Mencela Tauhid, Masih Bertauhidkah Jalaluddin Rakhmat?

http://www.satuharapan.com/uploads/pics/news_161_1407150962.jpgNah, jika ada umat Islam yang melecehkan tauhid, maka wajarlah kita bertanya, dengan apa ia berdawah, dan kepada siapa ia beribadah selama ini? Kalau bukan karena tauhid, maka pastilah segenap amal ibadahnya telah rontok. Nampaknya Jalaluddin Rakhmat dan para pengikutnya beribadah bukan dilandasi dengan tauhid kepada Allah, karena itulah ia berani berfatwa, 'tauhid identik dengan terorisme'. Ahlussunah berpendapat bahwa tidak bertauhid pasti menyembah mahluk ciptaan Allah. Tribun Timur, Jumat 22/8/2014.
[www.lppimakassar.com]
Sebuah acara diskusi berisi penolakan keberadaan Islamic State of Iraq and Syam (ISIS) yang dilaksanakan di Galeri Cafe, Jakarta (04/08/2014), di sana Jalaluddin Rakhmat, tokoh utama Syiah Indonesia mengeluarkan pernyataan, Kalian tahu apa singkatan JAT yang merupakan kelompok organisasi pimpinan Ba'asyir? Yaitu Jamaah Ansharul Tauhid, lagi-lagi ada kata tauhid. Jadi jelas, kan ciri-ciri utama teroris adalah tauhid! (Bumisyam.com).
Wakil Menteri Agama, Nasiruddin Umar menegaskan bahwa masyarakat harus memperketat penjagaan masjid, karena kuat dugaan masjid menjadi tempat berkumpulnya anggota ISIS, "tempat yang harus pertama dijaga itu masjid", ujarnya dalam diskusi The Nusa Institute, Warning ISIS: Antara Ideologi Agama vs Gerakan Politik Global di Kementrian Agama, Jakarta Pusat (14/8/2014) sebagaimana dikutif Metrotvnews.com.
Sedangkan Kepala Kantor Departemen Agama (Kakandepag) kabupaten Enrekang, Suyahdi Sallu, menyatakan bahwa salah satu ciri simpatisan dan pendukung teroris ISIS adalah RCTI, atau singakatan dari 'Rombongan Celana Tinggi' dengan jenggut panjang. Hal itu disampaikan saat menghadiri rapat koordinasi dan penanggulangan paham radikal ISIS di Mapolres Enrekang, 14/8/2014. (Massenrempulu.com).
Pernyataan tiga tokoh berbeda di atas perlu ditanggapi secara serius dan berimbang, agar masyarakat tidak salah paham. Jika tauhid, masjid, dan sunnah-sunnah Rasul lainnya seperti jenggut atau menghindari isbal telah dilecehkan sedemikian rupa, maka tidak ada lagi kemulian dalam beragama.
Sunnah Rasul Jika ada pertanyaan, Ibadah apakah yang paling agung dalam Islam? Maka jawaban yang tepat adalah mentauhidkan Allah. Tauhid dari segi bahasa, berasal dari kata 'wahid' berarti 'satu' dan wahhada-yuahhidu' bermakna 'mengesakan', dalam Istilah, tahuhid adalah mengesakan Allah sebagai satu-satunya yang wajib diibadahi, serta mengingkari segenap sesembahan selain-Nya. Itulah makna inti 'La ilaha illallah', tiada Tuhan (sesembahan) selain Allah.
Karena itulah, ajakan bertauhid merupakan kerja-kerja utama para nabi dan rasul yang pernah diutus oleh Allah dimuka bumi ini, di antara dalilnya adalah, Wama umiru illa liya'budullaha mukhlishina lahud-dina hunafa, Padahal mereka tidak disuruh kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatannya, dalam menjalankan agama yang lurus, (QS. 98: 5). Ayat lain, Dan tidaklah aku memciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku, wama khalaqtul jinna wal insa illa liya'budun, (QS. 51: 56).
Muhammad bin Abdul Wahhab menafsirkan kata 'liya'budun' dengan 'liyuwahhidun', menurutnya, manusia dan jin diciptakan supaya bertauhid kepada Allah, selain itu, tauhid adalah ibadah yang pertama dinilai oleh Allah, sebaik apa pun ibadah seseorang, tetapi tidak mentauhidkan Allah dengan menyekutukan-Nya, maka rontoklah seluruh amal ibadahnya, berdasarkan firman-nya, Sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan kepada nabi-nabi sebelummu, Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan rontoklah seluruh amalmu, dan pasti kamu termasuk orang-orang yang merugi. La'in asyrakta layahbathanna 'amaluka walatakunanna minal-khasirin, (QS. 39: 65).
