu mempertahankan dan membela kebenaran. Sebagaimana yang telah Rasulullah ajarkan kepada para sahabatnya, beliau membangun karakter yang tangguh sehingga dapat melahirkan pribadi yang mumpuni, salah satunya adalah karakter Umar bin Khattab, yang sebelum masuk Islam merupakan pribadi yang beringas dan tak terkendali, namun ketika menjadi muslim, Rasulullah membangun karakternya, dan berhasil menjadi pemimpin yang ditempatkan oleh M. Harts dalam “The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History, 1978” pada urutan ke-51 sebagai manusia paling berpengaruh dalam sejarah dunia. 

Semasa menjabat sebagai khalifah, khususnya dalam pertempuran Yarmuk (636), pasukan Arab berhasil memukul habis kekuatan Byzantium. Damaskus jatuh pada tahun itu juga, dan Darussalam menyerah dua tahun kemudian. Menjelang tahun 641, pasukan Arab telah menguasai seluruh Palestina dan Suriah, dan terus menerjang maju ke daerah yang kini bernama Turki. Tahun 639, pasukan Arab menyerbu Mesir yang juga saat itu di bawah kekuasaan Byzantium. Sungguh aneh jika ada aliran yang menamai diri mereka sebagai pencinta keluarga Nabi ‘Ahlul bait’ lalu melancarkan fitnah yang keji dan biadab terhadap Umar bin Khattab dan menuduhnya sebagai sahabat yang murtad, serta menganggap Rasulullah telah gagal mengajar dan membina para sahabatnya. Aliran inilah yang disebut Syiah-Rafidhah, yang telah disesatkan oleh MUI Jatim dan Depag RI.

Karakter Religius

Sewaktu mengajar di Malaysia, saya memiliki seorang rekan berkebangsaan Turky yang juga berprofesi sebagai guru di tempat yang sama, beliau adalah lulusan Universitas Al-Azhar Mesir dan mantan wartawan BBC, berkali-kali beliau menceritakan bagaimana orang Turky membangun karakter para pemudanya sehingga sanggup bertahan selama berabad-abad sebagai penguasa Dinasti Utsmaniyah yang terbentang dari Timur Asia hingga Barat Eropa. 

Salah satu karakter pemimpin yang dibangun dari keluarga dan guru yang memiliki karakter kuat, tangguh, namun salih adalah seorang pahlawan Islam yang tak pernah lekang oleh zaman. Dialah Muhammad al-Fatih.

Muhammad al-Fatih, sosok yang sejak kanak-kanak telah ditanamkan karakter yang kuat dan melekat dalam jiwanya agar kelak dapat menaklukkan Konstantinopel. Gurunya, selain mengajarkan Islam dan pelbagai ilmu pengetahuan lainnya, rajin mengajak al-Fatih kecil memandangi benteng Konstantinopel di kejauhan sambil berujar. “Lihatlah di seberang sana, Rasulullah pernah bersabda bahwa benteng itu akan ditaklukkan seorang pemimpin yang merupakan sebaik-baik pemimpin dan tentaranya adalah sebaik-baik tentara. Saya percaya pemimpin itu adalah kamu!”

Nyaris setiap hari kata-kata itu dirilis dan akhirnya menumbuhkan karakter yang penuh dengan keyakinan dan semangat yang berapi-api. Sudah delapan abad berlalu, sejak masa sahabat Nabi, Konstantinopel tak pernah tersentuh apalagi tertakluk. Kota yang dikelilingi benteng dengan tembok setebal sepuluh meter, di sekeliling benteng masih terdapat parit dalam yang menganga selebar tujuh meter. 

Jika diserang dari arah barat, ada benteng dua lapis. Dari selatan, ada pelaut Genoa yang tangguh dan berpengalaman. Sementara masuk dari arah Timur tidak mungkin karena armada laut harus masuk ke selat Golden Horn yang dilindungi rantai besar hingga kapal perang ukuran kecil pun tak dapat lewat. Ayah dan kakek serta pemimpin perang lainnya telah berkali-kali gagal menaklukkan kota tersebut. Kini al-Fatih kembali mencoba.