https://scontent-b-kul.xx.fbcdn.net/hphotos-xpa1/t1.0-9/s720x720/10325528_10152594959514831_502380976040888807_n.jpgNah, jika ada umat Islam yang melecehkan tauhid, maka wajarlah kita bertanya, dengan apa ia berdawah, dan kepada siapa ia beribadah selama ini? Kalau bukan karena tauhid, maka pastilah segenap amal ibadahnya telah rontok. Nampaknya Jalaluddin Rakhmat dan para pengikutnya beribadah bukan dilandasi dengan tauhid kepada Allah, karena itulah ia berani berfatwa, 'tauhid identik dengan terorisme'. Ahlussunah berpendapat bahwa tidak bertauhid pasti menyembah mahluk ciptaan Allah.
Pernyataan Wamen juga perlu diklarifikasi lebih lanjut, apakah yang beliau maksud adalah penyelewengan masjid sebagai tempat berkumpul para pendukung dan pengasong ISIS ataukah siapa saja yang ke masjid harus mendapat pengawasan. Yang pertama dapat diterima, yang kedua harus ditolak. Masjid bagi umat Islam adalah sebaik-baik tempat dimuka bumi, karena itu sering juga disebut 'rumah Allah', di sanalah seorang hamba bermunajat, berzikir, saling ajar mengajari (yatadarasuna baenahum) yang semuanya dimaksudkan untuk Allah semata. Bahkan Allah memuliakan rumah-Nya dengan tauhid, Dan susungguhnya masjid-masjid itu kepunyaan Allah, maka janganlah kamu menyembah seseorang selain menyembah Allah, (QS. 72: 18).
Terkait keistemawaan masjid sebagai tempat terbaik di bumi, Nabi menuturkan, Tempat paling dicintai Allah dalam suatu negeri adalah masji-masjidnya, dan yang dibenci adalah pasar-pasarnya, (HR. Muslimin).
Suatu ketika, Nabi ditanya, tempat apakah yang paling baik dan tempat apa yang paling buruk? Rasulullah mengatakan, Aku tidak mengetahuinya, dan aku bertanya kepada Jibril tentang pertanyaan tadi, dia pun tak mengetahuinya, lalu aku bertanya kepada Mikail, dia pun menjawab, Sebaik-baik tempat adalah masjid dan seburuk-buruk tempat adalah pasar, (HR. Ibnu Hibban).
Ibnu Abbas mengatakan, Masjid adalah rumah Allah di muka bumi, yang akan menyinarinya para penduduk langit, sebagaimana bintang-bintang di langit yang menyinari penduduk bumi. Antara ibadah yang sangat agung adalah memakmurkan masjid secara lahir dan batin, lahir dengan cara membangun dan merawatnya, batin dengan cara salat, tilawah al-Qur'an, dzikir, belajar, mengajar, dst. Lebih dahsyat lagi, pemuda yang paling untung di hari kiamat adalah yang senantiasa hatinya teringat ke masjid. Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan dari Allah tatkala tidak ada naungan selain dari-Nya, antaranya: Seseorang yang hatinya senantianya terkait dengan masjid, (Muttafaq Alaihi).
Ibnu Hajar dalam "Fathul Bari" mengomentari hadis ini, katanya, Hadis ini menunjukkan bahwa orang tersebut hatinya senantiasa terkait dengan masjid meskipun jasadnya terpisah darinya. Hadis itu menunjukkan bahwa keterkaitan hati seseorang dengan masjid disebabkan saking cintanya dirinta dengan masjid Allah ta'ala. Menjadikan masjid sebagai pusat pengawasan Teroris sama dengan mengalihkan tempat prostitusi dan hiburan malam sebagai ancaman sesungguhnya bagi diri dan keluarga dari HIV/AIDS.
Pernyataan Kakandepag Enrekang tetang Rombongan Celana Tinggi dan berjenggut juga perlu disorot. Celana tinggi atau tergantung di atas mata kaki adalah lawan dari isbal berupa celana, jubah, atau sarung yang menutup mata kaki, yang dalam istilah hadinya, isbal, dan pelakunya di sebut musbil. Tepatnya, RCTI versus Isbal. Salah satu sunnah rasul yang banyak diabaikan oleh umat Islam adalah masuk golongan RCTI dalam istilah Kakandepag Enrekang, tidak hanya sunnah, banyak di antara para ulama memandang bahwa RCTI adalah wajib, berdasarkan hadis Nabi, yang diriwayatkan Imam Bukhari, Nasai, dan Ahmad, Sarung yang berada di bawah kedua mata kaki, penggunanya ada di dalam naraka.
Dalil lain, bersumber dari Abu Dzar yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa ada tiga golongan di hari kemudian Allah tidak akan memandang mereka, tidak menyucikan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih, yaitu, orang isbal, mengungkit-ungkit kebaikan, dan menjual barang dagangan dengan sumpah palsu. Ubaid bin Khalid al-Muharibi berkisah, suatu saat aku berjalan di kota Madinah, tiba-tiba seseorang berkata dari belangku, Angkat pakaianmu! Sungguh, itu bisa menambah takwamu. Ternyata orang tersebut adalah Rasulullah. Aku menjawab, Wahai Rasulullah, hanya sekadar burdah putih, Rasul menjawab, Apakah engkau ingin meneladani aku? Akupun memperhatikan sarung beliau, ternyata sampai pertengahan betis, (HR. Timidzi).
Namun ada pula ulama menilai bahwa hukum isbal tidak wajib, tetapi makruh, pendapat ini dipegang oleh Imam Nawawi, katanya, Melakukan isbal dengan maksud sombong (lilkhuyala') haram hukumnya, namun jika dilakukan dengan tampa sombong hukumnya makruh. Pendapat inilah banyak dipakai oleh pengikut syafi'i, termasuk saya sendiri, namun bukan berarti kita harus mencela dan melecehkan mereka yang menunaikan sunnah Rasul dengan menghindari isbal.
Kecuali itu, memelihara jenggut juga merupakan sunnah Nabi, banyak dalil menerangkan masalah ini, misalnya, hadis dari Aisyah diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah bersabda, Sepuluh perkara adalah fitrah, di antaranya mencukur kumis dan menumbuhkan jenggut.
Juga, dari Ibnu Umar diriwayatkan Bukhari-Muslim, Selisihilah orang-orang musyrik dengan memanjangkan jenggutmu dan menggunting kumismu. Karena itu pula, para pahlawan dan ulama di negeri ini memelihara jenggut, mulai dari Sultan Hasanuddin, Pengeran Diponegoro, hingga KH. Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy'ari. Jika ISIS dianggap telah melecehkan simbol-simbol utama dalam Islam, seperti kalimat tauhid, 'la ilaha illallah' atau cincin Nabi bertuliskan 'Muhammadurrasulullah', maka itu harus diluruskan. Namun bagi mereka yang menjadikan masjid sebagai tempat berkumpul, berdiskusi, beribadah, menghindari isbal serta memelihara jenggut, tidak mesti harus dimata-matai bahkan dilecehkan karena dianggap bagian dari ISIS.
Seorang Muslim menghina Muslim lainnya yang bercelana di atas mata kaki dan memelihara jenggot sama saja dengan memperlihatkan keluguan dan kedunguan, serta sempitnya pengetahuan atas agamanya sendiri, tidak pernah berusaha untuk mencari kebenaran atas sunnah tersebut dalam buku-buku hadis shahih. Ahlussunnah wal Jamaah sangat berhati-hati dalam menjatuhkan vonis pada seseorang, berdasarkan kaidah, Al-khatha' fil 'afwi khaerun minal khatha' fil 'uqubah. Salah dalam memaafkan lebih baik daripada salah dalam memvonis dan menghakimi.
Menghakimi bahwa pengguna simbol tauhid, suka berkumpul di masjid, celana di atas mata kaki, dan berjenggut sebagai aliran ISIS yang sesat, adalah tindakan yang lebih menyesatkan. Wallahu a'lam! 