Ketika beribu-ribu pasukannya selama berpekan-pekan hanya berada di sekeliling benteng dan tak juga berhasil memasukinya, al-Fatih dengan karakter kuat hasil dari didikan sang guru dan ayah, tak ingin menyerah dan akhirnya menemukan celah, adanya kelemahan pertahanan lawan di selat sempit Golden Horn, mereka beranggapan bahwa tak satu pun kapal yang sanggup melewati rantai yang dipasang dalam laut sehingga menjadikan pertahanan pada bagian ini agak lemah.

Al-Fatih melakukan ide ‘gila’ dengan menggotong kapal pasukannya melalui darat melintasi pegunungan, sebuah sejarah peperangan yang tak perrnah ada sesudah dan sebelumnya bagi umat manusia. Hanya dalam waktu semalam, 70 kapal perang pindah dari laut Selat Bosphorus menuju Selat Tanduk untuk kemudian melancarkan serangan tak terduga yang berakhir dengan kemenangan yang telah dinanti berabad-abad lamanya.

Banyak analisa yang muncul dari para sejarawan, Timur maupun Barat. Namun yang paling berpengaruh dari kesuksesan al-Fatih adalah adanya pendidikan dan penanaman karakter yang tangguh sejak dini. Sang ayah mencarikan guru terbaik dan memberi otoritas penuh pada sang guru untuk mendisiplinkan putra mahkota, termasuk memukul jika ia bandel. Namun al-Fatih kecil menertawakan tindakan ayah dan gurunya itu, tapi saat itu juga pukulan melayang padanya. Sejak saat itu ia tahu jika dirinya harus taat guru, disiplin, menghormati orang tua dan orang lain, menjaga sikap, sekalipun ayahnya seorang khalifah.

Pendidikan karakter yang telah ditanamkan padanya membuat al-Fatih menjadi murid yang cerdas namun salih. Ia menguasai sedikitnya enam bahasa, ilmu politik, pemerintahan, matemattika, pengetahuan alam, ilmu militer, dan lainnya. Saat berumur 19 tahun –masa tawuran bagi para pelajar kita saat ini—beliau sudah didaulat menjadi sultan dan panglima perang dan telah menjadi pribadi yang matang. Pada usia 21 tahun –usia berdemo bagi para mahasiswa kita—al-Fatih menjalankan misi pembebasan konstantinopel yang berhasil dengan gemilang.

Ketika pasukan berhasil menguasai Kota Konstantinopel yang bertepatan dengan hari Jumat. Untuk menentukan siapa yang pantas mengisi khutbah dan menjadi imam salat Jumat, sang Sultan bertanya, “Siapakah yang sejak akil balig hingga hari ini pernah meninggalkan salat wajib lima waktu, yang merasa silahkan duduk!” tak seorang pun yang duduk. Muhammad al-Fatih kembali bertanya, “Siapa yang sejak akil balig sampai hari ini pernah meninggalkan salat sunnat rawatib, yang merasa silahkan duduk!” Sebagian pasukan mulai ada yang duduk. Sultan kembali bertanya, “Siapakah yang sejak akil balig tak pernah alpa melakukan salat tahajjud, yang merasa silahkan duduk! Semua pasukan mulai duduk kecuali sang sultan sekaligus panglima itu tetap tegak berdiri.

Kota Konstantinopel diubah namanya oleh Al-Fatih dengan Islambul lalu diganti oleh Mustafa Kemal Attarurk dengan Istambul yang kini menjadi ibu kota Turky yang berada di dua Benua, Asia dan Eropa.  

Wajar saja jika Rasulullah menggambarkan bahwa yang akan menaklukkan Konstantinopel adalah pemimpin terbaik dengan pasukan terbaik sebagai buah dari pendidikan karakter religius dan berbasis agama yang sinergi antara anak, guru, orang tua hingga penguasa. Wallahu a’lam!