Ini Ceramah Imam Masjidil Haram tentang ISIS/Khawarij (video dan teks pdf)

http://3.bp.blogspot.com/-B9jEroiBbJw/UOJ_ShTljyI/AAAAAAAAAPA/o3GhtIEJVaE/s1600/Syeikh-Sudais%255B6%255D.jpgUntuk menanggapi isu ISIS yang sedang hangat, maka untuk mengarahkan dan membimbing umat, Imam Masjidil Haram, Syeikh Dr. Abd. Rahman As-Sudais, dalam ceramah jumatnya pada 19 Syawwal 1435 di Masjidil Haram berbicara tentang Khawarij, dimana ISIS masuk pada ciri-ciri khawarij yang disebut.
Berikut ini salah satu isi khutbah belaiu,
ISIS Menyerbu Perbatasan Arab Saudi, namun Gagal!
"Dan yang paling anehnya, yang membuat goncang orang-orang yang punya akal, dimana mereka (ISIS), para pemilik panah beracun dan para jiwa yang sempit mengarahkan senjata mereka ke negeri yang paling baik, tempat turunnya wahyu dan tumbuhnya iman, negeri haramain syarifain, negara tauhid dan persatuan. Negeri al-Qur'an dan Sunnah yang Allah jadikan sebagai tempat yang dirindukan manusia, tempat yang aman dan kiblat." Ujar beliau dalam khutbahnya.
link video ceramah beliau:
Link download teks khutbahnya:

Dedengkot Syiah Bahrudin Alias Abu Haidar Abi Telah Meninggal

Seorang ustadz Syiah bernama Bahrudin, telah di jemput ajalnya tadi malam, Selasa 19 Agustus 2014 jam 19.30 WIB di RS Fatmawati, Jakarta, sebagaimana di lansir dalam situs resmi IJABI.

 Dedengkot Syiah yang juga eksis di Facebook dengan nama Abu Haidar Abi ini merupakan salah satu da'i Syiah yang menyebarkan ajaran-ajaran Syiah di Indonesia bersama dengan barisan Jalaludin Rahmat sebagai Anggota Dewan Syura IJABI. Hal ini juga tersinalir dari aktifitas-aktifitasnya di Facebook dengan akun @abuhaidar.abi, yang memposting ajaran-ajaran Syiah.

Berikut beberapa screen shot yang diambil dari update status Facebook yang merupakan bagian pemahaman aliran Syiah:




Semoga Allah mematikan kita dalam keadaan husnul khotimah, dalam keadaan sebagai seorang Muslim hakiki yang memegang jalan para sahabat dan para salafusholeh, dan bukan jalannya orang-orang sesat yang jauh dari petunjuk. Allahumma Ammin.

Berapa Jumlah Penganut Syiah di Indonesia?

https://fbcdn-sphotos-h-a.akamaihd.net/hphotos-ak-xpa1/v/t34.0-12/10574379_10202820984149607_8382861207666895907_n.jpg?oh=d6d7f3374d8cfe5fb374358a8005d984&oe=53F3D671&__gda__=1408474626_c35ca805e75e987106c6b0f55e0dcc09 
Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Jalaluddin Rakhmat, pernah mengatakan kisaran jumlah penganut Syiah di Indonesia , “Perkiraan tertinggi, 5 juta orang. Tapi, menurut saya, sekitar 2,5 jiwa,” kata Jalal,
Asyura dan eksisnya Syiah di suatu daerah
Benarkah seperti itu? Mari kita bandingkan dengan jumlah penganut Syiah yang disebut oleh beberapa pihak,
“Menurut seorang intel pemerintah bahwa jumlah penganut Syiah di Indonesia sekitar 300.000 orang. Namun menurut Husein al-Kaff, seorang ustadz Syiah, alumni Qum, dia pernah menyebut bahwa jumlah Syiah hanya 50.000 orang. Tapi menurut Musa Kazhim, ustadz Syiah, anak dari Husein al-Habsyi, dia pernah mengakatan kepada Ustadz Fahmi Salim, MA., bahwa jumlah pengikut Syiah hanya 25.000 orang. Dan menurut saya inilah jumlah yang lebih dekat pada realita.” Sebut Ust. Farid Ahmad Okbah.
Menurut beliau hal ini bisa dihitung dari jumlah mereka pada perayaan asyura. Karena pada hari itu mereka semua berkumpul dan itulah tanda bahwa Syiah di suatu daerah sudah eksis.
“Adanya perayaan Asyura di suatu daerah adalah indikasi bahwa Syiah sudah eksis di daerah tersebut.” Lanjut pemimpin Islamic Centre al-Islam Bekasi ini.*
***
Ketika saya ikut Asyura Syiah di Makassar tahun 1434 H, jumlah mereka kurang lebih 2.000 orang. Dan ada 3 kota yang jumlah pengikutnya cukup besar dan penyebarannya cukup massif. Makassar, Bandung dan Jakarta. 3 kota ini anggaplah jumlahnya 6.000 orang, tambah dengan jumlah mereka di berbagai kota yang masing-masingnya tidak sampai 1.000 orang. Kalau ada 19 kota lain (itupun kalau sampai hitungan 19 kota) yang penyebaran Syiah disana cukup besar, maka jumlahnya 6.000 ditambah 19.000, jadi jumlahnya sekitar 25.000. Ini hitung-hitungan kasar untuk mencapai jumlah yang disebut Musa Kazhim tadi.
Bayangkan kalau 25.000 ini (kurang atau lebih) semuanya militan dan semuanya berideologi Syiah tulen untuk memberontak pemerintah yang sah dan menganggap darah diluar Syiah adalah halal maka konflik horizontal tidak bisa lagi dicegah cepat atau lambat. Apalagi jika mereka mempunyai senjata. Na’udzubillah.
Dan beginilah memang yang terjadi di negara-negara yang penyebarannya cukup besar. Seperti di Bahrain, Lebanon, Yaman dan Pakistan. Tidak jarang kita dengar berita demo yang berujung anarkis dan pertumpahan darah di empat negara ini.
***
Duta Besar Iran adalah Misionaris Syiah*
Penyebaran Syiah di Indonesia sangat ditopang oleh Kedutaan Besar Iran di negeri ini. Mereka tidak hanya menjalankan fungsi sebagai duta besar Iran di nusantara ini, bahkan juga sebagai misionaris Syiah. Dan ini sama di semua Negara.
Di Maroko dulu semua ulamanya pernah bersepakat agar semua dai dan muballighnya menjadikan khutbah jum’at dalam sebulan tentang bahaya Syiah. Dan akhirnya masyarakat yang bergerak memerotes pemerintah. Akhirnya Syiah dilarang dan Kedutaan Besar Iran di Negara itu ditiadakan. Namun orang Syiah tidak pernah putus asa. Sekarang Kedutaan Besar Iran sudah ada lagi di Maroko.