Proporsional Berdakwah

Menjadi seorang muslim yang baik bukanlah semata-mata hanya taat salat,puasa, zakat, haji, dan melimpahnya jumlah hitungan tasbih. Tetapi tak kalah pentingnya adalah sejauh mana manfaatnya kepada orang lain, kesalehan individu harus dibarengi dengan koreksi terhadap kesalahan orang lain karena bencana bukan hanya diperuntukkan kepada orang-orang yang tidak saleh. Seorang muslim bukanlah diciptakan untuk bertempur melawan setan dengan menggunakan pedang lalu masuk surga. 

http://1.bp.blogspot.com/-w2y_RO5_YU8/Teme-_vWDJI/AAAAAAAACNo/kns-cFnTfE4/s1600/Dakwah+adalah+cinta+-+Semangat.jpgDalam Alquran (103:1-3) dijelaskan dengan gamblang bahwa, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, serta nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan kesabaran.” Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah besabda, “Manusia bergantung kepada Allah, yang lebih dicintai-Nya adalah mereka yang bermanfaat bagi sesamanya.”

Jadi muslim yang baik, beruntung dan tidak buntung adalah, mereka yang melengkapi perbuatan baiknya dengan keimanan, kesabaran, dan selalu nasihat-menasihati dalam menunjukkan kebenaran ajaran Islam serta kesabaran dalam menjalankan ibadah kepada Allah. Dengan itu, seorang muslim dapat bermanfaat kepada muslim lainnya, makin berkualitas nasihat yang kita sampaikan, makin tinggi pula nilainya di sisi Allah. Makin menarik metode dalam memberikan nasihat, makin ramai pula peminat nasihat, dan tentunya amal kita juga makin meningkat. Siapa yang menunjukkan satu perbuatan baik kepada orang lain, niscaya ia akan turut mendapatkan pahala sebagaimana yang melakukakannya, tidak berkurang sedkit pun, dan barang siapa yang menunjukkan jalan kesesatan, niscaya dosanya persis dengan orang yang mekakukan dosa itu tak kurang sedikit pun. Demikian Nabi bersabda.

Dakwah Profesional

Islam sebagai agama misi mengharuskan ada segolongan orang yang melakukan kerja-kerja dakwah secara profesional dan atraktif, sehingga umat mendapat pencerahan dan bimbingan sesuai apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW bersama para sahabatnya: amar ma’rif nahy mungkar

Orang yang terlibat dalam dakwah adalah manusia pilihan yang menjadi pewaris para nabi (waratsatul anbiya’). Karena sentuhan para dai sehingga agama ini tetap eksis di muka bumi. Untuk itulah, para dai perlu bekal yang cukup sebelum terjun dalam masyarakat luas, bukan hanya sekadar memiliki satu-dua buku kumpulan khutbah Jum’at lalu terjun bebas berdakwah tanpa ilmu yang memadai dan pengetahuan tentang metodologi dakwah yang mumpuni. Kita tidak butuh dai yang fakir materi dan miskin metode.

Penguasaan materi adalah hal mutlak yang harus dimiliki seorang dai, dalam ajaran Islam, ada tiga perkara inti yang harus diketahui setiap muslim, yaitu ‘ilmu ushuluddin, atau landasan ajaran agama (tauhid), ‘ulum as-syariah, atau ilmu yang berhubungan dengan tata cara beribadah (kepada Allah) dengan baik dan benar, serta ilmu muamalat, termasuk di dalamnya adab berinteraksi sesama makhluk Allah di muka bumi yang sebagian ulama menamai at-tashawwuf wal akhlaq.

Jika para rasul mendapatkan materi dari Allah melalui wahyu, maka manusia biasa seperti kita harus mendapatkan ilmu dengan cara belajar dan membaca. Para dai harus memiliki keilmuan yang syumul (komprehensif) sehingga dakwahnya selain kaya materi juga harus selalu situasional. Tidak mesti benar-benar ahli dalam satu bidang, tetapi minimal harus tau bidang-bidang tertentu yang sering menjadi tema pembahasan. Penceramah tidak mesti seorang pakar hadis untuk mengutif sebuah hadis, tapi ia harus tau kedudukan sebuah hadis dan cara menerangkan  (matan) isinya  dengan benar.

Ketika para dai banyak membaca, maka mereka akan sanggup memimpin umat Islam. Jika umat Islam membaca lebih banyak lagi, maka mereka akan memimpin peradaban umat manusia. Sungguh sebuah ironi, karena faktanya: orang-orang Barat (Kristen) banyak membaca, sedang umat Islam sedikit membaca! Selain itu, kita belajar untuk membaca, sedang Barat membaca untuk belajar. 

Selain materi, penguasaan metode berdakwah juga tak kalah pentingnya. Dalam ilmu komunikasi kita kenal “Fannul Khithobah” seni berpidato. Ilmu ini juga tak kalah pentingnya, karena seorang orator kendati menguasai materi sebanyak apa pun, namun jika terserang ‘demam  panggung’ semuanya akan sia-sia. Atau seorang dai yang tidak tau metode dakwah sehingga para jamaah salah paham dan berbalik memusuhinya, ini jauh lebih fatal.

Hisham Altalib, dalam “Training Guide for Islamic Workers, 1991” menulis sebuah cerita tentang seorang ustad yang mahir mendidik para santrinya untuk berdakwah. Enam bulan teori –pembekalan materi—dan tiga bulan untuk praktik-lapangan. Seorang siswa yang percaya diri telah menyelesaikan bagian teori merasa bahwa dia akan dapat mengerjakan praktiknya sendiri. Sang ustad mengingatkan, tapi tidak digubris. Dia telah memilih sebuah desa nun jauh untuk melakukan praktik dakwahnya sendiri. Pada hari Jumat pertama di desa itu, seorang imam gadungan menyampaikan satu khutbah yang penuh dengan kebohongan tentang Allah dan Rasul-Nya. Santri tersebut berdiri dan berteriak dengan lantang, ‘Imam itu pembohong! Allah dan Rasul-Nya tidak mengatakan demikian!’ Sang Imam pun menjawab, ‘Pemuda itu kafir dan harus dihukum!’ Para hadirin salat jumat bersatu menyerang santri itu secara membabi buta. Ia pun kembali pada ustad dengan balutan dan tulang yang remuk (babak belur). Ustad berkata padanya, ‘Akan kutunjukkan padamu praktik dakwah yang baik dan atraktif.’ 


Jumat selanjutnya, mereka pergi ke masjid yang sama dengan imam yang sama menyampaikan khutbah serupa. Setelah mendengar khutbah, sang ustad berdiri dan berkata, ‘Imam kalian adalah lelaki penghuni surga. Setiap orang yang mengambil rambut dari jenggutnya akan mendapatkan surga!’ Seketika,  para jamaah Jumat menyerang janggut sang imam dan setiap orang menarik satu rambut dari jenggutnya sampai gundul, darah pun bercucuran. Ustad lalu membisikkan kata-kata kepada Imam gadungan, ‘Akankah Anda berhenti berbohong tentang Allah dan Rasul-Nya? Atau Engkau ingin hukuman tambahan?’ Sang imam mengaku salah dan bertobat. Santri itu menyadari kekeliruannya, dan memohon pada ustad agar diberi waktu tambahan tiga bulan untuk praktik berdakwah. Teori dan praktik  dua adalah kutub yang beda.

Bekal yang terpenting dari semuanya adalah, seorang pendakwah harus sesuai ucapan dan perbuatannya. Tidak lazim membahas tema fadhilatul ju’ keutamaan berlapar-lapar sementara dia sendiri tidak pernah kelaparan; menekankan keutamaan salat berjamaah sementara ia hanya berjamaah di hari Jumat; menekankan keutamaan berpoligami sementara dirinya belum punya istri walau hanya satu. Inilah yang dimaksud dalam Alquran (QS. 61:2), lima taquluna ma la taf’alun, Mengapa kamu katakan sesuatu yang tidak kamu laksanakan?

Hingga saat ini, umat Islam masih tetap memandang bahwa para dai adalah harapan, cita-cita, dan penyelamat bangsa dan umat, mereka adalah agent of change. Salah satu ciri kian dekatnya hari kiamat adalah, jika para dai rama-ramai menetap di kota untuk memburu kemewahan dunia, dan pada saat yang sama para misionaris-Kristen ramai-ramai masuk kampung untuk menyelamatkan ‘domba-domba’ sesat. Wallahu a’lam!

Dukung MUI Keluarkan Fatwa Syiah Sesat dan Haram di Indonesia

Fan Page LPPI Makassar